Just Married

Just Married
episode 101: Aksi Laga Yang Terulang



Perjalanan dalam medan pertempuran itu cukuplah sulit, lantaran Rendra Andara hilang bak di telan bumi dan membuat Altezza harus bekerja keras untuk menyelesaikan sebuah puzzle. Namun ada satu hal yang pasti Altezza ketahui, jika Rendra telah sengaja memberi celah agar membuat lawan memasuki celah itu dan kemudian membekuknya, namun Atezza bukanlah pria yang sembarangan.


Kalung legendaris Farosha itulah sebuah kail untuk memancing lawan, Altezza tahu itu. Tentu saat pelelangan ada seorang pria yang langsung menawar dengan harga yang fantastis. Karena jika kalung itu jatuh ketangan orang lain, tentu hal itu akan ketahuan bahwasanya kalung itu hanyalah sebuah tiruan tentu akan menjadi masalah, semuanya itu sudahlah di atur oleh Rendra.


Dengan membawa pasukan yang sudah terlatih itu pun membuat Altezza percaya diri, apalagi dunia bawah. Altezza juga memilikinya untuk melawan musuh jika menggunakan kegelapan, tentu hal itu mudah bagi Altezza untuk melawan Rendra.


Malam itu setelah di acara pelelangan Altezza bergegas pergi untuk menghadiri sebuah acara pesta amal yang sudah di selenggarakan oleh seorang pebisnis besar di kota Paris. Seorang perancang perhiasan yang sangat terkenal di kalangan manapun, setelah acara itu Altezza pun menuju ke sebuah hotel untuk istirahat sejenak dan mempersiapkan keseluruhannya sebelum melanjutkan pertempuran yang sebenarnya.


Keesokan harinya, hari itu masih sangat pagi Altezza sudah bergegas pergi untuk mencari keberadaan markas Rendra.


Dalam perjalanan itu pun Leon sudah dapat mendeteksi lokasi markas Rendra Andrara.


"Lokasi berada di sebuah dataran tinggi dan terpencil, aku sudah mengerahkan beberapa orang untuk segera sampai kesana dan memastikannya" ucap Leon.


Sedangkan di sisi lain,


"Hahaha, itu adalah hadiah yang tak terduga untuk siapapun yang dengan sukarela untuk hadir" gelak tawa Rendra Andara ketika di dalam mobil bersama dua orang wanita seksi.


"Tuan terlihat sangat bahagia" rayu salah seorang wanita seksi itu.


"Tentu, karena ada dua gadis yang cantik di sisiku. Aku sudah tak tahan untuk itu, sayang" ucap Rendra dengan rayuan mesumnya.


"Ah tuan, bisa saja" ucap salah seorang wanita seksi.


"Maka... Cepatkan laju mobilnya" perintah Rendra kepada sopir pribadinya.


"Baik, tuan" ucap sang sopir.


"Hahaha, siapapun tak akan bisa menghentikanku" ucap Rendra dalam hati dengan piciknya.


"Untuk mencapai kesana, maka lalui rintangannya. Sekalipun berhasil melaluinya, kalian tidak akan pernah bisa pulang dengan selamat. Hahaha..." Ucap Rendra dalam hati, wajahnya tersenyum kemenangan dan bangga.


Mobil yang Rendra tumpangi terus melaju membelah kota Paris, dengan di temani dua orang wanita bayaran ia masih sanggup untuk bersenang-senang. Rupanya ia telah mempersiapkan sebuah jebakan untuk melawan musuhnya, entah apa jebakan itu yang sudah ia siapkan. Andaikan Rendra tak memiliki kerajaan dalam dunia bawah, dia selamanya tak lebih dari sebongkah batu sungai.


Ckitttt....


Tiba-tiba mobil yang Altezza tumpangi mendadak berhenti, decitan rem mobil pun terdengat cukup keras.


"Maaf, bos..."


"Leon" sela Altezza.


"Siap" ucap Leon dengan semangat.


Leon kini bertukar posisi di bagian kemudi, Altezza mengambil alih pelacakan, sedangkan Leon sudah sangat siap untuk itu.


"Baiklah, mari kita tunjukkan bakat kita yang sebenernya" ucap Leon dalam hati, tangannya pun terlihat sudah lihai dalam kemudi.


Brum brummm... Leon yang sudah lama tak beraksi pun mulai dengan semangat membara, menancap gas dengan iringan yang seirama layaknya laga fast and farious. Rupanya itulah yang di perintahkan oleh Altezza untuk bertukar posisi lantaran serangan dari Rendra telah membahayakan siapapun yang melalui jalanan itu untuk menuju markas Rendra. Tentu hal inilah harus mampu menyelamatkan diri dan pengendara lainnya yang seharusnya tak terlibat dalam peperangan mereka.


Jalanan tanjakan serta kelokan tak membuat Leon bergeming untuk kalah, ia begitu mahir sehingga musuh yang dikirim oleh Rendra telah fokus untuk mengejar dan meringkus mobil yang Altezza tumpangi.


"Rendra kau mau mengingatkan ku dengan kejadian itu? Itu tak akan membuatku takut, justru aku semakin ingin melawanmu" ucap Altezza dalam hati.


Aksi kejar-kejaran yang di buat persis seperti sebelumnya yang telah merenggut nyawa Amon dan Ares, namun kali ini lebih berbahaya dan banyak lawan. Leon terus berkonsentrasi untuk mampu melawan, kini Altezza yang semakin geram. Dengan segera Altezza meminta untuk di berikan satu mobil untuk ia membantu Leon yang tak mungkin membiarkan Leon memimpin seorang diri.


Leon mencari celah agar Altezza mampu berpindah ke dalam mobil lainnya dalam sekejap, begitu juga Altezza yang tengah mengenakan sarung tangan hitam untuk merdamkan bau mesiu di tangannya, lantaran ia akan membidik yang seharusnya ia bidik. Setelah beberapa saat terdengar tembakan dari Altezza membidik tepat ban mobil lawan sehingga oleng dan membuat lawan kehilangan kendali, saat itu pula mobil yang Altezza minta langsung mengambil posisi dan dalam sekejap Altezza masuk kedalam mobil lain.


Kini Altezza juga merasa berkobar dalam hal itu, apalagi ia begitu dendam akan permainan itu. Anak buah Altezza yang melihat wajah Altezza pun ketakutan lantaran begitu garang dengan aura pembunuh yang mematikan.


"Baru pertama kali lihat bos, semenyeramkan ini" keluh anak buah Altezza yang kini berada di sisi kemudi.


Altezza sebagai alih kemudi pun langsung berkolaborasi dengan Leon untuk segera menghentikan aksi itu. Tentu aksi itu semakin memanas dan semakin menggila, Altezza begitu cekatan bahkan lebih hebat dari sebelumnya dan hal itu mampu membuat anak buahnya menggelengkan kepala.


"Gila, ini benar-benar gila" ucap anak buah Altezza dalam hati.


Mobil yang selalu mengincar Leon dan juga Altezza yang terlilhat garang pun semakin menggila, meskipun musuh tumbang selalu saja ada lawan baru seperti tidak ada habisnya. Meskipun anak buah Altezza cukup banyak dan membantu, mereka harus pandai membaca situasi dan berkolaborasi untuk menang.


Hampir satu jam aksi itu terjadi, Altezza mulai jengah ia pun harus memutar otak lebih keras bagaimana semua lawan bisa ia kendlikan. Bahkan jalanan itu pun heboh dalam aksi peperangan, jalanan jauh semakin menggila, kini musuh sudah memainkan pistolnya yang jelas sangat berbahaya.


Altezza sudah memprediksi itu, dunia bawah sangatlah kejam dalam aksi bunuh membunuh, kali ini aura pembunuh Altezza telah terlihat begitu ganas dan garangnya, ia pun membalas dengan tembakan yang ia mainkan layaknya sebuah barang mainan, begitu lihai tangan Altezza menguasai itu.


Suara deruan pistol begitu seirama namun begitu mencekam bagi siapun yang melihat pertempuran itu, apalagi hal yang paling sensitif adalah bagian ban mobil, Altezza harus memperhitungkannya dengan tepat.


Sedangkan di sisi lain, di sebuah Hotel X di kota Paris. Rendra tengah bersenang-senang dengan dua wanita yang merayu dengan kemolekan tubuhnya, rupanya ia begitu bangga melihat musuh tertatih untuk bertempur sedangkan dirinya menikmati surga dunia yang kini sudah dihadapannya.


Blarrr.... Markas Rendra Andara hancur seketika saat anak buah Altezza yang sudah berhasil tiba di markas, namun markas itu rupanya hanya sebuah markas palsu yang sudah di siapkan oleh Rendra yang sengaja untuk membunuh dalam satu kali hentakan, namun beruntung anak buah Altezza begitu cekatan dan sudah terlatih itu tak ada korban yang tewas, hanya beberapa yang mengalami luka kecil saja.


"Sudah ku duga" ucap Altezza yang masih dalam aksi itu.


Dengan geram Altezza semakin membabi buta dan semakin brutal, Altezza benar-benar menumpas musuh dengan secepat kilat, ia tak mungkin akan melayani kerusuhan itu. Altezza mengambil kecepatan dan memutar arah dan langsung menancap gas untuk menerobos kepungan musuh.


Ckittt... Brummm... Dor dor.. brummm dor dorr dor... Brum brumm... Dor dor... Duarrr....


Suara yang mencekam dan menggila, Altezza telah berhasil melumpuhkan musuh, mobil yang masih dengan laju kecepatan itu pun Altezza tersadar akan tiba-tiba ada sebuah truk besar yang menghadang dari arah yang berlawanan.


"Sial, aku lupa dengan hal itu" pekik Altezza.


"Bos" ucap anak buah Altezza yang ikut terhentak dengan truk besar itu yang bahkan membunyikan klakson panjang.


Bruakkkk.... Mobil Altezza yang sudah berusaha menghindar itu pun tak selamat dari truk tersebut, kejadian itu persis apa yang sudah di alami Amon kala itu. Mobil jatuh terguling terjun kebawah, meskipun jurang tak begitu curam dan cukup rendah. Namun kecelakaan itu cukuplah mengerikan, bahkan bisa saja nyawa tak tertolong.


"Bos!!!?!" Leon tehentak saat mendengar seperti sebuah kecelakaann setelah Leon berhasil membidik ban truk saat mencoba untuk menghadangnya.


Duarrr....


"Bos!!" Teriak Leon, saat mendengar ledakan begitu keras bahkan saat dirinya tengah menyusul Altezza ia melihat kepulan asap pekat.


Leon pun terpukul, ia lebih mempercepat laju mobilnya untuk segera sampai di lokasi kejadian.


Pranggg.... Sebuah gelas pecah saat tak sengaja Aisha senggol.


"Nona?" Ucap bibi Lin yang langsung menahan Aisha untuk tidak membersihkan serpihan kaca itu.


"Kak Aisha?" Ucap Lala yang khawatir kepada Aisha, lantaran wajah Aisha terlihat jelas seperti orang linglung.


"Kenapa perasaanku tidak enak" gumam Aisha dalam hati, yang ia sendiri juga kaget saat tanpa sengaja menyenggol gelas sampai jatuh dan pecah.


"Nona, sebaiknya nona duduk, biar kami yang akan membersihkan" ucap bibi Lin dan menuntun Aisha untuk duduk di kursi.


"Minum dulu kak" ucap Lala yang sudah menuangkan air mineral untuk Aisha.


"Sampai sekarang pun pesanku belum sampai" ucap Aisha dalam hati saat dirinya mengeluarkan ponsel untuk mengecek.


"Bibi Lin, apa Altezza memberi kabar kepada bibi Lin?" Ucap Aisha.


"Ah, tidak nona. Tuan hanya bilang untuk melayani nona dengan baik" ucap bibi Lin yang tengah membersihkan serpihan kaca.


"Aku coba hubungi dia saja" ucap Aisha dalam hati, ia pun langsung mencoba untuk menelfon Altezza. Namun sama saja, nomor Altezza masih tidak dapat ia hubungi.


"Altezza tolong, jangan membuatku bimbang" ucap Aisha dalam hati, perasaannya pun tak karuan.


Di sisi lain,


"Cepat cari di mana bos, dalam keadaan apapun harus di temukan" perintah Leon yang sudah sangat cemas itu.


"Bos... Aku mohon jangan mati" sesal Leon dalam hati.


Leon masih tak menyangka jika bosnya akan mati semudah itu, saat dirinya melihat badan mobil sudah terbakar habis dil lahap si jago merah. Leon masih tak percaya dan tetap kekeh tetap memerintah untuk terus mencari keberadaan Altezza dan anak buah yang mendampingi Altezza.


"Leon, kamu bodoh sekali" sesal Leon yang sangat terpukul itu.


Hingga cukup lama Leon mencari bersama yang lainnya, namun nihil tak ada tanda-tanda apapun. Bahkan mobil itu masih mengepul asapnya cukup pekat, Leon geram dan marah. Ia pun berlari menuju mobil. Leon bermaksud untuk kembali menemui pengemudi truk itu dan menanyakan siapa yang menyuruhnya dan di mana keberadaan bos mereka.


Dengan blingsatan Leon bak kesetanan itu menancap gas mobil dengan cepat, memutar arah dan kembali untuk membalaskan dendam.


"Bos. Jika kamu mati seperti ini, Leon pun rela melawan seorang diri untukmu meskipun aku harus mati" ucap Leon dalam hati.


"Dimana?" Ucap Leon melalui earphone.


"Baik. Biarkan dia hidup dan bawa dia ke markas" perintah Leon dengan tegas.


"Kali ini, tak kan ku biarkan kamu lolos" ucap Leon.


Leon pun kembali seorang diri membelah pinggiran kota Paris menuju markas rahasia yang ada si sudut kota Paris, dengan kecepatan yang tinggi Leon sudah tak sabar untuk membalas dendam atas kematian bosnya itu. Ia juga merasa bersalah kepada Aisha yang tak mampu menjaga bosnya itu dengan baik, apalagi keluarga Abraham yang sudah mempercayakannya bekerja untuk Altezza.


Perjalanan menuju markas cukuplah jauh dan memakan waktu beberapa jam, Leon tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan itu. Hingga beberapa jam kemudian, Leon sudah tiba di markas. Ia pun buru-buru turun dan keluar untuk segera menemui pengemudi truk itu.


"Leon?" Ucap salah seorang anak buah Altezza yang sudah membawa pengemudi truk itu yang sudah berlumuran darah, namun wajahnya masih terlihat angkuh.


"Siapa yang menyuruhmu?!!!" Bentak Leon dan mengangkat menarik kaos pria itu.


"Haha, mana ku tahu" ucap pria itu dengan sombongnya.


"Sial!!... Dimana bosmu, cepat katakan!!!" Gertak Leon yang semakin garang.


"Mana ku tahu, kalaupun aku tahu aku tidak akan memberitahu kamu. Dasar bodoh" ucap pria itu.


Bukkk... Leon pun memukul perut pria itu.


"Leon, Leon tenanglah. Sebenarnya ada apa?" Ucap salah seorang anak buah Altezza yang mencoba untuk menenangkan Leon yamg nampak sedang marah besar.


"Apa kamu bodoh? Apa kamu buta? Hah?" Hentak Leon.


"Apa kamu pikir kecelakaan tadi bos selamat?!!!" Ucap Leon yang masih dengan amarahnya.


"Apa? Jadi bos..."


"Hooo... Rupanya yang berhasil aku tabrak itu bosmu ya? Syukurlah bosmu sudah mati" Ejek pria itu.


"Sial!!" Dengan perasaan geram penuh amarah Leon pun langsung menghajar pria itu yang sudah terluka.


"Leon, berhenti. Cukup Leon, jika dia mati kita tak akan dapat informasi" ucap salah seorang anak buah Altezza memperingatkan.


"Sial!!!" Gertak Leon dan memukul pintu dengan keras.


Dengan nafas yang memburu, Leon yang masih di kendalikan oleh amarahnya itu pun mencoba untuk mengambil nafas panjang dan memikirkan sesuatu. Dengan sigap Leon meninggalkan ruangan itu dan kembali ke salah satu ruangan lainnya, yang kini ia tengah mencoba untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk membalaskan dendam.