Just Married

Just Married
episode 23: Nomor Tak Dikenal?



Hari berganti hari, Aisha lalui dengan rasa ketenangan, bahkan ia belum tahu jika Altezza sudah tidak ada di Manhattan. Lantaran ia begitu sibuk akan tugas dari profesor Crish, hingga membuatnya lupa akan Altezza yang biasanya mengganggu dirinya.


Dan akhirnya, tanpa tersa minggu sudah berganti bulan. Ternyata sudah satu bulan lebih berlalu semenjak kepergian Altezza, Aisha pun baru menyadari jika ia tak pernah menjumpai sosok Altezza yang biasanya mengganggunya atau tiba-tiba saja ada di depan Aisha. Padahal Aisha tahu jika kamar Altezza, tepat ada didepannya. Tapi entah kenapa Aisha merasa seperti ada seusatu yang kurang dalam hidup yang ia jalani.


"Nyaman juga, sih. Tanpa ada gangguan, tapi kenapa dia jadi tidak pernah muncul ya" gumam Aisha, yang sedang mengerjakan tugas di dalam apartemen.


"Sally, kemana sih. Kok lama sekali" ucap Aisha kemudian, dan melihat jam yang ada dimeja tepat disebelahnya.


Aisha tengah duduk menyamping menghadap jendela, dengan wajahnya yang mengarah ke arah luar jendela itu, nampaklah suasana malam di kota Manhattan, kota yang tak pernah tidur, yang selalu meriah meskipun hari sudah malam dan semakin larut.


Lampu-lampu yang terlihat begitu terang menghiasi di setiap sudut kota, sehingga nampaklah gemerlapnya dunia di malam hari. Suasana dengan pemandangan lampu-lampu kota itu pun cukup menenangkan, bila dipandang dari lantai yang cukup tinggi, layaknya di apartemen yang Aisha tempati.


Namun ketenangan Aisha pun semakin memudar, hingga pada akhirnya ada rasa kesepian yang mulai menyelimuti dirinya dan juga hatinya. Namun entah kesepian yang mana Aisha tak mengerti sama sekali, mungkinkah akan sosok Altezza yang sudah satu bulan lebih tak pernah muncul di hadapannya, atau karena ia sudah lama untuk jatuh hati kepada pria manapun? Tetapi hatinya selalu berdebar dan merasa senang, jika bertemu dengan Altezza atau bahkan untuk mengingatnya.


Aisha pun membuyarkan rasa kesunyian itu, ia pun melanjutkan untuk mengerjakan tugasnya, jari jemarinya begitu cekatan memainkan papan keyboard. Hingga pada akhirnya Aisha begitu memyelami dengan penuh konsentrasi. Ditengah-tengah asiknya Aisha yang tengah menggarap itu pun dikagetkan dengan suara dering ponsel miliknya.


"Nomor tak dikenal?" Gumam Aisha, ketika melihat siapa yang tengah menelponnya itu.


"Aku coba angkat saja lah, siapa tahu penting" ucap Aisha, ia pun mengangkat telfonnya.


"Halo.." sapa Aisha, namun Aisha terhentak kaget lantaran suara lelaki yang begitu samar-samar, namun terasa tak asing bagi dirinya. Aisha pun menebak-nebak. Siapakah pria itu.


"Maaf, dengan siapa?" Ucap Aisha dengan nada sopannya.


"Calon istriku, apa kamu tak mengenali suara ku?" Suara dibalik telfon itu, tentu Aisha sudah mengetahui siapa pria itu, kalau bukan Altezza.


"Altezza??" Ucap Aisha untuk memastikan.


"Akhirnya kau pun langsung mengenali suaraku, sayang. Apa kamu sedang merindukan aku?" Goda Altezza.


"Siapa yang merindukanmu, bodoh" ucap Aisha yang mulai kesal, sebab di saat Aisha mulai merasa tenang dari gangguan Altezza, ternyata itu hanyalah sebuah ekspetasi belaka.


"Sayang, kenapa kamu tak merindukan aku?" Ucap Altezza dengan nada manjanya.


"Berhenti memanggilku sayang!!" ucap Aisha yang kesal.


"Kenapa kamu selalu marah-marah padaku?"


"Karena kau terus menggangguku. Sudahlah, aku sibuk" ucap Aisha kesal dan langsung menutup telfonnya.


Nampak wajah Aisha dengan rasa kesalnya itu, mengapa Altezza menelfonnya disaat yang tidak tepat, disaat Aisha mulai fokus akan tugasnya. Aisha kembali untuk fokus mengerjakan, sebab dua minggu lagi Aisha akan menghadapi ujian semester dan harus menyelesaikan tugas dari profesor Chris.


Aisha mulai membaca dan mencermati setiap kata dalam lembaran buku, dan jari jemarinya begitu lihai mengobrak-abrik seisi yang ada di meja itu. Aisha mulai lupa akan Sally yang tak kunjung kembali, Aisha mulai lupa sudah berapa puluh menit ia lalui. Namun tiba-tiba, konsentrasi Aisha buyar begitu saja karena dering ponselnya berbunyi, refleks Aisha mengangkat tanpa melihat dulu siapa yang sedang menelfonnya.


"Sayang..." Suara dibalik ponsel, yang tak lain ialah Altezza.


"Kamu!!!" Ucap Aisha yang merasa kecewa berat karena yang menelfon ialah Altezza.


"Kenapa kau menutup telfonnya?" Ucap Altezza


"Huh... Altezza. Berhenti menggangguku" ucap Aisha dengan kesal.


Belum ada dua menit, ponsel Aisha berdering kembali. Dan penelpon itu pun orang yang sama, yaitu Altezza. Aisha membiarkan ponselnya berdering dan berdering kembali hingga cukup lama, pada Akhirnya Aisha benar-benar merasa geram dengan hal itu. Sungguh Aisha tak dapat menahan diri, Aisha pun mengangkat telfonnya.


"Sudah ku bilang, jangan menggangguku bodoh!!!" Teriak Aisha dengan kesalnya.


"Aisha? Kenapa kamu memarahiku?" Ucap Sally dengan perasaan kasihan, ia pun berhenti melangkah, lantaran kaget dengan terikan Aisha.


"Sally?" Ucap Aisha disebalik ponsel dengan nada normalnya,


"Aisha, kamu lagi kenapa sih? Telinga ku bisa budek tahu" ucap Salli sembari mengolok-olok telinganya, karena suara Aisha cukup membuat telinga Sally merasa tidak nyaman.


"Ah, maaf Sally. Aku pikir.."


"Altezza?" tebak Sally.


"Kok kamu tahu?" Ucap Aisha.


"Pria mana lagi yang mampu membuatmu kesal seperti ini, Aisha" ucap Sally dan kembali melangkahkan kaki.


"Aisha, aku kasih tahu ya. Jangan terlalu kesal dengannya, sebab jika kamu sudah jatuh cinta padanya, kau akan menjadi orang yang sangat mencintai dirinya lho, lebih tepatnya sih bucin" ucap Sally, saat melihat-melihat sekitar.


"Ah, apaan sih kamu. Lalu, ada apa nih telfon. Terus kenapa belum balik?" Ucap Aisha dengan cerewetnya.


"Maaf, Aisha. Tadi aku gak sengaja ketemu sama Glen di luar, terus aku..."


"Apa? Glen? Sally apa kau baik-baik saja?" Potong Aisha dengan rasa cemas.


"Aisha. Stop, dengarkan dulu" ucap Sally dengan sabarnya.


"Oh, oke. Maaf.."


"Aisha, aku sedang mencari makanan. Aku pikir, aku sudah berjalan terlalu jauh. Dan kamu tahu Aisha, aku lupa membawa dompet, jadi bisakah kau menunggu untukku?" Ucap Sally yang sedang menunggu taksi.


"Baiklah. Cepatlah cari taksi, aku tunggu kamu diluar" ucap Aisha dan menutup telfonnya.


Sedangkan di kota London, dimana Altezza yang sedang mencemaskan seseorang.


"Gadis bodoh. dengan siapa dia telfonan begitu lama" kesal Altezza yang masih mencoba untuk menghubungi Aisha dengan berjalan kesana kemari, namun telfon itu berada dalam panggilan lain. Leon yang melihat itu pun merasa was-was jika bosnya akan meledak seketika.


"Ma, maaf bos. Rapat sebentar lagi akan di..."


"Tunda satu jam!!" Perintah Altezza dengan nada kesal


"Tapi, bos..."


"Sudah ku bilang, tunda ya tunda" ucap Altezza yang sudah kehilangan kesabaran


"B, baiklah" ucap Leon, ia merasa menjadi sasaran empuk Altezza.


"Ada apa lagi dengan mereka? Oh Tuhan, cepatlah buat mereka bersatu" suara jeritan hati Leon, yang merasa sedang tekanan batin akan sikap bosnya yang selalu berubah-ubah jika menyangkut tentang Aisha.