Just Married

Just Married
episode 71: Wanita Agresif



Enam bulan kemudian, di kota London. Dimana Altezza berada, yang sudah cukup lama ia meninggalakan Aisha seorang diri di Manhattan. Dengan waktu yang menyibukkannya hingga jarang sekali Altezza memberi kabar kepada Aisha, Altezza hanya berharap. Semoga Aisha tak marah seperti sebelumnya, namun kali ini Altezza harus menghadapi sesuatu yang tidak di ketahui oleh Aisha.


"Kak Altezza. Apakah kakak begitu sibuk, hingga melupakan aku?" Ucap seorang wanita muda, bergelayut manja di depan Altezza.


"Liana, jaga sikapmu. Ini kantor" tegas Altezza.


"Kenapa kalau kantor? Semua orang tahu siapa aku, apa yang harus aku takutkan?" Ucap perempuan itu bernama Liana.


Liana merupakan perempuan yang pernah di tolong oleh kedua orang tuanya Altezza, di saat ia berumur sembilan tahun. Waktu itu Liana di temukan dalam siksaan oleh seseorang, lantaran ia telah ketahuan mencuri beberapa roti di toko kue roti yang cukup terkenal di kota jakarta. Kebetulan waktu itu, kedua orang tua Altezza tengah membeli kue tart untuk merayakan ulang tahun Altezza, yang waktu itu pula Altezza sudah menginjak umur tujuh belas tahun.


Kedua orang tua Altezza begitu iba melihat akan keadaan Liana yang begitu lusuh dan nampak kelaparan, kedua orang tua Altezza pun mengambil alih Liana dari siksaan dan mengganti rugi kepada pemilik toko roti. Liana pun bercerita tentang kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia, ia tinggal hanya sebatang kara di kota jakarta. Bahkan ia sudah tak mampu lagi untuk meneruskan sekolah, padahal Liana merupakan gadis yang cerdas.


Kedua orang tua Altezza pun sepakat untuk memabawa Liana dalam keluarga mereka, kehidupan Liana pun berubah drastis dan terjamin. Bahkan ia dapat kembali mengenyam pindidikannya di kota London, bersama Altezza yang menempuh pendidikan di salah satu universitas kota London. Mereka sudah terbiasa dalam satu rumah, bahkan Altezza menyayangi Liana seperti seorang adik. Namun, waktu telah berkata lain. Hidup dalam satu rumah seiringnya waktu, bertemu yang hampir setiap hari itu membuat Liana memiliki perasaan kepada Altezza yang semakin menjadi sosok seorang pria dewasa.


Namun beruntung, Altezza saat itu sudah berumur dua puluh satu tahun dan sudah lulus dari universitas. Ia pun langsung terjun kedalam dunia bisnis, papanya Altezza telah mengajari Altezza akan dunia bisnis sejak kecil, tak heran jika perkembangan Altezza begitu cepat. Bahkan Altezza sudah di sebut sebagai pengusaha termuda, lantaran hanya dalam dua tahun Altezza sudah mampu mengembangkan perusahaan ayahnya di kota London dengan pesat.


"Liana, sekarang kamu sudah dewasa. Hargai aku sebagai kakakmu, tidak sopan kamu bersikap seperti itu di depan kakakmu" ucap Altezza, lantaran Liana begitu agresif dan manja.


"Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai kakakku. Altezza, umurku sudah delapan belas tahun. Menurutku sudah sepantasnya aku untuk menyukaimu, bagaimana?" Rayu Liana.


"Cukup Liana. Aku tegaskan sekali lagi, aku tak akan pernah jatuh cinta ataupun menyukaimu sedikitpun kepadamu. Sampai kapan pun!!" tegas Altezza.


"Kenapa? Apa karena si Aisha? Perempuan yang tidak jelas itu"


"Tutup mulutmu, Liana. Keluar sekarang" bentak Altezza.


"Altezza! Kamu berani membentakku? Akan ku adukan kepada mamamu" ancam Liana.


"Jika kamu berani, silahkan" tegas Altezza.


"Kamu... Lihat saja Altezza, siapa yang akan pantas untuk mendapatkan cintamu. Aku atau Aisha" ucap Liana penuh akan sumpah serapahnya.


Liana pergi keluar dengan raut wajah yang sangat kesal, sedangkan Altezza begitu muak akan tingkah Liana akhir-akhir ini yang begitu agresif. Di tambah akan pekerjaannya, mengendalikan beberapa perushaan. Waktu Altezza benar-benar terkuras dengan pekerjaan itu. Namun demi masa depan, Altezza tetap berusaha keras. Apalagi, sebentar lagi Aisha akan lulus dari kuliahnya. Tentu Altezza harus segera menyelesaikan suatu masalah yang harus ia tuntaskan, lantaran Altezza sudah berencana akan mempersunting Aisha secepatnya.


Tok tok... Klek, Leon membuka pintu dan langsung menghampiri bosnya itu.


"Leon, atur kuliah untuk Liana. Kalau bisa, carikan jadwal kuliah yang paling sibuk untuknya" perintah Altezza.


"Apa bos yakin? Bagaimana dengan nyonya besar?" Ucap Leon.


"Kamu sedang membantahku?" Ucap Altezza dengan tatapan tajam.


Altezza menghela nafas panjang, ia duduk bersandar kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kursi kerja dan memejamkan matanya. Bayangannya pun tertuju akan sosok Aisha, ia merasa akan kerinduan kepada Aisha. Namun pikirannya saat ini telah terganggu akan Liana, yang begitu menghawatirkan jika suatu saat Aisha akan salah paham jika Aisha melihatnya.


"Apa sebaiknya, aku ceritakan kepada Aisha" gumam Altezza.


"Sudahlah. Yang terpenting sekarang adalah aku harus fokus dulu dengan masalah ini, dia sudah masuk dalam jebakan. Tinggal langkah selanjutnya saja, setelah itu selesai. Dan kemudian aku dapat menjemputmu sayang, tunggulah sebentar lagi" gumam Altezza.


Altezza kembali bersemangat untuk kembali mengerjakan dokumen-dokumen yang terlihat cukup banyak di atas mejanya, apalagi ayahnya sudah memasrahkan perusahaannya itu kepada Altezza. Mau tak mau, Altezza harus mengendalikan perusahaan itu agar tetap stabil. Karena, perusahaan itu sudah lebih maju setelah ditangani Altezza.


Hingga tanpa di sadari, waktu begitu berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah dua minggu berlalu, Altezza merasakan kerinduan yang sangat menggebu dalam dirinya. Ia pun berencana untuk kembali ke Manhattan untuk menemui kekasihnya itu, Aisha Olinda.


"Leon, segera siapkan pesawat. Kita akan kembali ke Manhattan segera mungkin" perintah Altezza.


Leon langsung bergegas melaksanakan perintah bosnya itu, sedangkan Altezza tengah bersiap-siap. Sebelum Leon kembali, Altezza berfikir untuk mencari suatu hadiah untuk Aisha. Altezza berfikir untuk membeli sebuah kalung khas kerajaan kota London, yang di desain limited edition.


Begitu Leon kembali, Altezza langsung bergegas tanpa pulang lebih dulu. Lantaran ia tahu, jika Liana sudah pasti sedang ada di rumah jika Altezza pulang sudah pasti akan menimbulkan suatu masalah. Altezza pun meminta untuk mampir di sebuah toko aksesoris terkenal dan terbesar di kita London. Setelah Altezza sudah mendapatkan yang ia mau, dengan segera Altezza bergegas pergi ke bandara.


Disisi lain, perusahaan G.A di kota London, Liana tengah datang membawakan sebuah bekal makanan untuk Altezza. Namun sialnya, Liana tak mendapati Altezza di sana. Liana pun bertanya kepada salah satu asisten Altezza.


"Kemana Altezza?" Ucap Liana dengan wajah terlihat angkuh.


"Maaf nona, bos sudah pergi satu jam yang lalu" ucap salah satu asisten Altezza.


"Kemana?"


"Maaf, saya tidak tahu nona"


"Kamu bisa kerja gak sih? Masa bosnya pergi gak tahu kemana. Kamu ini asistennya Altezza. Bodoh sekali kamu jadi orang" ucap Liana begitu kasar.


"Maafkan aku, nona" ucap asisten itu dengan rendah hati.


Liana geram dan marah, ia pun berjalan menuju lift untuk kembali keluar. Liana pun mencoba untuk menelpon Altezza, namun nomor Altezza tak dapat di hubungi.


"Sial. Apa dia pergi ke Manhattan tanpa sepengetahuanku?" Geram Liana.


"Altezza, kamu sudah menyakitiku sejauh ini. Tak kan ku biarkan hubungan kalian, kamu harus menjadi milikku" umpat Liana.


Ia pun membuang bekal makanan itu ke dalam tong sampah. Liana berjalan cepat dan masuk kedalam mobil, Liana pun pergi jauh dari perusahaan Altezza.


Di sisi lain, di dalam perusahaan. Asisten Altezza tengah menggosip Liana yang berusaha mencoba untuk mendekati bosnya itu, padahal mereka tahu jika Liana diambil oleh kedua orang tua Altezza. Namun setelah dewasa, Liana berubah menjadi wanita yang angkuh. Mereka berharap, agar bosnya tak berjodoh dengan Liana.