Just Married

Just Married
episode 73: Penculikan



Malam itu merupakan perayaan pesta kecil-kecilan untuk Aisha yang telah menerima lamaran Altezza, mereka bersuka cita bersama menikmati hidangan malam dengan pesta barbeque. Terlihat wajah Aisha begitu riang, sebentar lagi ia akan lulus yang berarti sebentar lagi ia akan menjalani lembaran baru bersama Altezza.


Hingga larut malam, pesta itu akhirnya berakhir dan memberi kesan bagi Aisha juga Altezza. Aisha sudah meminta Sally untuk menginap di sana, namun Sally menolaknya dengan alasan ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Akhirnya Leon di perintah oleh Altezza untuk mengantarkan Sally dengan selamat sampai tujuan.


"Emmm... Terima kasih, sudah mengantarku Leon" ucap Sally, di saat mereka sudah berhenti di kawasan apartemen Sally.


"Um, yeah. Sama-sama" ucap Leon yang masih merasa canggung.


"Em, ya sudah aku keluar ya" ucap Sally.


"Iya"


Sally yang melihat tingkah Leon itu hanya mengerutkan dahi, Sally pun membuka pintu mobil itu untuk segera turun. Namun, tiba-tiba tangan Leon menarik tangan Sally dan menahannya di sana.


"A, ada apa Leon?" Ucap Sally.


"Ah, tidak. Hanya, hati-hati dan selamat malam" ucap Leon, tiba-tiba ia merada gugup.


"Oh. Oke, selamat malam juga" ucap Sally.


"Entah kenapa, aku merasa kecewa. Sudahlah" gumam Sally dalam hati, ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen.


"Sial. Apa yang aku lakukan, apa ini semacam sihir dari bos?" Gerutu Leon.


Leon memandang Sally yang tengah berjalan itu, ia hanya memastikan Sally sampai dengan selamat. Namun, anehnya ada seorang dua orang pria dengan gerak-gerik yang mencurigakan. Dua pria itu mencoba mendekati Sally, sontan membuat Leon bergerak cepat untuk menolong Sally dari kejahatan.


Leon berlari secepat mungkin menendang salah seorang pria dan langsung meraih tubuh Sally, sejurus kemudian kakinya menendang lagi seorang pria yang satunya. Sally merasa kaget setengah mati saat melihat kejadian itu, lalu terlihat dua orang pria itu marah dan hendak mengkroyok Leon. Seketika itu, Leon mendorong Sally supaya Sally dapat menjauh darinya yang berbahaya itu. Sally merasa panik, melihat Leon melawan dua orang pria yang badannya cukup besar dan kekar dari Leon. Tanpa berfikir panjang, Sally langsung menelfon Aisha, untuk meminta bantuan. Aisha panik dan langsung memberitahu kepada Altezza. Namun Altezza hanya berkata,


'sayang. Katakan padanya, percayalah pada Leon'


Sally yang mendengar ucapan itu pun hanya merasa lemas dan terdiam, ia panik sedangkan pertarungan itu masih berlanjut. Meskipun salah satu sudah tumbang, Sally hanya mampu memjamkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. Ia hanya mampu berdo'a, supaya Leon tidak terjadi apa-apa.


"Sally. Apa kamu baik-baik saja?" Ucap Leon, seketika membuat Sally membuka matanya dan melihat Leon sudah ada di depannya.


"Leon?" Ucap Sally tak percaya, ia tanpa sadar langsung memeluk tubuh Leon.


"Emmm, Sally. Aku, aku tidak apa-apa" ucap Leon, ia kembali merasa canggung.


"Ah, maafkan aku. Ha... Leon, awas. Belakangmu" ucap Sally.


Dengan sigap Leon dapat menangani itu dengan langkah yang tepat, seketika itu pula, seorang pria yang hendak memukulnya tumbang. Leon pun meraih ponsel dan menelfon seseorang, tanpa menunggu lama. Beberapa orang baju serba hitam pun muncul dan langsung menyergar dua orang pria.


"Leon? Apa kamu terluka? Sebaiknya kita masuk, biar aku obati lukamu" ucap Sally cemas.


"Sally, Sally?" Panggil Leon, ia berusaha menenangkan Sally.


Sally pun menuruti apa kata Leon, ia pun memandang wajah Leon dengan cemas. Tiba-tiba tangan Leon bergerak dan meraih wajah oval Sally dengan lembut. Leon menatap tajam mata Sally dengan lekat-lekat, saat wajah Leon hendak mendekati wajah Sally, ia pun tanpa sadar mencium bibir Sally.


"Ehem... Em, sudah malam. Sebaiknya kamu cepatlaj masuk" ucap Leon, tiba-tiba ia menjadi canggung.


"Em, baiklah. Kamu cepatlah pulang" ucap Sally, ia pun pergi meninggalkan Leon disana seorang diri.


Di suatu tempat tersembunyi, Glen yang tengah memantau itu pun mengepalkan tangannya lantaran merasa geram dan marah kepada Sally dan juga Leon.


Sedangkan di kamar apartemen Sally, ia yang tengah bersandar pada pintu utama terlihat tengah menyentuh bibirnya. Ia tak percaya akan kejadian barusan yang ia alami, wajah Sally pun terlihat berbunga-bunga layaknya orang yang tengah jatuh cinta.


Sally tersadar, ia pun kembali menegaskan diri. Malam sudah begitu larut. Sally melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar, baru beberapa langkah, suara bel pun terdenfar dengan fi susul ketukan pintu yang terdengar cukup keras.


"Eh? Siapa ya?" Gumam Sally.


Ketika Sally membuka pintu, dan melihat siapa yang tengah bertamu, Sally di buat kaget oleh beberapa pria tak di kenal yang langsung menyergapnya dan membius Sally. Sally berusaha untuk memberontak, tetapi bius itu telah membuatnya tak sadarkan diri. Sally di papah oleh seorang pria begitu di kawal beberapa pria, mereka pun melangkah cepat pergi dari sana.


Mobil hitam berhenti tepat di sisi apartemen untuk menjemputnya, Sally pun di masukkkan ke dalam mobil. Dalam keadaan tak sadarkan diri, tangan Sally di ikat kebelakang dan mulutnya di tutup dengan lakban hitam. Mobil itu pun menjauh pergi dengan kecepatan tinggi, Leon yang masih dalam perjalan itu pun kaget, lantaran ada sebuah mobil yang telah menyalipnya dengan kecepatan tinggi.


"Entah apa yang mereka pikirkan, begitu cepat. Haihhh, sebaiknya aku juga lebih cepat segera kembali" gumam Leon, ketika melihat mobil telah melaluinya dengan kecepatan tinggi.


Leon menelusuri jalanan malam, pikirannya pun mengarah akan apa yang telah ia lakukan kepada Sally. Pikirannya kacau, Leon berfikir bahwa ini bukan saatnya untuk mencari wanita. Karena Leon tahu akan posisi dirinya yang saat ini, ia terlalu sibuk mengurus ini dan itu untuk bosnya. Di tambah, Altezza tengah menyerang sebuah perusahaan yang hanya tinggal selangkah. Tentu Leon harus membantu bosnya untuk terus meninjau dan mengamati di setiap pergerakan.


"Sudah sampai rupanya" gumam Leon, ia pun langsung memarkirkan mobil ke dalam garasi mobil yang cukup luas untuk beberapa mobil.


"Tapi, kenapa aku jadi kepikiran dengan mobil tadi ya" gumam Leon.


"Sudahlah, sebaiknya aku cepat masuk" ucap Leon, ia pun masuk kedalam kedalam rumah melalui pintu garasi yang terhubung langsung dengan sisi koridor menuju ruang televisi tamu.


"Leon? Bagaimana Sally?" Ucap Aisha mengagetkan, ketika Leon masuk ke dalam dapur untuk membuat kopi.


"Eh? No, nona?" Leon kaget, ia tidak sadar jika ada Aisha di dapur.


"Em, ya. Sally baik-baik saja" ucap Leon terlihat sedikit gugup.


"Syukurlah. Ya sudah aku ke atas dulu ya" ucap Aisha, ia pun membawa nampan dengan teko bening berisi air mineral dan satu gelas kosong lengkap dengan tutupnya.


"Hemmm, sepertinya ada yang aneh sama Leon" gumam Aisha, ketika ia sudah cukup jauh meninggalkan Leon.


"Entahlah, sebaiknya aku cepat kembali" gumam Aisha.


Aisha kembali ke dalam kamar, ia melihat Altezza yang masih nenunggunya di sana. Aisha pun langsung meletakkan nampan itu di atas meja samping ranjang, lalu menuangkan air kedalam gelas. Aisha menyodorkan gelas itu kepada Altezza.


"Terima kasih, istriku" ucap Altezza, saat ia telah menerima segelas air itu.


"Altezza. Tadi aku tidak sengaja bertemu Leon di dapur, tadi ada yang aneh dengannya" ucap Aisha, ketika Altezza tengah meminum air.


"Hemmm, anehnya?" Ucap Altezza setelah selesai meminum air, Aisha pun meraihnya dan meletakkan gelas itu di atas meja. Kemudian Aisha naik ke atas ranjang.


"Iya, waktu aku tanya tentang keadaan Sally, ia terlihat sedikit gugup. Dan anehnya lagi, dia itu gak sadar kalau aku ada di dapur" jelas Aisha.


"Hemmm. Sudahlah, sebaiknya kita cepat tidur" ucap Altezza.


"Kenapa kamu biasa saja?" Ucap Aisha tak mengerti.


"Itu urusan Leon, sebaiknya kita jangan ikut campur. Sudah, tidur sayang" ucap Altezza, ia pun merebahkan tubuhnya dan menarik selumut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


"Ada apa dengan Altezza? Kenapa malam ini mereka jadi aneh" gumam Aisha dalam hati, ia pun ikut merebahkan diri di sisi Altezza. Aisha berfikir, jika Altezza tengah marah ketika ia menceritakan tentang Leon.


"Apa, Altezza cemburu?" Gumam Aisha dalam hati.


Aisha pun menoleh ke arah Altezza yang sudah menutup mata dengan menyangga tangan di atas dahinya itu. Aisha mendekati Altezza lebih dekat dan memeluknya, ia merasa bersalah.


"Sayang..." Gumam, Altezza ketika ia merasakan Aisha tengah memeluknya.


"Maafkan aku, Altezza" ucap Aisha, ia pun tetap memeluk Altezza dengan manja. Altezza hanya diam, ia hanya merasa dirinya sudah sangat mengantuk, Altezza hanya mampu kembali memeluk kekasihnya itu, sampai ia terlelap begitu juga Aisha.


Disisi lain, Sally yang masih tak sadarkan diri itu, rupanya baru sampai di sebuah gedung kosong yang jauh dari kota. Dirinya di papah masuk kedalam gedung kosong itu, Sally di biarkan terbaring di atas lantai tanpa alas, kakinya pun di ikat. Kemudian Sally, di tinggal di sana seorang diri. Di depan pintu itu rupanya sudah tersedia beberapa kursi dan meja untuk menjaga Sally disana.


Beberapa jam kemudan, Sally tersadar lantaran tubuhnya merasakan dingin. Saat ia membuka mata, ia melihat ruangan kosong yang hanya beberapa kardus dan merasakan mulutnya terbungkan bahkan tangan dan kakinya terikat.


"Dimana ini?" Gumam Sally dalam hati, ia pun meneteskan air mata. Karena ia tengah di culik atau telah menjadi tawanan.