Just Married

Just Married
episode 51: Sebenarnya...



Malam yang indah, kini telah berlalu dengan menyisakan rasa yang tak mungkin untuk di lupakan. Jam dinding yang terus berdetak tanpa henti itu pun sudah menunjukkan angka lima.


Pagi itu, Altezza yang lebih dulu terbangun dari mimpinya, ia pun merengkuh tubuh Aisha yang masih terlelap itu. Altezza tanpa ragu, langsung menciumi wajah Aisha.


"Emm..." Aisha bergeliat, ia merasa seperti ada yang menciumnya.


"Altezza??" Ucap Aisha, Saat ia membuka mata, dan terlihat jelas wajah Altezza yang sudah ada tepat di hadapan wajahnya. Ya, sangat dekat, bahkan posisi tubuh Altezza pun sudah berada di atas tubuh Aisha.


"Selamat pagi, sayang" ucap Altezza, dan mengecup bibir Aisha.


"Altezza..." Ucap Aisha dan menempelkan kedua tangannya ke wajah Altezza.


"Selamat pagi, sayang" ucap Aisha kemudian, dengan menahan rasa malu.


"Apa? Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Coba, ulangi kembali" ucap Altezza dengan sengaja.


"Ah, tidak ada siaran ulang" ucap Aisha.


"Tidak mau mengatakannya?" Ucap Altezza dan langsung menciumi Aisha.


"Tidak"


"Jadi, kamu lebih suka aku cium daripada mengatakannya?" Ucap Altezza, ia pun kembali mencium Aisha.


"Ah, ti, tidak. Altezza, hentikan" rengek Aisha dan berusaha lepas dari cengkraman Altezza. Namun sepertinya sia-sia.


"Ayo katakan, aku tidak mendengarnya tadi" Altezza terus menciumi Aisha.


"Iya, iya" ucap Aisha.


"Hem?" Altezza mulai terdiam.


"Se, selamat pagi, sa, sayang" ucap Aisha gugup dan malu.


"apa? Itu tidak jelas, sayang. Ulangi lagi" pinta Altezza.


"Kamu?"


"Hemm?" Altezza terlihat sudah siap untuk menghukum Aisha dengan serangan ciumannya.


"Selamat pagi, sayang" ucap Aisha kemudian dengan jelas dan gamblang, bahkan memejamkan mata lantaran malu.


"Apa? Aku masih tidak bisa mendengarnya dengan jelas, sayang. Coba ulangi lagi" goda Altezza dengan sengaja, bahkan masih tetap menciumi Aisha.


"Selamat pagi, sayang. Selamat pagi, sayangggg.." suara Aisha semakin keras.


"Haih... Sayang, aku masih tidak mendengarnya" Altezza terus mencium Aisha, meskipun sudah Aisha katakan berkali-kali.


"Altezza... Kamu, licik sekali" jerit Aisha, yang kini sudah tidak lagi menjerit dalam hati.


***


Indonesia, di rumah Aisha.


Sore itu, Danial datang ke rumah Aisha atas permintaan mama Hani. Ada hal yang ingin mama Hani bicarakan dengan Danial.


"Tante, ada apa memanggil Danial kemari?" Ucap Danial.


"Tante, lagi bingung nak. Kamu tahu kan Aisha pernah mencari Gibran Abraham?"


"Iya, tante. Danial paham, Aisha sudah memiliki kekasih lain yang bernama Altezza, bukan?" Ucap Danial.


"Bagaimana kamu tahu, nak?" Mama Hani tak percaya.


"Sebelumnya, Danial pernah bertemu dengannya tante. Waktu di Amerika mengunjungi Aisha" jelas Danial.


"Bagaimana orangnya?" Mama Hani merasa tak sabar untuk mendengar.


"Hemm, kalau di lihat waktu itu, Altezza terlihat sosok pria berdarah dingin dan tegas" ucap Danial.


"Tapi auranya, memancarkan sosok pria berjiwa kepimpinan yang tinggi. Tante, kenapa tante tidak bertanya kepada Aisha yang lebih tahu?" ucap Danial kemudian.


"Sudah, nak. Tapi tante bingung, soal Gibran..."


"Tante, kalau masalah hati tidak dapat di paksakan. Aku yakin, mereka bisa mengatasinya" ucap Danial.


"Bagaimana kamu seyakin itu, nak?" Ucap mama Hani.


"Tante, ada sebuah rahasia yang ingin Danial katakan kepada tante. Tapi mohon, tante rahasiakan dari Aisha atau siapapun" ucap Danial mulai serius.


"Katakan"


"Tante, Danial sudah tidak lagi menanggung biaya Aisha selama disana"


"Apa maksudnya, nak?" Mama Hani terkejut dan merasa bingung dengan ucapan Danial barusan.


"Tante, semua fasilitas dan biaya kuliah Aisha disana, sudah ditanggung Altezza seluruhnya"


"Apa?"


"Iya tante, bahkan Altezza membawa Aisha bersama temannya, Sally. Untuk pindah ke apartemen yang lebih mewah dan jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Danial pun, sudah pernah kesana, tante"


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Entahlah, tante. Bahkan, Altezza mengganti seluruh biaya yang pernah aku keluarkan untuk Aisha selama disana. Meskipun aku sudah menolaknya, namun Altezza tetap memaksa ku dengan memberikanku kompensasinya berupa saham perusahaan yang ada di kota Bandung" jelas Danial.


"Yang waktu itu, kamu pergi keluar kota?" Selidik mama Hani.


"Iya, tante. Maafkan Danial, Danial sudah menerimanya. Tetapi Altezza memang tidak bisa untuk di tolak, tante" sesal Danial.


"Tidak apa-apa nak. Tante hanya mampu berdo'a, semoga Aisha di sana baik-baik saja" ucap mama Hani sedikit cemas.


"Tante tidak usah cemas, suruhan Altezza yang mengirim berkas untukku, terlihat bukan orang jahat. Danial juga mendengar, jika Altezza merupakan seorang pengusaha yang memiliki perusahaan yang cukup besar di Amerika"


"Aku ingat, Aisha pernah berkata itu sebelumnya dan memuji-muji kebaikan Altezza. Tapi nak, Altezza bukan pria tua kan?"


"Hehe, tante. Aku melihatnya sendiri dengan jelas, tante. Bahwa Altezza masih muda, sangat muda. Mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja dari kami" ucap Danial


"Syukurlah" mama Hani bernafas lega, lantaran ia khawatir jika Aisha menyukai bos karena harta atau menyukai suami orang.


"Memangnya tante, belum pernah di kasih tahu sama Aisha?"


"Belum, nak. Katanya malu, padahal sudah cerita banyak ke tante" keluh mama Hani.


"Ah, Danial ingat. Waktu Aisha tidak pulang, dan menginap di rumah Deva. Deva sempat melihat foto mereka di ponsel Aisha" ucap Danial dan merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


"Sebentar tante, Danial carikan foto mereka" Danial pun sibuk menggeser-geser layar ponselnya itu.


"Ah, ini tante" Danial pun menunjukkan sebuah foto Aisha dengan Altezza yang nampak serasi itu.


"Ha? Ini, ini Aisha anakku?" Ucap mama Hani, begitu tak percaya dengan apa yang mama Hani lihat, Aisha begitu cantik dengan balutan gaun berwarna silver yang tengah merangkul lengan Altezza.


"Dan, ini yang namanya Altezza?" Mama Hani semakin tak percaya.


"Iya, tante. Dari cerita Deva, foto ini di ambil oleh fotografer Altezza. Saat mereka sedang menghadiri sebuah pesta antar pengusaha di Amerika"


Mama Hani berdecak kagum, ia terus memandangi putrinya yang cantik jelita itu. Sangat cantik dan cocok sekali dengan balutan gaun silver. Lalu mama Hani melihat lekat-lekat wajah Altezza, di foto itu Altezza terlihat sangat tampan sebagaimana yang Aisha pernah ceritakan, bahkan sosoknya terlihat penyayang namun berorientasi sebagai pria yang tegas dan berwibawa.


"Entah kenapa, mereka terlihat sangat serasi" gumam mama Hani dalam hati.


"Ah, apa yang aku pikirkan. Bagaimana dengan Gibran, aku tidak boleh berat sebelah. Ini keputusan Aisha, aku hanya bisa mendukungnya" ucap mama Hani dalam hati.


Mama Hani pun menyerahkan ponsel itu ke Danial, setelah puas memandangi wajah putrinya juga Altezza.


"Oh ya, tante. Alex dimana?" Ucap Danial.


"Dia pergi dengan Elan, entah ada apa dengan anak itu" ucap mama Hani nampak terlihat kesal.


"Biarlah tante, Alex berbeda dengan yang lainnya. Danial merasa, jika masa depan Alex akan menjadi seorang pengusha yang sukses" puji Danial.


"Ah, kamu bisa saja" ucap mama Hani.


"Hehe, siapa tahu kan tante. Oh ya tante, sudah jam segini. Danial pamit dulu, tante" ucap Danial, tanpa terasa hari sudah mulai gelap.


"Ah, iya. Salam untuk kedua orang tuamu ya" ucap mama Hani dengan ramahnya.


"Iya, tante" Danial mencium tangan mama Hani, Danial pun berpamitan untuk pulang.


"Huft... Semoga kelak, tidak ada masalah besar untuk anak-anakku" gumam mama Hani, saat Danial sudah pergi dari kediaman Aisha.


"Semoga dengan ini, tante bisa seimbang dan tidak berat sebelah. Karena Altezza juga sudah banyak melakukan untuk Aisha sejauh ini, bahkan aku merasa mereka ada perasaan yang sama" gumam Danial yang sedang menyetir.


New York University, Amerika.


Aisha sudah berada di sana, mengingat Altezza sendiri yang mengantarkan Aisha pergi ke kampus.


Di sana Aisha, belum menemukan Sally sahabatnya itu. Aisha hanya berkumpul dengan beberapa temannya yang ada di ruang kelas. Aisha pun tak lupa membagikan beberapa oleh-oleh khas Indonesia untuk ketiga temannya yang saat itu bersama Aisha.


Terutama Angelica yang menyukai Indonesia, ia terlihat sangat gembira saat mendapatkan oleh-oleh dari Aisha. Apalagi aksesoris etnik dan super epik itu, berwarna coklat tua dengan desain sedemikian menariknya, bahkan disana ada gambar wayang khas jawa, yang merupakan identitas negara Indonesia.


"Aku baru melihatnya, Aisha. Ini bagus sekali" seru Angelica, dan langsung memakai gelang etnik itu.


"Syukurlah, kalau kamu suka" ucap Aisha, ia merasa senang. Ternyata teman-temannya sangat menyukai oleh-oleh darinya.


Tanpa terasa, Aisha sudah bergulat begitu lama dengan materi yang di sampaikan oleh Dosen. Waktu pulang pun telah tiba, Aisha beranjak lebih dulu untuk pulang, karena ia ingin mencari Sally yang masih belum ia temui sampai sore itu.


"Kemana, Sally" gumam Aisha, saat ia melihat kelasnya Sally sudah hampir kosong.


Aisha pun mencari informasi kepada teman sekelas Sally. Ternyata Sally sudah pulang lebih dulu, Aisha pun ingin menelpon Sally dan bertanya dimana posisinya. Saat Aisha mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba ada sebuah pesan singkat dari Sally.


'Aisha, apa kamu mencariku? Besok pagi, aku tunggu kamu di taman. Datanglah lebih awal ya, aku merindukanmu. Dan maaf, aku harus pulang lebih awal, karena ada masalah yang harus segera aku selesaikan. Aisha, aku sungguh merindukanmu, emoticon menangis'


Aisha yang membaca dalam hati itu hanya tersenyum geli, Sally tak pernah berubah. Satu kali saja jika Aisha tak dapat menemukannya di kampus, Sally dengan percaya dirinya itu akan mengirim sebuah pesan singkat persis seperti itu, Sally hanya memberi kabar agar Aisha tak begitu bersusah payah mencarinya maupun mencemaskan dirinya, lantaran jika Sally lebih dulu pulang atau harus pergi tanpa menemui Aisha terlebih dulu.


Tanpa berpikir panjang, Aisha langsung membalasnya, banun selang beberapa detik setelah Aisha membalas pesan singkat untuk Sally, Altezza menelfonnya. Dengan segera Aisha mengangkat panggilan telepon itu.


"Sayang, sudah pulang?" Ucap Altezza, begitu Aisha menerima telponnya.


"Baru saja" ucap Aisha.


"Sayang, Leon akan menjemputmu. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku tunggu di kantor" ucap Altezza dan menutup telponnya.


"Ha? Dasar Altezza" gumam Aisha.


Aisha pun meletakkan kembali ponselnya di dalam tas. Aisha pun berjalan keluar kampus untuk menunggu Leon. Tak lama kemudian Leon sudah datang menjemputnya, dengan segera Leon membawa Aisha ke kantor atas perintah Altezza.


Setibanya di sana, Leon mengarahkan Aisha untuk menuju ruangan Altezza, ruangan direktur.


Tok tok


Leon mengetuk pintu dan langsung membukanya, terlihat Altezza yang tengah terhenti dari pekerjaannya.


"Sayang, kemari" ucap Altezza, Aisha pun menuruti perintah Altezza. Begitu juga Leon langsung pergi dari tempat itu.


"Altezza, apa kamu sudah makan? Sepertinya kamu sedang ada banyak pekerjaan" ucap Aisha saat sudah di sisi Altezza dan melihat ada banyak berkas-berkas di atas meja kerjanya.


"Ini tak seberapa, sayang. Kemarilah" Altezza meraih tangan Aisha dan menarik tubuh Aisha agar duduk di pangkuannya.


"Altezza" rengek Aisha, ia merasa mengganggu Altezza jika duduk di pangkuannya.


"Menurutlah" ucap Altezza, ia pun mendekap kekasihnya itu.


"Altezza, mau ku buatkan kopi?" Tawar Aisha.


"Boleh. Tapi kopi cinta" ucap Altezza yang masih mendekap tubuh Aisha.


"Mana ada kopi cinta, dasar bodoh" celetuk Aisha.


"Ada"


"Mana ada"


"Tidak percaya?"


"Tidak. Eh... Tunggu..." Aisha menyadari sesuatu.


"Sudah terlambat" ucap Altezza dan langsung mencium bibir Aisha cukup lama.


"Altezza, lagi-lagi kamu berbuat licik" rengek Aisha.


"Hehe, liciknya cuma sama kamu" goda. Altezza, ia pun mencium kening Aisha


"Altezza, apa pekerjaanmu masih lama?"


"Hanya tinggal beberapa saja. Kenapa? Kangen?" Goda Altezza.


"Ya sudah, cepat selesaikan pekerjaanmu" ucap Aisha dan beranjak dari pangkuan Altezza.


"Mau kemana?"


"Buat kopi untukmu"


"Hemmm, istriku memang perhatian" puji Altezza.


"Jangan ngelantur, aku bukan istrimu" celetuk Aisha.


"Bagiku, kamu istriku. Sampai kapanpun kamu tetap istriku, apa kamu mau kita menikah sekarang? Biar kamu percaya kalau kamu itu beneran istriku?" Ucap Altezza.


"Bicara apa kamu, Altezza. Kamu membuat otakku berpikir dua puluh kali lipat" ucap Aisha, ia pun melangkah keluar, sedangkan Altezza hanya tertawa kecil saat mendengar ucapan Aisha.


Tak lama kemudian, Aisha masuk membawa secangkir kopi buatannya. Tercium begitu harum khas aroma kopi, saat Aisha baru meletakkannya di meja, Altezza langsung mengambilnya dan segera meminumnya.


"Altezza, itu masih panas" Aisha memperingati.


"Aku tahu"


Altezza meniup dan mencicipi buatan Aisha, begitu terasa berbeda dari biasanya yang ia minum, entah buatan sekertaris maupun OB. Seduhan Aisha benar-benar berbeda, ya mungkin karena rasa kecintaan Altezza terhadap Aisha.


Altezza pun enggan untuk berhenti menikmati kopi itu. Aisha yang melihat itu pun meraih tangan Altezza yang masih memegang secangkir kopi.


"Altezza, sudah. Jangan fokus sama kopinya, itu pekerjaan kamu masih banyak. Lihat, langit sudah sangat sore" ucap Aisha, dan merebut kopi itu dan menjauhkannya dari Altezza.


"Istriku memang bawel" ucap Altezza, ia pun menuruti apa kata Aisha.


"Biarin"


"Eh, jadi kamu sudah mengakui" goda Altezza.


"Me, mengakui apa?" Selidik Aisha.


"Istriku" ucap Altezza dan tertawa kecil.


"Altezza" Aisha menampakkan wajah garangnya, lantaran Altezza masih saja menggodanya.


"Iya iya, kembali bekerja Altezza. Demi popok dan susu anak-anakmu" ucap Altezza dan mengambil salah satu dokumen.


Aisha yang mendengar itu merasa sedikit tersipu malu, ucapannya bagaikan sihir yang dapat menaklukkan perasaan seorang wanita.


Aisha pergi duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Altezza bekerja. Aisha pun mengeluarkan laptopnya dan mengerjakan tugas kampus. Ya hari pertama masuk, sudah mulai ada tugas saja.


Tanpa Sadar Aisha menoleh dan memandang Altezza yang tengah berkerja itu. Terlihat wajah serius Altezza begitu tampan, bahkan mampu membuat jantung Aisha berdebar kencang.


Altezza yang menyadari itu pun menoleh ke arah Aisha, dengan sigap Aisha langsung menatap layar laptopnya dan berpura-pura sedang mengetik. Saat Aisha merasa, Altezza sudah tidak memandanginya lagi, Aisha melirik untuk melihat Altezza.


"Ha???" Aisha kaget bukan main, lantaran Altezza tiba-tiba sudah ada di depannya.


"Hehe. Kamu ketahuan menatapku, sayang. Apa aku begitu terlihat tampan? Sampai-sampai wajahmu terlihat memerah karena malu" goda Altezza.


"A,apa yang kamu katakan? Aku, aku tidak terus memandangmu" Aisha mengelak.


"Bohong" goda Altezza, ia pun duduk di samping Aisha.


"Altezza, kamu mau ngapain?" Aisha menggeser duduknya, lantaran Altezza terlalu menempel.


Altezza meraih tubuh Aisha dan langsung memeluknya. Terasa hangat dan menenangkan, rasa lelah yang bergelayut itu pun perlahan runtuh.


"Altezza. Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" Ucap Aisha yang masih di dalam pelukan Altezza.


"Belum"


"Lalu, kenapa kamu kemari?"


"Untuk menyelesaikan pekerjaan"


"Pekerjaan? Pekerjaan yang mana? Disini tidak ada berkas maupun dokumen"


"Ada"


"Mana?"


Altezza langsung mengecup bibir Aisha dan bermain di dalamnya. Cukup lama Altezza mencium Aisha, ia pun melepaskan ciumannya dan kemudian berdiri.


"Sayang, ayo pulang" ucap Altezza.


"Kamu..." Geram Aisha, lantaran Altezza bersikap seperti sedang menindasnya.


"Mau aku tinggal?" Altezza mulai melangkahkan kaki, Aisha pun buru-buru menutup laptopnya dan langsung menyusul Altezza sembari memasukkan laptopnya di dalam tas.


"Hehe, kenapa buru-buru sayang?" Ucap Altezza.


"Altezza..." Aisha geram, ia pun menginjak kuat-kuat kaki Altezza. Dengan sigap Aisha lari menjauhi Altezza.


Altezza hanya meringis kesakitan, injakan Aisha cukup kuat. Altezza hanya mampu menahannya dan membalasnya nanti, tentu saja saat sudah berada di rumah.