Just Married

Just Married
episode 45: Di Awal Pagi Hari



New York, Amerika.


Sally memilih pulang di kediaman kakeknya yang berada di New York untuk mengurus suatu masalah yang harus segera ia selesaikan.


Glen yang merupakan mantan pacar Sally, sebenarnya keluarga Glen menjodohkan Glen dengan Sally sebagai pernikahan aliansi. Sedangkan keluarga Sally menerima Glen lantaran balas budi, atas apa yang pernah terjadi dulu di sisi lain Glen dan Sally juga memiliki perasaan, tetapi itu dulu sebelum Glen bermain api dengan Hilda.


Namun perusahaan keluarga Sally semakin berkembang pesat dan melebihi perusahaan Glen, hingga terbesit pemanfaatan balas budi untuk merebut perusahaan keluarga Sally melalui perjodohan.


Namun beruntung, Sally telah putus dengan Glen, lantaran mengetahui Glen telah berselingkuh dengan wanita lain. Setelah sekian lama mencampakkan Sally, Glen datang kembali seperti ada yang janggal. Dan benar saja, keluarga Glen tak henti-henti nya untuk tetap meneruskan perjodohan itu. Sekalipun Sally menolak bahkan orang tua Sally sudah mengetahui itu pun enggan untuk meneruskan perjodohan itu.


"Poppy, aku tidak mau dengannya" ucap Sally, saat menemui ayahnya di dalam perpustakaan sekaligus tempat kerja ayah Sally.


"Aku tahu, sayang. Poppy akan menyelidikinya, tetapi entah ada apa dengan Glen. Akhir-akhir ini dia membuatku gila" ucap Ayah Sally.


"Ada apa?"


"Karena kamu menolaknya, perusahaan Glen terus menyerang perusahaan kita, sayang. Kita perlu orang yang kuat untuk menyelamatkan perusahaan kita" jelas ayah Sally.


"Apa? Apa yang terjadi poppy?"


"Sayang, kamu masih ingat akan janjimu? Mungkin poppy akan kehilangan perusahaan kita, tapi poppy tidak ingin kehilangan kebahagiaanmu nak. Sekarang aku sudah lihat usaha kamu sampai sekarang, tetapi yang membuatku heran adalah, kenapa kamu sekarang tinggal di apartemen kelas VIP. Padahal poppy telah sengaja menunjangmu dengan uang hanya sedikit"


"Poppy, itu berkat tuan muda Altezza. Dia lah yang menopang kehidupan Sally di sana"


"Bagaimana bisa, sayang?"


"Ini berkat Aisha, poppy. Dengannya aku belajar banyak, ah pokoknya Aisha benar-benar merubahku, bahkan Sally ikut kena berkahnya poppy" seru Sally.


"Baiklah. Tapi, Sally. Kamu harus ingat akan janji kamu, kamu harus benar-benar bisa berdiri dengan kakimu sendiri" tandas ayah Sally.


"Tentu, poppy" ucap Sally dengan semangat yang membara


"Baiklah. Kita turun, sepertinya makan siang sudah tiba" ucap ayah Sally sembari merapikan meja kerjanya.


"Oke" seru Sally, ia pun ikut membantu membereskan tempat kerja ayahnya.


Tak lama kemudian, mereka selesai dan akan segera turun. Terdengar teriakan sang mama sebagai tanda makan siang telah siap.


"Tuh, mommy kamu. Sudah seperti jam beker saja" ucap ayah Sally, saat mereka berjalan bersama.


"Hihihi, tapi ini yang aku sukai dari mommy. Cerewetnya mommy sebagai wujud kepeduliannya. Poppy harus bersyukur" tandas Sally.


"Oh tentu" seru ayah Sally, saat mereka telah sampai di ruang makan. Ayah Sally pun mengecup kening mamanya Sally.


"Cieee... Sayang juga toh sama jam beker" Goda Sally.


"Eh, apa?" Ucap mama Sally yang sedikit bingung akan ucapan Sally.


"Tidak, sayang. Jangan dengarkan ayam unggas kecil kita" ucap ayah Sally.


"Sembarangan kamu ini, anak sendiri di katain unggas kecil" ucap mamanya Sally.


"Tadi mom, poppy bilang..."


"Sayang, aku lapar" sela ayah Sally yang sudah duduk, takut jika istrinya marah jika Sally mengatakan seperti ucapannya yang sebelumnya.


"Bilang apa?" Selidik mama Sally.


"Poppy bilang, poppy bersyukur punya mommy" ucap Sally yang sudah duduk dan membuka piring itu.


"Benarkah?"


"Tentu, sayang" imbuh ayah Sally sembari menyodorkan piring, bermaksud untuk di ambilkan nasi oleh mamanya Sally.


"Uhuk uhuk... Ehem" Sally dengan sengaja memberi isyarat kepada ayahnya.


"Poppy, kau berhutang padaku" ucap Sally dalam hati sembari mengisyaratkan menggesekkan ibu jari dengan jari telunjuk sebagai tanda uang.


"Oh, tidak. Sally memerasku" batin ayah Sally saat mengetahui anaknya memberi kode tanpa paten.


Sedangkan mama Sally hanya sibuk melayani sang suaminya itu dengan setulus hati, namun saat mengetahui mimik muka sang suami. Dengan spontan mama Sally menanyakan kenapa, namun jawaban dari sang suami hanyalah tidak apa-apa.


Mereka bertiga pun memulai acara makan siang, hari itu kakek Sally sedang berada di kediaman adiknya ayah Sally. Lantaran mengunjungi cucu yang baru lahir kemarin pagi. Sedangkan nenek Sally, sudah meninggal dua tahun yang lalu.


Perusahaan G.A, perusahaan milik Altezza yang berada di kawasan Manhattan.


"Apakah, dia tak dapat tidur karena merindukanku?" Gumam Altezza yang masih duduk di dalam ruang kerjanya


"Kenapa aku bisa gila seperti ini? Waktu cepatlah berlalu" gumam Altezza.


Tok tok tok


Leon langsung membuka pintu dan menerobos masuk.


"Bos. Sepertinya dugaan bos benar" ucap Leon sembari membawa berkas-berkas.


"Lakukan, apa yang seharusnya kamu lakukan" perintah Altezza.


"Baik, bos" ucap Leon sembari menyerahkan berka-berkas itu.


"Leon" panggil Altezza, saat Leon hendak keluar.


"Kita pergi ker restoran A, kita akan bertemu dengan seseorang" ucap Altezza yang sudah berdiri dan mengenakan jas.


"Baik, bos" ucap Leon.


Mereka berdua pun bergegas keluar dan menuju lokasi, dimana Altezza perintahkan. Leon dengan sigap menemani sang tuannya.


Sedangkan di waktu yang bersamaan, Aisha yang tengah tertidur pulas itu tengah memimpikan Altezza yang sedang memeluk dirinya, lantaran rindu karena ia tinggalkan di Manhattan.


"Emmm... Aku juga merindukanmu, Altezza bodoh" ucap Aisha yang tengah ngelindur itu, sembari memeluk guling yang begitu nyaman.


Tanpa sengaja, mama Hani yang melihat itu pun kaget, lantaran nama yang baru saja Aisha ucapkan bukanlah Gibran melainkan Altezza.


"Siapa, Altezza itu?" Gumam mama Hani saat mengamati anaknya yang sudah tertidur pulas.


"Ya Tuhan, semoga kedepannya tidak ada masalah" do'a mama Hani, karena khawatir akan hal yang tak ingin terjadi. Karena setahu mama Hani, adanya Elan dan sekawanannya itu atas perintah Gibran yang selama ini Aisha cari, namun sepertinya Aisha telah jatuh cinta dengan pria lain.


"Sudahlah, lebih baik aku cepat tidur" gumam mama Hani, ia pun menutup pintu kamar Aisha dengan perlahan dan segera kembali ke kamarnya.


Mama Hani kepikiran akan hal itu, apa yang harus ia lalukan? Jika keadaannya seperti ini, mana mungkin mama Hani mengekang hak Aisha untuk memilih Ginran. Tetapi Gibran telah melakukan banyak upaya untuk membantu keluarganya.


Bahkan Gibran tak segan-segan memberikan sebuah kios yang cukup besar untuk usaha mama Hani. Bahkan Gibran sendiri lah yang meyakinkan, jika Aisha tidak akan menolaknya.


Mama Hani kepikiran, sudah merasa khawatir. Hingga cukup lama, akhirnya mama Hani terlelap dengan perasaan tak tenang sebagai naluri seorang ibu.


Drrttt...


Ponsel Aisha bergetar, Aisha yang masih malas untuk membuka mata hanya meraba-raba untuk mencari dimana letak ponselnya.


"Halo?" Ucap Aisha dengan nada malas karena masih mengantuk.


"Pagi, sayang" suara di balik ponsel Aisha.


"Altezza? Ini jam berapa?" Aisha merasa kesal.


"Calon istriku, kamu harus membiasakan diri untuk bangun lebih awal"


"Omong kosong apa itu, aku masih lelah" ucap Aisha.


"Sayang, lelahmu sekarang tak kan sebanding nanti jika kita sudah punya anak" goda Altezza.


"Hei, bicara macam apa itu? Aku masih kuliah, aku masih ingin berkerja. Siapa yang mau cepat-cepat punya anak?" Ucap Aisha kesal dengan nada yang sedikit keras, bahkan Aisha bangun dengan mata yang terang benderang tanpa ada rasa kantuk sedikitpun.


"Hihi... Sudah bangun, sayang?"


"Eh? Kamu, kamu sengaja?" Aisha kesal, ia menyadari jika Altezza menggodanya agar Aisha cepat bangun.


Altezza hanya tertawa kecil, Aisha melirik jam dinding tepat di atas pintu kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi.


"Eh, Altezza. Ternyata sudah jam lima pagi, terima kasih sudah mebangunjan aku" ucap Aisha kemudian


"Aku kangen sayang, kangen masakan kamu" rengek Altezza yang berubah super manja.


"Hei, bodoh. Sudahlah, aku mau masak bikin sarapan. Mumpung mama belum bangun" ucap Aisha, lantaran suasana masih terdengar sunyi.


"Pakai earphone mu, sayang"


"Tidak akan"


"Pakai earphone atau aku akan datang menyusulmu dan menikahimu saat itu juga?"


"Haih... Baiklah, baiklah" Aisha mencari earphonnya di atas meja rias. Saat menemukannya, Aisha pun langsung memasang earphone dan memakainya di telinganya.


Aisha berjalan keluar dan menuju dapur, untuk memasak. Dan benar saja, mama Hani belum bangun, padahal biasanya mama Hani jam segitu sudah bangun.


"Mungkin mama kecapekan" gumam Aisha. Ia pun sudah berada di dapur, namun saat ia melihat kamar mandi, Aisha ingin cuci muka supaya lebih segar.


"Altezza, aku cuci muka sebentar ya" ucap Aisha, tanpa menunggu jawaban dari Altezza, Aisha segera melepas earphonenya dan meletekakan ponsel di meja, kemudian Aisha masuk kedalam kamar mandi untuk cuci muka.


Setelah selesai, Aisha memakai earphonenya kembali. Terdengar suara tawa Altezza, entah apa yang sedang ia tertawakan.


"Hei, orang gila. Apa yang kamu tertawakan?" Ucap Aisha, ingin tahu.


"Sayang, Leon telah mengirimi sebuah video kepadaku"


"Video apa?"


"Ah, biar aku kirim. Kamu tunggu"


Aisha mulai membuka lemari es dan mencari bahan untuk di masak, Aisha dengan segera mengeluarkannya. Dan saat itu juga, video dari Altezza pun sudah masuk. Aisha ingin tahu, video apa yang ia lihat, sampai-sampai membuat Altezza tertawa seperti itu.


"Bhuahahahaa... Ahahaha..." Tawa Aisha memecahkan suasana hening pagi, bahkan Altezza kaget di buatnya. Baru pertama kali itu Altezza mendengar Aisha tertawa keras.


Mama Hani dan juga Alex yang mendengar tawa Aisha pun kaget dan buru-buru menemui Aisha. Saat melihat Aisha yang sedang berdiri, telinga yang menggunakan earphone, bahkan tawanya lepas tertuju sebuah ponsel yang ia pegang bahkan tangan kanannya menggenggam pisau, dengan celemek yang sudah membalut di tubuhnya.


Aisha terkejut dan melongo saat melihat mama Hani dan juga Alex meamandang dirinya yang sedang tertawa absurd itu.


"Mama?" Ucap Aisha yang masih melongo.


"Apa kakak sudah gila, ma?" Tanya Alex.


"Hus, jangan bicara sembarangan" ucap mama Hani.


"Hahahahaa..." Terdengar ditelinga Aisha, menandakan Altezza tengah tertawa, tentu saja sedang menertawakan Aisha yang telah di katain Alex.


"Apa yang kamu tertawakan?" Ucap Aisha dengan datar.


"Alex, seperti itu kah bentuk adikmu itu, sayang" ucap Altezza yang masih tertawa kecil.


"Aisha, kamu bicara sama siapa nak?" Ucap mama Hani yang belum tahu jika Aisha tengah berbicara dengan seseorang di balik ponselnya.


"Diam kamu" ucap Aisha kesal, saat mendengar Altezza tertawa lagi.


"Apa?" Ucap mama Hani, merasa tersentak.


"Ma, maaf ma. Ini, Aisha tidak bermaksud menggertak mama. Aduh, dasar Altezza bodoh. Kamu membuat mamaku salah paham nih" ucap Aisha yang kemudian menutup teleponnya.


"Oh, jadi kamu lagi teleponan" ucap mama Hani dengan lega, bahkan mengelus dadanya karena saking leganya.


"Hehe, iya ma. Maafkan Aisha ma" ucap Aisha cengengesan.


"Lalu apa yang membuatmu gila seperti ini?" Timpal Alex.


"Heh... Bocah kecil ini" wajah datar Aisha melirik Alex.


"Ah, ma. Sini lihat deh ma" seru Aisha dan berjalan menghampiri mamanya, bermaksud untuk menunjukkan sebuah video yang Altezza kirim tadi.


Viedo itu hanya berdurasi kurang lebih satu menit, di dalam video itu terlihat beberapa siswa yang tengah mengangkat seorang siswa dengan posisi tengkurap dan memperagakan seorang hero, mereka yang mengangkat siswa itu berlarian kecil di dalam kelas, namun sayang salah satu siswa yang mengangkat yang kebetulan posisi paling di depan itu terpeleset dan jatuh, sehingga yang lainnya ikut terjatuh, bahkan siswa yang mereka angkat pun ikut meluncur bak pesawat terbang yang lepas landas.


Mama Hani yang melihat itu pun tertawa terpingkal-pingkal. Alex yang ikutan melihat, hanya tersenyum kecut.