Just Married

Just Married
episode 43: Pulang Kampung



Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Indonesia. Terlihat seorang wanita tengah berjalan dengan koper biru, menandakan bahwa ia baru saja turun dari pesawat. Dialah Aisha Olinda, ya hari ini Aisha bermaksud untuk pulang ke tanah air, lantaran cuti semester sudah tiba.


Tampak seorang anak kecil dengan pria muda yang tampak asing bagi Aisha. Jika anak kecil itu sudah pasti, Alex. Alex sudah tumbuh cukup tinggi dan tampan, namun wajah sombongnya masih saja melekat seperti biasanya.


"Tak ada yang berubah" gumam Aisha sembari menggelangkan kepala, saat melihat Alex berdiri begitu angkuh.


Aisha menghampiri adik lelakinya itu dengan pria muda yang ada di samping Alex, yang mungkin umurnya tak jauh beda dengan Aisha.


"Alex..." Seru Aisha, bermaksud untuk memeluk adik lelakinya itu, entah kenapa Alex masih saja terlihat menggemaskan.


"Stoppp" ucap Alex dengan wajah angkuhnya dengan memberi isyarat tangan sebagai tanda berhenti, ke arah Aisha.


"Kok aku jadi nyesel ya" gerutu Aisha dalam hati.


"Kakak, Alex bukan anak kecil lagi. Cepatlah pulang, mama sudah menunggu" ucap Alex dengan acuh, dan kemudian berjalan tanpa mempedulikan kakaknya.


"He?" Aisha melongo melihat sikap Alex, yang luar biasa absurdnya.


"Nona, silahkan. Biar kopernya saya yang bawa" ucap pria muda itu


"Eh, tidak tidak. Kamu siapa? Dan, nona?" Tanya Aisha tang masih tak mengerti.


"Saya..."


"Kakak, cepat jalan" teriak Alex.


"Iya iya" Aisha segera untuk mengejar Alex.


"Nona, sebaiknya koper nona saya yang bawa" ucap pria muda itu.


"Haihhh... Terserah, terserah. Tapi makasih" ucap Aisha, ia pun berlari dan menyusul Alex yang sudah cukup jauh darinya.


"Benar-benar, anak ini" gumam Aisha.


Setelah keluar dari bandara, sebuah mobil pun datang dan berhenti tepat di hadapan Alex. Dan seorang pria yang umurnya lebih tua dari pria yang tadi, pria itu keluar dan membukakan pintu untuk Alex. Aisha yang melihat itu semakin melongo, semakin penuh tanda tanya dalam dirinya.


Alex langsung masuk, dan meneriaki Aisha sembari memberi isyarat untuk cepat masuk kedalam mobil. Aisha hanya terdiam dan menuruti perintah Alex. Setelah itu, mereka berempat sudah berada dalam mobil dan kemudian melaju bergegas meninggalkan arena bandara untuk pulang.


Di sepanjang jalan menuju rumah, hanya terasa sunyi. Aisha membenci suasana itu, biasanya kalau punya adik kecil sudah pasti meriah suasana dalam mobil, sedangkan Alex begitu persis layaknya seorang pria dewasa. Hanya berkata hal yang penting saja.


"Huft..." Aisha menghela nafas, sebagai wujud rasa kecewa atau merasa bosan.


"Andaikan ada Altezza, sudah pasti menyenangkan. Tidak terlalu sepi seperti ini" keluh Aisha dalam hati.


"Kenapa? Lagi mengeluh seandainya dia ada di sini?" Ucap Alex tiba-tiba.


Sontak Aisha kaget dibuatnya, bagaimana bisa ucapan Alex begitu tepat sasaran.


"Maksud kamu, dia siapa?" Selidik Aisha.


"Entahlah. Aku hanya menebak" ucap Alex.


"Lex, bisa katakan. Sebenarnya apa yang terjadi di sini selama aku ada di Amerika? Dan, siapa dua pria ini?" Ucap Aisha kemudian.


"Ya, dua pria ini adalah suruhan calon suami kakak" ucap Alex dengan entengnya.


"A, apa???!?" Aisha kaget dengan mata yang terbelalak.


"Apa ini suruhan Altezza?" gumam Aisha dalam hati.


"Hei. Alex, bisa katakan maksud ucapan kamu?" Selidik Aisha.


"Haih. Dasar bodoh, calon suami sendiri tidak tahu" ucap Alex.


"Hei, anak kecil bau kunyit. Mana ku tahu calon suami yang kamu maksud itu, siapa tahu dia pria yang mama pilih untuk di jodohkan denganku. Hah, tidak bisa. Ini tidak bisa di biarkan" gerutu Aisha.


"Yah gimana lagi, setahuku dia ada di amerika. Kalian pun sudah saling mengenalnya" ucap Alex.


"Hei, informasi macam apa itu. Biar nanti ku tanyakan pada mama" ucap Aisha.


"Percuma, mama juga tidak tahu"


"Apa?" Aisha merasa ada yang tidak beres.


"Mama tidak tahu? Tapi kamu terlihat seperti mengenal dua pria ini, lalu bagaimana bisa kalian..." ucap Aisha.


"Mama mengenalnya dengan baik, kakakku tercinta. Bukan hanya Alex saja" ucap Alex.


"Bisa jelaskan?" Ucap Aisha tegas.


"Ah, maaf nona..." Ucap salah satu pria yang duduk di depan itu.


"Di rumah saja, kakak baru saja sampai dari perjalanannya yang jauh, sudah pasti sangatlah melelahkan" potong Alex.


"Baik, tuan muda kecil"


"Kak, sebentar lagi kita sampai. Nanti Alex jelaskan, di rumah"


"Baiklah"


Mobil pun berhenti, senyum sumringah seorang ibu sebagai wujud syukurnya, lantaran anaknya telah selamat dalam perjalanan pulang. Aisha buru-buru turun dan segera menghampiri ibundanya.


"Mama..." Seru Aisha dengan air mata yang tertahan, rindu yang dua tahun ini menahannya untuk pulang. Aisha merangkul tubuh mungil mamanya, yang terlihat kian menua itu. Tiba-tiba Aisha lepas dan menangis di dalam pelukan mamanya.


Aisha mengatakan seluruh yang ada dalam hatinya, bahwa ia menyayanginya, merindukannya dan ucapan maaf pula yang Aisha lontarkan. Sontak, membuat mama Hani tersentuh dan menitikkan air mata. Deva tak ingin membiarkan mereka larut dalam tangis pun ikut andil untuk mencairkan suasana.


"Ehem. Apa aku sudah terlupakan?" Ucap Deva.


"Ah, Deva..." Seru Aisha dengan mengusap air matanya, Aisha pun memeluk Deva, sahabat masa kecilnya itu.


"Heih... Dasar perempuan" sindir Alex.


Suasana haru itu buyar seketika lantaran Alex melontarkan perkataan yang begitu menyindir bagi kaum perempuan.


"Oh, kamu mau ku peluk juga? Sini, sayang" goda Aisha, dan menghampiri Alex.


"Tidak, berhenti di sana" ucap Alex, namun Aisha tidak memperdulikannya.


"Kak... Jangan kak" ucap Alex, dan Aisha pun berhasil memeluk adik kecilnya itu. Bahkan Aisha mencubit-cubit pipinya Alex dengan gemasnya, Alex nampak seperti tidak menyukai itu tetapi Aisha tidak memperdulikannya, Aisha tetap memperlakukan Alex sebagai adik kecil yang lucu.


"Lho, Alex? Kenapa menangis?" Ucap Aisha, lantaran kaget Alex tiba-tiba menangis layaknya anak kecil.


"Haa... Haaa..." tanpa sadar Alex hanya memeluk kakaknya itu, Aisha pun mengerti maksud Alex.


"Anak kecil ini, masih saja gengsi" gumam Aisha dalam hati. Aisha pun memeluk Alex dengan lembut dan mengusap-usap kepala Alex.


"Eh? Apa yang aku lakukan?" Gumam Alex dalam hati, ia baru menyadari bahwa dirinya telah menangis.


"Ehem... Kak, ganti rugi" Alex baru menyadari akan sikapnya itu. Ia pun bermaksud untuk menutupi sifat kekanakannya itu.


Sontak Aisha tertawa, begitu mama Hani hanya tersenyum menahan tawa. Sedangkan Deva hanya menutup mulut dan memalingkan wajahnya agar tidak menyinggung Alex.


Sedangkan dua pria itu hanya mampu menahan tawa, yang salah satu berdehem agar tidak kelepasan tertawa, karena tingkah Alex.


"Kak Elan? Apa kamu masih ingin bekerja?" Ucap Alex dengan tegas layaknya orang dewasa.


"Maafkan aku, maafkan aku tuan muda kecil" ucap Elan yang berusaha keras menahan tawa.


"Oh jadi pria muda ini namanya Elan" ucap Aisha dalam hati.


"Lalu anda siapa?" Tanya Aisha kepada pria satunya lagi.


"Perkenalkan, nama saya Boni, nona" ucap pria yang lebih tua dari Elan.


"Ah, ayo masuk. Aisha pasti lapar kan, mama sudah masak kesukaan Aisha. Bahkan Deva tak segan-segan membantu mama Lho" ucap mama Hani dengan bijak.


Semuanya pun masuk kedalam rumah, begitu juga Elan dan juga Boni di paksa oleh mama Hani untuk ikut. Mereka pun memulai acara makan-makan, dan menyantap dengan lahap masakan seorang ibu yang memang lezatnya tiada tara.


Momen itu sebagai rasa syukur kepada Tuhan, telah dikumpulkan kembali, meskipun tanpa adanya seorang ayah dan juga kakak. Berkat adanya Deva, dan juga dua pria itu menjadikan suasana cukup lengkap. Persis seperti keluarga, sekalipun dalam hati mama Hani, Aisha, maupun Alex sudahlah pasti merindukan seseorang yang telah tiada. Mereka sekuat tenaga untuk tersenyum meskipun air mata selalu mendesak untuk keluar.


Waktu telah berlalu, sore itu Aisha baru bangun dari tidurnya. Dengan segera ia bangun untuk mandi, tercium aroma kue yang begitu menggoda. Aisha berjalan kebelakang menuju dapur, dan benar mama Hani terlihat sangat antusias membuat beberapa macam kue kering dan juga brownies kesukaan Aisha.


"Mama?" Ucap Aisha.


"Eh, sudah bangun nak?" Ucap mama Hani dengan senyum khas seorang ibu.


"Mama ngapain, bikin kue sebanyak ini?" Ucap Aisha.


"Mama hanya ingin mengadakan syukuran untukmu, sayang. Sekaligus ulang tahun Ares, kakakmu" ucap mama Hani. Deg, jantung Aisha berdegup kencang.


"Kakak? Aku lupa, hari ini ulang tahun kakak" batin Aisha.


Aisha pun memeluk mamanya, ia tahu rasa rindu yang ia rasakan pastilah sama, namun jauh berbeda lagi dengan mamanya lantaran belahan jiwa yang tak mungkin ia jumpai di dunia ini. Mereka terpisah di antara dua dunia yang berbeda, hanya kematian lah yang kelak akan mempertemukannya di alam sana.


"Mama, kenapa mama tak membangunkanku untuk membantu mama?"ucap Aisha kemudian.


"Kamu pasti sudah lelah, sayang. Mana mungkin mama membangunkanmu, lihatlah kamu saja baru bangun" ucap mama Hani.


"Mama..." Rengek Aisha, ia tahu naluri seorang ibu, jika anaknya kembali dari perantauan atau kembali pulang dari tempat yang amat jauh, seorang ibu pasti akan menyibukkan diri untuk menyenangkan anaknya yang telah pulang itu dengan masakan-masakan yang di sukai anaknya atau masakan yang menurutnya paling lezat, karena naluri seorang ibu khawatir jika disana anaknya tidak makan enak, kurang makan bahkan mungkin makan sembarangan.


Aisha tak ingin larut, ia harus kuat. Aisha pun duduk dan mencicipi kue buatan mamanya. Aisha pun dengan bangganya memuji kue buatan mamanya itu sungguh lezat sekali. Aisha pun berterima kasih atas jerih payah mama Hani telah membuat kue.


"Alex? Dari mana kamu?" Ucap Aisha, saat melihat Alex terlihat lusuh.


"Olahraga, memangnya kakak. Tidur mulu kayak kebo, lihat tu mama kecapekan bikin kue" ucap Alex terdengar begitu menusuk.


"Kamu menyindirku?" Ucap Aisha.


"Ah, aku mau mandi" ucap Alex dengan angkuhnya dan berlalu ke kamar mandi yang tak jauh dari dapur.


Rumah itu memanglah sederhana namun elegan dan cukup luas untuk mereka tinggal. Rumah itu merupakan rumah kedua untuk di masa tua mama Hani dan juga papa Amon, namun sayangnya papa Amon lebih dulu meninggalkan dunia ini, bahkan rumah mewah yang mereka tempati dulu telah menjadi milik seseorang yang serakah akan harta, yang tak lain ialah pamannya sendiri.


Sejak meninggalnya papa Amon, paman Aldo yang merupakan adik papa Amon berusaha keras dengan liciknya merebut hak waris rumah yang seharusnya jatuh di tangan mama Hani.


Mama Hani pun rela akan hal itu, setidaknya mama Hani masih memiliki rumah untuk di masa tuanya yang ia mimpikan dengan suaminya. Beruntung, paman Aldo tidak mengetahui tentang rumah itu. Jika tidak, paman Aldo akan merebutnya juga, lantaran ia sangat membenci mama Hani.