
Jam delapan malam lebih sepuluh menit, di rumah Aisha telah selesai mengadakan acara syukuran hanya bersama tetangga terdekat, sebagai wujud rasa bahagia atas anugerah keselamatan Aisha kembali berkumpul bersama di dalam satu keluarga.
Drrrttt...
Ponsel Aisha yang ia sengaja tinggalkan di kamar bergetar. Tanda ada panggilan masuk, yang tak lain ialah panggilan dari Altezza.
Malam itu, Deva dan juga Danial datang sebagai tanda menyambut kedatangan Aisha di kampung halaman. Mereka tampak asik berbicara bahkan bercanda bersama di ruang tamu.
"Aisha, bagaimana hubunganmu dengan si cowok tampan itu?" Goda Deva.
"Kamu ini, gak takut tuh Danial marah" sindir Aisha.
"Sudah biasa" timpal Danial tak mau kalah.
"Ya ampun, Deva. Danial setampan gini lho, kamu masih saja suka memuji pria lain?" Ucap Aisha, yang juga tak mau kalah.
"Sembarangan kamu, Sha" sahut Deva.
"Salah dia, jadi cowok gak peka" imbuh Deva.
"Dev, gak baik lho kalau kamu kebanyakan kode. Langsung to the point aja, soalnya laki-laki juga kadang gak ngerti maksud kita" ucap Aisha yang tiba-tiba menjadi bijaksana akan masalah hubungan.
"Betul tuh" timpal Danial, yang merasa ada yang membelanya.
"Kamu diem deh" ucap Deva sembari mencubit lengan Danial, Danial hanya meringis kesakitan dan tertawa kecil di sana.
"Kalian sudah baikan, bukan?" Ucap Deva kemudian.
"Banyak yang ingin aku ceritakan padamu, Dev. Tapi... Ya ampun, aku lupa sesuatu. Sebentar ya" Aisha menyadari sesuatu yang ia lupakan.
Aisha berlari kecil menuju kamarnya, bermaksud untuk mengambil ponselnya. Saat ponsel sudah ada di genggamannya, benar saja, disana tertera delapan puluh tujuh panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat masuk.
"Buset. Banyak amat" Aisha terperangah.
Aisha membuka pesan singkat itu, ada dari Sally, Altezza dan beberapa teman kampusnya. Aisha hanya mampu membalasnya sesingkat mungkin, lantaran tak mungkin meninggalkan sahabatnya begitu lama.
Baru saja Aisha meletakkan ponselnya, ponsel Aisha bergetar. Aisha pun melihat siapa yang menelfonnya.
"Altezza?" Gumam Aisha, ia pun mengangkat telepon itu.
"Sayang, kenapa lama sekali mengangkat telfon? Apa kamu sengaja membuatku gelisah? Bahkan tidur pun tak tenang. Kamu dimana?" Sejurus celoteh Altezza menusuk telinga Aisha.
"Altezza... Maaf, aku lupa dan ini di rumah baru saja selesai ada acara. Jadi aku lupa memberi kabar kepadamu" ucap Aisha.
Tok tok tok
"Aisha... " Panggil Deva di balik pintu kamar Aisha. Deva pun langsung membuka pintu dan menerobos masuk.
"Hehe, bentar Deva" Aisha tersenyum menyeringai.
"Oh, pantesan. Ya sudah, aku tunggu di luar ya. Sekalian ganti baju gih, Danial mengajak kita ke mall sebentar" seru Deva yang mengerti.
"Oke" ucap Aisha.
"Hallo, Altezza. Aku tutup telfonnya ya. Nanti aku kabarin lagi" ucap Aisha kemudian.
"Sebentar, di rumah ada acara apa?" Suara Altezza dari ponsel.
"Nanti aku cerita, tapi ini aku harus tutup telfonnya" ucap Aisha.
"Tidak. Gunakan earphone, jangan tutup telfonnya"
"Altezza, jangan bodoh. Kamu mau bikin telinga aku budek ya?"
"Cepat pakai"
"Tidak"
"Jika tidak, kamu akan menerima konsekuensinya"
"Altezza..." Aisha mulai geram, ia pun mulai mengalah.
"Baiklah. Tapi kamu harus ingat, jangan dandan, gak boleh pakai baju yang bikin pria tertarik. Dan lagi, setelah ganti baju kamu harus foto, biar aku lihat kamu disana seperti apa jika tanpa aku" perintah Altezza kepada Aisha.
"Dan satu lagi, harus kasih kabar sesering mungkin" tandas Altezza, yang entah kenapa begitu posesif kepada Aisha.
"Haihh... Iyaaaa" ucap Aisha merasa tekanan batin, namun di sisi lain ia juga merasa jika Altezza benar-benar peduli dengannya.
"Ingat. Kamu calon istriku, jadi jangan macam-macam disana"
"Iya, iyaaa. Eh, siapa yang kamu maksud calon istrimu. Dasar, Altezza bodoh" Aisha kesal, ia pun langsung menutup teleponnya.
"Huft... Dasar Altezza, tiba-tiba saja berubah jadi posesif. Menyebalkan" kesal Aisha.
Aisha membuka lemari bermaksud untuk ganti pakaian, ia masih mengomel ke posesifan Altezza.
"Siapa juga yang mau dandan, di kamar saja bedak sudah tiga tahun yang lalu. Ada-ada saja" gumam Aisha saat sedang mengganti pakaiannya.
"Hehe, dasar Aisha bodoh. Altezza mana tahu sih akan hal ini, bodoh banget. Aisha Aisha" Aisha cekikikan sendiri, saat menyadari tentang make-up yang ada di kamarnya, mana mungkin Altezza mengetahui umur make-up Aisha, saking lamanya terabaikan.
Selesai ganti pakaian, Aisha memfoto diri dari pantulan cermin panjang, kemudian mengirim fotonya ke Altezza. Setelah itu, Aisha keluar menghampiri Deva dan juga Danial yang masih menunggu di ruang tamu.
"Eh? Mama dan Alex juga?" Ucap Aisha, ketika sudah tiba di ruang tamu.
"Iya, kita sudah merencanakannya. Kita sekedar jalan-jalan saja kok, soalnya Danial besok sudah harus ke luar kota" ucap Deva.
"Baiklah, aku malah semangat jika mama ikut, tapi entah dengan satu anak ini" sindir Aisha, saat melihat Alex sedang merapikan baju yang ia kenakan.
"Aku mendengarnya" ucap Alex yang masih dengan gaya angkuhnya.
"Biarin" timpal Aisha.
"Kakak, lihatlah dirimu. Bahkan aku terlihat lebih keren daripada kakak" jleb, ucapan Alex begitu menembus ke rongga hingga kedalam hati Aisha, Alex pun langsung saja keluar lebih dulu dengan santainya tanpa mempedulikan perasaan kakaknya.
"Sabar ya" imbuh Deva, menahan tawa.
"Huft... Aku sudah sabar, sejak Alex di lahirkan Dev" ucap Aisha.
"Hihi, maafkan mama sayang" ucap mama Hani dengan tawa kecilnya.
"Ah, tidak ma. Justru adik seperti Alex terkadang lucu juga kok" ucap Aisha.
Mereka pun bergegas keluar, namun yang bikin Aisha kaget ialah. Elan, yang selalu saja seperti siap dua puluh empat jam untuk melayani keluarga Aisha.
"Altezza memang selalu berlebihan" batin Aisha.
Saat Alex menceritakan Elan dan juga Boni merupakan utusan untuk melindungi keluarganya, Alex hanya menyampaikan bahwa itu calon suami Aisha, yang disebut-sebut ciri-cirinya seperti mengarah kepada Altezza. Bahkan Alex mengaku jika utusannya bukan hanya Elan dan Boni, tapi masih ada puluhan yang kini entah bersembunyi dimana.
Aisha pun masuk dan duduk dijok belakang bersama mama Hani, sedangkan Alex duduk di samping Elan yang mengemudi. Mobil mereka pun melaju dengan tenang, menuju ke tempat tujuan yaitu mall yang ada di ousat kota.
New York, Amerika.
Altezza tersenyum menyeringai saat melihat foto Aisha yang hanya berbalut baju begitu sederhana, persis saat ia bertemu di pusat peebelanjaan waktu malam itu, tanpa make-up, hanya kemeja dan celana jeans panjang, dan rambut yang di ikat cepol, namun tetap terlihat elegan dan cantik, karena Aisha tanpa polesan sudah terlihat cantik.
"Maaf, tuan. Apa tuan mendengarnya?" Ucap salah satu seorang pria, saat mengamati Altezza terlihat tidak begitu konsentrasi.
"Lanjutkan" perintah Altezza, wajahnya pun seketika berubah menjadi datar.
"Baiklah. Bla bla bla..." Pria itu langsung meneruskan penjelasan dari rapat itu, lantaran ia takut jika menyinggung seorang CEO.
"Baru kali ini, bos seperti itu. Biasanya wajahnya serius nampak menakutkan, hari ini entah sihir apa yang telah mampu membuat bos begitu cerah. Dasar bodoh kamu Leon, sudah pasti nona Aisha yang melakukannya" ucap Leon dalam hati.
"Baikalah, aku harus fokus" batin Altezza, wajahnya kembali serius dan menyeramkan. Leon yang melihat itu pun merasa suasana telah kembali mencekam.
"Baru saja aku memuji, bos sudah terlihat menyeramkan ini" ucap Leon dalam hati.
Namun Leon terhentak saat menyadari, Altezza melirik Leon begitu tajam. Sontak membuat Leon kaget dan lemas seolah-olah Altezza dapat membaca pikirannya itu.
"Eh, hehehe. Bos, maafkan Leon" tangisan Leon dalam hati.