
Hari itu, waktu sudah berlalu dengan cepatnya, detik per detik jarum jam itu terus berputar secara terus menerus tanpa lelahnya. Jam kampus hari itu pun sudah berakhir, Aisha berencana untuk lebih dulu mencari Sally. Aisha mendapati Sally yang tengah berjalan di koridor yang kebetulan juga hendak mencari Aisha saat itu.
"Sally..." Sapa Aisha dari kejauhan dan melambaikan tangannya.
"Aisha..." Seru Sally, saat melihat Aisha dan berlari kecil menuju ke arah Aisha.
"Aisha... Habis di kemanain Altezza, kamu selama ini?" Sally memeluk Aisha, begitu juga Aisha pun membalas pelukan Sally.
"Sally, apa kamu merindukan aku?" Ucap Aisha.
"Tentu. Tentu aku merindukan kamu, dasar bodoh" ucap Sally dan melepaskan pelukannya.
"Sally, apa kamu membawa dompetku? Ponsel?"
"Tentu saja tidak, Aisha. Bagaimana bisa aku membawa barang orang" ucap Sally dan mencubit Aisha.
"Au... " Aisha menyentuh hidungnya yang terlihat memerah itu.
"Ayok lah, kita pulang" seru Sally.
"Oke" ucap Aisha, mereka pun bergegas untuk pulang bersama.
Di dalam perjalanan menuju apartemen, Sally meminta Aisha untuk bercerita saat bersama Altezza. Meskipun, Aisha nampak malu namun demi sahabatnya itu, Aisha berbagi cerita sekaligus kebahagiaan yang ada dalam dirinya.
Setibanya di apartemen, mereka merebahkan tubuh bersama di atas ranjang. Begitu nyaman dan lebih leluasa berbaring di sana, Aisha yang rindu akan ranjangnya itu pun terobati.
"Hah... Akhirnya bisa bermalasan juga. Oh ya, Aisha. Setelah ujian nanti, pasti libur dong. Rencanya mau pulang ke indonesia atau ke rumah Altezza?" Ucap Sally kemudian.
"Gak tahu juga, Sally. Kalau kamu sendiri?" Ucap Aisha.
"Huft... Sepertinya, aku harus pergi ke rumah kakek. Aku harus segera menyelesaikan sesuatu di sana" ucap Sally, dengan malasnya.
"Apa kamu memiliki masalah, Sally?" Ucap Aisha, ia merasa Sally tengah menyimpan suatu masalah.
"Yah... Glen, entah kenapa aku merasa ada yang janggal" ucap Sally kemudian.
"Apa, kamu bertemu dengannya lagi" selidik Aisha.
"Sudahlah. Aku tak ingin membicarakan pria bodoh itu. Aisha, bagaimana kalau kita memasak?" Ajak Sally, ia teringat akan stok makanan yang di kirim oleh Altezza sebelumnya.
"Hemmm, jadi benar? Altezza mengirimkan stok makanan?" selidik Aisha.
"Banyak sekali, Aisha. Lemari es pun tidak muat" seru Sally.
"Altezza, selalu saja berlebihan" gumam Aisha.
"Ada apa, Aisha?" Ucap Sally saat mendengar Aisha yang tengah bergumam.
"Ah, tidak. Ayolah, kita masak. Aku sudah mulai lapar" seru Aisha, ia pun bangkit dari rebahannya.
"Oke" seru Sally, yang menyusul untuk bangkit.
Mereka bergegas pergi untuk turun dan menuju dapur untuk memasak di sana. Mereka nampak ceria saat memasak, terutama Sally yang memang hobi dengan masak memasak. Hampir satu jam, mereka selesai memasak. Dengan segera mereka membawa ke ruang makan dan untuk melahapnya di sana. Namun, dalam pertengahan mereka yang tengah menikmati makanan, terdengar ada suara bel pintu yang berbunyi.
Dinggg... Dung...
Suara bel itu berbunyi tanpa jeda, dengan segera Aisha bangkit untuk membukakan pintu.
"Altezza?" ucap Aisha yang sedikit terkejut akan kedatangan Altezza.
Tanpa berkata, Altezza langsung menubruk dan memeluk Aisha. Bahkan Aisha hampir kewalahan dengan serangan itu, Aisha pun tiba-tiba membalas pelukan Altezza lantaran ia juga tengah menyeimbangkan dirinya yang hampir saja terjatuh, namun pelukan Altezza cukup kuat dan menopangnya Aisha agar tak terjatuh.
"Altezza. Aku tidak bisa nafas" ucap Aisha yang merasa sesak akibat pelukan itu.
Dengan segera Altezza melepaskan pelukannya, dan langsung menerkam bibir Aisha. Altezza seperti sedang kerasukan, kerasukan cinta entah mala rindu. Belum juga satu hari penuh, ia sudah serindu itu atau jangan-jangan Altezza mulai gemar menciumi Aisha.
"Altezza, kamu habis kesambet dari mana sih?" celetuk Aisha, ketika Altezza sudah melepaskan ciumannya.
"Aku kangen.." rengek Altezza yang ternyata masih saja bersikap manja.
"Huh... Lagi-lagi rengekannya ini" keluh Aisha dalam hati.
"Iyaaa, aku juga ka... Eh, tunggu dulu" Aisha hampir keceplosan itu pun segera lari dan menuju ke kamar, lantaran ia ingat akan sesuatu.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi ingat, kom-pen-sasi" ucap Sally, yang langsung pergi menyusul Aisha dan meninggalkan Altezza seorang diri.
Tak lama kemudian Aisha turun dan mebawa tas yang tadi ia bawa di kampus. Disana Aisha mulai marah akan dompet dan juga foto wallpaper. Altezza merasa terpojok dengan ocehan Aisha, layaknya perempuan yang sedang PMS.
"Sudah?" Ucap Altezza kemudian, saat Aisha berhenti mengoceh.
"A, apa? Heh... Kamu, dasar Altezza bodoh" ucap Aisha dengan nada sedikit keras.
"Sudah, ya sayang. Aku mau pulang dulu, oke" ucap Altezza kemudian.
"Pergilah. Tapi, bawa barangmu" pekik Aisha.
"Itu untukmu, sayang"
"Aku bukan cewek matre" entah kenapa Aisha menjadi sangat kesal, mungkin ia merasa tersinggung akan. perlakuan Altezza.
"Kamu calon istriku"
"Diam"
"Baiklah" Altezza mengalah, ia pun langsung keluar dengan membanting pintu.
"Eh? Kenapa aku marah-marah seperti itu kepada Altezza" Aisha tersadar saat melihat Altezza yang tengah menutup pintu dengan keras, Aisha pun merasa menyesalinya.
"Aku merasa lelah dan perutku terasa tidak nyaman" keluh Aisha kemudian, ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengecek, lantaran ia merasa ada yang tidak beres. Setibanya di sana, Aisha kaget akan hal tak terduga, benar saja ia mendapati dirinya yang tengah mengalami siklus bulanan, menstruasi.
"Huh... Maafkan aku, Altezza. Pantesan moodku begitu kacau sedari tadi siang" batin Aisha yang merasa menyesal.
Tok tok tok
"Aisha... Cepat keluar, Altezza datang lagi tuh" ucap Sally di balik pintu.
"Apa? Dia..." Gumam Aisha.
"Baikalah, tunggu sebentar. Sally, bisakah kamu bawakan aku pembalut untukku?" Teriak Aisha.
"He? Kemana anak itu?" Gumam Aisha, saat Sally tak menyahut cukup lama.
Tok tok tok
"Sally, apakah itu kamu? Aku buka pintunya kamu lansung ulurkan ya, jangan mengintip" ucap Aisha.
Dan benar, saat Aisha mebuka pintu sedikit, disana hanya nampak tangan dan membawa satu bungkus pembalut. Dengan segera Aisha mengambil dan menutup kembali pintu otu, ia pun dengan segera untuk memakainya.
"Eh, tunggu" gumam Aisha, mengingat sesuatu yang janggal.
"Tangan tadi kok seperti menggunakan jas? Aku kok merasa tangannya seperti, tangan seorang pria" gumam Aisha, mulai gusar.
"Itu, tanganku sayang" terdengar suara Altezza di balik pintu.
"A, apa? Altezza?" Gumam Aisha.
"Aaaa... Altezza bodohhhh" teriak Aisha, saat sudah menyadari.
Aisha segera memakainya dan cepat-cepat untuk keluar dari kamar mandi untuk memaki habis Altezza. Saat Aisha membuka pintu, benar saja Altezza berdiri tegap seperti sengaja tengah menungguinya di sana.
"Altezza!!!" ucap Aisha dengan kesalnya, namun tiba-tiba saja Altezza langsung memeluk Aisha.
"Lepas, bodoh. Aku marah sama kamu" ucap Aisha yang tengah memberontak.
"Tidak akan" ucap Altezza.
"Cepat lepaskan" Aisha masih saja memberontak.
Altezza pun mengarahkan tubuh Aisha ke atas ranjang dan merubuhkan tubuh Aisha di sana, kemudian Altezza menguncinya dengan berada di atasnya. Aisha tak bergeming, ia tetap memberontak bahkan dengan kesalnya Aisha mulai memaki Altezza, di ruangan itu pun terdengar begitu berisik akan kicauan Aisha yang seperti emak-emak yang tengah mengomel. Altezza yang memang jahil, selalu saja tak pernah kapok untuk di cubit bahkan dipukul-pukul sekalipun, tetap saja Altezza memerlakukan Aisha dengan manja karena tentu saja badan Altezza tak akan merasa serangan Aisha lantaran Altezza sudah terlalu cinta, yah mungkin buta cinta. Entahlah, bukankah jika anak muda sedang jatuh cinta pun juga begitu?
Sedangkan Sally yang sedang menikmati minuman hangatnya, hanya mengabaikan suara gaduh di atas. Mana mungkin Sally ikut-ikutan dalam acara asmara itu, Sally hanya tertawa kecil mendengar Aisha ketika marah kepada Altezza yang persis seperti mamanya.
"Yahhh... Jomblo bisa apa?" Gumam Sally kemudian, dan menyeruput secangkir teh hangat di ruang makan sembari memainkan game di ponselnya agar tak begitu terbawa perasaan dengan dua sejoli itu.