Just Married

Just Married
episode 57: Gangguan



Sudah satu minggu Aisha melewati hari-hari tanpa Altezza. Aisha sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu, meskipun terkadang malam menyisakkan kerinduan bagi dirinya. Namun, ia masih mampu untuk terlelap dengan tenang. Daripada sebelumnya, di setiap tidurnya memiliki rasa gelisah, tiada kekasih di sisinya.


Sore itu, Aisha tengah menunggu sahabatnya, Sally. Mereka tengah mengatur janji untuk sekedar melepas kepenatan dalam pergulatan dunia kampus, yang kebetulan Sally ada waktu yang cukup luang untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya, Aisha.


Terlihat sebuah taksi berhenti tepat dihadapan Aisha, di saat pintu sudah terbuka. Aisha langsung mengenalnya, ya dialah Sally. Mereka pun berpelukan kemudian berjalan memasuki sebuah pusat perbelanjaan bersama. Sepertinya Aisha memang sudah melupakan akan perasaannya yang jauh dari seorang kekasih.


"Eh, eh. Itu bukannya tunangannya Altezza?" Bisik-bisik di suatu tempat, setelah Aisha dan juga Sally sudah berada di pusat perbelanjaan.


"Sialan. Wanita murahan itu, akhirnya ketemu juga di sini" pekik Amy.


Ternyata Amy dan teman-temannya berada di sebuah tempat untuk mengobrol, mereka tanpa sengaja melihat Aisha dan juga Sally tengah berjalan bersama.


"Hemmm. Apa kalian ingin mencoba sebuah permainan?" Seru seorang perempuan yang baru saja datang dan bergabung dengan Amy.


"Hilda?" Ucap Mary, ketika melihat Hilda tiba-tiba datang.


"Aku tidak menyukai temannya itu. Jika kalian ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan, aku bisa membantu kalian" picik Hilda.


"Oh... Yah, tentu saja aku mau" seru Amy, dan terlihat sangat semangat.


"Tenang. Aku sudah merencanakannya, tunggu saja giliran kalian" ucap Hilda dengan wajah piciknya.


"Tapi... Jika kita ketahuan Altezza, bagaimana?" Ucap Mollie yang tengah mengingatkan, lantaran ia dengar-dengar Altezza bukan pria yang mudah memberi ampun.


"Aku dengar, dia sedang tidak ada di Amerika" ucap Hilda dengan senyum kecut.


Sedangkan di sisi lain, Aisha dan juga Sally tidak tahu akan bahaya yang telah mengintainya, lantaran Hilda sangat membenci Sally. Begitupun dengan Amy, yang memebenci Aisha. Amy merasa, bahwa Aisha telah merebut Altezza darinya.


Aisha berjalan dengan Sally, begitu riangnya. Mereka memutuskan untuk mampir di sebuah stand minuman yang mereka sukai. Disana mereka memesan dua gelas cup minuman, ketika minuman itu datang, mereka mulai bercerita dan saling bertukar pikiran satu sama lain. Lalu, tiba-tiba Amy datang seorang diri menghampiri Aisha.


"Kau? Ada apa kesini?" Ucap Aisha, merasa tidak suka akan kehadiran Amy.


"Ya mau duduklah" ucap Amy dengan angkuh.


"Oh, mau duduk. Sally, kita pindah ketempat yang lain" ajak Aisha.


"Sialan" pekik Amy dalam hati.


Tanpa aba-aba, Amy yang melihat kesempatan itu pun memanfaatkan Aisha yang tengah berdiri dan memegang sebuah gelas cup minuman dingin. Amy meraihnya dan langsung mengguyurkan minuman itu diwajahnya sendiri. Sontak, semua orang yang ada di sekitar sana, menoleh lantaran teriakan Amy cukup keras.


"Sial. Trik sampah lagi" pekik Aisha dalam hati.


"Apa-apan ini, kamu sengaja ya" pekik Sally.


Amy hanya melanjutkan sandiwara, seolah-olah Amy menjadi korban disana. Mary dan beberapa teman lainnya datang menghampiri Amy, kecuali Hilda.


"Kamu jahat sekali, Amy kesini buat minta maaf. Malah kalian perlakukan seperti ini" ucap Mary dengan suara lantang.


Aisha hanya diam dan memperhatikan sandiwara itu.


"Kenapa kamu diam?" Timpal Keyna.


"Hei dua wanita murahan, kalian memang tidak punya hati ya" terdengar suara perempuan yang cukup lantang.


Refleks membuat Sally menoleh, lantaran ia seperti mengenal suara itu. Di saat Sally melihat perempuan yang tengah berdiri dengan pakaian begitu seksi. Sally ingin marah, namun Aisha tetap menahan Sally untuk tidak meladeninya.


"Sally, sebaiknya kita pergi" bisik Aisha.


Aisha dan Sally pun melangkah untuk pergi, namun sialnya, langkah mereka tertahan dengan ucapan kasar yang di lontarkan oleh Hilda.


"Aisha, jangan pergi. Mentang-mentang kamu sudah berhasil naik di atas ranjang tuan muda Altezza. Jadi merasa sok hebat kamu ya. Ingat, kamu itu hanya simpanan. Simpanan" ucapan Hilda berhasil membuat semua orang yang ada di sana mulai berdesas-desus tentang Aisha meskipun tidak ada yang mengenal siapa Aisha, namun nama Altezza cukup terdengar familiar dan cukup dikenal di kota itu.


"Aisha..." Sally merasa cemas, ketika melihat Aisha merasa terintimidasi.


"Hilda, jaga ucapanmu. Kamu itu yang wanita murahan" pekik Sally.


"Oh. Kamu ingin menjadi pahlawan, untuk temanmu itu?" Ucap Hilda.


"Hilda..." Pekik Sally.


Pyurrrr... Tiba-tiba Aisha yang sebelumnya merampas minuman Sally dan langsung berjalan ke arah Hilda dan langsung menghujani Hilda dengan isi minuman, lantaran Aisha merasa tersinggung. Karena keadaan memang Aisha tidur satu ranjang dengan Altezza, tetapi bukan berarti Aisha menyerahkan diri kepada Altezza, apalagi dituduh sebagai wanita simpanan.


"Aku peringatkan, jaga ucapanmu" bentak Aisha.


"Hei, kamu. Dasar tidak tahu malu, sudah menyiram Amy, kamu malah menyiram kembali orang lain, dasar wanita tidak tahu diri" pekik Mary.


"Memangnya kamu tahu diri, hah? Amy, kamu mau coba untuk menggangguku? Apa kamu ingin aku membongkar sebuah rahasiamu?" Ucap Aisha dengan penuh tekanan mengancam.


"Sial. Wanita ini benar-benar ular" pekik Amy dalam hati.


"Hilda, kamu memang benar. Aku berhasil naik di atas ranjang Altezza, lalu apa urusanmu? Justru aku ingin bertanya, kepadamu" Aisha berjalan menghampiri Hilda lebih dekat.


"Hilda, sudah berapa pria yang kamu tiduri, atau lebih tepatnya, sebenarnya anak siapa yang kamu kandung itu?" Tekan Aisha.


"Sial. Bagaimana dia bisa tahu" pekik Hilda dalam hati.


Sebelumnya, Aisha pernah tanpa sengaja melihat Hilda bersama dengan pria lain, dan pria itu bukan Glen. Bahkan Aisha pernah melihatnya tidak hanya satu kali, tapi beberapa kali. Disaat Aisha menghadiri sebuah acara dengan Altezza di sebuah hotel. Memang kebetulan, justru Aisha merasa bersyukur telah hadir di acara-acara tersebut.


"Aisha? Bagaimana dia bisa tahu?" Gumam Sally dalam hati, ia penasaran darimana Aisha tahu.


"Aku peringatkan kalian, tidak akan lama lagi jagat maya akan penuh berisi tentang kalian. Marry, jangan kira aku tidak tahu kebusukanmu itu" tandas Aisha.


Aisha menggandeng tangan Sally, dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu, semua orang bubar. Meskipun Aisha telah menerima resiko, bahwa dia akan menerima gunjingan, toh itu bukan di negaranya. Banyak orang tak mengenalnya, tetapi ia mulai dilema akan bahaya yang akan mengintainya.


"Aisha. Aku penasaran, bagaimana kamu bisa tahu?" Bisik Sally.


"Husttt... Sebenarnya aku tidak tahu, tetapi Hilda itu memang benar. Aku hanya sedikit menekannya, agar kita bisa segera pergi dari sana" bisik Aisha.


"Apa?" Sally tak percaya.