Just Married

Just Married
episode 84: Calon Ayah Mertua



Pagi itu Aisha terbangun dari mimpinya, ia melihat seperti ada bayangan siluit dari cahaya di balik jendela seperti bayangan kakaknya, Ares. Aisha pun terperanjat dari tidurnya, dan menyadari dirinya belum sepenuhnya terbangun dari mimpi.


"Selamat pagi, istriku" ucap Altezza yang ikut terbangun, namun dirinya masih malas untuk bangun.


"Altezza?" Ucap Aisha, entah kenapa Aisha merasa sangat senang ketika melihat Altezza ada sisinya.


Aisha kembali berbaring dan ikut bermalas di dalam dekapan Altezza, tentu saja sikap Aisha membuat Altezza keheranan.


"Ada apa ini, istriku sepertinya terlihat sangat senang" ucap Altezza, sembari membalas pelukan hangat Aisha.


"Semalam aku bermimpi bertemu dengan papa dan kakak, saat aku membuka mata, aku melihatmu Altezza. Seakan-akan, aku melihat kekuatan papa dan kak Ares ada pada dirimu" ucap Aisha, sembari menatap ceria wajah Altezza.


Altezza hanya tersenyum dan merengkuh tubuh langsing Aisha, dengan gemas Altezza menggesek lembut kepalanya di bawah dagu Aisha. Altezza pun bermanja diatas lembutnya suatu benda yang menonjol dan empuk disana. Entah kenapa, Altezza merasa nyaman saat bermanja disana. Bahkan Aisha sudah tak lagi geli ataupun protes bahkan untuk marah sekalipun Aisha tetap diam dan membiarkan Altezza bermanja disana.


Entah kenapa juga Aisha merasa telah memberikan kenyamanan pada Altezza. Aisha pun berinsiatif mengusap lembut kepala Altezza, Aisha merasa bahwa Altezza tengah membutuhkan dirinya untuk memberi kenyamanan.


Tok tok tok... Suara ketukan pintu itu pun terdengar cukup jelas, tentu saja membuat Altezza berhenti bermanja disana.


"Tuan, sarapan untuk nona Aisha" suara pelayan di balik pintu.


"Masuk" ucap Altezza cukup keras, pelayan itu pun membuka pintu dan langsung mendorong meja makanan yang sudah tersaji berbagai hidangan, mulai dari segelas susu hangat, sepiring roti sandwich sayur, sepiring sajian baked beans dengan omelette dan sosis dilengkapi beberapa potongan tomat dan jamur panggang dan roti bakar, semangkuk kecil bubur, air mineral dan aneka buah segar dan tentunya obat dan vitamin yang sudah siap tersaji diatas piring kecil.


"Siapa yang akan memakan makanan sebanyak itu?" Keluh Aisha ketika pelayan itu sudah keluar, ia merasa itu terlalu berlebihan.


"Kalau tidak sanggup menghabiskan, jangan dihabiskan semuanya sayang" ucap Altezza, ia pun mengecup kepala Aisha.


"Kamu mau kemana?" Ucap Aisha, ketika Altezza beranjak dari tempat tidurnya.


"Ke kamar mandi" ucap Altezza, ia pun berlalu dari ruangan itu.


Tanpa harus menunggu lama, Aisha pun langsung menyantap hidangan yang sudah tersaji dengan lahapnya, setelah selesai menyantap sarapan itu, Aisha langsung meminum obat dan vitamin. Seorang dokter pun datang untuk mengecek dan melepas infus yang masih melekat di tangan Aisha, beberapa menit kemudian seorang pelayan wanita datang untuk membawa kembali meja dorong yang sebelumnya untuk mengantar makanan.


Tak lama kemudian, Altezza datang dan sudah mengenakan pakaian formal nampak begitu rapi. Aisha bisa menebak, jika Altezza akan pergi ke kantor.


"Sayang, aku tinggal ke kantor sebentar ya. Aku akan cepat pulang, kamu bisa ajak mama atau pelayan untuk jalan-jalan" ucap Altezza, ia pun mengecup kening Aisha kemudian menyodorkan kartu debit berwarna emas kepada Aisha.


"Iya" ucap Aisha, kartu debit itu pun sudah ada pada genggaman Aisha.


Aisha beranjak dari tempat tidurnya, ia bermaksud untuk mengantar Altezza sampai di depan sekaligus untuk menghirup udara segar di pagi hari. Namun sialnya, setelah Altezza pergi dari pandangan Aisha, Liana muncul dengan wajah angkuhnya.


"Nona Liana..." Sapa Aisha, ia hanya berusaha bersikap biasa saja.


"Cih. Wanita jalang, kenapa tidak sekalian mati saja kamu" ucap Liana dengan angkuhnya.


"Mana mungkin, Tuhan sudah memberikanku takdir untuk menemani pria tampan ku. Tentu aku harus menjalaninya dengan baik" ucap Aisha tanpa rasa takut sedikitpun.


"Kamu hanya beruntung, mendapatkan sisa dariku" ucap Liana.


"Sisa? Aku rasa, Altezza tidak pernah menjadi sisa siapapun. Kamu tahu Liana, bagaimana Altezza pertama kali menyentuhku? Hehe, tanpa di jelaskan tentu saja itu baru pertama kalinya bagi Altezza, dan... Juga diriku" ucap Aisha tak mau kalah.


"Cih. Sialan, wanita ini tidak bisa di gertak" batin Liana.


"Tapi, setidaknya aku sudah menghabis bertahun-tahun tinggal bersamanya. Sedangkan kamu..."


"Tentu saja aku setiap malam memberi kehangatan lebih yang tak pernah Altezza dapatkan dari wanita manapun, kecuali aku. Liana, sebaiknya kamu lupakan Altezza" sela Aisha.


"Wanita jalang. Beraninya kamu mengancamku, kamu lihat saja nanti" pekik Liana, ia pun berlalu meninggalkan Aisha disana.


"Papa benar. Kehidupan orang dewasa memanglah rumit, tidak seperti waktu kecil. Apa yang kita rebutkan hanyalah sebuah mainan biasa dan pasti akan berbaikan lagi, sedangkan di kehidupan orang dewasa yang begitu nyata, perebutan itu bukan lagi mainan. Melainkan kekayaan, jabatan, kekuasan, kehormatan, kedudukan bahkan orang yang paling di cintai sekalipun, bahkan itu hampir tidak bisa untuk berbaikan kembali, semuanya benar-benar sudah berbeda" gumam Aisha dalam hati.


Aisha menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan, ia merilekskan dirinya untuk tetap bersikap biasa saja tanpa ada rasa takut akan ancaman. Toh, sebelumnya Aisha sudah pernah kehilangan kekayan, orang yang di cintai sekaligus. Tugas Aisha saat ini hanyalah, berserah diri dan berusaha semampunya untuk menjadi seorang wanita yang baik, dan juga mencintai Altezza sebagaimana mestinya.


Tanpa terasa, hari itu sudah siang. Jam makan pun sudah berlalu, namun Altezza belum juga kembali. Bahkan sejak pagi itu pula, Aisha hanya menghabiskan waktunya untuk membaca buku di taman. Namun, di saat jam sepuluh lebih, mama Via mengajak Aisha untuk pergi jalan-jalan sebentar dan berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan ternama. Namun, anehnya Aisha yang sudah di beri kekuasaan kartu debit oleh Altezza, ia sama sekali tak menggunakannya sedikitpun. Aisha hanya perlu menemani mama Via berbelanja keperluan, sedangkan Liana begitu asyik memilah beberapa gaun dengan kartu debit silvernya. Setelah dua jam berbelanja, mereka memutuskan untuk pulang.


"Huft... Sudah hampir jam dua" gumam Aisha, ketika melihat jam dinding di ruang perpustakaan.


"Aisha" panggil mama Via.


"Iya, ma?" Aisha pun langsung beranjak dari sofa.


"Kedepan?" Ucap Aisha.


"Iya, sebentar lagi Altezza akan datang"


"Oh, baik ma" ucap Aisha, ia pun berjalan bersama dengan mama Via.


Setibanya di sana, Aisha merasa heran. Kenapa para pelayan juga ada di sana? Bahkan Liana sudah duduk manis di atas sofa mewah yang ada di ruang utama. Aisha hanya mampu menanti jawabannya, sembari menunggu kedatangan Altezza.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara beberapa pelayan pria yang tengah berlarian menuju kedepan yang sepertinya ada sebuah mobil datang. Aisha hanya mampu bertanya-tanya di dalam hatinya, lantaran ketika melihat para pelayan, wajah dan sikap mereka berubah menjadi serius dan tunduk.


Suara langkah kaki pun mulai terdengar begitu jelas, Aisha pun terus menatap ke arah luar untuk menerawang akan sebenarnya apa yang telah terjadi. Tiba-tiba Aisha menangkap wajah Altezza yang tengah tersenyum kepadanya, Aisha pun membalasnya dengan lega. Dan kemudian seorang pria tak asing datang di belakang Altezza, sontak membuat Aisha terkejut di buatnya.


"Benarkah itu menantu papa, Altezza?" Ucap pria itu yang tak lain ialah papa Altezza.


"Iya pa. Ternyata, anak kita sudah membuktikan omongannya dulu" sela mama Via begitu senang.


"Om, om Abraham?" Aisha mencoba untuk menebak, lantaran ia masih sedikit samar-samar dengan papanya Altezza.


"Papa, jangan om. Nanti di kira om om genit lagi" ucap papa Abraham, alias papanya Altezza.


"Hehe, iya. Terimakasih" ucap Aisha begitu santun dan lembut, ia pun mencium tangan papa Abraham.


"Bagaimana kesehatanmu, nak?" Ucap papa Abraham.


"Baik, pa. Bagaimana dengan kabar papa?" Ucap Aisha, ia merasa sedikit canggung.


"Baik, sangat baik. Apalagi saat mendengar kamu akan menjadi menantu papa. Papa sangat senang, nak" ucap papa Abraham.


"Bagaimana Altezza? Apa perlu papa langsungkan saja pernikahan kalian" ucap papa Abraham kepada Altezza.


"Sekarang pun, Altezza siap pa" ucap Altezza dengan mantapnya.


"Bagus. Itu baru anak papa" puji papa Abraham dan menepuk pundak Altezza.


"Oh, aku melupakan putriku. Liana, kamu ada apa diam saja? Apa kamu juga ingin menikah?" Canda papa Abraham, Liana pun mencium tangan papa Abraham.


"Kalau boleh, pa"


"Tentu boleh, asalkan kamu sudah ada calonnya" ucap papa Abraham.


"Benarkah pa?" Ucap Liana, ia sengaja bersikap ceria seolah-olah ia tengah mendapatkan restu.


Aisha pun menyodok tubuh Altezza yang sudah berada di sampingnya, Altezza yang menyadari itu pun hanya memeluk pundk Aisha dan mengusap lembut pundak Aisha sebagai isyarat, bodo amat dengan Liana. Pertemuan itu pun berjalan dengan singkat, lantaran papa Abraham harus pergi untuk istirahat, karena ia baru saja datang dari Indonesia.


Di kamar Altezza, Aisha tengah membantu melepaskan jas Altezza, Aisha bermaksud untuk belajar menjadi seorang wanita yang patuh untuk Altezza. Altezza yang merasa ada yang berbeda dari Aisha itu hanya diam dan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


Setelah selesai, Aisha meletakkan jas Altezza di sebuah tempat yang sudah tersedia di sudut ruang kamar mandi yang luas itu. Altezza pun duduk sembari menunggu Aisha keluar dari kamar mandi.


"Sayang, kemarilah" ucap Altezza, ketika melihat Aisha sudah keluar dari kamar mandi.


Aisha hanya tersenyum riang dan bergegas pergi mengahampiri Altezza.


"Ada apa sayang? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, apa karena Liana?" Ucap Altezza ketika Aisha sudah datang kepadanya dan langsung memeluk Altezza dengan manja.


"Dia, tidak mau menyerah untukmu Altezza. Aku pun sebenarnya mulai mencemaskan itu, tapi..." Belum sempat Aisha meneruskan ucapannya, Altezza sudah membungkam dengan isyarat jari Altezza yang sudah menempel di bibir Aisha.


"Aku, Gibran Altezza. Yang hanya akan mencintai, istriku Aisha Olinda" ucap Altezza begitu tegas, jari Altezza yang masih menempel di bibir Aisha pun bergeser mengarah ke pipi dan mengusap lembut pipi Aisha.


"Benarkah?" Ucap Aisha, yang sedari tadi menatap lekat wajah Altezza. Dengan senyuman Altezza, ia pun sudah tak mampu menahan gejolak dalam dirinya, Altezza langsung mengangkat sedikit wajah Aisha dan menciumnya dengan hangat, begitu nyaman Aisha rasakan, sedangkan kedua tangan Aisha memegang lembut kedua tangan Altezza yang masih menahan wajah Aisha.


"Ngomong-ngomong, soal namamu. Sebenarnya Gibran Abraham atau Gibran Altezza?" Ucap Aisha kemudian, ia teringat akan nama itu lantaran cukup membuat Aisha penasaran.


"Soal itu, nanti kamu akan mendapatkan jawabannya. Sayang, hari ini aku ingin bermanja denganmu" rengek Altezza, ia pun langsung mengangkat Aisha agar duduk di pangkuannya, Altezza pun kembali bermanja di bawah dagu Aisha yang terdapat ada benda empuk disana.


Dengan gemas Altezza mengusap wajahnya disana, begitu terasa nyaman. Namun, baru kali itu jantung Aisha terpacu dengan cepatnya akan sikap Altezza itu. Altezza yang menyadari itu pun enggan pergi dari sana, Altezza merangkul Aisha dengan tetap bermanja disana, sedangkan Aisha terlihat malu-malu untuk membalas pelukan Altezza, Aisha pun teringat akan wajah Altezza yang tengah merengek manja waktu itu, terlihat sangat menggemaskan dan membuat Aisha ingin menciumnya.