Just Married

Just Married
episode 15: Altezza, Bangun...



Malam iti telah tiba, Aisha pun masih menunggui Altezza yang masih tak sadarkan diri. Bahkan Aisha sidah dibujuk untuk pulang oleh bibi Lin, Aisha tetap tak bergeming dan enggan meninggalkan Altezza. Aisha benar-benar merasa bersalah kepada Altezza, tentu ia akan menunggu Altezza sampai sadar. Hingga tanpa sadar malam kian larut, dan Aisha tertidur disamping Altezza. Saat hari sudah menjelang pagi, Aisha pun terbangun dari tidurnya dan membuka mata. Namun ada sesuatu yang menutup tubuhnya, dengan sigap Aisha terbangun dan sadar dari mimpinya, dan melihat sebuah selimut telah menutupi tubuhnya. Aisha tak menghiraukannya, ia pun kembali melihat Altezza yang belum juga bangun itu, Aisha semakin sedih. Beberapa saat kemudian, bibi Lin pun datang dan membawakan beberapa makanan untuk Aisha, Aisha pun mulai menyadari, ia berpikir bahwa yang memberikan selimut ialah bibi Lin. Padahal kenyataannya, yang memberi selimut itu bukanlah bibi Lin.


"Nona, sebaiknya nona makanlah dulu" ucap bibi Lin begitu penuh dengan perhatian, ia pun cemas lantaran dari semalam Aisha belum makan apapun.


"Tidak usah, bi" Aisha menolak.


"Jangan begitu, nona. Tuanku akan marah jika tahu nona tidak mau memakannya" ucap bibi Lin.


Dengan terpaksa akhirnya Aisha mau makan, saat Aisha membuka bekal makanan itu, ia terkejut dan menitikkan air mata. Sebab nasi bento itu mengingatkan akan bento yang pertama kali Altezza kirim di apartemennya. Bibi Lin yang melihat Aisha merasa iba sekaligus bersalah.


Dengan memaksakan diri, Aisha memakan makanan itu meskipun ada perasaan sesak di dalam dadanya. Cukup lama Aisha melahapnya lantaran, ia merasa enggan untuk menelan. Namun, setelah selesai memakan yang masih ada sisanya itu, Aisha menutupnya dan menyingkirkan makanan itu. Aisha kembali melihat sosok wajah Altezza yang masih menutup mata. Cukup lama Aisha memandangnya, tanpa sadar Aisha meraih tangan Altezza dan menggenggam tangan Altezza dengan perasaan cemas. Namun ada keanehan yang muncul, tiba-tiba perasaan Aisha yang cemas kini berubah menjadi aneh, jantung Aisha merasa berdetak lebih cepat, hatinya berdebar bahkan wajahnya tiba-tiba memerah ketika ia menhingat akan kejadian dimana ia kehilangan ciuman pertamanya, dan di saat ia tak sengaja menyentuh tubuh Altezza dan tanpa sengaja menatap wajah Altezza sangat dekat. Namun, disisi lain hati Aisha juga merasa teriris melihat Altezza begitu lemah.


Hati Aisha kembali berdebar tak menentu, Aisha kalut dengan keadaannya yang seperti itu. Aisha tak dapat mengontrol dirinya, Aisha hanya mampu berdiam yang hampir menangis itu, Aisha bahkan sesekali memejamkan matanya lantaran ia telah membayangkan Altezza menciumnya.


"Bodoh, disaat seperti ini kenapa pikiranku menjadi tidak normal" ucap Aisha dalam hati, ia pun mulai merasa kesal dengan dirinya.


Sudah satu jam Aisha disana, menunggui Altezza yang masih saja belum mau membuka matanya. Bibi Lin pun menyuruh Aisha untuk kembali dulu, karena Aisha harus pergi ke kampus. Seketika Aisha teringat akan tugas kampus dan juga Sally, tetapi ia juga enggan meninggalkan Altezza. Entah kenapa Aisha sangat mencemaskan orang yang baru ia kenal. Aisha pun tersadar, dengan cepat Aisha mengiyakan saran bibi Lin untuk pergi ke kampus. Aisha pun bernajak pergi meninggalkan Altezza dengan berat hati, dan entah kenapa langkahnya semakin berat untuk meninggalkan Altezza.


"Sudahlah, Aisha. Ingat akan tujuanmu di sini untuk apa, toh masih ada waktu untuk menjenguknya" gumam Aisha dalam hati.


"iya. Aku harus kuat" gumam Aisha kemudian, ia pun di jemput seseorang yang tak lain Asisten Altezza, Leon.


Beberapa puluh menit kemudian, Aisha sudah berada di kampus dan menyelesaikan mata kuliah dengan perasaan bimbang. Dengan sabar Aisha menunggu waktu untuk pulang, dimana waktu itu ia gunakan untuk menjenguk kembali Altezza.


Waktu itu terus berjalan dan tanpa terasa waktu telah berlalu. Sore itu, Aisha mengajak Sally untuk menjenguk Altezza di rumah sakit. Saat itulah pertama kali, Sally mengetahui sosok pria misterius itu. Setibanya di sana, Sally terkejut akan sosok Altezza yang benar-benar tampan, bahkan Sally merasa tak asing dengan wajah Altezza. Aisha pun meraih kursi dan duduk di sisi Altezza, kemudian Sally dan juga bibi Lin hanya duduk disofa. Tanpa sadar Aisha menggenggam tangan Altezza kembali, tanpa sadar ia menitikkan air matanya lantaran Altezza belum bangun juga. Sally pun nenghampiri Aisha dan mencoba untuk menenangkan Aisha yang terlihat sangat terpukul itu.


"Aisha. Tenanglah" ucap Sally, yang berusaha mencoba untuk menguatkan Aisha.


"Apa kamu tahu, Sally. Betapa bodohnya dia?" Ucap Aisha dengan deraian air mata.


"Aisha..." ucap Sally dengan sedikit lirih.


"Dia bodoh, masih saja enggan untuk bangun" ucap Aisha kemudian.


"Hei, Altezza pria bodoh. Apa kamu tak ingin menggangguku lagi? Apa kamu sudah bosan untuk menggangguku? Cepat bangun, pria bodoh" ucap Aisha, seperti orang yang tengah ngelantur.


"Hei, Altezza bodoh, Altezza gila, Altezza mesum. Kenapa? Kenapa kamu tetap diam? Aku sudah ngatain kamu, kamu hanya diam? Bodoh sekali kamu" ucap Aisha makin ngelantur.


"Altezza bodoh, kau tau jika aku mencemaskan seseorang akan menjadi manusia terkuat? Jika kau tak percaya, tanyakan saja kepada Sally. Apa yang telah kuperbuat, pasti kau takkan percaya" ucap Aisha yang makin ngelantur.


"Eh, Aisha. Kenapa kamu malah cerita tentang pintu jebol?" Ucap Sally menahan tawa karena tingkah Aisha begitu aneh tetapi lucu jika sedang mencemaskan.


"Waktu itu saja, kamu langsung bangun kan. Siapa tahu, jika aku menjebolkan rumah sakit ini Altezza akan bangun sepertimu" ucap Aisha seperti anak kecil.


"Ya sudah, jebolin saja tu pintu. Kayak waktu itu kamu jebolin pintu apartemen, pas di saat aku lagi mandi" ucap Sally.


"Sally... Kamu kok... eh... Tunggu..." Ucap Aisha, ia menyadari sesuatu.


"Ada apa, Sha?" Ucap Sally.


"Sepertinya aku melihat sekilas, Altezza tersenyum" ucap Aisha dan memandang lekat-lekat wajah Altezza.


"Beneran Sally, atau jangan-jangan Altezza sudah sadar dari tadi. Dan mendengar pembicaraan kita" ucap Aisha curiga.


"Lha, bukanya kamu sendiri yang ngomong?" Ucap Sally.


"Kan malu, Sally" ucap Aisha sembari menutup wajahnya.


"Hihi..."


"Eh, kau dengar suara orang yang sedang menahan tawa tidak?" Tanya Aisha dan nenoleh kearah Sally dan juga bibi Lin.


"Enggak ada, Sha. Jangan halu, ah" ucap Sally.


"Tuh..." Ucap Aisha dan mulai mengecek Altezza. Saat wajah Aisha cukup dekat dengan wajah Altezza lantaran untuk mengecek Altezza. Tiba-tiba dengan sigap tangan Altezza meraih tubuh Aisha dan memeluk Aisha dengan erat.


"Ups, aku tidak lihat. Bibi Lin, ayo keluar. Berikan waktu untuk mereka" ucap Sally dan mengajak bibi Lin untuk keluar.


"Eh? Sally? Eh, lepasin bodoh" ucap Aisha memberontak, namun pelukan Altezza cukup kuat meskipun hanya menggunakan tangan satu. Dalam sekejap, Sally dan bibi Lin pun sudah berada diluar dan menutup pintu itu dengan rapat.


"Apa kamu merindukan aku?" Ucap Altezza.


"Gak, cepat lepasin" ucap Aisha terkesan cuek.


"Gak akan, sebelum kamu bilang rindu" ucap Altezza.


"Jangan memaksa" ucap Aisha mengelak.


"Masih mau bohong?" Ucap Altezza.


"Gak, siapa juga yang merindukanmu. Kenapa gak sekalian mati saja kamu" ucap Aisha.


"Hoo, sudah siap jadi janda?" Goda Altezza


"Apa? Sejak kapan kita menikah?" Ucap Aisha.


"Aku kan tidak bilang, kalau kamu istriku. Kenapa kamu bilang begitu?" Goda Altezza.


"A, apa. Cepat lepasin" ucap Aisha masih memberontak.


"Gak akan"


"Lepas"


"Gak"


"Huhhh..." Lirih Aisha lalu tiba-tiba membenamkan kepalanya dan tersedu di dalam dekapan Altezza.


"Lho, Aisha. Kenapa kamu menangis?" Ucap Altezza kebingungan. Altezza pun langsung melepaskan pelukannya.