
Aisha tak mampu memecahkan misteri itu, yang ia tahu, pria itu adalah Altezza yang baru saja ia kenal.
Tapi kenapa, Altezza seolah-olah tahu semuanya, seperti tentang kalung yang pernah ia impikan saat dirinya berusia sembilan belas tahun.
Sedangkan Altezza tak menjelaskan apapun, yang Altezza lakukan saat itu hanyalah membawa Aisha pergi.
Pergi entah kemana, Aisha hanya menurut. Dan entah kenapa, didekat Altezza, dirinya menjadi merasa nyaman, padahal sebelumnya ia merasa was-was terhadap Altezza.
Tanpa Aisha sadari, mereka sudah tiba di sebuah acara pesta, seketika itu pula Aisha menjadi nervous.
Bagaimana tidak, hampir semua sorot mata mengarah pada dirinya juga pria yang tengah ia rangkul lengannya, bagaikan sepasang kekasih.
"Tuhan... apakah aku salah tempat?" batin Aisha.
Altezza menyadari kalau Aisha sedang gelisah, dengan lembut Altezza menyentuh tangan Aisha, "tenanglah, asal kamu tidak kabur, maka kamu aman bersamaku," ucapnya.
Aisha tak mampu berkata, karena dirinya memang tak mengerti tentang acara apa, tapi yang ia tahu, acara itu bukanlah sembarang acara.
Dari gaya maupun sudut pandang manapun, ini semacam pestanya orang elit, apalagi ini adalah pertama kali bagi Aisha berbaur dengan orang-orang yang mungkin memiliki kedudukan tinggi.
"Kali ini, berkerjasama lah denganku," bisik Altezza, saat mereka mulai berbaur dengan para tamu undangan lainnya.
"Oh, tuan muda Altezza," sapa seorang pria paruh baya yang entah darimana datangnya itu.
"Anda juga datang? Dan... siapa nona ini?" selidik pria tersebut.
"Tunanganku," tegas Altezza.
Aisha terbelalak dan refleks menatap Altezza dengan lekat, tetapi Altezza tak menghiraukannya, justru Altezza hanya menggenggam hangat tangan Aisha yang masih merangkul tangan Altezza.
Dengan terpaksa, Aisha tersenyum dan memberikan jawaban yang entah benar atau tidak, "ah, hehe... benar, saya tunangannya."
"O... sungguh manis," ucap pria itu.
"Kalau begitu, kami permisi dulu," ucap Altezza kemudian.
"Oh, iya. Silahkan."
Mereka berdua berlalu meninggalkan pria tersebut, saat itu pula kesempatan Aisha untuk memprotes Altezza, "maksud kamu apa dengan kata, tunangan?" bisiknya.
"Kamu jangan tersenyum kepada pria lain," ucap Altezza.
"Apa?" Aisha tak mengerti dibuatnya.
"Gila, benar-benar gila," batin Aisha merasa frustasi.
Altezza kembali menepuk punggung tangan Aisha dengan lembut, "tetaplah bersamaku."
Baru saja Aisha menoleh, datanglah seorang pria tua berperut buncit menghampiri mereka berdua.
"Tuan Altezza," seru pria tua itu dan menjabat tangan dengan Altezza.
"Sudah lama tidak berjumpa, anda semakin tampan saja. Tapi sayang sekali, sepertinya anda sudah ada wanita," imbuhnya sembari melirik sinis kearah Aisha.
"Ada apa dengan orang ini?" pikir Aisha.
"Benar. Dia calon istriku,"
Rasanya Aisha ingin tersedak, mendengar penuturan Altezza, yang entah apa maksud dan tujuannya itu, apalagi ia merasa dirinya seperti menjadi tameng alias perisai untuk Altezza.
"Tidak masalah, untuk tuanku ini..." pria itu mulai mendekati Altezza dan berbisik, "si bungsuku bisa jadi simpanan mu, anda pasti akan puas."
Aisha yang mendengar itupun kaget, bagaimana bisa ada orang tua yang menawarkan putrinya untuk merendahkan diri?
"Sungguh kasihan, yang menjadi anak orang seperti itu," gumam Aisha dalam hati.
"Tapi... bukankah, dia sengaja? Kalau misalnya aku benar-benar tunangan Altezza, bukankah pria idiot ini sedang menyatakan perang untukku?" Aisha masih terhanyut dalam pikirannya.
"Masa bodoh, aku malah jadi merasa kasihan sama jodohnya pria ini," pikir Aisha dan melirik Altezza dengan menahan tawa kecilnya.
"Terima kasih tuan Suho, atas tawarannya. Tetapi, pelayanan calon istriku ini, sudah sangat memuaskan diriku," terang Altezza tanpa ragu.
"A,apa? Apa yang barusan pria ini katakan?" batin Aisha yang rasanya ingin sekali menghilang dari bumi.
"Arrgghhh... Pesta macam apa ini," batin Aisha yang mulai kesal.
Setelah penuturan Altezza yang cukup gamblang itu, sontak orang-orang yang mendengar kabar tersebut, langsung datang mendekati Altezza dan mengucapkan selamat maupun hanya sekedar ingin melihat Aisha, yang katanya calon istri Altezza.
Aisha yang merasa gerah, dirinya mencoba untuk pergi dari orang-orang yang masih saja mengerumuninya.
"Ah, permisi. Saya, mau kesana sebentar," Aisha pun menunjuk kearah meja hidangan dengan sungkan.
"Oh, silahkan, nona."
Aisha melepaskan diri dan membiarkan Altezza dikerumuni dengan pertanyaan dan dunia perbasa-basian, yang entah sampai kapan itu akan berakhir.
"Ah... akhirnya," gumam Aisha, saat dirinya berhasil menghilangkan rasa dahaganya.
"Sudah minumnya?" Ucap Altezza yang tiba-tiba sudah berada disamping Aisha .
Sontak saja membuat Aisha kaget dan hampir tersedak, saat dirinya masih menelan minumannya, "Ka,kamu kapan datangnya?"
"Apa aku telah membuatmu kaget?"
"Tentu saja, aku bahkan hampir mati tersedak karena mu," cerewet Aisha.
Altezza tertawa kecil melihat sisi Aisha ketika cerewet, "apa mau pulang sekarang?" tawarnya kemudian.
"Ide bagus. Ayo kita pulang," Aisha langsung menyetujuinya.
Altezza merasa tersentuh mendengar ucapan Aisha, 'ayo kita pulang', dengan lembut Altezza meraih dan menggenggam tangan Aisha dengan lekat.
Mereka berdua berpamitan pada beberapa tamu sekaligus tuan pemilik pesta tersebut, setelah itu mereka bergegas kembali ke kamar yang sebelumnya Aisha tempati.
"Tuan, anda sudah kembali?" Rupanya, wanita yang menyambut Aisha sebelumnya masih ada disana menunggu tepat didepan pintu kamar.
"Tunggu," Aisha berhenti melangkahkan kakinya, "boleh ku tahu, siapa namamu?" tanya Aisha kemudian kepada wanita tersebut.
Aisha menoleh kepada Altezza dan mrengut, "Aku tidak tanya padamu."
"Iya, nona. Panggil saya bibi Lin, karena nama saya memang Linda," jelas wanita itu, yang rupanya dirinya bernama Linda, alias bibi Lin kepercayaan Altezza.
"Nama yang bagus," puji Aisha.
"Terimakasih, nona. Mari, silahkan masuk," ucap bibi Lin seraya membukakan pintu kamar untuk Aisha.
"Terima kasih," ucap Aisha dan masuk kedalam.
"Eh, kamu ngapain ikut masuk? keluar!" Aisha tersadar dan langsung mendorong Altezza keluar tanpa ampun.
Altezza yang berhasil diusir oleh Aisha, dikagetkan dengan kemunculan sosok seorang pria yang wajahnya seperti orang Jepang, "lho, tuan muda Altezza?" Seru pria itu yang juga tak sengaja muncul begitu saja.
"Oh, anda..." Altezza mencoba untuk mengingat, siapa pria itu dan mencoba untuk menebaknya, "Reichi?"
Pria itu mengangguk, "anda apa kabar?"
Saat itu pula, dua pria muda sedang berdialog dengan santainya didepan pintu kamar.
Sedangkan Aisha yang ada didalam kamar bersama bibi Lin, terlihat sibuk mencari sesuatu, "dimana pakaianku?"
"Ah, maaf, nona," bibi Lin merasa bersalah, "pakaian nona... sudah dibuang tuan muda," jelasnya.
Aisha terbelalak, "apa? Dibuang?"
Aisha marah, dia kembali membuka pintu untuk mencari Altezza, dan benar saja Altezza masih ada didepan pintu kamar.
"Hei, kau Altezza..." Aisha menarik tangan Altezza, namun saat dirinya sedang menarik, Aisha terkejut ada sosok pria asing di depannya yang awalnya sama sekali tak terlihat, lantaran tertutup oleh Altezza.
"Ah, ahaha... anu... maaf, aku pinjam Altezza sebentar," Aisha merasa canggung sekaligus malu, tetapi tangannya masih saja menarik paksa Altezza untuk masuk kedalam kamar.
"Sepertinya, tuan muda Altezza sudah menemukan wanitanya," gumam Reichi.
Sedangkan suasana didalam kamar, Aisha tiba-tiba menjadi cerewet, "Altezza, kenapa kamu buang bajuku?"
"Kenapa?" Ucap Altezza dengan tenang.
"Kenapa? Lalu aku harus memakai apa, kalau baju aku kamu buang?" cerewet Aisha.
"yang sudah kamu pakai itu lah."
"Apa? Dasar kamu bodoh," Aisha tidak terima.
"Kenapa?"
"Kenapa???" Aisha mengambil nafas panjang dan siap untuk mengomel, "kamu bilang kenapa? kamu tahu, tentu aku tidak terbiasa dengan pakaian seperti ini," Aisha kesal.
"Bukannya itu bagus?" Ucap Altezza yang masa bodoh itu dan duduk ditepi ranjang.
Buru-buru lah bibi Lin keluar dan meninggalkan sarang harimau disana, Aisha tak peduli, yang ia pedulikan saat itu, hanya bajunya yang hilang.
"Apa? Bagus?" Aisha semakin kesal.
"Aisha, ku katakan padamu. Mulai sekarang, kamu harus membiasakan diri berpakaian seperti itu untukku," perintah Altezza.
"Hah?" Aisha semakin kesal, "apa maksudmu?"
"Bagaimanapun, aku ini calon suami kamu," ucap Altezza dengan entengnya.
Aisha terperangah, "apa? Calon suami? Calon suami kepalamu itu," Aisha marah.
Sedangkan Altezza hanya tertawa kecil, melihat amarah Aisha karena kata-katanya itu, baginya terasa lucu.
Tetapi, saat itu pula Altezza menarik tangan Aisha dan menjatuhkan tubuh Aisha didalam pelukannya, bahkan tanpa sengaja mata mereka saling bertatapan.
Aisha mencoba memberontak, tetapi Altezza menahannya dengan erat dan menatap pekat wajah Aisha.
"Aisha, apa Kamu tidak merasakannya?" kini Altezza nampak serius. "apa kamu, benar-benar melupakan aku?" imbuhnya.
Aisha yang merasa yakin dan sama sekali tak mengenal siapa Altezza itu tetap memberontak, "nama kamu saja sudah asing bagiku, darimana aku bisa kenal kamu?"
"Aisha, sebenarnya aku itu..." Altezza tak melanjutkan ucapannya.
"Lupakan. Ayo, ku antar kamu pulang," Altezza melepaskan Aisha, kemudian beranjak pergi bersama Aisha.
Dalam perjalan pulang, yang sudah hampir tengah malam itu, Aisha merasa bebas dan tak takut lagi dengan Altezza.
Lantaran Altezza benar-benar tidak melakukan kejahatan apapun padanya, kecuali dia telah mencuri ciuman pertama Aisha, dan juga telah membuang baju milik Aisha.
"Kenapa?" tanya Altezza, saat dirinya mengetahui Aisha terlihat sedikit cemberut.
Namun Aisha hanya diam dan membuang muka, mereka berdua benar-benar diam satu sama lain, suasana pun menjadi hening.
"Apa kamu sedang tidak terima, karena kamu telah kehilangan ciuman pertamamu?" Altezza bermaksud menggoda.
Deg. Jantung Aisha seketika berdegup, lantaran ucapan itu membuatnya sedikit malu karena memang, suasana didalam mobil itu mengingatkan akan kejadian itu.
Namun, Aisha sama sekali tak menanggapinya, tetapi Altezza juga tak mau menyerah, "tenanglah, aku ini calon suami kamu. Jadi, ciuman berikutnya juga milikku."
Aisha tetap diam tak menggubris, tetapi hatinya sedang terbakar dan rasanya ingin sekali menjambak atau mencakar pria yang ada disampingnya itu.
"Ya sudah, jika kamu menyesal. Kemari lah, akan aku kembalikan ciuman pertamamu," tanpa malu Altezza langsung meraih wajah Aisha dan mendekatinya.
Spontan Aisha menutup mulut Altezza, "tidak, tidak perlu. Aku sudah mengikhlaskannya."
"Dekat sekali," gumam Aisha dalam hati, ia sedikit tersipu lantaran tadi begitu dekat, apalagi wajah Altezza yang benar-benar tampan.
"Baguslah," ucap Altezza.
"Yah, anggap saja aku sedang bersedekah untukmu," ketus Aisha.
"Terimakasih, aku akan menantikan sedekah berikutnya lagi," ucap Altezza dengan riang.
"Kamu..." Aisha geram dan menatap lekat Altezza, tetapi beberapa detik Aisha menepisnya dan tak peduli.