Just Married

Just Married
episode 24: Nostalgia, Saat Pertama Kali Bertemu Dengan Sally.



Ramainya suasana malam hari di kota metropolitan, kota Manhattan. Nampaklah seorang gadis cantik yang tengah duduk seorang diri disebuah bangku taman yang berada disekitar apartemen high class di kota itu, dialah Aisha Olinda. Ia tengah menunggu seorang teman, teman yang selalu bersama dalam suka maupun duka selama dua tahun lebih di Manhattan.


Mereka sama-sama menempuh pendidikan di universitas ternama di kota New York, yaitu New York University. Kota yang di kenal akan patung Liberti itu memang menjadi kesan tersendiri untuk mengenyam pendidikan maupun menghabiskan waktu untuk berlibur. Tak hanya itu, kota yang di kenal sebagai kota metropolitan itu juga di juluki kota yang tak pernah tidur.


Perkenalan mereka cukup unik, waktu itu Aisha pertama kalinya memijakkan kaki di kota New York yang ditemani sahabat masa SMP nya dulu, Danial. Mereka tengah menuju apartemen yang tak jauh dari kampus Aisha, tanpa sengaja mereka bertemu di lobi apartemen.


Waktu itu Sally mengalami masalah, lalu Danial menerobos untuk menyewa satu kamar. Resepsionis itupun memberikan kunci, sebab dari awal Danial memang sudah memesannya lebih dulu. Namun Sally tiba-tiba marah, ia menganggap Aisha telah merebut kamar yang tinggal satu itu. Aisha pun enggan untuk meladeni, nampaknya Sally tak mau diam. Sally tetap memarahi Aisha. Hingga membuat Aisha tersulut dan pada akhirnya mereka beradu mulut.


Danial merasa geram itu pun menyeret mereka berdua dengan di bantu resepsionis untuk membawakan koper mereka, mereka pun menuju lantai empat, setibanya dikamar, koper-koper itu di masukkan kedalam kamar, bahkan Danial yang merasa lelah itu pun mengurung mereka berdua di dalam kamar yang sama.


"Sebaiknya, kalian pikirkanlah dengan baik. Atau aku akan mengurung kalian disini" ucap Danial keras dari luar pintu.


"Huh, dasar perempuan" gumam Danial yang berjalan untuk sejenak pergi dari sana.


Cukup lama Danial meninggalkan mereka berdua di dalam kamar apartemen, Danial kembali untuk mengecek. Apakah dua gadis itu sudah berbaikan ataukah malah tambah heboh dalam beradu mulut, Danial pun merasa khawatir akan hal itu. Saat Danial sudah berada di depan pintu, ia tak lagi mendengar suara mereka beradu, begitu sunyi tiada suara sedikitpun.


Danial merasa cemas dan was-was, jika ada hal yang terjadi tanpa ia duga bagaimana yang harus ia lakukan? Dengan segera Danial membuka pintu itu dan melangkah cepat mencari keberadaan mereka berdua. Sontak Danial di buat kaget saat melihat dua gadis tengah tergeletak di atas ranjang.


Aisha dengan posisi miring dan sedikit menekuk tubuhnya dan menghadap tepat diwajah Sally. Sedangkan Sally, seperti sosoknya yang sedikit tomboy, ia nampak terlentang dengan posisi seperti orang yang sedang kelelahan. Danial hanya menyeringai melihat dua mahluk itu, ia tak percaya akan dua gadis itu lakukan.


"Dasar, gadis-gadis aneh" gumam Danial.


Danial pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel berwarna hitam miliknya, dengan segera Danial mengabadikan moment, dimana dua gadis bertengkar dan kemudian tidur bersama layaknya seorang sahabat.


Dengan segera Danial keluar untuk mencetak foto itu yang cukup besar. Setelah selesai, Danial kembali ke apartemen, dan mendapati dua gadis itu masih tertidur pulas. Namun dengan posisi yang berubah pula. Danial pun memajang foto mereka tepat dimana mereka akan bangun dan melihat foto itu secara langsung. Ya, di sebuah tembok tepat dihadapan mereka tertidur itu. Dengan segera Danial pergi dan meninggalkan kunci berserta memo untuk mereka.


Satu jam kemudian, malam itu telah tiba. Aisha bergeliat meregangkan otot-ototnya. Namun kagetnya Aisha, tangannya menyentuh seseorang, dengan cepat Aisha menoleh dan tepat sekali Sally ada disampinya.


"Aaaa..." Teriak Aisha dan bangun terduduk diatas ranjang.


"Heh, kamu?" Ucap Sally yang gelagapan lantaran teriakan Aisha membangunkannya.


"Lhooo? Itu..." Ucap Aisha saat tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah foto yang terpampang jelas.


"Sialan. Tak sudi aku, foto bersama wanita bodoh ini" ucap Sally dan beranjak bangun dan mengambil foto itu.


"Heh, dasar bodoh. Terserah lah, yang jelas ini kamar aku, lebih baik kamu segera keluar". Ucap Aisha saat melihat Sally sedang merobek foto itu.


Sally pun menatap Aisha dengan tajam, tanpa menunggu lama Sally mengambil kopernya dan bergegas keluar. Tak hanya sampai di situ, Sally sudah mencari ke sana kemari, semuanya di tolak lantaran dengan alasan penuh. Sally merasa geram, hingga pada akhirnya Sally kembali ke apartemen Aisha lantaran malam sudah sangat larut.


Tok tok tok... Sally mengetuk pintu dengan wajah lesunya, Aisha pun membuka pintu dan mengira yang datang adalah Danial. Saat pintu sudah terbuka, betapa kagetnya Aisha ketika melihat Sally kembali lagi ke apartemennya bahkan dengan wajah kusutnya itu.


"Kamu?" Ucap Aisha, sebagai isyarat untuk apa datang kemari.


"Sorry, boleh aku tinggal bersamamu?" Ucap Sally dengan rasa gengsi.


"Hemmmm..." Pikir Aisha, dan melihat tingkah Sally yang masih saja angkuh.


"Ayolah.. aku minta maaf, kau tahu? Aku tak mendapatkan kamar tak satupun" ucap Sally.


"Hahahaha, kamu ternyata bermuka tebal juga" ucap Aisha dengan tawanya, lantaran Sally tanpa malu mengucapkan itu namun dengan tingkah yang masih saja angkuh.


"Ah, sialan. Jadi bagaimana?" Ucap Sally.


"Hemm, asal kamu bisa jaga sikap, pintuku akan terbuka lebar untukmu" ucap Aisha, sebab Aisha telah membaca memo dari Danial. Bahwa, lebih baik mereka harus berbaikan dan tinggal bersama, toh sama-sama tak ada teman di negara ini dan juga Sally merupakan anak seorang pengusaha yang Danial kenal.


"Haiya, baiklah. Namaku Sally Rah... Ah, panggil saja Sally" ucap Sally yang sepertinya enggan memberitahu nama lengkapnya.


"Baiklah, Aisha. Kamu sungguh baik, aku merasa, kalau muka ku semakin tebal" canda Sally.


"Sally, nama kamu memang Sally Rah?" Ucap Aisha, ia bermaksud untuk menyelidiki.


"Hemm, yaaa karena kamu telah berbaik padaku. Akan ku beri tahu, nama lengkapku adalah Sally Rahmawati" ucap Sally dengan menahan malu namun tetap menjunjung tinggi martabatnya.


"Apa???!?" Ucap Aisha, karena kaget walau sebenarnya ingin tertawa namun Aisha tahan untuk menjaga perasaan Sally yang terlihat jelas malu dengan namanya itu.


"Sudah ku duga" ucap Sally dengan santainya yang tengah duduk di atas ranjang.


"Bukan, maksudku bukan seperti itu. Jadi kamu blasteran?" Ucap Aisha ingin tahu.


"Iyaa, mommy ku orang jawa dan poppy ku orang amerika" ucap Sally.


"Hooo, pantas saja"


Malam itu, awal mulanya keakraban mereka mulai terlihat. Hingga sekaranglah mereka benar-benar akrab layaknya sahabat, melebihi saudara.


"Hehe, lucu juga kalau mengingat saat itu" gumam Aisha, ia pun terlihat tengah tertawa kecil seorang diri di pinggir jalanan yang tengah menunggu Sally.


"Aisha..." Panggil Sally, ketika sudah sampai di apartemen.


"Ah, Sally..." Seru Aisha, ia pun menyambut Sally dengan ceria.


"Dompet?" Ucap Sally dan mengulurkan tangan. Aisha pun menyerahkan dompet milik Sally, dengan segera Sally membayar ongkos kepada supir taksi.


"Ah, Sally. Aku pikir, aku sedang bosan. Bisakah kita pergi mencari makan? Sekalian jalan-jalan malam deh" ucap Aisha, saat Sally tengah menghampirinya


"Setuju" seru Sally.


"Tapi, ngomong-ngomong. Tadi kamu kenapa tertawa sendiri?" selidik Sally.


"Ah, tidak apa-apa" ucap Aisha.


"Ayolah katakan, jangan bikin aku penasaran" desak Sally.


"Baiklah. Aku hanya teringat akan pertama kali kita..." belum sempat Aisha meneruskan ucapannya itu, Sally sudah menyelanya dengan buru-buru.


"Stop. Jangan di teruskan, oke. Eh, Aisha. Sepertinya itu kelihatan enak, kita ke sana yuk" ucap Sally yang sengaja mengalihkan pembicaraan itu, lantaran ia malu jika teringat akan kejadian pertama kali mereka bertemu, sungguh konyol bagi Sally.


Aisha pun mengerti akan maksud Sally, Aisha hanya mampu menahan tawa dan langsung mengiyakan ajakan Sally. Mereka pun menghabiskan waktu malam dan menembus kota yang tak pernah tidur itu. Beban Aisha pun merasa berkurang, meskipun hanya sekedar jalan-jalan malam dan mencari sesuatu yang dapat mengenyangkan perut.


Ring... Ringg... Suara ponsel Aisha yang terus berdering, saat Aisha dengan sengaja meninggalkan di apartemennya. Panggilan itu merupakan telfon dari Altezza.


"Ah, sial. Dimana gadis bodoh itu" geram Altezza yang sudah kehilangan kesabaran.


"B,bos..." Panggil Leon agak ragu.


"Cepat siapkan tiket penerbangan, setelah rapat kita kembali ke new york" perintah Altezza.


"Siappp, bos" ucap Leon dan bergegas keluar ruangan.


"Gadis bodoh, teruslah kamu menyiksa ku. Akan ku pastikan nanti, kamu akan habis ku makan" gumam Altezza dengan kesal.