
Malam itu, di kediaman keluarga Altezza di kota London. Di sebuah ruangan perpustakaan, terlihat mama Via tengah duduk bersanding dengan suaminya di sebuah sofa yang cukup panjang berwarna merah maroon, dengan di temani Liana yang tengah duduk di sebuah sofa single tepat disisi papa Abraham.
Beberapa menit kemudian, suara ketukan pintu dalam ruangan perpustakaan itu pun terdengar, selang beberapa detik kemudian di susul pintu yang tengah di buka. Disana terlihat Altezza yang tengah berjalan menghampiri kedua orang tuanya bersama Aisha.
"Aisha. Kemari nak, duduklah kemari" ucap papa Abraham, ketika melihat Aisha tengah berjalan bersama Altezza.
"Iya, om. Eh, maksud aku papa" ucap Aisha sedikit canggung, sekalipun di masa kecilnya Aisha begitu riang dengan papa Abraham namun kali ini berbeda, lantaran saat ini papa Abraham merupakan ayah Altezza.
"Cih. Wanita ******" umpat Liana dalam hati, ketika ia juga melihat kedatangan Aisha yang bersama Altezza.
Sebelumnya Aisha sudah melihat situasi yang ada di ruangan itu, karena adanya keberadaan Liana di sana, beruntung mama Via mengarahkan Aisha untuk langsung duduk di sofa yang tak jauh dari sisinya, begitu juga disusul oleh Altezza yang entah kenapa sepertinya enggan untuk menjauh sedikitpun dari Aisha.
"Kamu lihat kan anak kita, pa. Setelah menemukan Aisha sepertinya Altezza sudah ingin menikah" ucap mama Via yang sengaja menggoda Altezza.
"Mama bisa saja. Apa sebaiknya kita nikahkan saja mereka, papa juga merasa kasihan dengan anak jantan kita" ucap papa Abraham yang tak mau kalah.
Aisha yang mendengar itu pun hampir salah tingkah di buatnya, wajah Aisha pun nampak sedikit memerah.
"Kalian apaan sih, pa, ma" gerutu Altezza.
"Huh, dasar orang tua" maki Liana dalam hati, entah kenapa ia merasa panas.
"Hei... Aisha nya malu, pa" ucap mama Via sembari merangkul lengan suaminya itu, ketika mama Via menyadari akan wajah Aisha yang terlihat malu dan sedikit memerah.
"Jangan di ledekin ma, ada jantannya lho" timpal papa Abraham.
"Hahaa..." Mama Via hanya tertawa sedangkan Aisha semakin merasa malu.
"Pa... Papa menyuruh Aisha kesini untuk apa?" Ucap Altezza kemudian.
"Tuh kan ma, papa bilang juga apa. Ada jantannya, galak kan ma" papa Abraham semakin gemas untuk menggoda Altezza.
"Hehe. Iya pa, tapi sudah pa. Kasihan Aisha sampai malu begitu" ucap mama Via kemudian, ia pun meraih tangan Aisha dan mengusap lembut.
"Aisha. Apa kamu tahu kenapa papa memanggilmu kemari?" Ucap papa Abraham kemudian dengan wajah cerianya.
Deg, seketika detak jantung Aisha terhenti beberapa saat, ketika mendengar ucapan papa Abraham yang terdengar cukup tegas namun wajahnya terlihat tersenyum lembut kepadanya.
"Maaf, pa. Aisha belum tahu" ucap Aisha sedikit gerogi, Liana yang sedari tadi sibuk membaca buku itupun mulai memasang telinga lebar-lebar.
"Aisha. Papa sudah mendengar semuanya, apa kamu tahu album ini?" Ucap papa Abraham sembari menunjuk sebuah album yang pernah Aisha lihat dan pegang, bahkan menyebabkan Aisha jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Aisha hanya diam, karena ia tak tahu harus menjawab apa. Dalam diri Aisha pun ingin mengetahui semuanya, apalagi tentang Altezza.
"Papa tahu, dalam diri Aisha sudah pasti menyimpan banyak pertanyaan" ucap papa Abraham.
"Aisha? Apa kamu tahu siapa pria yang ada di sampingmu itu?" Ucap papa Abraham.
"Altezza?" Aisha mencoba untuk menebak.
"Hehehe... Apa nak Aisha melupakan sesuatu?" Selidik papa Abraham.
"Maksud papa apa sih? Bikin penasaran kan jadinya" ucap Liana dalam hati.
Aisha menoleh dan menatap lekat wajah Altezza, ia berusaha untuk mencari jawaban dari pertanyaan papa Abraham. Banyak sekali Aisha tanyakan, namun ia merasa canggung dengan hal itu.
"Kemari, sayang. Duduklah bersama kami" ucap mama Via yang langsung melonggarkan tempat duduk. Aisha hanya merasa canggung akan yang mama Via lakukan, apakah Aisha harus duduk di antara papa dan mamanyw Altezza?
Dengan terpaksa, Aisha menurut dan melangkah duduk tepat di antara kedua orang tua Altezza, yaitu di tengah-tengahnya. Setelah duduk, papa Abraham pun mulai membuka album rahasia milik Altezza, yang hanya di ketahui oleh Altezza dan kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
"Ini Altezza, yang sudah dewasa seperti yang kamu lihat sekarang" ucap papa Abraham begitu terdengar lembut dan sabar menjelaskan kepada Aisha.
"Kamu lihat kan, di dalam album ini hanya ada foto dirinya saat dewasa. Tetapi semakin kita membukanya..." Ucap papa Abraham yang terus membuka setiap halaman dan akhirnya sampai pada suatu foto masa kecil Altezza.
Aisha pun menyipitkan matanya, ia merasa mulai sedikit pusing lantaran latar tempat itu tak asing bagi dirinya.
"Tenanglah, Aisha. Pelan-pelan saja, nak" ucap mama Via.
"Ini Altezza waktu kecil dulu, waktu itu pertama kali kami datang untuk mengunjungi kediaman kedua orang tuamu dulu, saat itu pula kamu masih kecil. Saat itu, kami hendak memasuki halaman depan rumahmu, tetapi Altezza kecil tiba-tiba saja berlari menjauh meninggalkan kami dan menuju di sebuah taman yang tak jauh dari kediaman orang tuamu dulu" ucap papa Abraham.
"Kemudian Gavin, kakaknya Altezza menyusul Altezza kecil yang nakal itu. Rupanya, Altezza kecil tengah melihat gadis kecil yang tengah bermain ayunan dengan seorang kakak lelakinya, Ares. Kamu tahu siapa gadis kecil ini?" Ucap papa Abraham sembari menunjuk ke arah foto gadis kecil yang tengah tertawa riang bersama seorang kakak laki-laki.
Deg, jantung Aisha berdetak cukup keras ketika mendengar nama kakaknya, dan itu cukup membuat Aisha teringat akan kakaknya yang sudah tiada. Mama Via pun langsung mengusap lembut pundak Aisha, karena mama Via tahu akan perasaan Aisha. Bahkan Aisha, baru tahu jika di dalam album itu ada dirinya waktu masa kecil.
"Kakaknya Altezza diam-diam mengambil moment itu dengan memotret Altezza yang tengah berdiri persis yang ada di foto ini, aku rasa waktu itu Altezza kecil sudah jatuh hati dengan gadis kecil ini" ucap papa Abraham dengan menahan tawa, sedangkan Altezza hanya bersikap biasa namun sesungguhnya ia menahan rasa malu.
"Sejak saat itu, setiap kali kami berkunjung ke rumah Amon dulu. Altezza dan kakaknya tak pernah mau untuk ikut masuk kedalam, Altezza kecil selalu diam-diam pergi dengan di temani kakaknya waktu itu. Itulah mengapa, kedua orang tuamu tak pernah melihat Altezza kecil maupun bahkan sampai sudah tumbuh dewasa sekalipun. Kecuali papa mu, Amon. Hanya dia yang pernah melihat sepintas Altezza kecil bahkan pernah bertemu Altezza besar, tetapi itu hanya sekali. Tapi kakakmu Ares sudah mengetahui Altezza, namun ia merahasiakannya dari kedua orang tuamu karena permintaan dari Gavin. Yah, sejak saat itu Gavin dan Ares menjadi teman untuk menjagamu, tetapi kita tidak pernah mengetahui itu. Kami tahunya ketika Gavin mengetahui kabar Ares kecelakaan"
Deg... Hati Aisha merasa tersayat ketika mendengar Ares kecelakaan, padahal yang sebenarnya tidak. Dengan segera Aisha mengontrol dirinya agar tak bersedih hati, ia pun berfikir dan mengingat kembali di masa kecilnya, rupanya diam-diam Altezza sudah pernah melihat dirinya. Kini Aisha mulai ingin tahu lebih dalam dan jauh untuk menggali masa kecil Altezza. Papa Abraham pun mulai membuka halaman selanjutnya, dan di halaman itu terlihat Altezza seperti di usia anak SD.
"Kemudian, Altezza tumbuh menjadi anak yang cerdas. Waktu itu, Altezza melihatmu yang tengah di bully oleh teman-temanmu dulu. Altezza kecil merasa geram dan marah, dan ingin sekali menolongmu. Tetapi, ada gadis kecil yang tengah menolongmu dan melindungimu. Kamu pasti tahu siapa gadis kecil itu" ucap papa Abraham dan menunjuk seorang gadis kecil yang terlihat polos namun angkuh.
"Deva" ucap Aisha, sembari bernostalgia masa kecilnya dulu. Ia pun tersenyum melihat foto Deva di masa kecilnya.
"Betul. Altezza kecil pun merasa lega, tetapi apa kamu tahu setelah itu apa yang di lakukan oleh dirinya setelah teman-temanmu berani membully dirimu?" Ucap papa Abraham. Aisha pun menatap dengan penuh rasa penasaran.
"Dia bilang kepada mereka. Jangan sentuh dia atau aku akan menghajar kalian" ucap papa Abraham sembari meragakan nada Altezza kecil. Altezza yang mendengar itu pun merasa malu.
"Haihhh... Dasar papa" keluh Altezza dalam hati.
"Kamu tahu apa yang terjadi setelah Altezza kecil berkata seperti itu? Altezza kecil malah di ejek, katanya, orang gila. Mereka malah mengejek Altezza kecil dengan menyebut orang gila bahkan dengan nada nyanyian" ucap papa Abraham dan terbahak lantaran jika teringat itu dulu cukup membuatnya tertawa terpingkal.
Altezza yang mendengar itu pun hanya mampu memejamkan mata dan menutup sedikit wajahnya dengan tangan kanannya demi menahan rasa malu. Sedangkan Aisha terdengar tertawa kecil, lain lagi dengan Liana yang merasa panas akan cerita masa kecil itu.
"Pantas saja, waktu itu Aisha sering di ejek oleh teman-teman Aisha" ucap Aisha, saat teringat waktu itu Aisha mendapat julukan pacarnya orang gila.
"Memangnya mereka mengejekmu seperti apa sayang?" Ucap mama Via.
"Pacarnya orang...." Aisha tak meneruskan, lantaran ia merasa tidak sopan berkata demikian dihadapan kedua orang tua Altezza.
"Hemp... Tuh, dengar kan Altezza" mama Via pun tertawa.
"Maaf" ucap Aisha dalam hati sembari tersenyum canggung terhadap Altezza.
"Aku akan memaafkanmu, jika kamu mau ku hukum nanti" ucap Altezza dalam hati, ia pun membalas tatapan Aisha penuh dengan arti.
"Lanjut" ucap papa Abraham kemudian, karena ia juga cukup tertawa akan kekonyolan Altezza kecil.
"Kemudian..." Papa Abraham pun menunjuk sebuah foto, di mana Altezza tengah memanjat pohon untuk mengambil balon Aisha yang tersangkut, sedangkan Aisha kecil tengah menangis di bawahnya.
"Kamu sudah pasti tahu, gadis kecil ini?" Ucap papa Abraham.
"Itu..." Ucap Aisha.
"Iya, itu adalah kamu. Waktu itu, ulang tahun kakakmu, Ares. Rupanya Aisha kecil ingin memberri kejutan untuk kakaknya, tetapi beberapa balon itu terbang karena ulah teman-teman nakalmu. Saat kamu menangis lantaran tidak bisa memanjat untuk mengambil balon, teman-temanmu pun pergi meninggalkanmu begitu saja, sedangkan temanmu Deva itu masih menunggumu bersama kami di suatu ruangan untuk memberi kejutan kepada Ares"
"Lalu, Altezza kecil datang dan langsung memanjat pohon itu seperti seorang pahlawan. Namun sialnya, Altezza kecil terpeleset dan terjatuh dari pohon, Aisha kecil pun menangisinya lantaran Altezza kecil tengah kesakitan dan enggan membuka matanya. Padahal sebenarnya, Altezza kecil hanya cedera ringan hanya saja Altezza kecil ingin di peluk oleh Aisha kecil saat itu. Dan inilah buktunya" ucap papa Abraham dan menujuk sebuah foto dimana Aisha kecil tengah menangisi Altezza kecil dengan memeluknya.
Wajah Aisha pun memerah melihat dirnya menangis seperti itu, ia pun terungat akan kejadian beberapa tahun silam saat ia tengah menangisi Altezza yang hampir sekarat.
"Kemudian.... Ini, Altezza diam-diam tengah memperhatikanmu bermain dengan teman masa kecilmu itu, siapa namanya? Papa lupa" ucap papa Abraham.
"Deva, pa. Mama saja masih ingat" celetuk mama Via.
"Iya, iya. Kekuatan memori mama kan lebih hebat dari papa" ucap papa Abraham.
"Pa..." Ucap mama Via.
"Baiklah. Tetapi, Altezza kecil ini tidak tahu jika dirinya telah di pantau oleh seseorang. Dan seseorang itu adalah..." Papa Abraham pun membuka sebuah halaman yang mampu membuat Aisha teriris.
"Papa..." Suara Aisha terdengar sedikit sumbang, sudah pasti ia merasa sedih dan merasa rindu akan kehadiran seorang ayah yang telah tiada.
"Masih ada papa Abraham, nak. Kamu pun sudah memiliki Altezza, kamu harus tegar" ucap papa Abraham dan menepuk lembut bahu Aisha.
"Sabar ya, sayang" ucap mama Via. Dengan sekuat tenaga Aisha menahan diri untuk tidak menangis.
"Aisha pasti kuat, pa, ma. Silahkan papa lanjutkan lagi ceritanya, Aisha ingin tahu lebih dalam lagi" ucap Aisha kemudian.
"Aisha?" Panggil Altezza, ia pun merasa cemas. Karena Altezza tahu, sebentar lagi akan tiba pada halaman yang mampu membuat Aisha terguncang.
"Tenang, Altezza. Percayalah" ucap Aisha dengan senyum manisnya itu.
"Baik. Inilah Amon, papamu sudah mengetahuinya dan Ares pun menjelaskan kepada Amon dan mereka merahasiakan kepada Hani, mama kamu" jelas papa Abraham.
"Dan ini, papa yang mengambil moment ini. Dimana Altezza kecil tengah berbicara dengan Amon, kamu lihat kan seperti nampak serius. Dan di sana pula ada gadis kecil tengah tertawa riang bersama mamanya"
"Mama?" Ucap Aisha, ia pun tersenyum melihat foto mama Hani yang tertawa lepas dengan dirinya, Aisha pun bernostalgia dimana dirinya tengah berlarian mengejar kupu-kupu bersama mamanya.
"Dan inilah, terakhir Altezza kecil akan terbang ke London untuk pendidikankannya, dan membuktikan ucapannya kepada kami, bahkan Amon"
"Membuktikan?" Selidik Aisha.
"Iya. Waktu itu Altezza marah kepada kami, dia bilang. Altezza bukan anak kecil pa, Altezza pasti bisa menjadi pria dewasa dan Altezza pasti bisa melindungi AO. Lalu kami bertanya, apa kamu menyukai AO?" ucap mama Via.
"Apa kamu tahu Aisha, Wajah Altezza saat itu memerah. Tapi anehnya dia kembali marah dan berkata. Baik, jika kalian tak percaya, aku akan membuktikannya, bahkan aku akan melebihi dan lebih dari kak Gavin" imbuh papa Abraham, mereka berdua pun tertawa jika mengingat saat itu, di mana Altezza kecil berlagak seperti pria dewasa.
"Jadi, Altezza... Sudah sejak kecil dia..." Gumam Aisha dalam hati, ia pun menatap Altezza yang tengah menahan malu, apalagi di tambah dengan tatapan Aisha bahkan senyuman Aisha yang begitu menyihir.
"Ehem... Pa, ma. Liana ke kamar dulu, Liana sudah mengantuk" sela Liana, rupanya ia tak tahan akan sikap semua orang yang selalu saja membicarakan masa kecil Aisha dan juga Altezza. Apalagi ia baru tahu, jika Aisha cinta masa kecilnya Altezza.
"Oh, baiklah. Selamat malam ya sayang, mimpi indah" ucap mama Via begitu lembut, Liana pun mengecup kedua pipi mama Via sebagai tanda perpisahan.
"Oke, ma. Pa, Liana keatas ya" ucap Liana untuk pamit, Aisha tak memungkiri itu, kedekatan Liana dengan orang tua Altezza begitu dekat dan lekat, persis seperti dengan anak kandung sendiri.
Liana pun bergegas pergi meninggalkan ruang perpustakaan itu, ia berjalan menaiki tangan dengan perasaan geram dan amarahanya. Ia merasakan ada sayatan yang begitu mengiris ulu hatinya.
"Sial. Wanita ****** itu, rupanya cinta masa kecil Altezza. Tentu saja, mereka akan sulit untuk di pisahkan. Apa lagi mama dan papa begitu menyayangi wanita ****** itu" geram Liana dalam hati.
Brukkk... Liana membanting tubuhnya di atas ranjang, setelah ia telah sampai pada kamarnya. Liana pun meraih ponselnya untuk menelfon seseorang.
"Halo. Bantu aku besok, sepertinya memang rencanamu itu yang paling efektif" ucap Liana di ponselnya. Entah dengan siapa Liana berbicara, dan rencana apa yang akan ia lakukan besok.