
Entah kenapa Sally merasa kecewa ketika Leon malah membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada hadirin, padahal sebelumnya ia sudah berharap jika Leon nanti akan bersikap romantis di depan khalayak tamu undangan tetapi rupanya sama sekali di luar ekspektasinya.
"Huft... Lihatlah, karena kamu terlalu membuatnya sibuk, Leon menjadi bodoh" protes Aisha, saat menyadari Sally nampak kecewa.
"Dia yang bodoh, kenapa aku yang kamu salahkan?" Ucap Altezza tak mengerti.
"Entahlah" Aisha pun langsung berlenggang pergi menghampiri Sally yang sudah mau naik ke atas panggung untuk memberi selamat kepada Deva, saat itu pula Altezza menoleh ke arah Leon dan menatap Leon dengan tatapan amat mematikan.
"Ya Tuhan, kesalahan apa yang sudah aku perbuat?" Suara rintihan hati Leon yang sudah merasa ketakutan itu.
Sally dan Aisha di sana tengah memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai, mereka pun berinisiatif untuk foto bersama dengan sang pengantin. Saat itu pula Altezza menyusul naik ke atas panggung dan memberikan ucapan selamat kepada Danial dengan khas gaya gentle seorang pria.
Deg deg, jantung Leon menjadi tak menentu saat dirinya tengah melirik Sally apalagi ia masih membawa seikat bunga buket yang ia dapatkan tadi. Dengan cepat Leon tak mengindahkannya lagi dan langsung memberi ucapan selamat kepada sang pengantin, setelah itu mereka di sana mengabadikan momen indah di hari yang spesial Deva.
Beberapa saat kemudian, acara sumpah janji itu telah selesai dengan lancar tanpa kendala apapun. Sally yang masih patah hati berniat untuk kembali di hotel dimana ia tinggal untuk sementata, Aisha pun berinisiatif meminta Leon untuk mengantarkan Sally, dengan enggan Sally pun menurut.
"Kenapa Istriku menyuruh Leon pergi?" Ucap Altezza, setelah Leon sudah berlalu.
"Tuan muda Altezza, bukankah anda adalah orang yang kaya raya? Mengapa kehilangan satu mobil membuatmu begitu sesal?" Ucap Aisha dengan bergaya sebagai seorang pelayan yang ramah.
"Istriku memang pandai, kalau begitu aku tidak akan menyesalinya" ucap Altezza yang langsung mengajak Aisha.
"Bagus"
"Ayo"
"Kemana?"
"Ikut saja denganku" perintah Altezza, Aisha pun menurut.
Sedangkan di sisi lain, Leon dan Sally yang masih dalam perjalanan menuju hotel, mereka nampak terdiam satu sama lain, Sally terus menatap kaca mobil di sisi badannya, sedangkan Leon masih merasa canggung dan tak mengerti harus bagaimana.
"Emm... Sally?" Setelah beberapa saat, akhirnya Leon memberanikan diri untuk memulai bicara.
"Ya?"
"Besok, tuan muda akan membawa nona Aisha kembali ke London"
"Aku tahu" singkatnya.
"Ah, ya" Leon sudah kehabisan kata-kata, hingga tanpa Leon sadari mereka telah sampai di sebuah hotel dimana Sally untuk bermalam.
"Sudah sampai, kalau begitu terima kasih sudah mengantarku" ucap Sally kemudian.
"Ah, i-iya" Leon ragu, tetapi saat Sally hendak mau membuka pintu dengan sigap Leon meraih tangan Sally, sontak membuat Sally terhenti dan langsung menoleh kearah Leon.
"Apa yang kamu lakukan?" Protes Sally.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja" Leon dengan pasrah melepaskan cengkeramannya, Sally pun beranjak kembali untuk turun dari mobil dan berlalu meninggalkan Leon sendirian.
"Dasar, pria bodoh. Aku sudah bermaksud untuk memaafkan jika dia meminta maaf, malah membuat tanganku sakit" celetuk Sally yang sudah tiba di depan pintu kamar hotel.
Brakkk...
"Sally!" Tiba-tiba Leon menahan pintu kamar, ketika Sally hendak mau menutup pintunya kembali.
"Leon? Apa yang kamu lakukan disini?" protes Sally.
Leon celingukan melihat keadaan sekitar koridor yang cukup sepi, beberapa detik ia langsung mendorong tubuh Sally dan mereka pun masuk kedalam kamar, sedangkan Sally tak mengerti dengan apa yang Leon lakukan saat itu.
Sedangkan di sisi lain, di waktu yang sama pula. Di kediaman seorang wanita sebelumnya yang mengumpat Aisha lantaran Aisha memiliki seorang pria yang tampan dan terlihat seperti orang yang berada ketika di acara pernikahan Deva tadi.
"Apa kamu yakin?" Ucap seorang ibu paruh baya kepada anaknya.
"Iya ma, aku nggak salah lihat, itu benar Aisha" ucapnya.
"Dan mama tahu, penampilan Aisha tadi itu benar-benar tidak seperti dulu. Apalagi Tante Hani, dia juga berpenampilan seperti orang yang berkelas" tandasnya.
"Risa, kamu jangan percaya sama penampilan mereka, siapa tahu mereka hanya menyewanya biar kelihatan seperti orang kaya, padahal kan miskin"
"Mama salah, tadi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Tante Hani dan Alex pulang dengan mobil mewah, bahkan lebih newah dari mobil kita, Ma" terang wanita itu yang bernama Risa.
"Dan mama tahu, ketika aku membuntuti mereka pulang tadi?" Mama Risa pun mulai penasaran.
"Mereka tidak pergi ke rumah sempitnya itu, tapi mereka menuju di kawasan kompleks elit yang terkenal rumah sultan"
"Apa?" Masa sih?" Ibu Risa mulai panik.
"Alah, paling si Hani itu jadi simpanan orang kaya. Mana mungkin kan dalam sekejap bisa kaya? Bisa jadi kan mereka pergi ke kawasan itu buat ya... Gitu lah" remehnya.
"Masa sih?" Risa mulai berpikir keras, ia pun bermaksud untuk kembali pergi untuk mencari sesuatu.
"Eh, kamu mau kemana?" Teriak Mama Risa.
"Pergi sebentar" sahutnya.
Risa pun bergegas pergi dengan mobilnya, ia bermaksud untuk memastikan keraguannya lantaran ia merasa jika Mama Hani tidak mungkin mau menjadi wanita simpanan, dengan kecepatan penuh Risa menyusuri jalan raya, hingga beberapa puluh menit akhirnya Risa telah tiba di kawasan rumah lama Mama Hani, di sana Risa mulai memastikan keadaan rumah Mama Hani yang sederhana nampak sangat sepi.
"Gimana caranya?" Gumam Risa.
"Eh, wanita itu..." Risa mulai mengamati dengan seksama, ada seorang wanita muda tengah membuka kunci pintu rumah Mama Hani dengan santainya, seakan-akan wanita itu merupakan tuan rumah tersebut.
Risa dengan memberanikan diri pun bermaksud untuk bersambang dan memastikan sesuatu, dan sialnya ketika Risa sudah menemui wanita itu dan bertanya ia mendapati sebuah jawaban jika Mama Hani sudah pindah beberapa minggu yang lalu bahkan wanita itu juga memberitahu alamat baru Mama Hani padanya. Dengan perasaan tak sabar, Risa pun pamit dan bergegas pergi untuk mencari alamat yang sudah ia ingat dalam otaknya. Perasaannya kini bercampur aduk, ia mengemudi juga begitu cepat sehingga tanpa terasa Risa sudah memasuki kawasan elit perumahan sultan, saat itu pula ia pun mulai memelankan gas mobilnya. Matanya mulai mencari kesana kemari untuk menemukan alamat yang ia ingat-ingat sedari tadi.
Dan, alhasil Risa berhasil menemukan alamat rumah tersebut. Mata Risa pun terbelalak tak percaya dengan apa yang Risa lihat saat itu, rumah yang berdiri megah dan mewah nampak begitu sangarnya berdiri di sana, tentu sudahlah kalah jauh dari rumah Risa yang mewah yang ia tempati sekarang. Di tambah Risa melihat ada sebuah mobil yang terparkir di luar rumah yang Mama Hani tumpangi sebelumnya, dengan buru-buru Risa menelepon mamanya untuk memberikan kabar buruk itu.
"Apa?" Terdengar keras teriakan Mama Risa dari dalam ponsel.
"Aduh Ma, bisa budeg nih kuping aku" celetuk Risa.
"Kamu harus pastikan Risa, cepat cari tahu. Mama akan kasih tahu Papamu, mungkin Amon telah menyembunyikan hartanya untuk wanita itu" pekik Mama Risa yang sudah marah
"Iya ma" ucap Risa.
"Ya sudah, aku akan menutup teleponnya"
"Baik, Ma"
"Lalu bagaimana caranya aku mencari tahu?" Gumam Risa.
"Kalau aku lama-lama di sini bisa di sangka mau maling lagi" Risa celingukan.
Tetapi saat itu kebetulan ada seorang pelayan wanita keluar dari rumah Mama Hani yang hendak mau membuang sampah, dengan segera Risa turun dari mobil dan bergegas menemui pelayan itu untuk mencari tahu.
"Maaf, mau tanya" ucap Risa dengan ramah.
"Iya?"
"Apa tuan ada di rumah?" Pelayan yang mendengar itu pun seketika mengerutkan dahinya.
"Oh, iya ada, kenapa ya?" Selidik pelayan itu.
"Tapi benar ini rumahnya Ibu Hani kan?"
"Iya, ada yang bisa aku bantu?"
"Mau mencari tahu kenapa kami sekarang menjadi kaya?"
Jleb, tiba-tiba Alex datang tanpa ada yang mengetahui, bahkan Risa juga terkejut apalagi dengan ucapan Alex.
"Alex?" Risa mulai gelagapan.
"Kenapa? Mau merebutnya lagi?" Sindir Alex.
"Ti-tidak. A-aku cuma mau mastiin aja kok" Risa mengelak.
"Mastiin rumahnya Tante Hani atau bukan?" Alex selalu tepat sasaran.
"Sial! Anak ini rasanya pengen aku pukul" pekik Risa dalam hati.
"Yah, aku cuma bercanda. Ayo masuk kak, siapa tahu mata kakak bisa terbuka lebih lebar lagi ketika masuk nanti" ucap Alex kemudian namun tetap dengan ucapan pedasnya.
"Ti-tidak, terima kasih. A-aku sedang buru-buru, i-iya aku buru-buru"
"Tak apa, mama juga ada di dalam. Lagipula Kak Risa juga belum pernah main kerumah kami kan?" Alex terus memprovokasi.
"Tidak, terimakasih. A-aku pamit, bye" Risa pun akhirnya kabur.
Risa benar-benar marah hari itu, pria tampan milik Aisha, rumah mewah yang baru dan juga Alex si bocah berlidah pedas, benar-benar perpaduan sempurna bagi orang-orang yang iri seperti Risa. Meskipun Risa termasuk orang yang cantik, kaya dan hidupnya terjamin, memiliki suami seorang pengusaha yang umurnya terpaut sepuluh tahun lebih tua dari Risa, tentu ia merasa kalah dengan apa yang Aisha miliki sekarang. Tapi tunggu, Risa teringat dengan ucapan Altezza yang sebelumnya, jika Altezza sebentar lagi akan menikahi Aisha, Risa pun akhirnya tergerak untuk mencari tahu siapa sosok pria itu dan semuanya yang berkaitan dengan rumah baru yang Aisha tempati.
"Untung sebelumnya aku sudah mengambil gambar rumah itu" gumam Risa yang tengah mengemudi.
Sedangkan di suatu tempat lain, dimana Aisha dan Altezza berada.
"Kenapa ketempat ini?" Ucap Aisha ketika mereka berdua sedang bergandengan tangan dan menyusuri pusat perbelanjaan.
"Aku hanya ingin mengajak istriku jalan-jalan" ucap Altezza.
"Tapi apa kamu tidak lelah?"
"Nanti sore sampai malam akan ada lanjutan acara resepsi pernikahannya Deva lho" imbuh Aisha.
"Bukankah masih ada beberapa jam, kenapa istriku cerewet sekali, hem?" Gemas Altezza.
"Bukan begitu, hanya saja..." Aisha tak meneruskan ucapannya.
"Hanya saja?" Selidik Altezza.
"Tidak ada, begini juga bagus" Aisha pun bergelayut manja di lengan Altezza.
"Aisha?" Panggil Altezza kemudian.
"Ya?"
"Apakah kamu tidak meminta sesuatu dariku?" Ucap Altezza penasaran.
"Maksud kamu?" Aisha tak mengerti.
"Bukankah hari pernikahan kita sudah begitu dekat, apa istriku tidak ada permintaan sama sekali?" Jelas Altezza.
"Emmm... Ada sih"
"Katakan"
"Aku ingin pria yang bernama Gibran Altezza menjadi suami ku untuk selamanya" ucap Aisha dengan tenang dan matanya menatap jauh ke depan sana, tetapi perkataan itu sanggup membuat Altezza merasa tersanjung bahagia.
"Apa kamu sedang menggodaku, sayang?" Ucap Altezza yang merasa senang itu.
"Tidak. Aku hanya mengatakan yang benar, bukankah setelah kamu menjadi suamiku seluruh harta kekayaanmu juga akan menjadi milikku? Tentu saja nanti aku bisa melakukan apapun yang ku mau" Ucap Aisha kemudian, Altezza pun tersenyum geli mendengarnya.
"Istriku pintar sekali rupanya" puji Altezza dan mencubit hidung Aisha dengan gemas.
"Aduh, Altezza. Kenapa kamu suka sekali mencubit hidungku" rengek Aisha.
"Sayang, mau coba game yang ada di sana?" Ucap Altezza.
"Boleh" Aisha menyetujuinya.
Dengan riang dua insan itu pun memainkan sebuah game untuk mengisi waktu senggang mereka, begitu jelas tawa dan keceriaan wajah Aisha terpancar di sana. Aisha telah tepat menerima seorang lelaki yang bisa membuat hari-harinya berwarna. Tetapi keharmonisan mereka terpantau jauh oleh seseorang yang tak lain adalah mantan Aisha dulu, yang kini tengah duduk bersama pacar barunya.
"Bukankah itu Aisha? Kenapa sekarang semakin cantik" batin mantan Aisha.
"Dan... Siapa lelaki itu? Pacar barunya kah?" Mantan Aisha masih bergumam dalam hati dan sorot matanya terus menatap kearah Aisha dan juga Altezza.
"Ada yang mengawasi!" kepekaan Altezza pun terbangun, dengan segera ia menolah kearah lokasi yang ia rasa seseorang itu tengah mengawasinya.
"Puftt...." Seketika mantan Aisha menyembur apa yang hendak ia telan, lantaran ia sangat terkejut ketika Altezza mengetahuinya dengan tepat bahkan sorot mata Altezza begitu terasa mencengkram ingin mencekiknya.
"Ada apa Ren?" Ucap pacarnya mantan Aisha.
"Ti,tidak. Hanya tidak hati-hati saja" ucap mantan Aisha, sesekali ia melirik ke arah Altezza tetapi sialnya Altezza terus menatapnya dengan lekat.
"Seram sekali pacar barunya Aisha, aku benar-benar tidak berani untuk memprovokasinya. Sebaiknya aku cepat pergi dari sini, daripada terjadi yang tak di inginkan seperti Tommy" buru-buru mantan pacar Aisha pergi meninggalkan tempat itu.
"Altezza, ada apa?" Ucap Aisha dan ikut melihat kearah dimana Altezza menatap dengan tajamnya, rupanya Altezza tahu jika lelaki yang tengah menatapnya sedari tadi adalah mantan pacar Aisha dulu.
"Tidak ada. Hanya karena istriku yang cantik ini membuat beberapa lalat ingin mendekatinya, tapi lalat itu tidak jadi mendekat karena mereka sadar jika ada pangeran yang sangat tampan di sisinya, akhirnya lalat itu mati duluan karena minder" celetuk Altezza, seketika membuat Aisha tak mampu menahan tawa.
"Hemp. Hahaha... Altezza, kamu kenapa?"
"Yes, akhirnya kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan selama ini" ucap Aisha dalam hati, ia merasa puas lantaran selama ini hanya dirinya lah yang cemburu jika keberadaan Altezza selalu mengundang perhatian.
"Apa yang kamu tertawakan?" Altezza yang masih dalam suasana sedikit marah itu.
"Altezza, apa kamu sedang cemburu?" Ucap Aisha yang masih tertawa cekikikan.
"Diam" Altezza merasa sedikit malu dan juga sedikit geram dengan mantan Aisha, tetapi ia pandai mengusai dirinya.
"Kamu cemburu kan? Bagaimana rasanya? Enak?" Aisha bermaksud menyindir.
"Aisha, jika kamu tidak berhenti tertawa, percaya tidak percaya aku akan memakanmu sekarang" ucap Altezza.
"Hemp. Baiklah, baiklah, aku tidak tertawa. Kalau begitu, kenapa suami ku tersayang ini masih cemberut?" Goda Aisha dengan sikap polos dan manjanya, seketika membuat Altezza menjadi luluh tak berdaya.
"Aisha..." Geram Altezza, dengan cepat Altezza menarik tangan Aisha, ia pun langsung membopong tubuh Aisha di pundaknya.
"Altezza, turunkan aku" Aisha memberontak, tetapi Altezza tak peduli meskipun semua orang yang ada di sana memperhatikannya.