
Di kantor Altezza, hampir semua karyawan tengah ramai membicarakan bos mereka yaitu Altezza, yang sedang menggandeng tangan Aisha. Aisha merasakan aura para perempuan yang sedang patah hati, bos mereka telah tunduk pada seorang mahasiswi asal indonesia, Aisha Olinda. Ya walaupun Altezza sendiri orang indonesia, tetapi tak sedikit karyawan perempuan yang mengagumi bahkan menyukai Altezza, selain cerdas, berkarisma, kaya dan juga tampan. Sebab itulah tak sedikit para fans Altezza yang cemburu dengan Aisha, sebab tempat Aisha untuk bekerja seharusnya ada bagian desainer, tapi kenyataannya Aisha ditempatkan dibagian direksi bahkan kabar angin yang mengatakan mereka berada dalam satu ruangan dengan bos mereka.
Ya, semuanya rencana Altezza, karena tugas dari professor Sam Aisha tak dapat untuk menolaknya, meskipun Aisha tahu seharusnya Aisha tak berada dalam satu ruangan bersama seorang bos bahkan dibagian direksi, Aisha hanya tunduk dengan Altezza ditempatkan dimanapun, karena status Aisha merupakan mahasiswi bukan karyawan. Karena tugas itu pula akan memengaruhi nilai plus bagi Aisha.
Sebelum mengantarkan Aisha pulang, Altezza mengajak Aisha untuk mengunjungi wahana hiburan disudut kota. Sebelumnya Altezza tak memberitahunya lebih dulu kepada Aisha, tahu-tahu mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir diarea wahana hiburan.
"Kenapa kesini?" Ucap Aisha tak bersemangat
"Ayo turun, aku ingin makan sesuatu disana" ucap Altezza dan melepaskan sabuk pengaman. Aisha enggan untuk turun, tetapi Altezza lebih dulu untuk turun dan membuka pintu untuk Aisha.
"Mau ngapain sih?" Ucap Aisha, saat Altezza sudah membukakan pintu untuk Aisha.
"Ikut saja, atau mau aku gendong?" Ucap Atezza dan bersiap-siap untuk menggendong Aisha
"Eh, iya iya. Aku turun" ucap Aisha, ia pun turun dari mobil.
Lagi-lagi Altezza menggandeng tangan Aisha, Altezza mengajaknya untuk mengelilingi wahana dan bermain disalah satu wahana yang cukup seru. Altezza pun memaksa Aisha untuk ikut bermain, Aisha enggan namun pada akhirnya Aisha ikut bermain dengan Altezza. Wajah Aisha kini mulai berubah, mungkin badmoodnya perlahan sudah menghilang, karena sudah cukup lama mereka bermain dari satu tempat ketempat yang lain.
Pada salah satu pemainan, Altezza memenangkan dan mebdapatkan boneka beruang yang cukup besar. Altezza memberikan boneka itu kepada Aisha, karena Aisha sudah kalah telak darinya.
"Eh, buat aku? Bukannya kamu yang menang?" Ucap Aisha saat menerima boneka itu.
"Aku kan pria dewasa, mana mungkin aku bermain dengan boneka itu. Karena, aku lebih tertarik kamu yang menjadi hadiahku" ucap Altezza dan tersenyum misterius kepada Aisha.
Aisha merasa merinding dengan tatapan, Altezza, entah apa yang Altezza maksud. Seolah-olah begitu mencekam bagi Aisha.
"Sudah malam, sebaiknya kita cari makan" ucap Altezza saat melihat jam tanganannya. Aisha hanya patuh kepada Altezza, sebab berkat Altezza pula, mood Aisha kini sudah membaik. Bahkan tanpa sadar, langit sudah mulai gelap.
Sementara itu dinegara Indonesia, tepatnya dipagi hari disebuah di toko bunga dimana Aisha bekerja dulu. Ternyata Deva masih bekerja disana, bahkan Deva dipercaya sebagai manajer oleh bos Adwan. Di toko itu pula sudah ada karyawan baru, yaitu Destri dan Lala.
"Teman-teman, bisakah kita kumpul sebentar" ucap Deva kepada Destri dan Lala
"Ada apa, kak?" Ucap Destri, menghampiri Deva begitu juga Lala
"Aku hanya ingin memberikan pengumuman sebentar. Jam kerja kita akan bertambah, sampai di jam tujuh malam. Kita akan membagi jam istrirahat kita secara bergantin, kecuali jam makan siang, kita sama-sama istirahat selama satu jam, dari jam dua belas sampai jam satu siang. Waktu istirahat secara bergantian, yakni istirahat pertama, yaitu dari jam sembilan sampai jam sepuluh pagi, sedangkan dijam istirahat kedua, yakni jam tiga sampai jam empat sore, sisanya kita bekerja sampai malam. Dan tenang, bos Adwan akan menaikkan gaji kalian" jelas Deva.
"Jadi maksudnya, yang istirahat pagi dan sore itu waktu untuk bergantian?" Ucap Lala.
"Iya, misalnya. Pagi kamu istirahat, sedangkan Destri tetap bekerja, setelahnya jam tiga sore itu gantian Destri yang istirahat, sedangkan kamu harus tetap bekerja" ucap Deva.
"Oh, begitu" ucap Lala, ia mengangguk dan mengerti.
"Destri, paham?" Ucap Deva.
"Paham, kak" ucap Destri.
"Ya sudah, kembali bekerja" ucap Deva. Destri dan lala membubarkan diri dan bekerja.
"Sudah dua tahun, Aisha pergi ke Amerika. Apa kabarnya sekarang, apakah disana benar-benar sibuk? Sampai-sampai dia sudah jarang sekali mengabariku" gumam Deva yang sudah berada dibelakang untuk membuat laporan.
"Kak Deva, ada yang mencari kakak" ucap Lala yang sudah menghampiri Deva saat berada diruang belakang.
"Siapa?" Ucap Deva.
"Kak Danial" ucap Lala.
"Oke, terima kasih" ucap Deva. Lala segera keluar lebih dulu, sedangkan Deva bersiap-siap untuk menemui Danial. Mulai dari memperhatikan kerapian baju dan sedikit polesan make-up, karena memang Deva telah menaruh hati kepada Danial.
"Danial?" Seru Deva, saat ia keluar dan menghampiri Danial.
"Pagi, Dev. Sudah sarapan?" Ucap Danial
"Em, sudah. Ada apa kemari?" Ucap Deva
"Kenapa?" Ucap Deva sedikit kecewa, karena hampir setiap ketemu dengannya selalu saja Aisha yang di bahas.
"Karena, aku ingin tahu kabarnya saja. Barang kali kamu..." Ucapan Danial terhenti karena langsung dipotong oleh Deva.
"Apa kamu merindukannya?" Ucap Deva merasa cemburu.
"I, iya. Karena dia temanku" ucap Danial.
"Kalau begitu, cari tahu sendiri. Jangan tanyakan kepadaku" ucap Deva dan berdiri lalu meninggalkan Danial begitu saja.
"Begitu rupanya" gumam Danial tersenyum penuh dengan kemenangan.
"Dasar bodoh, kenapa selalu Aisha. Bukankah Aisha sedang mencari Gibran Abraham, kenapa dia bodoh sekali sih" gerutu Deva, saat sudah berada diruang kerjanya.
Disisi lain, tepatnya di kota Manhattan dimana Aisha berada. Aisha sudah tiba di apartemen, Aisha terpikir tentang Deva, Alex, mama dan juga Danial yang sudah membantunya sampai sekarang. Aisha pun mencoba untuk menelfon Deva.
"Deva?" Seru Aisha, namun sepertinya Deva sedang marah dengannya.
"Dev, ada apa?" Ucap Aisha. Deva pun menceritakan tentang Danial yang barusan terjadi, Aisha jadi merasa bersalah kepada Deva.
"Maafkan aku, Deva. Tapi sungguh Dev, aku tak ada perasaan apapun dengannya. Aku menganggap Danial sebagai kakakku, Dev dengarkan aku, aku... Aku disini sudah ada pacar, mungkin calon suami" jelas Aisha dengan rasa malu.
"Apa???" Ucap Deva dengan nada keras karena tak percaya.
"Aduh, Deva. Bisa budeg nih kuping aku" rengek Aisha.
"Bagaimana bisa? Bukannya, kamu sedang mencari Gibran Abraham? Kok bisa?"
"Panjang ceritanya, intinya Gibran Abraham aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Toh kita gak tahu dia masih hidup atau sudah jadi tulang belulang" ucap Aisha.
Aisha sebenarnya berbohong kepada Deva, tetapi memang betul Aisha hanya menganggap Danial seorang sahabat, lebih tepatnya seorang kakak dan tak lebih dari itu.
"Dev, sudah ya. Aku mau telfon mama" ucap Aisha.
"Oke, selamat.. eh disana malam kan ya, kalau begitu selamat malam Aisha" ucap Deva dengan suara riang. Deva pun langsung menutup telfonnya.
"Syukurlah, Deva tak marah lagi" ucap Aisha, ia merasa lega.
"Oh ya, dimana Sally. Kok tumben belum pulang" ucap Aisha, dan celingukan mencari keberadaan Sally.
"Biar aku telfon Danial dulu, apa-apaan sih dia" ucap Aisha geram.
"Halo, Danial. Kamu apa-apaan sih, kenapa kamu bilang begitu, bukannya sebelumnya kamu sudah menelfonku, kenapa kamu bilang begitu ke...." Sejurus kemudian, kekuatan omelan Aisha pun terhenti akan perkataan Danial, entah apa yang Danial bicarakan kepada Aisha yang tiba-tiba mengerem omelan Aisha.
"Apaaa??" Ucap Aisha yang kaget bukan kepalang itu, saat mendengar ucapan Danial yang entah apa Danial ucapkan.
"Jadi, maksud kamu begitu? Baiklah, aku akan tutup mulut" ucap Aisha, ia pun menutup telfonnya.
"Dasar Danial, tapi baiklah" gumam Aisha. Ia pun merebahkan di atas ranjangnya, tak lama kemudian Aisha pun tertidur di atas kasur yang nyaman itu.
Tok tok tok... Ketukan pintu mampu membangunkan Aisha dari mimpinya. Dengan mata yang masih berat karena mengantuk, Aisha beranjak bangun dan membukakan pintu.
"Sally?" Ucap Aisha kaget dan terbelalak, lantaran keadaan Sally begitu terlihat sangat berantakan.
Sally hanya diam dan masuk tanpa mengatakan apapun, Sally meletakkan tasnya dan langsung menuju kamar mandi, setelah itu Sally pun masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Aisha pun tak mengerti akan keadaan Sally yang hanya diam tanpa kata, tetapi Aisha menahannya dan mencari waktu yang tepat untuk menanyakannya.
Tetapi sudah lama sekali, Sally berada di dalam kamar mandi. Aisha pun mulai merasa khawatir kepada Sally, khawatir telah terjadi sesuatu dengan Sally lantaran waktu pulang tadi, keadaan Sally terlihat sangat berantakan.
"Sally, buka pintunya" ucap Aisha sembari mengetuk pintu kamar mandi. Namun tak ada sahutan, Aisha menempelkan telinganya untuk mendengarkan keadaan didalam. Tetapi hanya sunyi, makin panik lah Aisha dibuatnya.
"Sally... Sally, buka pintunya" teriak Aisha dengan cemas. Namun lagi-lagi tak ada sahutan dari Sally. Aisha tak sabar lagi, Aisha pun mencoba mendobrak pintunya. Beruntung pintu itu bukan pintu besi ataupun pintu kayu yang kuat, Aisha mampu mendobraknya hingga pintu itu jebol.