
"Aisha. Sebelum papa melanjutkan cerita, papa ingin mengingatkan mu lebih dulu, jika di bagian ini akan menyangkut insiden kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Jika Aisha belum sanggup untuk mendengar, kapanpun jika Aisha mau atau sudah siap, kami akan selalu siap untuk bercerita dengan yang sebenarnya" ucap papa Abraham.
"Tidak, pa. Aisha siap untuk mendengarkannya sekarang" ucap Aisha dengan mantap, karena ia tahu maksud insiden kecelakaan itu sudah pasti menyangkut kematian papa dan kakaknya, bagi dirinya sudah saatnya untuk mengetahui semuanya.
"Apa kamu yakin, nak?" Imbuh mama Via yang mulai merasa cemas.
"Aisha yakin, ma. Aisha harus tahu jelasnya, karena Aisha sudah tahu siapa dalangnya. Tentu, Aisha memohon kepada papa dan mama untuk bersedia menceritakan semuanya" ucap Aisha dengan penuh keyakinan.
"Baiklah. Tapi ingat, kamu harus kuat dan tetap tegar" ucap papa Abraham kembali menegaskan.
"Baik, pa" ucap Aisha dengan mantap.
"Baik. Jika kamu sudah siap, papa akan melanjutkan" ucap papa Abraham, dan membuka halaman berikutnya.
Di halaman itu, terlihat jelas potret Aisha kecil yang tumbuh menjadi gadis remaja. Di saat Aisha melihat itu pun, merasa malu sendiri. Karena Aisha merasa jika dirinya dulu tak begitu secantik sekarang, tentu ia terlihat sedikit aneh dalam foto itu, namun jika di perhatikan secara seksama ia masih memiliki standar kecantikan wanita asia. Namun jika di banding yang sekarang, tentu Aisha jauh lebih cantik dan memesona.
Rupanya, diam-diam Altezza mengawasi Aisha saat itu. Bahkan sebenarnya Altezza tahu jika Aisha juga pernah memiliki seorang pacar. Aisha yang mendengar cerita singkat itu pun terbelalak menatap Altezza, yang ia pikirkan saat itu hanyalah, bagaimana bisa Altezza setegar itu? Melihat gadis yang ia cintai bersama pria lain? Bahkan dari cerita orang tua Altezza, Altezza sama sekali tak pernah tertarik untuk mencari wanita lain. Karena Altezza yakin, jika Aisha adalah jodohnya, sekalipun Altezza harus siap menerima perasaan yang cukup menyakitkan itu.
Dan kini, tibalah di sebuah album memori yang amat sangat mengerikan dan sangat menyakitkan. Dimana Ares yang tengah menjemput adiknya yang sudah menjadi gadis SMA. Foto itu terlihat jelas foto Aisha yang tengah tersenyum dengan kakaknya yang tengah mengemudi, Aisha belum mampu untuk mengingat momen saat itu.
Hari itu merupakan, hari sabtu siang. Ares menjemput Aisha untuk segera menyusul papa Amon yang sudah dalam perjalanan menuju puncak. Karena, di sana akan di adakan drama pertemuan antara Altezza dengan Aisha yang sudah di rencanakan oleh papa Amon juga Ares. Dan pertemuan itu merupakan permintaan dari Altezza, yang tentu saja karena cemburu melihat Aisha dengan pria lain. Siapa tahu dengan pertemuan itu, Aisha bisa meninggalkan pacarnya dan jatuh cinta kepada Altezza.
Dalam perjalanan itu, awalnya terasa seperti biasa, satu jam perjalanan kemudian, hal aneh pun terjadi. Beberapa mobil hitam yang terpacu dengan kecepatan tinggi menyalip Ares dengan ganasnya.
"Gila!!! Mereka kira, jalan milik nenek moyangnya apa?" Umpat Ares, ia merasa kesal karena hal itu dapat membahayakan orang lain.
"Haduh, kak. Hampir jantungku mau copot" ucap Aisha dengan refleks.
Kring... Kringgg.... Ponsel Ares berdering, panggilan itu merupakan dari Gavin. Ares mengangkat dengan earpon yang sedari tadi masih terpasang di telinga kirinya.
"Ya, Vin?" Ucap Ares.
"Apa?!?"
"Sial!!!"
"Oke. Bagian belakang biar aku yang tangani" ucap Ares yang sudah meledak-ledak itu.
"Ada apa kak?" Ucap Aisha yang penasaran dan ingin tahu.
"Dek, pastikan sabuk pengamanmu bekerja dengan baik. Siap-siap kita akan bertarung" ucap Ares, yang sorot matanya tiba-tiba menajam, bahkan aura dingin yang sangat mengerikan itu pun tercipta, itulah pertama kalinya Aisha melihat kakaknya semenakutkan itu.
Aisha langsung mengecek kondisi badannya, dan tingkat keamanan untuk dirinya. Aisha tahu akan ucapan kakaknya, tentu akan terjadi permainan dalam perjalanan, layaknya dalam sebuah film laga.
Setelah di rasa sudah siap, Aisha berpegangan dengan kuat. Ares pun mulai melancarkan aksinya. Sebenarnya, Aisha sudah tahu, jika Ares sudah begitu mahir dalam mengendalikan mobil, apalagi dalam aksi kejar mengejar.
Mobil Ares pun terpacu dengan cepatnya, untuk mengejar apa yang seharusnya ia jejar. Di saat itu pula, Aisha mulai was-was, jantungnya pun berdetak lebih cepat, lantaran aksi laga permainan mobil itu cukup menegangkan.
"Untung, jalanan cukup lengang" pikir Aisha dalam hati.
Beberapa saat kemudian, terlihat jelas beberapa mobil yang sebelumnya menyalipnya tadi sudah Ares temukan, mereka ada tepat di depan mobil Ares. Ares pun langsung menyalakan klakson tanpa henti. Namun apa yang terjadi? Aksi kejar-kejaran malah terjadi, dengan amarah Ares mencoba untuk tetap mengejar. Dan inilah yang paling menggetarkan jantung Aisha yang harus bekerja lebih cepat dan lebih cepat lagi. Ares pun membuka dasboard mobil dan terpampang jelas di sana disana ada sebuah pistol. Ares langsung mengenakan sarung tangan khusus yang entah dari mana itu berasal, tiba-tiba saja sudah ada di tangan Ares.
Rupanya, sarung tangan yang Ares gunakan itu untuk menangkal bau mesiu jika ia pelatukkan nanti. Setelah selesai mengenakannya, Ares meraih pistol tanpa ragu. Ares pun mulai berusaha untuk berkonsentrasi tinggi untuk melanjutkan aksinya.
Aisha tak tahu, sejak kapan kakaknya bisa menggunakan pistol yang terlihat menyeramkan itu. Suasana hening pun terjadi, Aisha tak mau berkomentar, pikirannya tak tenang, jantung pun bagaikan kuda kesetanan. Terlihat jelas raut wajah Ares yang mengganas tajam, Ares menyodorkan pistol ke arah salah satu lawan dari pintu kaca mobil tepat disebelahnya itu. Dengan memepekirakan dan membaca situasi, serta jalanan yang sudah ia kuasai, Ares juga berusaha untuk menjaga jarak namun tetap terus mengejar. Ares terus berkonsentrasi hingga terlihat cukup tenang, begitu terlihat jelas dari sorot matanya, dan Ares pun meluncurkan sebuah peluru mesiunya dengan tanpa keraguan sedikitpun.
Bruakkk... Brukkk.... Brukkk...
Tembakan Ares tepat mengenai sasarannya, yaitu ban mobil bagian belakang dari salah satu mobil lawan. Dan hebatnya, mobil itu langsung oleng seketika dan menabrak apa yang ada di sampingnya, belakangnya bahkan apa yang ada di depannya. Sedangkan Ares mendadak berhenti dan langsung memundurkan mobilnya dengan cepat, agar tidak ikut masuk ke dalam insiden tabrakan beruntun itu.
"Gila!!! Darimana kakak mempelajari semua ini?" Gumam Aisha dalam hati, ia sedikit merasa lega saat mobil yang ia tumpangi berhasil untuk menghindar, bahkan ia merasa kagum akan aksi kakaknya itu seperti dalam film laga, sekilas Aisha pun merasa kagum dan takjub kepada kakaknya saat itu.
Tapi itu belum berakhir, setalah lawan sudah berhasil Ares kendalikan. Ares kembali berbicara kepada Gavin melalui earphone yang masih melekat di telinganya.
"Di sini sudah aku tangani, bagaimana disana?" Ucap Ares.
Brummm... Brum...
"Kali ini akan lebih berbahaya. Bersiaplah?" Ucap Ares dengan tajam.
"Apa? Lebih, lebih... Bodo amat, aku masih sayang sama nyawaki. Aisha, kamu harus kuat. Percaya dengan kakakmu, kakak adalah jagoan, iya kak Ares jagoan. Semuanya pasti akan baik-baik saja" umpat Aisha dalam hati.
Ares langsung melaju dengan kecepatan penuh, klakson pun ia bunyikan semakin membabi-buta. Lantaran lawan yang sudah berhasil Ares runtuhkan, tetap mrencoba untuk menghadang. Tentu Ares akan bersikap masa bodoh, meskipun ia harus menabrak komplotan manusia gila yang mencoba menghadangnya. Karena saat itu, nyawa kedua orang tuanya dalam bahaya. Ares harus segera mungkin dapat menyusul Gavin untuk membantu dan menyelamatkan orang tuanya secepat mungkin.
Tapi setelah Ares mampu melewati manusia gila itu, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Ada sebuah mobil truk besar yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan, di duga truk besar itu sengaja mencoba untuk menabrak mobil Ares. Ares kaget bukan main, ia sudah mencoba untuk menghindar dan menekan rem sekuat tenaga, dan berusaha membanting setir ke arah lain, setidaknya untuk meminimalisir kecelakaan jika itu terjadi. Tetapi takdir sudah berkata lain, truk itu menghantam mobil Ares dengan kerasnya, bahkan membuat mobil Ares oleng seketika.
Mobil yang ia tumpangi remuk bagian kemudi karena hantaman truk cukup kuat, sedangkan truk itu langsung meninggalkan tempat kejadian perkara dengan masa bodohnya. Gavin yang mendengar insiden dan teriakan Aisha, bahkan suara klakson truk yang terdengar begitu jelas dan gamblang melalui earphone yang melekat di telinganya, mampu membuat Gavin panik bukan main. Perasaan Gavin tak karuan, bahkan memanggil nama Ares pun sama sekali tidak ada jawaban. Gavin panik dan langsung menghubungi Altezza untuk menyusuri suatu jalanan yang Gavin perkirakan dimana tepatnya.
Altezza mendengar kabar itu pun marah bukan main, ia tahu di sana ada Aisha. Altezza langsung ikut berhenti dan memutar arah untuk mencari keberadaan Ares juga Aisha dengan menggila, tak peduli musuh yang mencoba untuk menghadang mobil Altezza, ia torehkan dengan nyali yang membara hanya agar segera sampai untuk memastikan keadaan kekasihnya dan juga calon kakak iparnya, Ares.
Betapa paniknya Altezza saat itu, ketika ia berhasil menemukan sebuah kerumunan yang Gavin perkirakan sebelumnya, rupanya memang benar, ada kecelakaan di sana. Perasaan Altezza semakin tak karuan, Altezza menghentikan mobilnya secepat kilat dan buru-buru untuk keluar dan menghampiri untuk memastikan.
Namun, betapa hancurnya hati Altezza ketika melihat body mobil yg tak asing baginya, terlihat remuk dan hancur bagian kemudi. Altezza tak mampu membayangakan bagaimana keadaan Ares. Selang beberapa detik kemudian, Altezza mendengar sebuah ucapan seseorang, jika korban perempuan masih menunjukkan tanda kehidupan. Altezza langsung berlari membelah kerumunan, dan melihat dua tubuh yang terluka paraj dengan darah yang mengalir segar.
"Aisha....!!" Suara lantang Altezza begitu terdengar menyayat hati, Altezza pun langsung memeluk tubuh Aisha yang penuh dengan darah segar itu.
"Ares?" Gumam Altezza begitu lirih saat melihat Ares sudah tergelatak tak bernyawa itu.
"Semuanya minggir!!" Suara lantang Altezza begitu cukup mengerikan, orang-orang pun mulai melonggarkan kerumunan ketika Altezza membopong tubuh Aisha untuk di bawa pergi.
"Aku bilang, minggir!!! Apa kalian terlalu bodoh!!!" Kesal Altezza, ia muak jika ada insiden seperti itu, selalu saja menjadi bahan tontonan hingga susah untuk menolong sang korban dan parahnya membuat kemacetan, sehingga memperlambat penolongan, karena ia tahu tingkat kesadaran saat itu masih terbilang rendah.
Orang-orang yang tak berkepentingan pun mulai menjauh dan meninggalkan tempat itu, Altezza langsung membawa Aisha pergi dan memasukkannya kedalam mobil untuk segera menyelamatkan nyawa Aisha.
"Aisha, kamu harus selamat. Tolong, jangan tinggalkan aku Aisha, kamu harus kuat" ucap Altezza, yang saat itu merasa ketakutan, lantaran Aisha ysudah semakin tak berdaya dan melemah.
Sedangkan tubuh Ares, sudah di masukkan kedalam salah satu mobil seseorang yang di perintahkan oleh Altezza. Jika menunggu ambulan, tentu itu akan memakan waktu. Altezza menacap gas mobil dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di rumah sakit terdekat untuk dapat melakukan pertolongan pertama kepada Aisha.
Di sisi lain, Gavin yang masih berusaha menyelamatkan kedua orang tua Aisha. Gavin semakin marah dan kesal, lantaran ia harus mampu menangani seorang diri untuk melawan musuh. Ia tahu bagaimana paniknya mama Hani di sana, dan betapa khawatirmya papa Amon menangani hal itu.
"Ma. Maafin papa" ucap papa Amon, ia menyadari akan sesuatu yang tidak beres dengan mobilnya.
"Apa maksud papa?" Ucap mama Hani, ia tahu ucapannya seolah-olah untuk menyerah.
"Maafin, papa sayang" ucap papa Amon dan mengecup kening mama Hani, yang rupanya sebagai tanda perpisahan.
Papa Amon melepas sabuk pengaman yang masih melekat di tubuh mama Hani, ia mulai sedikit untuk meminggirkan mobil dan berusaha meminimalisir kecepatan mobil, lantaran remnya sudah tak dapat bekerja lagi.
"Pa??" Mama Hani marah, tetapi papa Amon tak menghiraukannya.
"Jangan buang waktu lagi, bagaimanapun caranya selamatkan anak kita. Berjanjilah padaku" ucap papa Amon, ia pun langsung membuka pintu dan kemudian mendorong mama Hani keluar kesemak-semak yang ada di pinggir jalan.
Papa Amon hanya berusaha untuk melindungi dan mengakhiri aksi kejar-kejaran itu, sebelum menyebabkan banyak korban yang tak bersalah.
"Maafin papa, Alex. Aku yakin, Alex bisa lebih kuat dari papa. Papa harus melakukan ini, jika tidak nyawa orang lain yang akan menjadi taruhannya" sesal papa Amon.
"Ahhhh... Sakit... Perutku... Papa.." suara rintihan mama Hani begitu terdengar menyakitkan. Lantaran ia tengah mengandung di usia delapan bulan, malah ia dijatuhkan secara paksa dari mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Brakkk... Duarrr.....
Suara benturan mobil dan ledakan yang entah bagaimana persisnya itu pun terjadi, Gavin yang melihat api ledakan dari jarak yang cukup jauh itu pun mulai was-was dan panik bukan main.
"Amon? Amon... Aghhh..." Mama Hani meringis kesakitan dan menangis begitu derasnya, ia tahu suaminya ada di sana.
"Tidak. Aku harus pastikan..." Ucap mama Hani, ia mencoba untuk bangkit, tetapi rasa nyeri di sertai rasa sakit itu amatlah luar biasa sakitnya.
"Aghh..." Suara mama Hani cukup keras, saat memaksa untuk berdiri.