Just Married

Just Married
episode 65: Kemarahan



"Apa yang sedang kamu lakukan?" Ucap bibi Lin.


"Tidak, tidak ada" ucap Lulu terlihat gugup. Ia pun berlalu meninggalkan bibi Lin dan masuk ke dalam kamar.


Bibi Lin berjalan untuk mencari dari mana suara pecahan tadi, di sekitar dapur bibi Lin ia melihat paman Albert dari kejauhan yang tengah membersihkan sesuatu.


"Albert? Apa yang terjadi?" Tanya bibi Lin.


"Hanya anak-anak" ucap paman Albert.


Bibi Lin hanya mengangguk, seolah ia mengerti apa yang telah terjadi. Bibi Lin pun melangkah pergi kedapur untuk mengambil segelas air mineral. Bibi Lin pun kembali menyusuri lorong menuju kamar khusus pelayan.


Tok tok tok. Klekk...


Bibi Lin menerobos masuk di ruang kamar Lulu, ia menangkap wajah Lulu yang terlihat sembab itu. Bibi Lin sudah mengerti apa yang terjadi, bibi Lin hanya mampu untuk menenangkan dan menemani Lulu di sana.


Waktu yang sangat larut malam itu pun sudah berlalu, kesedihan itu sudah lenyap bersama kegelapan malam yang kini telah berganti pagi. Pagi itu, bibi Lin mengambil alih tugas memasak dengan di bantu Lulu meskipun ia sudah terlambat bangun lebih pagi.


Aisha yang masih terlelap dengan memeluk Lala di kamar tamu itu pun terbangun dari mimpi, lantaran ia mencium bau masakan yang tak asing bagi dirinya. Aisha bangun dengan pelan, namun ternyata Lala ikut terbangun.


"Lala? Jika masih mengantuk, tidurlah" ucap Aisha dengan lembut.


"Tidak nona..."


"Kakak"


"Baik, kakak" Lala tersenyum sumringah dan memeluk Aisha.


Mereka pun bergegas keluar menuju dapur, yang di rasa entah pagi itu terasa spesial. Lala memghampiri Lulu dengan cerianya, seolah-olah mereka telah lupa akan kesedihan. Aisha yang melihat itu pun ikut senang dan bahagia.


"Ternyata mereka lebih kuat dari yang ku duga" gumam Aisha dalam hati, ia pun tersenyum lega dan menghampiri bibi Lin yang tengah memasak itu.


"Rendang? Bagaimana bisa memasak masakan ini?" Ucap Aisha.


"Saya hanya mencoba memasak untuk nona, kebetulan kemarin saya menemukan berbagai macam bumbu di supermarket" ucap bibi Lin.


"Wah, kalau tahu begitu biar aku saja yang memasak. Kalau pun bibi belum tahu caranya" seru Aisha.


"Terima kasih nona. Sebelumnya bibi sudah mencobanya kemarin dari YouTube, saat nona masih di kampus. Itu pelakunya yang sudah menghambiskannya sampai tak tersisa" ucap bibi Lin, dan menujuk kearah Lala dan Lulu yang tengah membuat minuman hangat.


"Hehe, habisnya enak" ucap Lala terkekeh.


"Iya, ternyata daging di masak seperti itu lebih nikmat" timpal Lulu.


"Bagus, kalau kalian suka. Ya sudah, aku mau mandi dulu" ucap Aisha, ia pun melangkah pergi menuju kamar utama.


Beberapa puluh menit kemudian, Aisha kembali turun dengan pakaian yang sudah rapi bahkan menenteng tas dan beberapa buku. Aisha berjalan menuju ruang makan, meja itu sudah tersaji beberapa hidangan untuk sarapan pagi. Lala dan Lulu dan juga bibi Lin sudah menunggu di sana, Aisha langsung duduk dan menaruh tas di atas kursi di sampingnya itu, ia pun langsung membuka piring dan mengambil nasi. Begitu juga di susul oleh Lala dan Lulu, begitu juga bibi Lin.


Acara sarapan pagi itu nampak terkesan, seperti saling menguatkan. Setelah di tempa akan memori masa lalu, mereka sejenak melupakan dan mempercayai hidup, jika waktu teruslah berjalan kedepan. Setelah selesai makan, Aisha berpamitan dan memeluk Lala dan Lulu layaknya seorang kakak dan adik. Aisha pun bergegas pergi ke kampus dengan di antar oleh paman Edo, yang sudah bertugas sebagai sopir pribadi Aisha.


Pergulatan dunia kampus, memanglah melelahkan. Apalagi dengan tugas-tugas kampus yang benar-benar memeras otak dan waktu maupun tenaga. Sampai hari sudah sore pun, Aisha masih saja terdiam di ruang perpustakaan. Lantaran tugas yang harus ia selesaikan, karena sudah sewajarnya menjadi seorang mahasiswa apalagi di luar negeri, benat-benar harus memperhatikan keseluruhannya.


"Sudah jam berapa ini?" Gumam Aisha, ia pun menengok jam yang ada di ponselnya.


Di layar ponsel itu tertera angka yang cukup gamblang, yakni enam belas lebih tiga puluh delapan menit. Tanpa terasa hari mulai gelap, Aisha merasa tubuhnya semakin berat. Lantaran kejadian semalam, waktu untuk istirahat Aisha menjadi berkurang. Badannya pun merasa lelah, ia pun membereskan buku-buku dan laptopnya. Setelah selesai, Aisha berjalan lesu untuk keluar dari gedung itu. Terlihat sebuah mobil yang sudah terparkir menunggu dirinya. Aisha langsung menghampiri mobil itu dan kemudian masuk kedalam sana.


"Paman. Bisakah sebelum pulang, kita pergi ke apotik dulu?" Ucap Aisha dengan wajah letihnya.


"Baik, nona" ucap paman Edo.


Mobil itu pun melaju meninggalkan gedung kampus, tubuh Aisha yang sudah lemah di tambah rasa kantuk. Aisha tetap mencoba untuk menahannya. Hingga mobil itu berhenti tepat di depan apotik, Aisha hendak turun. Namun paman Edo melarangnya.


"Kalau begitu, belikan vitamin saja paman. Aku rasa tubuhku mulai lelah" ucap Aisha kemudian.


"Baik, nona" paman Edo bergegas turun dari mobil, dan segera masuk kedalam apotik untuk membeli vitamin.


Tak lama kemudian paman Edo kembali dengan membawa kantong plastik yang berisi beberapa vitamin untuk Aisha.


Aisha merasa mengantuk lantaran badannya sudah terasa sangat letih, dalam perjalanan yang memakan waktu hampir lima belas menit itu pun membuat Aisha tertidur di dalam mobil dengan posisi duduk dan bersandar pintu kaca mobil.


Tak lama kemudian, mobil itu pun sudah sampai di halaman villa. Namun Aisha masih terlihat pulas di sana, hingga membuat paman Edo merasa sungkan untuk membangunkannya. Ketika paman Edo hendak membangunkan Aisha, tiba-tiba ada yang membuka pintu dari sisi lain di tempat Aisha berada.


"Tuan?" Paman Edo merasa kaget, ketika melihat tuannya mempergoki dirinya yang hendak membangunkan Aisha.


"Jika aku tidak ada di sini, kamu hanya boleh membangunkannya saja. Tidak ada yang boleh menggendongnya selain diriku, kamu mengerti?" ucap Altezza.


Altezza perlahan meraih tubuh Aisha dan membopongnya masuk kedalam rumah, dan segera membawa Aisha ke kamar utama. Sedangkan paman Edo bertugas mengambil tas Aisha yang tertinggal di dalam mobil, dan menaruhnya ke dalam ruang perpuastakaan.


Belum sampai di ruang kamar utama, Aisha merasa dirinya tengah di gendong seseorang. Bahkan bau wanginya kali ini berbeda, ia tak dapat mencium bau khas seseorang. Dengan sigap Aisha membuka mata dengan mata yang tajam dan langsung menoleh ke arah wajah siapa yang tengah menggendongnya, lantaran ia takut, jika paman Edo tengah membopongnya.


"Tuan putri sudah bangun?" Ucap Altezza, saat menyadari Aisha telah bangun.


"Kamu? Turunkan aku" ucap Aisha, entah kenapa Aisha merasa kesal dan ingin marah.


"Iya. Nanti aku turunkan di atas ranjang kita" goda Altezza.


"Turunkan, aku. Aku tidak mau tidur denganmu lagi" ucap Aisha yang sudah tersulut amarah.


Altezza hanya menghiraukannya, ia tetap menggendong Aisha kuat-kuat lantaran Aisha mencoba untuk melepaskan diri. Hingga sampai di ranjang, barulah Altezza menurunkan Aisha disana. Namun, Aisha kembali turun dan berusaha menjauh dari Altezza. Dengan segera Altezza menangkap tangan Aisha dan menahannya untuk pergi.


"Aisha. Kenapa kamu marah padaku?" Suara tegas Altezza, begitu menggelegar dalam ruangan itu.


"Ka, kamu?" Aisha tersentak, lantaran baru kali itu Altezza berucap dengan tegas kepada dirinya.


"Aku bilang, kenapa kamu marah padaku? Bahkan kamu berusaha menghindariku? Apa kamu tidak tahu, bagaimana aku berusaha datang kembali untukmu disini? Apa seperti ini tanggapan kamu?" Altezza pun mulai tersulut emosi.


"Ya sudah, kalau kamu menyesal. Kamu tak perlu datang kembali untukku" ucap Aisha dengan rasa amarah, bahkan entah kenapa hatinya merasa teriris begitu pilu.


"Aisha!!" Altezza marah.


Aisha hanya diam dan mulai melangkahkan kaki untuk pergi, namun dengan sigap Altezza meraih tangan Aisha dan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Altezza langsung menidurkan tubuh Aisha di atas ranjang dan langsung menindih tubuh Aisha di sana.


"Altezza. Apa yang kamu inginkan?" Aisha memberontak.


"Aisha, tatap mataku. Apa kamu tak melihat ada rasa kerinduan untukmu?" Ucap Altezza begitu tegas dan gentle, yang tidak seperti sebelumnya yang di sertai percikan api kemarahan.


Aisha hanya menatap mata Altezza sekilas, ia pun langsung menoleh ke arah lain untuk menghindar dari tatapan Altezza. Namun Altezza pun berusaha menolehkan wajah Aisha agar menghadap tepat di wajahnya. Namun, lagi-lagi Aisha menghindari tatapan itu dengan wajah sinisnya.


"Kenapa, aku merasakan sakit seperti ini? Bukankah harusnya aku bahagia, dia telah kembali. Tapi...." Gumam Aisha dalam hati.


"Bicaralah Aisha, atau aku akan melahapmu sekarang" ucap Altezza, namun Aisha masih tetap teguh dengan pendiriannya. Ia tetap diam tanpa berbicara sepatah kata pun, bahkan sekedar memandang wajah Altezza pun tidak.


"Baiklah. Ini maumu, jangan salahkan aku" Ucap Altezza, ia pun mencium leher Aisha dengan sensual.


Sontak membuat Aisha bergeliat geli dan langaung menoleh menghadap Altezza dengan tatapan amarahnya.


"Apa yang kamu laku...emm..." Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan mulutnya, Aisha yang memberontak itu pun ditahan dengan oleh Altezza dengan mencekram kedua tangan Aisa dengan satu tangan Altezza. Aisha tak kan mungkin bisa lolos karena Altezza terlalu kuat untuk di lawan.


Hingga ciuman itu sudah cukup lama, tanpa terasa air mata Aisha menetes bahkan dirinya sudah pasrah tanpa melawan, ia hanya merasakan hatinya yang tercambuk dan entah perasaan apa yang tengah menyelimuti dirinya. Altezza yang menyadari itu pun langsung melepaskan ciumannya dan cengkramannya, Altezza menyadari kesalahannya.


"Aisha?" Lirih Altezza tanda menyesal.


Altezza langsung beranjak bangun, namun Aisha hanya terdiam dan membuang wajahnya dari pandangan Altezza, ia pun terbangun dengan lemah dan masih meneteskan air matanya. Aisha menunduk dan bangun dan bermaksud untuk pergi, namun Altezza langsung memeluknya dari belakang dan menahan Aisha disana.


"Maafkan aku, maafkan atas tindakanku. Seharusnya aku tak bersikap begini" ucap Altezza menyesali.


"Kenapa?" Lirih Aisha.


"Sa.."


"Kenapa... Kenapa, hatiku begitu terasa sakit Altezza? Kenapa?" Potong Aisha dengan linangan air mata.


"Maafkan aku, sayang" Altezza memeluk Aisha semakin erat.


"Apa kamu tak pernah memikirkanku sedikitpun, bagaimana aku disini? Bahkan kamu tak pernah membalas pesanku, tak satu pun, Altezza. Kenapa? Bahkan di saat aku mulai membencimu, kamu pun tak pernah untuk berusaha memperbaikinya. Kenapa?" Ucap Aisha dengan kesal dan marah.


"Apa? Maafkan aku sayang" Altezza kaget akan ucapan Aisha barusan.


"Altezza. Lepaskan aku, aku mohon lepaskan" ucap Aisha dengan lirih.


Altezza enggan melepaskan pelukannya itu, tetapi dengan berat hati Altezza mulai melepaskan pelukannya dengan perlahan.


"Bodoh. Kenapa kamu begitu bodoh sekali Altezza" ucap Aisha, ketika Altezza sudah melepaskan Aisha.


Altezza hanya terdiam dan mencerna akan perkataan Aisha, saat itu pula Aisha berlari menghampiri pintu untuk segera keluar dari sana. Aisha hanya merasakan sakit hati semakin kuat, ia sudah tak mampu untuk menghentikan tangisannya.


"Kamu bodoh sekali Altezza, aku sangat membencimu" ucap Aisha dalam hati, ia pun mulai membuka pintu.