
Brukkk...
Tanpa sadar, Altezza sudah berada di belakang Aisha yang tengah membuka pintu itu, bahkan Altezza langsung menarik tangan Aisha dan menjatuhkannya kedalam pelukannya, kemudian mendorong pintu itu agar tertutup kembali. Altezza langsung memeluk erat Aisha disana, bahkan tangis Aisha semakin pecah. Perasaan Aisha pun ada sedikit perasaan lega dan bahagia, yah begitulah perasaan wanita yang sulit untuk di pahami. Altezza, sudah berusaha sekuat mungkin dan secepat mungkin untuk memikirkannya dan bergerak lebih cepat dan tanggap.
"Apa kamu tahu, Altezza?" Lirih Aisha yang masih dalam tangisan dan pelukan Altezza. Altezza pun hanya diam dan membiarkan Aisha untuk mengeluh.
"Ternyata, rindu itu sesakit ini. Sakit sekali..." Ucap Aisha yang masih dengan linangan air mata.
"Aku tahu itu, sayang. Tetapi keadaanlah yang membuat kita harus berpisah sementara waktu, bahkan aku lebih sakit jika meninggalkanmu dan membuatmu menangis seperti ini. Maafkan aku, Aisha" ucap Altezza dalam hati, ia hanya memeluk erat kekasihnya itu dengan perasaan penuh kerinduan dan kelembutan.
Aisha merasakan ada hawa kerinduan yang menyelimuti dirinya, ia pun berhenti menangis dan membalas pelukan Altezza dengan erat, menenggelamkan wajahnya kedalam dada Altezza.
"Altezza. Aku merindukanmu, aku merindukanmu..." Lirih Aisha dan memeluk Altezza semakin kuat.
"Aku tahu. Aku juga merindukanmu, bahkan lebih merindukanmu, sayang" ucap Altezza.
Senyum Aisha terpancar disana, ia pun memeluk erat tubuh Altezza. Ketika itu pula, Altezza mengangkat tubuh Aisha dan membopongnya kembali dan menidurkan tubuh Aisha di atas ranjang.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Ucap Aisha yang sudah terbaring di atas ranjang.
"Tentu saja, membuatmu ingin segera menikah" ucap Altezza dengan nada menggoda.
Altezza kembali menindih tubuh Aisha, ia hanya ingin melepaskan kerinduan yang tertahan. Altezza pun melumat bibir Aisha dengan lembut, kini tanpa sadar tangan Altezza mulai membelai lembut leher Aisha. Bahkan tanpa sadar ciuman itu turun dan menjelajahi leher Aisha.
"Pe, perasaan apa ini. Kenapa jantungku begitu cepat, bahkan tubuhku seperti tak mau menolak" ucap Aisha dalam hati.
Aisha hanya menahan godaan itu, ia sekuat tenaga mengendalikan dirinya lantaran Altezza begitu sensual menjelajahi leher Aisha dan kembali mencium bibir Aisha dengan lembut. Ketika itu pula, Altezza tanpa sadar mulai menyentuh bagian sensitif yang berada di dada seorang wanita. Sontak membuat Aisha kaget dan berusaha melepaskan ciuman itu dan juga tangan Altezza yang mulai bergerak di atas dadanya.
"Aaaaaa...." Teriak Aisha, ketika Altezza mencoba meremasnya. Seketika itu pula, membuat Altezza sadar akan perbuatannya.
"A, apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha yang langsung bangun tersuduk dan menutup dadanya dengan bantal.
"Maafkan aku, Aisha" ucap Altezza, ia menyadari jika nafsunya hampir tak terkendali.
"Bodoh. Hampir saja" gumam Altezza dalam hati, ia pun memegang dahinya sebagai tanda ia seperti tanpa sengaja melakukan kesalahan.
Altezza melihat wajah Aisha yang memerah itu pun membuat jantungnya berdetak cepat, ia pun tahu jika tubuh Aisha telah meresponnya. Tetapi teriakan Aisha, tentu Aisha belum siap akan hal itu, terlebih mereka belum ada ikatan resmi.
"Haduh. Kenapa aku yang ingin segera menikah. Aisha, cepatlah lulus" Altezza memejamkan matany dan menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Aisha, masih belum percaya akan respon tubuhnya seakan-akan menginginkannya lagi. Tetapi, dirinya baru pertama kali menerima perlakuan lembut dan sensual seperti itu. Walau sebelumnya, dirinya pernah hampir menjadi korban oleh beberapa oranh durjana tak bertanggung jawab. Tetapi entah kenapa dengan dirinya, ketika Altezza menyentuhnya, seolah-olah ia menerimanya.
"Oh tidak. Apa aku telah berhasil di buatnya untuk segera menikah? Tidak. Kuliahku masih satu tahun lebih, aku tidak ingin punya anak sebelum lulus kuliah, bisa-bisa akan sia-sia aku disini" ucap Aisha dalam hati, Aisha pun menggelengkan kepalanya lantaran membayangkan dirinya hamil dan kuliah, lalu melahirkan anak tetapi kuliahnya terbengkalai.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu harus tetap kuliah, setelah lulus baru kita akan membuat anak sebanyak-banyaknya" ucap Altezza yang telah berhasil membuyarkan lamunan Aisha.
"A, apa yang kamu ucapkan. Dasar Altezza bodoh" wajah Aisha memerah.
"Hemm. Apa kamu ingin aku menikahi wanita lain?"
"Apa yang kamu ucapkan?" Aisha merasa cemburu.
"Tidak ada"
"Lalu kenapa ucapanmu begitu?" Kesal Aisha.
"Bukannya tadi kamu menolak?"
"Siapa yang menolak?"
"Oh, jadi calon istriku ini tidak menolak ya" goda Altezza.
"Eh? A,apa yang..."
"Oke. Tapi awas, jangan mengintip" tegas Aisha.
"Ngapain harus repot-repot mengintip. Kalau aku mau, sekarang pun aku bisa untuk melihatnya. Asal kamu tidak teriak saja seperti tadi" sindir Altezza.
"Tutup mulutmu, Altezza. Kamu mesum sekali"
"Siapa yang mesum?"
"Kamu"
"Bagaimana bisa kamu tahu?"
"Kamu pasti membayangkannya"
"Apa aku mengatakan itu?"
"Tidak"
"Lalu?"
"Eh? Entahlah, aku mau mandi" Aisha terjebak akan ucapan Altezza, ia menyadari sesuatu. Bahwa tanpa sengaja, dirinya juga berfikiran mesum ketika Altezza mengucapkan akan membuat anak sebanyak-banyaknya.
"Sial" gumam Aisha dalam hati, ia buru-buru turun dan bergegas pergi menuju kamar mandi.
Sedangkan Altezza merebahkan dirinya di atas ranjang, ia merasakan suhu tubuhnya naik begitu drastis dan terasa panas, bahkan kepalanya terasa sedikit pusing. Kejadian itu sudah berapa kali Altezza untuk menahan sesuatu, yang sebagai seorang pria memiliki hasrat dan naluri sebagai pria normal. Beruntung, Altezza masih sanggup menahannya.
"Sial. Rindu itu benar-benar menyiksaku" gumam Altezza dalam hati. Ia pun memejamkan matanya untuk mengatur dirinya kembali normal.
Tak lama kemudian, Aisha keluar dari kamar mandi yang sudah memakai piyama tidur. Ia mengusap-ngusap lembut rambutnya yang basah, ia pun menghampiri Altzza yang terlihat diam seperti tak menyadari dirinya sudah selesai mandi.
"Ummm... Panas, apa dia demam?" Gumam Aisha, ketika menyentuh dahi Altezza. Lantaran Altezza tertidur seperti seseorang yang tengah menahan sesuatu.
Sentuhan tangan dingin Aisha membuat Altezza membuka matanya, di sana pula oa melihat wajah Aisha yang terlihat segar setelah mandi. Altezza langsung meraih kepala Aisha dan menciumnya.
"Altezza" ucap Aisha, ketika Altezza sudah menciumnya.
"Kamu terlihat sangat cantik sayang, hingga membuatku tak mampu untuk menahan diri. Baiklah, kita kebawah sekarang" ucap Altezza, ia pun bangun dan turun dari ranjangnya. Sedangkan Aisha tersipu malu atas sanjungan Altezza.
"Eh, tunggu. Rambut aku belum kering" rengek Aisha.
"Ya sudah, kamu keringkan. Aku akan mandi sebentar" ucap Altezza, ia pun berjalan menuju kamar mandi.
"Sial. Seperrinya, aku perlu mandi untuk meredamkannya" gumam Altezza dalam hati.
"Tapi, badan kamu..." Ucap Aisha
"Setelah mandi akan kembali normal, tenang saja" ucap Altezza. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh? Emang bisa begitu?" Gumam Aisha.
"Entahlah. Sebaiknya, aku mengeringkan rambutku" gumam Aisha dalam hati. Ia pun langsung mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya.
Tak lama kemudian, Altezza keluar dengan handuk kimono putih. Begitu juga Aisha yang sudah selesai mengeringkan rambut.
Bruk... Sebuah handuk putih mendarat di wajah Aisha.
"Keringkan rambutku" perintah Altezza.
"Hem?" Aisha beranjak dari kursi yang ada di depan meja rias, Altezza pun duduk di sana. Dengan sigap Aisha mengeringkan rambut Altezza dengan handuk, kemudian mengeringkannya dengan hairdryer.
Beberapa saat kemudian, rambut Altezza sudah kering dan rapi. Mereka berdua pun beranjak keluar bersama untuk pergi ke ruang makan. Malam itu, kantuk Aisha sudah menghilang, bahkan ia lupa akan vitamin yang ia beli, mungkin Altezza merupakan vitamin secara tak langsung yang paling mujarab bagi Aisha, begitupun Altezza.