
Sudah dua hari Aisha memimpin perusahaan milik Altezza, dengan masih tanpa adanya kabar dari Altezza pula. Pikiran yang kalut begitu kacau, Aisha berusaha bersikap tegar meskipun ujian kampus juga mulai menerpa pikirannya. Aisha harus mengatur waktu antara urusan perusahaan dan juga tugas-tugas kampus untuk kelulusannya.
Tentu hal itu membuat Aisha semakin sibuk, apalagi inilah pertama kali dirinya memimpin sebuah perusahaan yang banyak harus ia pelajari dan pahami. Sally pun tak ambil diam, dirinya ikut andil untuk membantu Aisha. Karena Sally tahu, tak semudah apa yang ada dalam bayangan dalam mengambil alih posisi yang tinggi untuk memimpin sebuah perusahaan agar tetap stabil, apalagi kondisi perusahaan masih dalam benturan.
"Sally, adakan rapat satu jam lagi" ucap Aisha yang masih sibuk menatap layar monitor dan jari-jemarinya mulai lincah.
"Oke" ucap Sally dengan semangat.
Tumpukan berkas, dan lembaran-lembaran berkas yang berserakan di atas meja membuat Aisha tak peduli akan kerapian, ia harus fokus dan secepat mungkin untuk menyelesaikan masalah ini. Karena jika terlalu lama mengulur waktu, maka perusahaan itu akan hancur. Apalagi ada seseorang yang mau mencoba untuk mengakuisisi perusahaan itu. Di tambah para pemegang saham mulai keras kepala untuk segera mencari pengganti Altezza, meskipun mereka tahu jika perusahaan itu sudah hak penuh menjadi milik Aisha, lantaran mereka meragukan kemampuan Aisha.
Satu jam kemudian, ruang rapat sudah terpenuhi dengan para pemegang saham dan beberapa tokoh penting lainnya. Aisha yang di temani seorang sekertaris pun mulai masuk ke dalam ruangan rapat itu di adakan.
"Selamat siang semuanya, saya tidak mau bertele-tele dan langsung saja" ucap Aisha yang tanpa basa-basi dengan wajah seriusnya dan terdengar sedikit tegas.
"Saya Aisha Olinda, yang sudah di pasrahkan atas hak penuh perusahaan ini oleh tuan Altezza. Saya tahu kalian meragukan kemampuan saya, tapi saya berani jamin. Dalam waktu dekat perusahaan akan kembali pulih dan bahkan lebih berjaya" ucap Aisha dengan lugas.
"Silahkan sekertaris Nancy" ucap Aisha, sekertaris itu pun langsung membagikan beberapa lemabaran di setiap orang yang ada di ruangan itu.
"Itu adalah rencana dari kami, sebuah trobosan terbaru untuk memulihkan perusahaan dengan cepat. Dan kami baru memulainya dan kalian bisa lihat grafik di sini...." Aisha menjelaskan sebuah rancangan ide briliannya kepada orang-orang yang meragukan akan kemampuannya.
Meskipun orang-orang takjub akan ide brilian Aisha, namun masih sedikit ragu apakah hasilnya akan sesuai ekspektasi. Namun Aisha mencoba untuk meyakinkan dan memberi waktu dalam satu bulan untuk menuntaskan semuanya. Bahkan Aisha juga menjanjikan akan sebuah kompensasi jika dirinya gagal, Sally yang melihat keberanian Aisha pun merasa takjub. Sally baru menyadari, jika Aisha sedang fokus dengan pekerjaannya pasti akan selalu bersikap seprofesional mungkin, tegas dan lugas serta penuh bertanggung jawab.
Sally yang menunggu Aisha dari acara rapat itu pun tersenyum saat dirinya melihat Aisha keluar dari ruang rapat dan menyalami beberapa orang yang tentu terlihat jelas gambaran tanda akan kerja sama dan kepercayaan yang sudah di berikan kepada Aisha. Sally pun melambaikan tangannya saat Aisha tengah menangkap keberadaan Sally, Aisha pun bergegas pergi untuk menghampiri Sally.
"Sekertaris Nancy, bawakan laporan keuangan untukku" perintah Aisha.
"Baik, nyonya" ucap Nancy.
"Mau makan siang di mana?" Ucap Sally.
"Aku ingin makan makanan yang hangat" ucap Aisha.
"Hotpot?" Tawar Sally.
"Boleh" ucap Aisha menyetujui.
Sebetulnya Aisha hanya merasa lelah dan tubuhnya kurang baik, namun ada pertaruhan yang sudah ia kobarkan atas nama perusahaan, Aisha harus menunjukkan kemampuannya jika dirinya bisa. Ia juga harus kuat lantaran bisa jadi ini adalah wasiat dari Altezza.
Hari demi hari pun sudah berlalu, tanpa terasa sudah hampir satu bulan. Apa yang sudah di janjikan Aisha, ia sudah mampu mengendalikan posisi perusahaan dalam keadaan lebih baik. Ia juga sudah membersihkan atas tuduhan-tuduhan orang yang mencoba untuk mengakuisisi perusahaan milik Altezza. Para pemegang saham pun semakin mantap akan kinerja Aisha, betul-betul mirip dengan Altezza. Hanya saja Altezza jauh lebih cepat dari Aisha dalam menangani suatu masalah dan tentu lebih menyeramkan, tapi tak di pungkiri kemampuan Aisha memang cukup hebat untuk dirinya yang baru terjun sebagai seorang pemimpin.
"Altezza, kamu dimana?" Lirih Aisha saat dirinya berada di atas gedung perusahaan menikmati teriknya mentari.
Tiba-tiba ada sebuah helikopter yang terlihat jelas dan cukup dekat, helikopter itu sepertinya mau mendarat di atas gedung perusahaan di mana Aisha berada. Aisha yang menyaksikan itu pun baru menyadari jika di atas gedung perusahaan juga merupakan tempat pendaratan helikopter.
Aisha langsung menyingkir dan menyipitkan matanya dan terus menatap helikopter itu yang sudah hampir mendarat, lantaran penasaran apakah tamu dari perusahaan lain untuk tanda tangan kontrak. Tapi itu bukankah berlebihan dengan membawa helikopter? Entahlah, Aisha masih memantaunya seorang diri di sana, bahkan rambutnya yang terurai membuat dirinya sedikit sibuk untuk menahan rambutnya agar tidak menari kesana-kemari.
"Cih, yang benar saja. Membawa helikopter hanya untuk mendatangani kontrak, dasar orang kaya" batin Aisha, saat dirinya melihat seseorang yang asing turun dari helikopter, Aisha pun meraih ponselnya untuk memerintahkan sebuah berkas kerjasama dengan perusahaan NYK.
"Oke. Saatnya aku menyambut orang kaya, eh maksud aku rekan bisnis" ucap Aisha setelah selesai mengirim pesan kepada sekertaris Nancy.
"Seperti apa sih orang...." Aisha kaget dan melongo saat melihat ada seorang pria yang tak asing tengah berjalan menuju dirinya.
"Kamu?" Ucap Aisha, saat pria itu sudah tiba di hadapannya.
"Serius, kamu adalah pemilik perusahaan NYK?" Ucap Aisha tak percaya.
"Kau meremehkan ku?" Ucap pria itu dengan gaya sombongnya.
"Bhuahahaa... Dasar, kau Marley. Hahaha, aku tak percaya itu kamu" tawa Aisha.
Marley merupakan seorang mahasiswa yang satu kampus dengan Aisha, Marley terkenal akan pria yang lembek dan seidkit kemayu bahkan ia juga sering bersikap absurd dengan teman-temannya. Tak di sangka dia adalah seorang pemimpin perusahaan yang cukup terkenal dengan rating termasuk perusahaan terbaik.
"Ehem" suara dehem dari seorang asisten yang jauh lebih tegas dari Marley.
"Ah, oke. Maafkan aku, Tuan Hondo selamat datang di perusahaan kami" ucap Aisha kemudian.
"Hemm" ucap Marley yang langsung berjalan.
"Hei, betina. Apa kau mau membiarkan aku tersesat?" Ucap Malrley tiba-tiba lantaran Aisha tertinggal.
"Ah, ya maafkan aku tuan. Mari biar saya tunjukkan" ucap Aisha dan langsung memimpin jalan menuju lift.
"Eh betina, kamu kerja apa di sini? Jangan bilang kamu hanya karyawan biasa di sini" sindir Marley.
"Ah, iyaaa... Tapi aku menyukai pekerjaanku di sini. Silahkan tuan" ucap Aisha dan mempersilahkan Marley dan asistennya untuk masuk kedalam lift.
"Sebaiknya kamu bekerja di perusahaan ku saja, aku janji deh akan beri kamu posisi terbaik" ucap Marley.
"Terimakasih tuan, itu tidak perlu" ucap Aisha.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di ruangan direksi, Aisha menunjukkan ke sebuah ruangan tamu penting dan meminta kepada seseorang untuk segera di suguhkan minuman dan segera untuk membawakan berkas kerjasama. Aisha pun mempersiapkan diri sebelum tanda tangan kontrak itu terjadi.
Beberapa saat kemudian,
"Betul" ucap Aisha.
"Nyonya, ini berkasnya" ucap Nancy yang baru datang dan menyerahkan dokumen.
Puft... Marley yang sedang menyeruput minuman pun menyembur keluar lantaran saat dirinya mendengar sebutan nyonya kepada Aisha.
"Tunggu. Nyonya?" Ucap Marley memastikan.
"Betul tuan, beliau nyonya Altezza. Pemimpin di perusahaan ini" jelas Nancy.
"Hah???" Marley melongo, ia pun mengecek kembali sebuah dokumen yang ia bawa.
"Gawat, rupanya Aisha adalah nyonya Altezza???!" Ucap Marley dalam hati.
"Kamu...?" Ucap Marley dan menatap kembali Aisha, sedangkan Aisha hanya tersenyum.
"Kalau begitu, maafkan atas kelancangan saya nyonya muda" tiba-tiba Marley bersikap formal, Aisha pun tak percaya jika Marley juga bisa bersikap profesional. Bahkan Aisha menganggap, Marley jauh terlihat lebih gentle saat seperti ini di banding saat berada di kampus.
"Santai saja" ucap Aisha.
Mereka pun langsung berunding akan kerja sama mereka tanpa ada basa-basi, Marley juga tak tahu jika Aisha adalah nyonya Altezza. Karena dirinya juga datang atas perintah dari ayahnya untuk datang menemui nyonya Altezza di cabang perusahaan G.A milik Altezza. Karena Marley adalah penerus perusahaan NYK, dalam dunia bisnis Marley sangat mengerti tentang Altezza tetapi tidak dengan adanya berita seorang wanita yang dekat dengan Altezza.
Tak lama kemudian, acara tanda-tangan kontrak sudah selesai. Marley segera kembali dan tak ingin mencari masalah lagi dengan Aisha, ia takut jika Altezza tahu perusahaannya akan terancam.
Setelah kejadian itu, setiap Marley bertemu Aisha di kampus pun menjadi sungkan dan terlihat tunduk. Sedangkan Aisha bersikap seperti biasa, namun tidak bagi Marley karena seorang nyonya Altezza bukanlah sembarang orang. Apalagi jika menyangkut dengan Altezza, sebaiknya Marley cari aman saja.
Sudah satu bulan lebih, Aisha menjalani hidup tanpa adanya kepastian. Apakah Altezza masih hidup atau tidak karena tiada kabar sedikit pun dari Altezza, dirinya juga sudah berhasil mengendalikan perusahaan dengan stabil, bahkan sedikit lagi Aisha juga sudah akan selesai dengan studynya.
"Seperti ini ya hidup tanpa ada yang pasti, waktu selalu habis untuk pekerjaan dan tugas. Selebihnya rasa lelah dan sisa kesedihan saja" gumam Aisha dalam hati saat dirinya tak mampu memejamkan mata.
"Di rumah ini cukup banyak kenangan, apakah kamu mau kenangan kita sirna begitu saja?" Gumam Aisha, tiba-tiba air matanya menetes.
"Altezza, aku kangen. Sebenarnya kamu ada di mana?" Ucap Aisha dalam hati, ia pun menenggelamkan wajahnya dengan memeluk guling.
Isak tangis Aisha malam itu pun pecah, dadanya terasa sesak, hatinya tercabik-cabik. Ia tak tahu akan keberadaan Altezza, bahkan saat dirinya bertanya kepada Alex apakah Altezza sudah pulang pun tidak tahu kabar akan tanda kepulangan Altezza.
Tanpa terasa Aisha pun terlelap dengan perasaan kalut dan rasa kerinduan yang amat dalam, saat itu pula pintu kamar Aisha terbuka dan seseorang pun datang yang tak lain ialah Altezza. Aisha yang sudah terlelap itu pun tak sadar jika ada seseorang masuk kedalam kamarnya. Altezza yang melihat Aisha sudah terbaring dengan selimut pun menyadari jika Aisha sudah tertidur dengan lelap, tanpa berfikir panjang Altezza mendekati Aisha yang terlelap itu.
"Apa istriku terlalu lelah sampai tak menyadari kedatanganku?" Ucap Altezza dan mengelus kepala Aisha, ketika dirinya sudah berada di samping Aisha.
"Maafkan aku sudah membuatmu tersiksa selama ini sayang" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha, saat dirinya merasa bersalah setelah melihat wajah Aisha ada bekas tangisan.
Altezza pun kembali bangkit untuk melepaskan pakaian formalnya dan berganti dengan pakaian santai, setelah itu Altezza menyusul Aisha untuk istirahat di atas ranjang yang sama. Dan seperti biasa, Altezza memeluk Aisha dengan posisi Aisha membelakangi Altezza.
Keesokan harinya, pukul enam pagi.
Aisha terbangun dari tidurnya, ia langsung duduk dan bersandar pada dipan ranjang, ia menyadari jika tubuhnya terasa sangat lelah dan tak semangat. Dengan mengumpulkan sedikit tenaga, Aisha beranjak dari tempat tidurnya, entah mengapa ia merasa begitu malas sekali dan hawa mengantuk masih menyelimuti dirinya, bahkan menuju ke kamar mandi bagaikan mayat hidup yang tak bertenaga.
"Hahhh... Ngantuk sekali" gumam Aisha, saat dirinya hendak buang air besar.
"Hangat sekali" batin Aisha, saat dirinya sudah duduk, namun dirinya belum sadar.
Setelah habis dari ritual itu, Aisha pun bermaksud untuk menggosok gigi. Setiba di wastafel ia mengambil sikat gigi dengan malas dan menggosok giginya dengan perasaan masih ngantuk berat, tetapi saat itu Aisha juga tak menyadari jika ada sikat gigi lainnya. Setelah itu Aisha mencuci mukanya agar rasa kantuk itu sedikit berkurang.
"Kenapa ini ada di sisni, di mana facial wash milikku?" Gumam Aisha yang juga masih belum menyadari akan ada keganjalan di sana.
"Ah, ketemu" ucap Aisha. Ia pun langsung mencuci mukanya dan mengeringkannya dengan handuk.
"Eh tunggu, sepertinya ada sesuatu. Tapi apa ya" gumam Aisha saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.
Aisha pun mengingat kembali, kloset yang hangat, dua sikat gigi, sabun muka untuk pria, dan lantai kamar mandi yang basah. Aisha pun kaget dan kembali ke kamar mandi untuk mengecek. Dengan perasaan tak percaya Aisha keluar dari kamar mandi kembali dan mempercepat langkahnya, ia melihat ranjang namun tak ada Altezza di sana tapi Aisha melihat ada jas milik Altezza tergantung di sudut lemari kecil, tanpa berfikir panjang Aisha pun bergegas keluar untuk mencari Altezza.
"Altezza, apa kamu benar-benar sudah kembali?" Ucap Aisha dalam hati, matanya pun berbinar.
Di ruang kerja tak ada, di ruang TV pun tak ada, di balkon utama tak ada. Aisha semakin tak sabar untuk mencari keberadaan Altezza, Aisha pun mencoba untuk mencari Altezza di lantai bawah. Saat Aisha hendak melangkah, tiba-tiba ia melihat Altezza tengah menaiki anak tangga dari kejauhan.
"Hah?" Aisha tak percaya saat dirinya benar-benar melihat seorang pria yang ia cintai sudah kembali, air matanya pun mengembun, perasaan haru dan bahagia sudah tak terbendung lagi. Altezza yang menyadari jika Aisha tengah menatapnya pun mempercepat langkah kakinya. Setelah tiba di lantai dua, Altezza pun tersenyum kepada Aisha yang sedari tadi berdiam diri dan terus menatapnya tanpa mau mendekati dirinya.
"Altezza?" Gumam Aisha, air matanya pun jatuh, ia langsung lari menghindari Altezza dan kembali ke dalam kamar.
"Aisha?'" ucap Altezza, saat Aisha tiba-tiba menjauhinya.
"Aku, aku terlalu senang dia kembali. Tapi..." Ucap Aisha dalam hati dan menyeka air matanya.
Ceklek... Pintu kamar pun terbuka, Aisha yang menyadari itu langsung menoleh karena itu sudah pasti Altezza.
"Aisha, kamu..." Belum sempat Altezza meneruskan ucapannya, tiba-tiba Aisha sudah menubruknya dengan pelukan erat, tangis Aisha pun pecah di sana.
"Aisha, maafkan aku" ucap Altezza dengan lembut, ia pun membalas pelukan Aisha dengan hangat penuh dengan kasih sayang.