
Aisha tak mempedulikan pria yang ada di sampingnya itu, ia menatap keluar memandang jalanan, yang ternyata rupanya mereka sudah hampir sampai di apartemen Aisha tinggal.
Bersyukurlah Aisha dalam hatinya, lantaran Altezza benar-benar menepati janjinya.
Setelah mereka memasuki area apartemen, dengan segera Aisha bersiap untuk turun tetapi Altezza tak membiarkannya begitu saja.
Aisha mencoba melepaskan diri namun pertahanan Altezza sangat kuat, "Kamu? Mau apa lagi?"
Altezza hanya diam dan menyerahkan kedua benda milik Aisha, tersadar Aisha kalau dirinya memiliki sebuah ponsel dan softgun listrik.
Setelah menerimanya, Aisha turun tanpa sepatah kata apapun, tanpa permisi ataupun basa-basi, Aisha tak peduli.
Aisha yang sudah keluar dari mobil, tak sengaja melihat Selly berdiri beberapa meter darinya, "Selly."
Spontan Selly menoleh kearah Aisha yang sudah berubah bak seorang putri, "kamu benar Aisha?" Selly pangling.
Aisha berbalik bertanya, "Kamu pikir siapa?" sejenak, Selly menatap lekat Aisha terlihat berbeda malam itu.
"Kamu... cantik sekali Sha," Selly merasa takjub.
"Apa yang kamu bicarakan? Apa kamu tidak mencemaskan aku?" Aisha menyadarkan Selly akan suatu hal.
Selly terhentak dan menghela nafas, "haihhh... aku hampir lupa."
Selly siap bercerita, "bukannya tadi aku tak mau membantumu, aku sendiri tertangkap oleh seseorang," keluh Selly kemudian.
Aisha tak lagi kaget, lantaran dirinya juga mengalami ponsel maupun softgun nya yang juga menghilang sebelumnya.
" Ngomong-ngomong, Aisha. Sebetulnya dia siapa?" Selly penasaran.
Aisha hampir lupa, dan refleks menoleh ke arah belakang, namun rupanya mobil yang ia tumpangi sudah tidak ada disana.
"Hah? Kenapa aku tidak tahu, kapan mereka sudah pergi?" batin Aisha.
"Kamu bodoh sekali, mereka sudah pergi sejak dari tadi, kenapa kamu baru menoleh sekarang?" celetuk Selly.
"Lalu, apa yang terjadi? Dan, gaya style mu ini. Ada apa?" Selly semakin penasaran.
"Terus, siapa sosok misterius itu? Pasti seorang pria bukan?" Selly malah jadi cerewet.
"Apakah dia tampan?" Selly masih tak mau diam, "Apa dia kaya?" sambungnya tak henti.
"Selly, stop. Oke," Aisha yang mulai jengah.
"Baiklah, baiklah. Sebaiknya kita pergi masuk saja," ucap Selly kemudian.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam apartemen, sesekali Selly juga bercerita, saat dirinya tertangkap.
Dari penuturan Selly, rupanya Selly sama sekali tidak diculik. Melainkan, dirinya di buat pingsan.
Ketika Selly terbangun, dirinya mendapati sudah berada dikamar apartemen mereka, dengan sigap Selly mengecek ponselnya.
Tanpa diduga, dirinya sudah mendapat sebuah pesan singkat dari Aisha beberapa jam yang lalu.
Pesan itu mengatakan, jika Aisha akan kembali antara jam sepuluh sampai sebelas.
"Kamu tahu Aisha, saat aku sudah terbangun?" ucap Selly membuat Aisha penasaran.
"Rupanya aku sudah berada dikamar, dan yang lebih mengejutkannya lagi saat aku mau pergi mencari mu adalah..." Aisha menjadi penasaran.
"Tiba-tiba dirumah, ada beberapa orang sedang sibuk menata dan mengatur dapur kita, bahkan mereka sudah memenuhinya dengan berbagai macam kebutuhan," pungkasnya.
Aisha cukup terkejut dengan apa yang Selly ceritakan, akan tetapi, Aisha merasa tak heran lagi, karena ia sudah pasti tahu siapa pelakunya.
"Lalu?" Aisha masih penasaran.
"Saat itu, ponselku ada pesan darimu. Katanya, kamu akan segera tiba. Ya, aku langsung saja turun kemari," jelas Selly.
"Pantas saja Selly ada diluar tadi," pikir Aisha.
"Apalagi saat aku mau turun, orang-orang itu juga berkata, cepat nona akan segera kembali ."
Selly masih asik bercerita,.dan tanpa sadar mereka sudah sampai pada kamar mereka.
Sedangkan disisi lain, dimana Altezza berada. Yakni, sebuah apartemen kawasan elit.
Apartemen itu sungguh berbeda jauh dengan apartemen yang Aisha tempati, sekalipun fasilitasnya memadai, tetapi apartemen milik Altezza jauh lebih mewah dan lebih ke masa kini.
Tapi lupakan tentang apartemen, kembali pada Altezza yang sudah berada dikamarnya, dirinya terlihat sedang tersenyum seperti habis menang lotre.
Bagaimana tidak, karena dirinya baru mengetahui jika ciuman itu merupakan ciuman pertama Aisha, dan banggalah Altezza saat itu, hatinya pun berbunga.
"Ciuman pertamamu dan seterusnya, hanya akan jadi milikku. Aisha, kamu milikku," gumam Altezza dengan rasa percaya diri.
Drrtt drrtttt... Ponsel Altezza bergetar. Altezza segera mengambil ponselnya, lalu mengangkat teleponnya untuk menjawab sebuah panggilan.
"Katakan," ucap Altezza, yang tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Bereskan secepatnya," ucap Altezza begitu mencekam.
Entah apa yang terjadi, hingga membuat Altezza begitu nampak marah, bahkan serasa ingin membunuh seseorang.
Altezza beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah pergi ke ruang kerjanya, yang tak jauh dari tempat tidurnya.
Malam itu, Altezza menenggelamkan diri dengan berbagai berkas yang ada disana, hingga pagi buta.
Setelah waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat pagi, Altezza menutup laptopnya dan bergegas pergi untuk tidur sebentar.
Terlihat cukup nyaman ketika Altezza sudah tertidur pulas, padahal biasanya Altezza tak dapat tidur dengan perasaan senyaman itu sebelumnya.
Mungkin karena wanita yang ia cari selama ini telah ia temukan, siapa lagi kalau bukan Aisha Olinda? Adakah perempuan lain? Tentu saja tidak.
Sinar mentari pagi begitu mempesona, mengingatkan kita bahwa malam akan berlalu dan tergantikan oleh siang yang terang benderang.
Seperti halnya dalam kehidupan, di setiap kesusahan akan selalu ada kemudahan, itu pasti.
Seperti halnya, yang sudah Altezza lalui untuk berusaha keras mengembangkan diri menjadi seorang pebisnis dan membangun kerajaan perusahan besar dan terkuat.
Sekalipun Altezza sudah jatuh bangun menghadapi realita dunia bisnis, Altezza tetap tak bergeming untuk tetap maju, dan menghadapi situasi apapun.
Padahal, kemampuannya kini sudah bisa dikatakan sangat luar biasa. Namun bagi Altezza, dirinya hanya manusia yang bodoh, masih harus belajar dan belajar lebih giat lagi.
Tak ayal, banyak orang mengagumi ketekunan Altezza, apalagi perusahaan Altezza yang saat ini ia kembangkan, sudah ada di berbagai negara.
Jadi tak heran, kalau banyak orang tua menjodohkan anak gadis mereka dengan Altezza, hanya demi kedudukan dan kekayaan.
Tentu Altezza muak akan hal itu, ketika dirinya menemukan Aisha, tanpa ragu Altezza memperkenalkan Aisha sebagai calon istrinya.
Tapi dampaknya, Altezza harus bekerja lebih ekstra, karena sudah ada beberapa orang sedang mencari tahu tentang Aisha dan mencoba untuk menyingkirkan Aisha.
Tentu Altezza sudah mengerahkan kekuatannya, untuk melindungi wanitanya dari ancaman manapun.
"Tuan muda, waktu kita disini hanya tinggal satu bulan. Kita harus cepat, karena setelah ini sudah harus kembali ke London," ucap seorang asisten bernama, Leon.
Altezza tengah melamun di ruang kerjanya, di kantor miliknya yang ada di kota Manhattan.
"Aku tahu," ucap Altezza.
Sebuah kantor milik Altezza yang cukup besar, merupakan salah satu markas kecil bagi Altezza, yang berhasil dibangun sebagai sarana untuk mengokohkan kekuatannya.
Sedangkan disisi lain, disebuah kampus dimana Aisha mengenyam pendidikan.
Terlihat jelas, Aisha dan Selly sedang asik mengobrol di taman kampus.
"Aisha, cerita dong. Bagaimana bisa kamu kehilangan ciuman pertama kamu," jiwa gosip Selly mulai membara.
Aisha tersentak merasa malu, karena sebelumnya ia sempat keceplosan waktu cerita dengan Selly kemarin malam, "tidak ada."
Tetapi Selly terus mencoba untuk mengorek, "ayolah..." rengeknya. Sedangkan Aisha tetap pada pendiriannya, "tidak ada."
"Hais... Semalam, bukannya kamu..."
"Aisha Olinda?" Panggil seseorang yang telah memotong pembicaraan mereka.
"Iya?" Aisha menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
"Kamu, dipanggil Professor Sam," kata perempuan itu, yang juga seorang mahasiswa disana.
"Dimana?" tanya Aisha.
"Di Ruangannya, kamu sudah ditunggu," katanya.
"Baik, aku akan segera kesana. Terima kasih," ucap Aisha, dan wanita itu pun pergi.
Tak perlu lama-lama, Aisha langsung berdiri dan bersiap pergi, untuk menemui profesor Sam, "Selly, aku pergi dulu ya," katanya.
"Oke," Selly mengangguk.
Aisha berjalan begitu cepat lantaran dirinya tahu, profesor Sam itu sangat membenci keterlambatan, tentu Aisha harus segera sampai.
Setibanya sampai di depan pintu ruangan professor Sam, Aisha mengetuk pintu.
Tok tok tok... "permisi?" ucap Aisha sembari membuka pintu secara perlahan.
"Oh, ya. Silahkan," kata profesor Sam terdengar tak seperti biasanya yang suka serius.
"Altezza?" Aisha terkejut, ketika dirinya melihat ada Altezza di ruangan profesor Sam.
"Eh? Apa kalian sudah saling kenal?" tanya profesor Sam, dengan cepat Aisha mengelak, "sama sekali, tidak."
Tentu profesor Sam tidak percaya, "Oh, baiklah," profesor Sam hanya berpura-pura dan berkata, "Kalau begitu, Aisha. Ini, tuan muda Altezza."
"Beliau kemari secara khusus untuk memberikan kamu kesempatan magang, di perusahaan miliknya," imbuh profesor Sam.
Dengan terpaksa, Aisha memberi salam hormat kepada Altezza.
Altezza yang awalnya berpura-pura acuh, tersenyum menyeringai menggoda Aisha.
"Aisha, aku tahu akan kemampuanmu. Professor Chris juga telah merekomendasikan kamu kepadaku," kata profesor Sam menyanjung.
"Kamu beruntung, dengan posisi yang tuan Altezza berikan padamu, kamu tidak boleh menyia-nyiakannya," tandas professor Sam.
Rasanya Aisha ingin menolak, namun itu tidak mungkin. Karena jika dirinya menolak, sama halnya menyatakan perang pada profesor Sam, yang imbasnya nanti pada penilaian syarat utama kelulusannya nanti.
"Baik, prof. Aku akan berusaha yang terbaik," kata Aisha meyakinkan profesor Sam.
"Bagus, aku percaya pada kemampuanmu. Kalau begitu, mulai besok kamu datanglah ke kantornya jam delapan pagi," jelas professor Sam sembari menyerahkan kartu alamat perusahaan milik Altezza.
"Baik. Kalau begitu, saya permisi prof."
"Silahkan."
Aisha keluar dengan wajah kesalnya, "kali ini, apa lagi rencana dia?" gumamnya.
Detik demi detik sudah berlalu begitu lamanya, sampai tak terasa, mata pelajaran yang Aisha tempuh telah usai.
Seperti biasa, Aisha atau Selly, mereka akan menunggu di suatu tempat untuk mereka bertemu dan pulang bersama.
"Selly, kita ke pusat perbelanjaan yuk," ajak Aisha, saat mereka sudah bertemu.
"Ah? tiba-tiba sekali," Selly merasa enggan untuk pergi.
"Tadi dia datang," jelas Aisha dan berhasil membuat Selly bersemangat, "dia meminta bantuan profesor Sam, agar aku magang di kantornya."
Selly yang sudah membara merangkul pundak Aisha, "hei bung, simpan ceritamu itu. Ayo, kita pergi belanja," seru Selly.
"Cepat sekali berubahnya," batin Aisha.
Sebetulnya Aisha juga tak sabar ingin merasakan kerja di kantoran itu seperti apa, ditambah dengan memakai seragam yang rapi nan friendly.
Tapi sisi lain, Aisha juga enggan jika itu harus satu kantor dengan Altezza, tapi ya mau bagaimana lagi.