Just Married

Just Married
episode 52: Berjanjilah Untukku



"Ahahaha... Hentikan, Altezza" pinta Aisha.


"Ku mohon hentikan, itu sangat geli" rengek Aisha, lantaran Altezza menggelitiki tubuh Aisha.


"Sudah kapok, belum?" Ucap Altezza.


"Iya, iya kapok" ucap Aisha yang masih bergeliat geli merasakan gelitikan Altezza.


"Di ulangi lagi, tidak?"


"Iya, di ulangi lagi"


"Apa?" Altezza langsung menggelitiki tubuh Aisha tanpa ampun.


"Ah, Altezza. Hentikan, aku tidak akan mengulanginya lagi, hahaha.. haa.. geli Altezza, hentikan" tanpa terasa Aisha menitikkan air mata, bukan karena sedih melainkan karena terlalu tertawa menahan geli.


Altezza pun berhenti menggelitiki tubuh Aisha, bahkan ia menyadari ada air mata di sudut kedua mata Aisha.


"Kamu menangis?" Ucap Altezza.


"Kamu, sih. Sudah tahu geli banget, masih saja di gelitikin. Jadi nangis nih" rengek Aisha sembari mengusap air matanya.


"Hemmm?" Altezza baru tahu, jika Aisha terlalu tertawa, ia akan mengeluarkan air mata.


"Cepat menyingkir dariku" Aisha langsung mendorong badan Altezza yang masih berada di atasnya itu.


"Sayang, malam ini kamu mau makan di luar atau di rumah saja?" Ucap Altezza kemudian, karena ia merasa mulai lapar.


"Hem, di rumah saja. Aku masih ada tugas kuliah yang harus di kerjakan" ucap Aisha, ia pun duduk dan mengikat cepol rambut panjangnya.


"Beneran?"


"He'em..." Ucap Aisha, ia meraih ponselnya untuk mengecek jika ada pesan singkat masuk.


"Altezza" rengek Aisha, lantaran Altezza merebut ponsel Aisha.


"Sudah ku bilang, jangan menyentuh ponsel jika sedang bersama" ucap Altezza dan menyimpan ponsel Aisha di dalam laci


"Aku hanya mengeceknya sebentar" Aisha mengelak.


"Sudahlah. Ayo kita makan, aku sudah lapar" ucap Altezza dan memapah tubuh Aisha di atas pundaknya.


"Altezza, turunkan aku. Kamu pikir aku ini binatang, seenaknya kamu gendong seperti ini" berontak Aisha.


Altezza menghiraukannya, bahkan Altezza menenteng tubuh Aisha sampai di ruang makan. Setelah tiba di ruang makan, baru Altezza menurunkannya langsung ke tempat duduk. Di meja itu pun sudah tersaji berbagai menu makanan. Altezza pun duduk tak jauh dari Aisha, malam itu hanya mereka berdua menikmati makan malam. Karena bibi Lin pergi bersama Leon, lantaran harus menyelesaikan sebuah tugas dari tuannya.


Beberapa puluh menit kemudian, acara makan malam itu sudah selesai. Aisha berinsiatif untuk mencuci piring tanpa harus menunggu bibi Lin yang mengerjakannya. Altezza yang tak mau meninggalkan Aisha, ia bermaksud untuk menyeduh sesuatu untuk ia minum.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Aisha, ketika melihat Altezza tengah mengambil sebuah cangkir.


"Bikin minuman hangat" ucap Altezza.


"Eh, biar aku buatkan sesuatu untukmu. Kamu tunggu saja di kamar" ucap Aisha.


"Baiklah" Altezza menaruh cangkirnya di meja. Ia pun melangkah pergi menuju kamar utama.


Sepuluh menit kemudian, Aisha datang dengan membawa cangkir besar berwarna putih bersih. Aisha berjalan mendekati Altezza, di saat ia melihat Altezza tengah sibuk dengan laptopnya di atas sofa yang tak jauh dari ranjang.


"Sayang..." Ucap Altezza, ia pun berhenti dengan laptopnya.


Aisha berjalan perlahan mendekati Altezza, tercium aroma teh yang harum. Aisha pun mempersilahkan Altezza untuk menikmati seduhan lemon tea buatan Aisha. Altezza mengambilnya untuk segera mencicipi.


Sruuppp...


Lemon tea yang hangat, manis yang sangat pas di sertai perasan lemon dengan takaran yang pas, terasa nikmat di lidah Altezza. Ini pertama kalinya Altezza meminum racikan lemon tea dari tangan Aisha. Benar-benar nikmat dan membuat Altezza merasa rileks.


"Bagaimana?" Ucap Aisha, ingin tahu komentar Alrezza.


Altezza hanya diam menikmati itu, bersamaan itu Altezza meraih bahu Aisha yang tengah duduk di sampingnya itu.


"Hei, Altezza bodoh. Aku tanya, bagaimana rasanya? Keasaman tidak? Atau kemanisan?" Rengek Aisha.


"Iya, ini kemanisan" ucap Altezza dan menaruh kembali di atas meja.


"Kemanisan ya, maaf ya" entah mengapa Aisha merasa sedih.


"Entah kenapa, kalau minumnya dekat kamu, rasanya jadi kemanisan" ucap Altezza, dengan gaya orang yang sedang berfikir.


"Eh? Kamu... Sudahlah, aku mau ngerjain tugas" ucap Aisha, ia tengah menahan malu dengan godaan Altezza barusan.


"Sayang, kerjakan di sini" pinta Altezza.


"Tidak"


"Kenapa?"


"Mana bisa konsentrasi, jika kamu seperti itu bodoh" batin Aisha, lantaran Altezza yang hanya memakai kimono handuk dengan dada yang terlihat menawan. Dan entah kenapa malam itu, Altezza terlihat menawan bahkan menggoda bagi Aisha.


"Yaa, aku mau sendiri saja" Aisha mencari alasan.


"Tidak boleh, harus di sini" ucap Altezza.


"Tidak, Altezza" Aisha hendak bangkit, namun Altezza menahannya.


"Mau aku hukum?" Ucap Altezza.


"Ha? Baiklah..." Belum sempat Aisha berkata, Altezza langsung menyela.


"Ho, jadi kamu lebih memilih di hukum ya" goda Altezza, sontak membuat Aisha menoleh jauh dan menutupi wajah Altezza dengan kedua telapak tangannya.


"Bodoh. Maksud aku, itu. Baiklah aku akan kerjakan tugas disini, kenapa kamu mesum sekali Altezza bodoh" ucap Aisha.


Altezza memundurkan kepala, agar terlepas dari tangan Aisha dan kemudian memegang kedua tangan Aisha, lalu menariknya kedalam pelukanmya.


"Ka,kamu. Mau ngapain?" Aisha menahan dari godaan dada yang sudah ada tepat di pipinya.


"Diamlah sebentar, sayang" ucap Altezza, ia pun mengusap lembut kepala Aisha.


Detak jantung mereka pun terdengar saling bersahutan, apalagi Aisha yang mendengar jelas detakan jantung Altezza, yang terpacu begitu cepat.


"Detakan, Altezza. Apa mungkin dia..." Ucap Aisha dalam hati, ia pun membalas pelukan Altezza dengan erat.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Altezza bingung.


"Ti,tidak. Altezza" ucap Aisha, saat Altezza melepaskan pelukannya dan melihat Aisha dengan air mata yang sudah mengalir


"Apanya yang tidak? Katakan padaku, ada apa sayang" Ucap Altezza khawatir, namun Aisha hanya diam dan menangis.


"Aku, aku hanya sedih. Sebentar lagi kita akan berpisah, hu...hu..." Ucap Aisha sedikit terbata-bata.


Memang, hari esok merupakan hari terakhir untuk berasama, sebelum Altezza akan pergi jauh ke London. Jarak yang begitu jauh, bahkan waktu begitu cepat memberi mereka kesempatan untuk bersama.


Hati Altezza tercabik, ia merasa tak selayaknya harus meninggalkan kekasihnya itu. Altezza hanya menahan dan memaki dirinya, begitu tulus Aisha menangisi dirinya.


"Maafkan aku, jika aku bersikap kekanakan. Tapi, tapi ini memang membuatku sedih Altezza, baru saja aku memulainya denganmu. Tapi..." Aisha tak kuasa.


"Cukup, Aisha" ucap Altezza, ia pun merasa semakin berat untuk meninggalkan kekasihnya itu.


"Sayang, percayalah padaku. Suatu saat, kita akan memetik kebahagiaan yang luar biasa. Kita harus lolos menghadapi ujian ini" ucap Altezza sembari membelai lembut kepala Aisha, namun tangis Aisha semakin pecah.


"Altezza.." lirih Aisha, ia pun semakin erat memeluk Altezza.


Di dalam dada terasa sesak, teriris, tercabik, bukan karena kesakitan sebuah penghiantan. Namun perpisahan akan jarak jauh, yang akan membuatnya menderita menahan kehausan, menahan kerinduan, terlunta dalam kelaparan.


"Aisha..." Altezza meraih wajah kekasihnya itu yang terlihat sembab. Ia pun mengusap air mata yang masih mengalir.


Namun Aisha tak kuasa untuk membendung tangisannya, lantaran ia tak mampu untuk memandang wajah kekasihnya itu. Aisha terus menangis, hingga membuat Altezza merasa terpukul. Altezza hanya mampu mengecup bibir Aisha yang memerah karena tangisan. Hingga cukup lama Altezza menciumnya, Aisha meraih wajah Altezza untuk memuaskan dirinya sebelum Altezza akan pergi.


Altezza pun meraih tangan Aisha yang menyentuh wajahnya dengan lembut. Mereka saling menguatkan diri, dan memuaskan diri di detik waktu maupun jarak akan memisahkan mereka.


Aisha sudah merasa cukup tenang, Altezza melepas ciumannya. Bahkan liur mereka yang telah bersatu itu pun menetes dari bibir mereka. Aisha dengan malu hanya menahan tawa, lantaran malam itulah rekor ciuman mereka terlama, bahkan ada pertunjukan yang memalukan.


Altezza yang melihat Aisha tengah malu dan menahan tawa itu pun hanya tersenyum gemas. Mereka hanya melempar senyum dan mengusap bibir mereka yang basah.


"Hihihi..." Altezza cekikikan.


"Apa?" Aisha menahan malu.


"Tidak. Aku mau lagi, sayang" goda Altezza.


"A,apa? Tidak, tidak. Itu saja sudah membuatku..."


"Ketagihan" sela Altezza.


"Iya. Eh, tidak" Aisha keceplosan.


"Hahaha..." Altezza tertawa kecil, Aisha semakin malu di buatnya.


"Ma, maksudku. Itu saja sudah membuatku..."


"Ketagihan" sela Altezza lagi.


"Altezza. Membuatku sulit untuk bernafas, bodoh" geram Aisha, ia pun memukul-mukul Altezza.


"Hahaha... Iya, aku juga ketagihan. Mau kah kamu mengulanginya lagi denganku?" Goda Altezza.


"Tidak. Jangan harap"


"Hoo... Meremehkanku?" Goda Altezza.


"Tidak. Aku tidak meremehkanmu"


"Lalu kenapa, kamu menentangku?"


"Mana?"


"Barusan"


"Aku tidak menentangmu"


"Sudahlah, aku mau lagi. Sini sayang..." Altezza dengan sengaja memonyongkan bibirnya.


Plakkk... Aisha tidak bermasud menampar bibir Altezza, ia hanya spontan untuk menyelamatkan diri.


"Au... Sayang, apa kamu ingin membuat bibirku lebih monyong lagi?" Ucap Altezza.


"Hemp. Huahahaha... Maaf, Altezza. Aku tidak sengaja" tawa Aisha, lantaran Altezza tengah merasa sedikit sakit di bibirnya.


"Tidak" Altezza merajuk.


"Ya ampun. Langsung ngambek" sindir Aisha.


"Biarin" ucap Altezza dengan ketus.


"Altezza..." Panggil Aisha dengan lembut.


"Hemmm"


"Maaf, ya?" Ucap Aisha dengan lembut nan manja


"Tidak"


"Kenapa?" Altezza melirik Aisha.


"Aku akan menerima maafmu, jika kamu mau menciumku" ketus Altezza.


"A,apa?"


"Tidak mau ya sudah" Altezza berdiri dan hendak melangkah, Aisha tanpa berfikir panjang langsung meraih tangan Altezza.


"Toh, aku sudah sering diciumnya. Altezza pun selalu membuatku nyaman, tak apa sesekali aku yang membuat dirinya merasa dibutuhkan" gumam Aisha dalam hati.


"Ada apa?" Altezza masih ketus.


"Duduk" ucap Aisha dengan lembut, Altezza pun menurut.


"Altezza, terima kasih" ucap Aisha, ia pun langsung mencium pipi Altezza.


Altezza merasa senang, Aisha mau menciumnya tanpa dirinya yang lebih dulu menyerangnya. Aisha memeluk Altezza dengan erat, ia bersyukur telah dipertemukan dengan Altezza. Pria yang paling baik dan perhatian kepada dirinya, daripada pria sebelumnya yang pernah ia temui.


"Aisha" panggil Altezza.


"Iya?" Aisha mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Altezza.


"Yang sakit bukan pipiku, kenapa yang kamu cium pipiku" ucap Altezza.


"Hem?" Aisha dengan rasa malu, ia berusaha meraih wajah Altezza dengan tangan kanannya, dengan perlahan ia mendekati bibir Altezza. Namun belum juga Aisha menempelkan bibirnya di bibir Altezza, Altezza langsung mencengkramnya.


"Kelamaan, lain kali jangan malu-malu. Atau bibir aku yang akan di cium lalat lebih dulu" ucap Altezza.


"Hemp. Hahaha... Dasar Altezza" Aisha tertawa manja di dalam pelukan Altezza.


"Aihsa" panggil Altezza yang tengah mengusap punggung Aisha.


"Hemm?"


"Berjanjilah untukku, dalam keadaan apapun nanti. Tetap percayalah padaku, dan jagalah hatimu juga dirimu untukku. Suatu saat, aku pasti akan datang untuk menjadikanmu satu-satunya wanita untukku" ucap Altezza.


"Hemmm..." Aisha tersenyum bahagia dan memeluk erat Altezza.


"Kamu tidak perlu khawatirkan itu, Altezza. Aku akan menunggumu dengan baik" ucap Aisha.


Malam itu terasa lama untuk mereka memadukan perasaan sedih, bahagia, haru, semua perasaan mereka ungkapkan. Bahkan waktu malam sudah menunjukkan angka sembilan lebih, mereka pun bergegas mengerjakan pekerjaan masing-masing dengan sesekali melirik atau mencium. Ya, mereka hanya menikmati kebersamaan itu. Entah bagaimana mereka mengekspresikannya, walaupun sama-sama sibuk. Namun tak berarti sibuk dapat mengurangi keharmonisan mereka, namun sibuk lah merupakan ujian untuk tetap menjaga keharmonisan mereka dalam sebuah hubungan.