
"Semalam Aisha tidak pulang, bahkan ke kampus saja enggak" gumam Sally yang sudah berada di ruang kelas.
"Dasar Altezza, awas saja kalau terjadi apa-apa sama Aisha" gumam Sally kemudian.
"Hai, Sally" sapa seorang teman sekelas Sally.
"Oh, hai Marry"
"Kenapa?"
"Oh, tidak"
"Ku rasa, suasana hatimu tak secerah langit. Sally, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" Tawar Marry.a
"Hemmm, kedengarannya menarik. Baiklah, tapi dimana?" Ucap Sally.
"Pokoknya tempat yang membuat kita happy" seru Marry.
"Baiklah"
"Oh ya, Aisha ajak sekalian ya"
"Sepertinya tidak bisa, Marry"
"Kenapa?"
"Karena, Aisha diculik" ucap Sally dengan entengnya.
"Apa?? Di culik?"
"Sst... Jangan keras-keras Marry. Maksud aku, Aisha di culik itu, di culik oleh seseorang yang bisa dikatakan, kekasih? Teman? Atau penggemar?"
"Hei, hei, apa yang kamu maksud Sally?"
"Yah, intinya seseorang pria yang sedang berusaha membuat Aisha jatuh cinta"
"Oh my God... Serius?" Ucap Marry tak percaya
"Yah, oh dosen telah datang. Marry setelah ini, kita ke kantin bersama" seru Sally.
"Oke"
Sally mulai antusias untuk mengikuti mata pelajaran yang mungkin membosankan, Sally menjalani aktifitasnya dengan semangat. Ya walau adakalanya ia terlihat lesu, seperti ingin menyerah. Tapi Sally harus menjalaninya dengan sepenuh hati.
Jam dinding terus berputar, detik perdetik tanpa henti ia terus lalui angka-angka yang melingkarinya. Bahkan jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, namun ternyata Aisha masih berada di kediaman Altezza.
"Sudah jam segini, aku gak dipulangin juga?" batin Aisha yang tengah duduk di sofa dan menonton televisi.
"Altezza... Awas kamu, katanya mau mengajakku pergi ke suatu tempat. Kamu malah sibuk di ruang kerja sama Leon segitu lamanya" gumam Aisha kesal.
"Hufttt... Bahkan untuk mengantarku pulang saja tidak" Aisha merasa frustasi, lantaran di rumah itu ia merasa cukup kesepian dan merasa asing di sana.
"Dasar, bodoh. Altezza bodoh" gerutu Aisha, tanpa sadar Altezza sudah mendengar ocehan Aisha yang terlihat frustasi itu.
"Kenapa, sayang?" Tiba-tiba Altezza sudah melingkarkan tangannya di bahu Aisha dari belakang,
"Altezza?" Aisha kaget, lantaran tiba-tiba saja Altezza melingkarkan tangannya di pundak Aisha bahkan Aisha tak menyadari akan langkah Altezza yang tengah menghampirinya.
"Kenapa kamu terus menggerutui ku, sayang?" Ucap Altezza kemudian dan mencium kepala Aisha.
"Apa yang kamu lakukan, cepat menyingkir dariku" ucap Aisha kesal.
Altezza melepaskan pelukannya itu dan berjalan menghampiri Aisha yang masih duduk disofa panjang, kemudian Altezza ikut duduk tepat di sebelah Aisha dan merangkul bahu Aisha, bahkan mereka sangat dekat tanpa ada celah sedikitpun.
"Menjauhlah dariku" Aisha yang merasa kesal itu pun merajuk.
"Hemmm..."
"Altezza, aku mau pulang" ucap Aisha kemudian.
"Mau pulang kemana? Ini kan rumah kamu" ucap Altezza.
"Enak? Mau lagi?" Ucap Aisha.
"Kamu berani melawan, sayang. Apa kamu mau aku hukum?" ucap Altezza dengan sebuah rencana yang tersembunyi.
"A, apa yang akan kamu lakukan?" Aisha mulai merasa was-was.
"Altezza, apa yang akan kamu lakukan? Menjauh lah dariku" ucap Aisha yang mulai cemas dan mencoba untuk menjauh dari tubuh Altezza, namun tubuh Aisha sudah terpentok akan bahu sofa, Altezza pun sudah begitu dekat dengan Aisha.
Altezza yang berakal bulus itu pun langsung menggelitiki tubuh Aisha, Aisha bergeliat geli dan berusaha untuk memberontak namun tak bisa.
"Hahaha... Altezza stop, itu geli... Ah, haha..." Ucap Aisha yang terbata-bata lantaran merasa geli di tubuhnya. Aisha terkulai lemas yang sudah merosot dilantai, tubuh Aisha tak berdaya karena rasa geli itu cukup ngilu dan membuatnya tak berdaya untuk memberontak.
"Kau... Hahhh hahhh..." Nafas Aisha tersengal, ia masih merasakan geli, meskipun Altezza sudah berhenti menggelitiki tubuh Aisha.
Altezza yang telah membuat Aisha terperosok di lantai pun berencana untuk mengangkat tubuh Aisha, agar kembali duduk di atas sofa.
"Altezza. Hahaa cukup, jangan gelitikin aku lagi" ucap Aisha, saat Altezza hendak mengangkat tubuhnya, Aisha pun melindungi tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Kamu pede sekali, sayang"
"Aaa... Altezza cu... Eh?" Teriakan Aisha terhenti, lantaran Altezza ternyata tengah mengangkat tubuhnya.
"Turunkan aku" Aisha memberontak.
"Aisha, kau mau ku gelitikin lagi?" Ucap Altezza yang tak mau kalah itu.
"Ah, tidak tidak" ucap Aisha buru-buru.
"Makanya diam" perintah Altezza.
Altezza berjalan dan meninggalkan ruang santai dan menuju kedapur dengan memapah tubuh Aisha. Sesampainya di dapur, di turunkanlah Aisha di sana. Aisha hanya menatap Altezza dengan wajah kebingungan, entah apa yang akan diperbuat Altezza. Sebab, diatas meja belum ada sajian makanan, lalu untuk apa Altezza membawa Aisha kesana?
"Bibi Lin, biarkan Aisha yang memasak" ucap Altezza kemudian, ketika di sana ada bibi Lin yang hendak memasak.
"Apa???!?" Aisha terbelalak akan ucapan Altezza.
"Hemmm, aku ingin tahu. Calon istriku ini bisa memasak atau tidak" ucap Altezza.
"Aku tidak bisa memasak" sahut Aisha
"Hemmm... Sayang, mau digelitikin atau kau menciumku?" Tawar Altezza dengan senyum penuh misteri itu.
"Pilihan macam apa itu. Altezza, kamu benar-benar licik" pekik Aisha yang tak habis pikir akan rencana Altezza yang selalu saja membuat Aisha tak dapat untuk bergerak mundur.
Altezza mengambil clemek dan memakaikan ke tubuh Aisha. Altezza pun duduk dengan santainya di salah satu kursi.
"Buktikan, jika kamu memang hebat dari bibi Lin" ucap Altezza dengan gaya mendekapkan kedua tangannya.
"Biarlah bibi Lin yang lebih hebat dariku" ucap Aisha kesal, lantaran enggan untuk memasak.
"Sayang, kamu mau aku ajarin?" Altezza memainkan jari jemarinya seperti hendak mengancam akan menggelitiki tubuh Aisha.
"Aaah... Baiklah. Oke oke... Tolong turunkan tangan nakalmu itu" Aisha buru-buru membalikkan badan dan mulai untuk memasak.
"Haha, aku tahu apa yang harus aku lakukan" ucap Aisha dalam hati dengan senyum menyeringai.
Aisha pun memulainya dengan memilih bahan makanan untuk ia masak dari dalam lemari es, setelah itu ia memotong-motong dan membersihkan setiap sayuran yang ia pilih. Aisha sudah nampak cekatan dalam hal memasak, Altezza tak salah menduga, jika Aisha benar-benar bisa memasak.
Puluhan menit telah berlalu, bau harum masakan Aisha telah menyelimuti ruangan itu. Hidung Altezza pun tak menyia-nyiakan aroma khas masakan Aisha. Tak lama kemudian, Aisha menyajikan berbagai masakan di atas meja. Altezza pun sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Aisha, dari penampilan dan aromanya sungguh memikat Altezza untuk segera mencucinya.
Plakkk...
"Cuci tangan dulu" ucap Aisha yang telah memukul tangan Altezza yang hendak mengambil tempura.
"Haih... Baiklah" dengan sigap Altezza mencuci tangannya di wastafel.
"Hihihi..." Aisha menutup mulutnya dan tertawa kecil.
Setelah selesai mencuci tangan, Altezza buru-buru kembali untuk duduk dan mencicipi tempura yang terlihat renyah dan lezat. Altezza pun mengambil salah satu tempura yang sudah tersaji di atas piring saji, Altezza pun sudah tak sabar untuk segera menikmati masakan dari seorang kekasihnya itu. Sudah pasti lezat.