Just Married

Just Married
episode 80: Ke London?



"Hemmm... Aku merasa tengah melayang" ucap Aisha dalam mimpinya.


"Tiba-tiba aku merasa nyaman" ucap Aisha kemudian yang masih dalam mimpinya.


"Emmm, seperti ada yang tengah menciumku. Eh, tunggu..." Ucap Aisha dalam mimpinya.


"Altezza!!!" Aisha langsung terbelalak membuka mata, lantaran ia menyadari jika Altezza akan kembali ke London.


"Ada apa sayang?" Ucap Altezza dan mencium tangan Aisha yang masih ia pegang sedari tadi, lantaran ketika Aisha tertidur merasa tidak nyaman.


"Altezza?" Ucap Aisha, ia pun langsung memeluk Altezza. Ia merasa senang lantaran Altezza belum pergi, ia masih ada waktu untuk bersama.


"Ada apa sayang?" Ucap Altezza dengan lembut dan tenang.


"Aku senang kamu belum pergi, Altezza. Baru saja kita baikan, aku pikir kamu pergi meninggalkanku saat aku tertidur" rengek Aisha, ia pun melepaskan pelukan Altezza.


"Hemm... Itu tidak akan, sayang" Altezza langsung mengecup pipi Aisha.


"Rasanya seperti ada yang beda, tapi apa ya?" Gumam Aisha dalam hati, ketika ia tengah menatap wajah Altezza, namun seperti ada yang berbeda.


"Ada apa sayang?" Ucap Altezza.


"Tunggu. Ini dimana?" Ucap Aisha, sejurus kemudian ia terduduk ketika menyadari kamar mereka berbeda.


"Kita ada di dalam pesawat, sayang" ucap Altezza, ia pun merengkuh tubuh Aisha yang terduduk itu dengan manja.


"Apa? Jangan bercanda" ucap Aisha tak percaya.


"Serius, sayang" ucap Altezza, ia pun mencium bibir Aisha dengan lembut.


"Kenapa Altezza bersikap manja seperti ini? Apa ada sesuatu?" Batin Aisha.


Setelah Altezza melepaskan ciumannya, Aisha menyadari ada sesuatu yang tertepa angin dalam dirinya. Aisha pun menunduk melihat dirinya dan melihat dirinya yang sudah memakai kemeja besar milik Altezza, dan kancing atas terbuka dan itu melihatkan belahan dada Aisha, sontak membuat Aisha langsung menutupinya dengan kedua tangannya.


"Hehehe, aku sudah melihatnya sayang" ucap Altezza dengan sengaja.


"Altezza!! Pantas saja kamu bersikap aneh" ucap Aisha kesal.


"Kemari, tak perlu malu padaku" ucap Altezza, ia pun kembali merengkuh tubuh Aisha.


"Huft. Bukankah, Altezza pernah melihat milik Liana yang jauh lebih besar? Tapi, jika aku membiarkan Altezza melihat punyaku, apa aku akan menjadi wanita murahan?" Pikir Aisha yang tengah dilema.


"Apa yang kamu pikirkan?" Ucap Altezza.


"Tidak ada"


"Sayang, satu jam lagi kita akan sampai" ucap Altezza.


"Jadi kita beneran ada di pesawat?" Ucap Aisha.


"Iya"


"Ya juga sih, aku merasa sedikit melayang" batin Aisha.


"Tapi, bukankah kamu bilang akan kembali dengan Liana?" Ucap Aisha.


"Aku berbohong padamu, dia masih berada di Manhattan. Kemungkinan nanti sore dia akan menyusul" ucap Altezza.


"Kamu, jahat juga ya" ucap Aisha, entah kenapa ia merasa sedikit senang.


"Tapi, kamu membawaku ke London untuk apa?" Aisha penasaran.


"Coba tebak..." bisik Altezza di telinga Aisha, sontak membuat Aisha merinding dan wajahnya memerah.


"A, Altezza..." Aisha sedikit gugup.


London, kediaman keluarga Altezza. Semua pengurus rumah itu tengah mempersiapkan semuanya untuk menyambut nona muda yang sebentar lagi akan datang, mulai dari kebersihan, sedikit mengubah dekorasi tata ruang, berbagai menu hidangan mewah. Dan tentunya, merapikan kamar Altezza yang sudah Altezza perintahkan, tak lupa di kamar Altezza di beri lilin aromaterapi yang sangat menenangkan, dengan rangkaian bunga mawar indah nan segar di vas bunga yang cukup besar.


Setelah cukup lama mempersiapkan semuanya. Kini saatnya, mereka mempersiapkan diri untuk menyambut seorang tuan muda yang akan membawa nona muda ke dalam istana itu. Mereka hanya tahu wajah Aisha dari foto yang terpampang jelas di salah satu ruang tengah, dimana foto itu memperlihatkan Aisha yang tengah merangkul lengan Altezza. Persis foto walpaper yang ada di ponsel Aisha, yang sampai saat ini masih belum ia ganti.


"Aku penasaran, dengan nona muda. Bagaimana dia ya" bisik-bisik.


"Iya, aku tidak sabar" bisik-bisik para pelayan.


"Di foto saja terlihat cantik, bagaimana yang aslinya? Ya Tuhan, aku ingin tahu"


"Ehem... Persiapkan diri kalian, tuan muda akan segera tiba" suara kepala pelayan terdengar cukup lantang.


Terlihat beberapa mobil mewah yang mulai memasuki arena kediaman keluarga Altezza. Beberapa pengawal yang turun dari mobil langsung menghampiri mobil paling depan.


"Eh, itu Lala dan Lulu. Beruntung sekali mereka, bisa melihat nona muda lebih dulu" bisik-bisik.


"Iya"


Altezza turun dengan balutan formal seperti yang biasa ia kenakan, setelan vest jas hitam yang begitu menawan, dengan dasi terlihat sedikit menonjol dengan warna abu tua. Sedangkan Aisha, sudah berbalut dress hitam pinguin yang menjuntai indah ke bawah, sangat elegan dan memesona. Semua mata pun mulai memandang seperti apakah Aisha itu.


Aisha sedikit canggung ketika melihat para pelayan berbaris rapi menyambut kedatangan Altezza juga dirinya, Aisha terus merangkul lengan Altezza lantaran ia merasa aneh di rumah itu.


"Ini rumah Altezza? Seriusan nih??" Gumam Aisha dalam hati, lantaran rumah Altezza begitu besar, mewah mirip seperti sebuah kerajaan.


"Wahhh... Nona muda lebih cantik dari fotonya" bisik-bisik.


"Iya, sangat serasi dengan dengan tuan muda" bisik-bisik.


"Ehem" suara dehem dari kepala pelayan, semua pelayan pun sedikit membungkuk kepada Altezza dan Aisha, untuk memeberi hormat kepada tuannya.


Setelah mereka memberi hormat, Aisha merasa sungkan sendiri ia pun berjalan dengan menatap satu persatu pelayan wanita dengan senyumannya yang begitu mempesona. Sontak membuat beberapa pelayan menjadi senang ada juga yang canggung, ia merasa nona mudanya orang yang baik dan berkarisma, persis seperti rumor sebelumnya.


Altezza dan Aisha berjalan menuju ruang makan yang begitu luas dan mewah. Hingga membuat Aisha merasa kecil hati, ia menyadari jika Altezza bukan sembarang orang dan kekayaannya yang begitu di luar dugaannya.


"Sayang. Kenapa?" Ucap Altezza, ketika mereka sampai pada ruang makan.


"Tidak" ucap Aisha.


Beberapa pelayan langsung menarik kursi untuk Altezza dan juga Aisha. Setelah itu, keluarlah beberapa pelayan dengan membawa beberapa hidangan mewah. Aisha merasa canggung, begitu mewahnya di kediaman Altezza.


Lala dan Lulu selalu menemani dan melayani Aisha, lantaran mereka menyadari jika Aisha merasa antara sungkan dan canggung dalam menghadapi situasi itu. Akhirnya, Aisha mampu mengendalikan dirinya untuk bersikap elegan. Aisha tak ingin mempermalukan Altezza yang tengah membawanya masuk kedalam keluarganya.


Acara makan-makan itu pun selesai, namun sialnya, acara makan-makan itu membuat perut Aisha kekenyangan dan tidak nyaman, lantaran cara menghadapi hidangan disana cukup rumit dan panjang. Mulai dari hidangan pembukaan, hidangan utama, kemudian hidangan penutup.


Altezza menghampiri Aisha dan mengulurkan tangannya untuk mengajak Aisha pergi ke suatu tempat, untuk istirahat disana.


"Aduh... Habis makan lalu olahraga. Altezza, apa kamu sedang menyiksaku?" Keluh Aisha, ketika menaiki anak tangga yang ketiga dan memegang perutnya yang mulai merasa sakit.


"Bodoh. Siapa yang tahu, kalau cara makan disini itu berbeda" rengek Aisha dengan kesal. Altezza mengerti, jika Aisha telah makan banyak.


"Maafkan aku, sayang" ucap Altezza, ia pun langsung menghampiri Aisha dan membopong tubuh Aisha.


"Eh, Altezza. Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku" ucap Aisha, lantaran khaeatir jika ada yang melihat.


"Diam sayang, atau kita akan terjatuh" ucap Altezza, seketika membuat Aisha terdiam dan patuh.


Altezza membopong tubuh Aisha menaiki tangga dengan perkasanya, hingga tanpa sadar, tibalah mereka pada kamar Altezza. Lalu Altezza menurunkan Aisha tepat di depan pintu yang terlihat cukup mewah.


"Ini...?" Ucap Aisha yang mencoba untuk menebak.


Altezza langsung mendorong pintu dan pintu itu pun terbuka dengan lebar, mata Aisha terbelalak kaget. Bagaimana tidak, ternyata kamar Altezza jauh lebih luas daripada kamar utama di villa. Altezza meraih tangan Aisha dan menggandengnya untuk menuntunnya masuk ke dalam sana, Aisha nampak ragu.


"Apa aku harus menggendongmu, sayang?" Ucap Altezza, Aisha pun menurut untuk ikut masuk kedalam.


Deg deg deg... Jantung Aisha terpompa dengan cepatnya, hatinya berdebar hebat. Kamar yang mewah dengan gaya arsitektur nuansa kerajaan, di tambah nuansa kamar itu terlihat begitu tenang dan nyaman, apa lagi bau harum dari lilin aroma terapi membuat Aisha kalang kabut.


"Sial. Kenapa kamarnya, seperti kamar pasangan suami istri. Lebih tepatnya, kamar ini cocok untuk pengantin baru" batin Aisha.


"Sayang..." Tiba-tiba, Altezza memeluk Aisha dari belakang.


Tubuh Aisha merinding, jantungnya memompa semakin cepat, wajahnya memerah. Entah kenapa, dirinya seperti berada tempat yang indah untuk bersama. Bahkan, Aisha seperti tak memiliki kekuatan untuk bergerak.


Altezza menempelkan pipinya ke pipi Aisha. Aisha baru menyadari, mereka tengah berdiri di depan cermin yang cukup besar dan panjang. Di cermin itu pula, mereka berdua terpampang jelas dalam pantulan cermin itu. Aisha yang melihat ke cermin dan menatap dirinya juga Altezza, mendapati senyuman Altezza yang begitu mempesona.


"Bagaimana? Kita sudah pantas untuk menjadi pasangan, bukan?" Ucap Altezza.


"Bukankah, kita sangat serasi sayang?" Ucap Altezza dengan lembut.


"Altezza..." Lirih Aisha, ia pun membalikkan badannya dan langsung meraih leher Altezza dan menatap wajah Altezza.


"Apakah, aku pantas untukmu Altezza?" Ucap Aisha.


"Kamu jauh lebih pantas dariku, sayang" ucap Altezza.


"Kalau begitu, cium aku" ucap Aisha dengan wajah sedikit memerah.


Altezza tersenyum dan langsung mencium Aisha, tanpa sadar Aisha menitikkan air mata. Dan memeluk Altezza lebih erat, sedangkan tangan Altezza menahan kepala Aisha agar tak terlepas dari ciumannya.


"Altezza. Aku tak tahu, apakah aku pantas untukmu. Tapi aku sangat mencintaimu, Altezza. Aku... Aku pun tak ingin kehilangan kamu. Altezza? Apakah aku terlalu egois?" Ucap Aisha dengan linangan air mata, ketika Altezza melepaskan ciumannya.


"Aku bahkan jauh lebih egois darimu, sayang. Selama ini akulah yang selalu mencarimu dan mengejarmu" ucap Altezza dengan mengusap air mata Aisha.


"Andaikan kamu tahu Aisha, aku telah jatuh hati sejak pertama kita bertemu. Engkaulah yang membuatku menjadi seperti sekarang ini, dan engkaulah yang aku mau sejak dulu" ucap Altezza dalam hati, Altezza tersenyum dengan ketulusan hatinya paling dalam. Altezza kembali mencium Aisha dengan seluruh perasaannya, mereka sama-sama mencurahkan perasaannya yang begitu hangat dengan penuh haru.


Malam itu, Aisha tengah bersantai di ruang keluarga dengan Altezza. Disana juga ada Lala dan Lulu yang selalu setia menemani Aisha.


"Altezza. Sejak tadi sore, aku belum melihat kedua orang tuamu? Dimana mereka?" Ucap Aisha yang menyadari itu.


"Besok mama dan papa, baru akan kemari"


"Eh? Memangnya, mereka di mana?"


"Mereka hanya menikmati masa tuanya, sayang" ucap Altezza dan mengelus lembut pipi Aisha, yang sedari tadi tangan Altezza bertengger di atas pundak Aisha, sedangkan Aisha menyandarkan kepalanya ditubuh Altezza.


"Iya, nona. Kami dengar nyonya sangat gembira ketika tuan muda memberi kabar, jika nona Aisha berada di sini" ucap Lala dengan riangnya.


"Aku tidak dapat membayangkan, bagaimana sikap nyonya saat mendengar kabar itu. Pasti kalang kabut dan ingin cepat-cepat kemari" imbuh Lulu.


"Iya. Seperti waktu itu, ketika tuan muda memberi kabar tentang nona Aisha. Wajah nyonya terlihat sangat senang, apa nona tidak menyadari sesuatu di ruangan ini?" Ucap Lala.


"Sesuatu di ruangan ini?" Ucap Aisha, ia pun melihat sekeliling.


Tak di sangka, ada sebuah bingkai foto terpasang jelas dan besar foto dirinya yang tengah merangkul lengan Altezza, teroampang jelas di dinding yang tak jauh dari bingkai foto keluarga Altezza. Aisha terperangah dan menutup mulutnya, lantaran ia begitu terkejut. Bagaimana bisa, fotonya sudah di pasang dengan jelas di sana.


"Hah? Ba, bagaimana bisa? Itu pasti perbuatanmu kan, Altezza?" Ucap Aisha, dan menoleh ke arah Altezza.


"Bukan, nona. Yang menyuruh untuk memasang foto itu adalah nyonya" jelas Lala.


"Apa?!?? Bagaiamana bisa?" Aisha terkejut dan tak percaya.


"Betul, nona. Ketika tuan muda mengirim foto itu, nyonya sangat gembira dan menyuruh kami untuk mencetak foto itu. Kemudian nyonya menyuruh kepala pelayan untuk memasangnya di sana" jelas Lulu.


"Ha? Altezza... Apa itu, benar?" Ucap Aisha.


"Bukankah sudah ku katakan, kamulah satu-satunya yang akan menjadi nona muda untuk Altezza" ucap Altezza, ia pun mengecup pipi Aisha.


"Altezza!!!!" Suara teriakan keras, membuat yang ada di ruangan itu terkejut. Dan menoleh kearah suara itu, yang ternyata seorang perempuan wajahnya terlihat sangat kesal.


"Itu..." Ucap Aisha pelan dekat dengan Altezza.


"Ya, itu dia" tandas Altezza.


"Nona Liana tidak sopan, disini ada kakak ipar nona. Apa nona Liana tidak memberi salam kepada kakak ipar nona?" Ucap Lala dengan berani.


"Kamu, hanya pelayan. Diam saja kamu" bentak Liana.


"Altezza, kenapa kamu pulang membawa wanita jalang ini? Kenapa kamu tega meninggalkanku di New York, dan malah pergi dengan wanita jalang ini dengan pesawat pribadi?" Umpat Liana.


"Liana. Tutup mulutmu, atau aku kirim kembali kamu ke indoneisa" ucap Altezza dengan tegas.


"Kamu... Aisha, aku tidak terima. Awas saja kamu" umpat Liana.


Liana langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan kesalnya, bahkan pelayan yang tengah membawakan koper untuknya merasa canggung lantaran mendengar umpatan Liana kepada Aisha.


"Yah, penyihir itu mulai lagi" ucap Lala.


"Lala" ucap Lulu, ia sungkan lantaran ada Altezza.


"Tuan saja tidak menyukainya" ucap Lala dengan percaya diri.


"Sudahlah, biarkan saja. Kalau Liana mau merebut Altezza dariku, Itu tidak akan mungkin terjadi" seru Aisha dan memeluk Altezza, walau sebenarnya is sedikit kesal dengan umpatan Liana.


"Sudah mulai pinter ya..." Ucap Altezza, ia pun mencubit hidung Aisha.


"Ehem... Ehem... Lulu, sebaiknya kita pergi. Tidak pantas untuk kita yang masih polos dan suci ini" ucap Lala yang langsung menggeret tangan Lulu.


Aisha hanya tertawa kecil melihat tingkah Lala yang seolah-olah tengah merajuk. Entah kenapa, Aisha merasa ingin selalu bersama Altezza. Seperti ingin menggenggam erat tangan Altezza.