Just Married

Just Married
episode 85: Menyingkap Sebuah Rahasia Altezza



"Aisha, bangun sayang" ucap Altezza yang tengah membangunkan Aisha dari tidur siangnya.


"Hemmm..." Aisha bergeliat dan membuka mata dengan malasnya, namun tepat dihadapannya ada wajah Altezza yang begitu jelas dan dekat, Altezza pun mengecup bibir Aisha dengan singkat.


"Apa istriku tidur dengan sangat nyenyak?" Ucap Altezza.


Aisha hanya diam dan menatap lekat wajah Altezza dan memeluk tubuh Altezza yang sedari tadi sudah berada di atasnya.


"Jam berapa?" Ucap Aisha kemudian dan melepaskan pelukannya.


"Sudah hampir jam tiga" ucap Altezza.


"Hemm..." Aisha pun meregangkan ototnya dengan nyamannya, Altezza yang masih berada di atasnya pun merasa gemas.


"Sayang, apa kamu sedang bernegosiasi denganku?" Ucap Altezza.


"Eh? Negosiasi? Negosiasi apa?" Ucap Aisha yang tak mengerti akan ucapan Altezza.


Dengan senyum misterius Altezza menatap kedua dada Aisha yang nampak tersingkap sedikit memperlihatkan belahan dada, Aisha yang menyadari tatapan Altezza pun menoleh kebawah dan benar saja, baju yang ia kenakan memanglah cukup longgar dan sedikit terbuka. Buru-buru Aisha menutupinya dengan kedua tangannya.


"Mesum sekali kamu" ucap Aisha dengan wajah cemberut.


"Kamu yang memancingku" ucap Altezza.


"Kamu yang bodoh, menyediakan baju seperti ini" Aisha mengelak.


"Aku lagi yang salah?" Altezza mengeluh dan beranjak dari Aisha.


"Siapa lagi kalau bukan kamu" ucap Aisha yang sudah terduduk.


"Mama yang belikan, bukan aku" ucap Altezza.


"Hah? Apa? Kamu jangan berbohong, Altezza" Aisha tak percaya.


"Kenapa kamu tak percaya padaku?" Ucap Altezza dan mendekati Aisha dengan tatapan misterius.


"A, Altezza..." Aisha berusaha menjauh.


"Sudahlah. Papa memanggil kita, cepatlah cuci muka" ucap Altezza, ia pun beranjak berdiri dan berjalan menuju lemari besar. Karena memang Altezza hanya telanjang dada dan hanya mengenakan celana hitam panjang.


Sedangkan Aisha buru-buru turun dari ranjang dan bergegas pergi ke kamar mandi. Altezza mengambil sebuah kaos santainya dan langsung mengenakannya, beberapa saat kemudian Aisha sudah keluar dari kamar mandi. Altezza yang melihat itu pun langsung melempar sebuah baju ke arah Aisha, dan mendarat tepat ke wajah Aisha.


"Altezza..." Ucap Aisha dengan geram.


"Langsung pakai itu saja, papa sudah menunggu kita cukup lama" sela Altezza.


"Haih... Kenapa kamu tidak memberitahuku dari tadi?" Komplain Aisha, ia pun buru-buru untuk segera mengenakan baju yang sudah ia pegang.


"Yah, mau bagaimana lagi. Ada benda harta karun" ucap Altezza dengan sengaja bahkan dengan memperagakan seberaba besarnya dengan tangan kanannya.


"Altezza!!!" Panggil Aisha sedikit keras danpenuh dengan penekanan.


"Hehehe... Bercanda, sayang" Altezza hanya cengengesan.


"Mesum. Tapi, kamu serius suruh aku pakai ini?" Ucap Aisha, saat menyadari sebuah long outer berbahan sifon berpadu dengan renda, tentu saja itu cukup terlihat nerawang jika di tempat terang.


"Pakai saja, bukannya itu saudaranya yang kamu pakai?" Celetuk Altezza.


"Ini memang satu paket, bodoh. Pantas saja aku merasa ada yang aneh tadi siang, rupanya kamu menyimpannya dariku" ucap Aisha, ia pun memakai long outer seperti kimono itu.


"Hehehe" Altezza hanya cengengesan, saat merasa tebakan Aisha tak melesat.


"Altezza..." Aisha pun mencubit perut Altezza, sedangkan Altezza hanya tertawa kecil.


"Awas kamu nanti" ucap Aisha. Ia pun bergegas untuk segera menemui orang tua Altezza.


Di sebuah taman, di sebuah bangunan gazebo taman yang terlihat cukup asri. Kedua orang tua Altezza tengah menikmati hidangan teh dan beberapa macam camilan manis yang sudah tersaji di atas meja.


"Pa, bagaimana besok kita adakan pesta untuk Altezza?" Ucap mama Via.


"Boleh, ma. Tapi, ngomong-ngomong sebelumnya mama pernah bilang soal Liana. Ada apa memangnya, ma?" Ucap papa Abraham.


"Itu pa, mama rasa Altezza tengah menyimpan sesuatu tentang Liana. Mama dengar kemarin Liana sempat pergi ke Manhattan, menyusul Altezza" ucap mama Via.


"Lalu?"


"Masalahnya, mereka berdua seperti sedang jaga jarak pa. Apalagi Aisha seperti enggan untuk dekat dengan Liana, mama rasa ada yang tidak beres dengan mereka" tandas mama Via.


"Mungkin perasaan mama, saja" ucap papa Abraham, ia pun menyeruput teh hangat.


"Beneran pa. Kalau papa tak percaya, lihat saja nanti" ucap mama Via.


"Sudah. Anak kita sudah datang" ucap papa Abraham ketika melihat Altezza datang bersama Aisha.


"Aisha. Bagaimana tidurnya sayang?" Ucap mama Via saat Aisha sudah dekat.


"Iya ma, nyenyak sekali" ucap Aisha dengan santun.


"Berarti tidak terjadi apa-apa ya?" Selidik mama Via, dan itu cukup membuat Aisha melongo dan berpikir dua kali lipat.


"He? Apa maksud ucapan mama barusan?" Ucap Aisha dalam hati.


"Hah... Padahal mama sudah mempersiapkannya" keluh mama Via dengan sengaja.


"He? Ma, ma, maksud mama?" Ucap Aisha cukup kaget bahkan berbicara dengan gagap, lantaran ia baru menyadari akan ucapan Altezza yang sebelumnya, jika mama Via lah yang tengah mempersiapkan baju untuk Aisha.


"Ma, apa yang kamu ucapkan. Jangan membuat menantu kita tertekan" ucap papa Abraham.


"Hehe" mama Via hanya tertawa kecil.


"Aku tak percaya, jika Altezza sekuat itu. Hehe, lihat saja besok sayang. Akan mama buat kamu menderita dan merengek" ucap mama Via dalam hati, ia tengah merencanakan sesuatu untuk Altezza.


"Ma? Kamu kenapa tertawa sendiri?" Selidik papa Abraham.


"Ah, tidak ada. Oh ya, sayang ayo duduk. Altezza cepat ajak istri, eh maksud mama menantu mama duduk" ucap mama Via dengan wajah cerianya.


"Sepertinya mama tengah merencanakan sesuatu" pikir Altezza.


Altezza pun langsung mengajak Aisha duduk bersama, tepat di samping Altezza. Mereka pun terlihat tengah duduk saling berhadapan.


"Oh ya, Aisha. Bagaimana kabar mama kamu dan Alex?" Ucap papa Abraham.


"Baik, pa" ucap Aisha, ia pun mengambil alih untuk menuang teh lantaran mama Via hendak menuang teh untuknya.


"Biarkan mama saja, sayang" ucap mama Via.


"Jangan ma, biar Aisha saja" ucap Aisha dengan santun. Ia pun menuang teh untuk dirinya juga Altezza.


Setelah selesai menuang, Altezza langsung meraih cangkir itu dan menyeruput teh dengan seksama. Begitu juga papa Abraham dan juga mama Via, Aisha pun bermaksud untuk menyusul lantaran ia baru saja meletakkan teko, namun tiba-tiba saja mereka berhenti dan meletakkan cangkir mereka yang hampir bersamaan. Sontak membuat Aisha menjadi salah tingkah dan mengulurkan tangannya yang sudah menyentuh cangkir berisi teh miliknya.


"Hehehe, minum saja sayang" ucap mama Via yang melihat mimik wajah Aisha yang seketika berubah drastis lantaran tengah menahan malu.


"Eh, iya ma" ucap Aisha dengan ragu dan perasaan sungkan.


"Hemp..." Altezza tengah menahan tawa, tentu saja Aisha langsung menoleh dan menatap lekat Altezza dengan tatapan mengancam. Sedangkan tangan Aisha terlihat sedikit gerogi saat memegang cangkir saat hendak mau meminumnya, lantaran kejadian itu cukup memalukan bagi dirinya.


"Ehem... Tehnya terasa berbeda, apa mama beli jenis yang baru lagi?" Ucap Altezza, ia pun kembali mengambil cangkir dan menyeruput teh itu dengan santainya. Altezza lakukan hanya semata-mata untuk menemani Aisha yang terlihat sungkan.


"Eh, iya. Mama baru ingat, kemarin mama ketemu sama teman-teman mama. Katanya ada teh yang enak ya sudah mama coba, bagaimana rasanya, nak?" Ucap mama Via yang menyadari akan maksud Altezza, ia pun melempar pertanyaan itu kepada Aisha, sontak membuat Aisha kalang kabut.


"Ah, uhuk uhuk, iya. Tehnya enak ma" ucap Aisha dengan buru-buru dan langsung meletakkan cangkir lantaran ia sedikit tersedak karena gerogi.


"Pelan-pelan, sayang. Santai saja sama mama dan papa, ini kuenya sayang di makan pelan-pelan saja" ucap mama Via sembari menyodorkan sepiring yang berisi macam-macam kue.


"I,iya ma. Terimakasih"


"Aisha apa kamu ingin mendengar cerita masa kecil Altezza?" Ucap papa Abraham yang tengah berusaha untuk mencairkan suasana, karena ia menyadari jika Aisha masih terlihat sungkan dengan dirinya.


"Pa..." Rengek Altezza.


"Sepertinya ada hal yang menarik di masa kecil Altezza" ucap Aisha dalam hati.


"Kalau boleh, pa" ucap Aisha dengan hati-hati dan cukup bersemangat.


"Kalau begitu, apa Aisha sudah lihat album masa kecilnya Altezza?" Ucap mama Via.


"Eh? Hehe. I, iya" ucap Aisha, ia teringat jika album itu telah di rebut Liana lebih dulu, sedangkan Aisha hanya melihat foto Altezza masa kecil yang ada di album rahasia Altezza, itu pun hanya beberapa saja..


"Beneran sudah lihat?" Selidik mama Via, lantaran yang ia tahu Aisha pingsan setelah melihat album rahasia Altezza.


"Itu..." Aisha tak mampu menjawab.


"Ya sudah, tak apa" ucap mama Via.


"Tapi kenapa kamu bisa nenemukan album rahasia Altezza, sayang?" Selidik mama Via.


"Eh, soal itu. Maafkan Aisha ma, Aisha yang salah mengambil" ucap Aisha.


"Apa Liana telah mengganggumu? Karena seingat mama, di sana hanya ada Liana dan beberapa pelayan" Selidik mama Via.


"Bukan. Itu memang kesalahan Aisha, ma. Maafkan Aisha, jika Aisha lancang" ucap Aisha yang merasa bersalah itu.


"Ah, tidak. Cepat atau lambat kamu akan melihatnya sayang" ucap mama Via.


"Kok aku jadi merasa kesal kalau ingat itu ya" ucap Aisha dalam hati, ia teringat akan tingkah laku Liana yang selalu menjepret foto masa kecil Altezza bahkan tak membiarkan sedikitpun untuk memperlihatkan kepada Aisha.


"Baiklah, tak apa jika Aisha belum sempat melihatnya. Nanti malam atau besok papa akan tunjukkan dan ceritakan" ucap papa Abraham.


"I, iya pa. Terima kasih" ucap Aisha kembali gerogi, lantaran ia tak tahu harus berbicara soal apa.


"Oh ya, Aisha. Papa dengar kamu baru mengetahui siapa Gibran Abraham, pasti kamu ingin tahu soal itu kan?" Ucap papa Abraham kemudian.


Aisha pun menoleh kearah Altezza, sedangkan Altezza hanya memberi isyarat dengan senyumannya. Aisha pun kembali menatap papa Abrahan dan mengangguk pelan. Karena Aisha juga ingin tahu kebenarannya.


"Baiklah. Papa akan jelaskan, tapi sebelum itu mari kita minum tehnya terlebih dahulu" ucap papa Abraham.


Mereka berempat pun mengambil cangkir masing-masing dan menyeruput teh dengan aroma yang sangat menenangkan. Apalagi suasana taman itu cukup menyejukkan mata dan fikiran, di tambah warna-warni bunga yang bermekaran begitu nampak mempesona.


Papa Abraham pun memulai untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Gibran Abraham itu Altezza?


Singkat cerita, Altezza saat itu hendak mencari tahu tentang Rendra Andara dan Altezza harus dapat mengalahkan Rendra Andara. Itulah sebagai syarat dari papa Abraham untuk Altezza, agar dapat meneruskan perusahaan yang ada di London sebagai pewaris keluarga Abraham. Dengan mengubah sedikit penampilan dan gaya rambut hampir terlihat bukan seperti Altezza saat itu, bahkan Rendra Andara tak mengenali siapa Altezza lantaran memang belum pernah bertemu akan sosok Altezza.


Altezza merubah namanya dengan nama Gibran Abraham, Abraham merupakan nama papanya yang ia gunakan untuk menggertak Rendra Andara, sedangkan nama Gibran itu merupakan nama Altezza sendiri, mengingat nama Abraham juga salah satu ancaman bagi Rendra Andara. Namun sayang, kehadiran Altezza saat itu di jadikan sebagai umpan oleh Rendra Andara, lebih tepatnya sebagai tumbal untuk para preman dari salah satu geng mafia, dengan dalih Altezza lah yang melakukan kecurangan padahal yang sesungguhnya yang melakukan kecurangan adalah Rendra sendiri, dan itu pun sudah masuk dalam prediksi Altezza sebelumnya.


Dan keberadaan Altezza saat itu seperti sebuah ancaman, padahal Altezza sudah berperilaku seperti orang biasa. Hidup dalam kesusahan, bekerja dengan keras dan terlihat cukup cerdas saat menjadi asisten Rendra Andara, hal itu terbukti pula saat Altezza tanpa sengaja mencipratkan kubangan air jalanan kepada seorang wanita namun pada akhirnya ia di peras oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Bisa saja Altezza melawannya, namun ada mata-mata yang mengintainya dan Altezza menyadari itu.


Namun sayangnya, di sebuah waktu Altezza tanpa sengaja melihat Aisha dari seberang jalanan, dan melihat Aisha yang hampir tertabrak mobil di jalanan lalu lintas saat tengah menyebrang dan membuat kaki Altezza terkilir saat menolong Aisha. Dan itu membuat keadaan menjadi sedikit kacau, namun bagi Altezza, keselamatan Aisha lah lebih utama saat itu, lantaran ia tak mau melihat wanita yang ia cintai celaka.


Namun seperti yang kita ketahuii, waktu itu Aisha terus membuntuti Altezza yang tanpa sadar dirinya ikut dalam bahaya. Tentu sikap Altezza saat itu cukup kasar terhadap Aisha, namun Altezza lakukan itu hanya semata-mata untuk membuat Aisha pergi dan menjauh darinya. Tapi apa daya, Aisha cukup keras kepala dan terus mengikuti Altezza dengan perasaan rasa bersalahnya.


Dan nahas, Altezza salah perhitungan dan membuat kehilangan jejak anak buah papa Abraham untuk membantu Altezza saat itu untuk meringkus para geng mafia. Dan malah masuk ke dalam kandang preman yang sudah mengincar Altezza yang sudah di siapkan oleh Rendra Andara, mau tak mau Altezza harus menghadapinya. Jika waktu itu Altezza bersikap peduli denga Aisha, tentu keadaan Aisha akan menjadi sangat berbahaya dan akan menjadi ancaman yang lebih menyakitkan bagi Altezza. Dan kejadian beberapa tahun lalu itu pun terjadi menyisakkan rasa yang amat pahit dan rasa sesal bagi Altezza yang tak mampu melindungi Aisha.


Pasukan Altezza kehilangan jejak dirinya, namun saat itu pula terdengat ada suara teriakan seorang wanita yang tak lain ialah Aisha, kemudian beberapa saat ada pasukan dari Danial datang dengan deruan langkah kaki yang tengah berlarian dengan cepatnya. Pasukan Altezza pun di perintah oleh papa Abraham untuk tidak muncul lebih dulu, dan membiarkan pasukan Danial menolong Altezza juga Aisha terlebih dahulu. Setelah itu, Altezza akan dibawa kembali ke London jika sudah di tolongnya. Karena itulah, cara papa Abraham bertindak transparan.


Belum ada satu hari penuh, saat Altezza masih terbaring lemah di ruang ICU dengan luka yang sangat parah, papa Abraham datang bersama para dokter terbaik dari London, dan langsung membawa Altezza terbang ke London tanpa sepengetahuan Danial atau siapapun kecuali pihak rumah sakit, itu pun bersifat sangat rahasia. Karena papa Abraham lakukan itu bertujuan untuk menghilangkan jejak dari Rendra Andara. Dan tentu saja, Rendra Andara akan mencari keberadaan Altezza, baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Beruntung pergerakan papa Abraham waktu itu sangat cepat dan tepat waktu.


Aisha yang mendengar cerita itu pun merasa bersalah sekaligus bahagia, tanpa sadar ia menitikkan air mata. Di sisi lain ia terharu akan perjuangan Altezza yang begitu sulit, namun ada kebahagiaan lain, yaitu ternyata Gibran Abraham yang ia cari selama ini adalah Altezza, pria yang sudah membuatnya jatuh cinta dan pria yang ia cintai selama ini. Yang saat ini nama Altezza telah menjadi lebel dalam perusahaannya, G.A. alias Gibran Altezza.


"Aisha? Nak? Kenapa kamu menangis, sayang?" Ucap mama Via mulai merasa cemas.


"Aisha hanya teringat saat itu saja ma, rupanya Gibran Abraham yang Aisha cari selama ini adalah Altezza" ucap Aisha dan menyeka air matanya.


"Kamu, tidak marah?" Imbuh papa Abraham.


"Marah?" Aisha tak mengerti.


"Ya, biasanya kalau dalam drama sinetron kan suka begitu, suka marah karena merasa di tipu padahal masih ada perasaan" jelas Altezza.


"Bodoh. Aku bukan korban sinetron" ucap Aisha kepada Altezza dengan mata sayunya.


"Hahaha... Lihatlah menantu kita, pa" puji mama Via.


"karyanya Amon dengan Hani, ma" ucap papa Abraham dengan nada bercanda.


"Karya kita juga tak kalah bagus, pa. Buktinya mereka berdua sangat cocok" ucap mama Via yang tak mau kalah. Seketika membuat suasana mencair dengan tawa kecil yang begitu hangat nan harmoni.


"Hah, tidak terasa ya ma. Hari sudah sangat sore" ucap papa Abraham kemudian.


"Iya pa" ucap mama Via.


"Sayang, kamu pergi mandi dulu ya. Nanti malam kita lanjutkan lagi obrolannya" ucap mama Via dan mengusap lembut pipi Aisha.


"Baik, ma. Kalau begitu, Aisha pamit ya ma, pa" ucap Aisha menurut.


"Iya nak" ucap mama Via. Aisha pun berdiri dan bergegas melangkah pergi.


"Ehem. Altezza, kamu mau kemana?" Ucap papa Abraham tiba-tiba ketika Aisha hendak pergi dan Altezza terlihat hendak ikut menyusul Aisha.


"Ya, ikut mandi lah pa. Apa lagi?" Ucap Altezza dengan polosnya. Ucapan Altezza pun seketika membuat Aisha merasa seperti tengah dipermalukan saat ia mendengar ucapan Altezza.


"Dasar bodoh" keluh Aisha dalam hati.


"Bodoh. Kamu ini, mau mempermalukan papa? Anak orang itu, anak perawan lagi" ucap papa Abraham sembari menjewer telinga Altezza.


"Aduh pa..." Rengek Altezza, ia merasa sepertinya papa Abraham hendak menahannya untuk pergi.


"Altezza bodoh, awas saja nanti" geram Aisha, ia pun terus berjalan dan pura-pura tidak mendengar obrolan mereka yang ia rasa cukup membuatnya malu.


"Sudah lah pa. Anak kita itu kuat kok, mama yakin itu" ucap mama Via mencoba untuk melerai.


"Mama tahu dari mana?" Selidik papa Abraham dan melepas jewerannya.


"Ya, mama percaya saja sama anak kita pa. Ah, masak papa tak percaya dengan anak sendiri sih" kesal mama Via.


"Eh, iya iya maafkan papa" ucap papa Abraham.


"Aisha sudah pergi. Papa mau bicara soal apa?" ucap Altezza.


"Wah, kamu tahu saja kalau papa ingin bicara sesuatu padamu" puji papa Abraham.


"Cepat katakan" ucap Altezza, ia pun menyeruput teh kembali.


"Papa sama mama mau bertanya suatu hal kepadamu. Papa perlu penjelasan" ucap papa Abraham kemudian, terdengar cukup tegas.