
Didalam ruangan apartemen tepatnya di ruang tamu, Aisha terlihat hanya diam dengan wajahnya yang nampak begitu lesu, Deva merasa bingung dengan sikap Aisha yang saat itu, ia mengetahui sahabat masa kecilnya pasti sedang bersedih hati. Aisha yang masih diam dan menaruh tasnya di atas meja itu pun kembali berjalan menuju dapur yang tak jauh dari ruang tamu. Deva pun menatap Sally yang sedari tadi seperti tengah menyembunyikan sesuatu, Deva pun berbisik kepada Sally. Sally pun hanya menjelaskan sepintas saja, dan Deva pun mengerti.
"A, aku mau keluar sebentar untuk membeli beberapa makanan ringan, apa kalian ingin sesuatu?" Ucap Aisha kemudian, ketika ia kembali berbaur dengan yang lainnya.
"Ah, mau ku temani?" Ucap Sally
"Tidak perlu, hanya sebentar kok" ucap Aisha dengan senyum yang ia buat-buat. Deva telah membacanya, Aisha sudah pasti sedang dalam masalah.
"Baiklah, Aisha. Aku ingin es krim yang ada diseberang jalan tadi sebelum kita kesini, boleh kan?" ucap Deva, dengan tujuan Aisha ada waktu untuk menyendiri.
"Ah, itu jauh Dev. Kenapa kamu menyusahkan Aisha?" Ucap Danial, lantaran ia tak tahu akan tentang wanita.
"Gak apa-apa, aku juga ingin es krim disana" ucap Aisha dengan senyum palsunya itu.
"Kalau begitu, Aisha belikan es krim saja. Soal makanan ringan, terserah kamu saja" ucap Sally, mengerti maksud Deva.
"Oke" ucap Aisha, dan bergegas pergi keluar.
"Dasar, Danial bodoh. Maksud aku tuh, Aisha bisa nenangin diri dulu ditaman dekat toko es krim tadi" ucap Deva dan mencubit Danial saat Aisha sudah pergi keluar.
"Au.. sakit Deva, lagian maksud kalian apa? Nenangin, nenangin apa?" Ucap Danial yang belum mengerti.
"Dasar bodoh, sebaiknya kamu diam kalau tidak tahu" ucap Deva. Sally hanya cengengesan melihat dua sejoli itu.
"Kenapa? Kenapa perasaan ini terasa begitu menyiksa diriku, saat melihat Altezza bergandengan tangan dengan wanita lain hatiku terasa sakit?" Batin Aisha saat berada didalam lift.
"Apa aku sedang cemburu? Tidak mungkin kan? Aisha, sadarlah. Kamu sedang mencari Gibran Abraham. Apa yang kamu pikirkan?" ucap Aisha dalam hati.
"Tapi kenapa? Di sini begitu terasa sesak dan terasa sakit?" Ucap Aisha dalam hati, sembari menekan dadanya yang di rasa sakit itu, namun tiba-tiba pintu lift itu terbuka. Asiha kaget dan refleks melihat kedepan untuk melihat siapa yang hendak masuk kedalam lift. Aisha tak percaya dengan apa yang ia lihat, Altezza ada didepannya dengan wanita tadi, mereka masuk kedalam Lift, Aisha hanya menunduk dan termenung tanpa berkata bahkan untuk tersenyum pun.
"Aisha, kamu mau kemana? Dimana priamu itu? Apakah dia tidak mau menemani kamu?" Pertanyaan Altezza itu pun terlontar dengan tiba-tiba, dan sudah membuat Aisha ingin cepat keluar dari sana.
"Pria? Apa yang dimaksud Danial?" Batin Aisha.
"Halo? Aisha? Kenapa diam saja?" Ucap Altezza mengejutkannya.
"Eh, dia. Dia sedang... Ah, sudah sampai. Aku duluan ya" ucap Aisha dan bergegas keluar saat pintu lift telah terbuka.
Aisha dengan cepat melangkah dan menjauh dari Altezza. Setelah Aisha cukup berjalan jauh dari kawasan apartemennya itu, Aisha pun pergi untuk membeli es krim, namun tiba-tiba dugaan Deva benar-benar tak melesat. Aisha malah melewati toko itu dan pergi ketaman lebih dulu dan duduk termenung disana, disana pula Aisha menangis tak mampu menahan air matanya lagi, karena hatinya yang sedang terluka.
"Kenapa? Kenapa sakit seperti ini? Dia bukan siapa-siapa aku dan aku telah memikirkan Gibran Abraham sejak lama, tapi kenapa?" Batin Aisha.
Cukup lama Aisha menangis di sana, ia pun sudah merasa cukup tenang, dengan sigap Aisha mengusap air matanya. Iapun bergegas pergi ke toko es krim untuk membeli beberapa es krim dan makanan ringan disebuah mini market yang tak jauh dari toko es krim. Setelah selesai membeli beberapa es krim dan makanan ringan, Aisha keluar dengan menenteng dua kantong plastik berwarna putih, ia pun melangkah cepat untuk kembali. Karena teman-temannya sudah pasti menunggunya di sana cukup lama.
Saat Aisha hendak menyeberang jalanan yang berada di zebra cross, untuk menunggu lampu berwarna merah, Aisha kembali termenung dan melamun. Saat lampu merah telah menyala Aisha berjalan dengan lamunan dan pandangan kosong.
Tin tinnn... Suara kalkson mobil terdengar cukup keras, sontak membuat Aisha kaget bukan main dan menjatuhkan kedua kantong plastik yang ia bawa sehabis belanja tadi.
"Aisha" panggil pria itu yang telah menyelamatkannya dengan suara terdengar seperti sedang mencemaskan nya.
Aishapun langsung membuka mata, saat mengenali suara itu, dan benar saja pria itu ialah Altezza. Altezza, badannya telah menopang tubuh Aisha agar tak jatuh dan terbentur tembok pagar yang ada dipinggir jalan itu. Mungkin suara keras yang tadi, merupakan benturan tubuh Altezza yang terbentur tembok.
"Kamu?" Ucap Aisha dengan segera melepaskan diri dari pelukan Altezza. Belum sempat Aisha menjauh darinya, tangan Altezza sudah menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Tolong, lepaskan" lirih Aisha, dan menyesal kenapa Altezza yang telah menyelamatkannya.
"Sudah ku bilang, tak akan ku lepaskan dirimu" ucap Altezza, yang enggan melepaskan Aisha. Karena Altezza tahu, bahwa Aisha hampir celaka karena dirinya telah menyakiti perasaannya.
Aisha menahan air mata untuk tidak menangis didepan Altezza karena rasa sakit itu. Aisha memberontakkan diri agar terlepas dari pelukan Altezza, namun semakin ia memberontak semakin erat pula Altezza memeluknya, tanpa menunggu aba-aba, Altezza pun langsung mencium bibir Aisha untuk menahannya di sana. Aisha memberontak, tetapi Altezza bukanlah lawan yang sebanding, Aisha hanya pasrah dengan itu tanpa sadar air matanya menetes cukup deras disana.
"Kenapa perasaan ini..." ucap Aisha dalam hati.
Saat Altezza menyadari Aisha yang tengah menangis itu pun melepaskan ciumannya dan juga pelukannya, namun tiba-tiba Aisha menyadari ada sesuatu yang cukup basah di tangannya. Aisha yang melihat itu pun terkejut akan darah segar yang sudah melekat di tangannya, rupanya punggung Altezza berdarah. Paniklah Aisha, ia pun berencana untuk membawa Altezza ke rumah sakit terdekat. Namun Altezza menolaknya, Altezza hanya meminta untuk kembali ke apartemen. Aisha bingung, tetapi dengan terpaksa Aisha mengabulkan permintaannya Altezza lantaran Altezza begitu tak mau di bawa ke rumah sakit.
Tok tok tok.. suara ketukan pintu. Sally berfikir itu Aisha, dengan sigap Sally membuka pintu, namun yang ada disana bukanlah Aisha melainkan Leon, asisten Altezza.
"Lho? Kak Leon?" Ucap Sally dan melihat Leon membawa dua kantong plastik yang cukup besar.
"Ini, titipan nona Aisha" ucap Leon yang berbohong itu.
"Lalu kemana Aisha?" Tanya Sally cemas, namun juga penasaran.
"Tenang, nona sedang menyelamatkan cintanya" ucap Leon dan menyerahkan dua kantong plastik itu kepada Sally.
"Oh... Eh kak Leon, ikut gabung yuk dengan kami" ajak Sally dengan wajah cerianya.
"Ahaha.. Gabung?" Ucap Leon dan mengernyitkan dahi.
"Ah, nanti kakak juga tahu. Sally gak mau lah jadi obat nyamuk mereka, kalau Aisha tidak ada disini" ucap Sally dan langsung menarik paksa tangan Leon untuk segera masuk kedalam kamar apartemen itu.
"Ha? Obat, obat nyamuk? Sepertinya ada informasi bagus untuk bos. Sebaiknya aku ikut saja lah" ucap Leon dalam hati, ia merasa ada sebuah informasi yang menarik untuk bosnya itu, siapa tahu Leon dapat bonus yang mengejutkan.
Asiha dan Altezza sudah sampai di apartemen, mereka berada tepat diantara pintu kamar Aisha dan juga pintu kamar Altezza.
"Jangan kekamar kamu" ucap Altezza dan merogoh sakunya untuk mengambil Id card untuk membuka pintu kamar Apartemen
Aisha bingung darimana Altezza dapatkan kartu itu. Namun Aisha hanya diam dan melihat Altezza yang tiba-tiba membuka pintu yang tepat ada didepan kamarnya. Aisha mencurigai, jika kamar itu adalah kamar Altezza. Saat pintu sudah terbuka, dengan cepat tangan Altezza menarik tangan Aisha dan membawanya masuk kedalam sana.
Aisha memandang ruangan Altezza yang lebih luas, rapi dan elegan juga lebih modern, berfasilitas lengkap dengan sebuah ruang tamu, ruang kerja, kemudian nampak ada sebuah dapur di sana. Kemudian mereka sampai pada lantai atas dimana ruang tidur Altezza, begitu nampak mewah dengan tatanan begitu epik bahkan jendela begitu luas dan dapat untuk memandang kota Manhattan dengan puas, di sisi lain pula sepertinya sebuah kamar mandi yang entah semewah apa Aisha tak tahu.
"Aisha. Cepatlah kemari dan obati luka ku" ucap Altezza.
Aisha hanya diam tanpa kata, Aisha pun mengambil kotak p3k yang berada dimeja di salah satu sudut dekat dengan sofa untuk menonton TV. Dengan segera Aisha mengambilnya dan segera menghampiri Altezza untuk mengobati lukanya.