
Malam hari, di kediaman Altezza. Tubuh Sally sudah terlihat bugar kembali, malam itu mereka tengah menikmati hidangan makan malam bersama. Malam itu, Aisha meminta Sally untuk tetap tinggal di villa lantaran ia masih khawatir. Laporan-laporan penyergapan itu pun sudah tuntas sepenuhnya, bahkan Altezza sudah menghapus semua jejak-jejak dalam penyergapan. Altezza memang cerdik dalam membuat strategi bahkan ia dapat membaca rencana strategi orang dengan waktu yang cepat.
Drrrtttt... Drrttt... Ponsel Altezza kembali bergetar, kali itu bukan Liana melainkan laporan seseorang dari anak buah.
"Bos. Nona Liana..."
"Katakan?"
"Nona Liana, membuat masalah di bar. Nona tengah mabuk dan kini di tahan oleh pemilik bar"
"Dimana?"
"Di bar NCC" Altezza langsung menutup telfon, ia pun berdiri untuk pergi.
"Mau kemana?" Ucap Aisha.
"Menyelesaikan masalah" ucap Altezza.
"Liana?" Tebak Aisha.
Altezza dapat menangkap dari raut wajah dan dari sorot mata Aisha, sudah pasti Aisha akan merasa berat. Altezza menghela nafas dan menunduk rendah di hadapan Aisha dan mencium pipi Aisha.
"Sayang. Aku akan cepat kembali" ucap Altezza.
"Iya"
Altezza pun bergegas dengan di susul Leon dan juga paman Edo. Di ruang makan itu yang tersisa hanyalah para wanita, sedangkan paman Albert tengah mengantarkan tuannya sampai di luar rumah. Sally menangkap ada hati yang berat dari dalam diri Aisha, Sally yang duduk di sebelahnya itu pun menyentuh tangan Aisha.
"Sha? Apa kamu sedang ada masalah?" Bisik Sally.
"Tidak, Sally" ucap Aisha.
Lala merasa geram, lantaran melihat Aisha terlihat sedih karena Liana. Lala berfikir bagaimana caranya untuk menghibur nonanya itu.
"Nona, eh maksudku kak Aisha. Jangan khawatir, kami tahu persis bagaimana tuan. Ya kan, Lulu?" Ucap Lala dan menyenggol Lulu.
"Iya. Kakak tak perlu khawatir, nama kak Aisha sudah tersebar luas di dalam keluarga tuan muda. Liana hanya sedikit beruntung dari kami saja, selebihnya dia tidak ada bedanya dengan kami" jelas Lulu.
"Ehem..." Bibi Lin, memberi kode kepada Lala dan Lulu agar tidak berbicara banyak.
Aisha dapat membaca itu, pasti ada sebuah rahasia tentang keluarga Altezza yang belum ia ketahui. Nama orang tua Altezza pun sampai kini Aisha belum tahu, lalu dari kalangan apa Altezza itu.
"Lulu? Apa maksud ucapanmu itu?" Selidik Aisha.
"Nona..." Belum sempat bibi Lin berbicara sudah di sela oleh Lala.
"Kak, kak Aisha harus tahu. Liana itu hanya anak pungut seperti kami, namun kecerdasannya membuat orang tua tuan muda terdesak untuk menjadikan dirinya anak angkat orang tua tuan muda. Liana itu, benar-benar licik sejak dulu. Sejak kami datang, Liana sudah membuat rencana untuk kami" tandas Lala.
"Iya. Tapi kami senang mengabdi untuk tuan muda, walau sikap tuan muda sangat dingin. Tapi kami senang, tuan muda tak pernah membentak kami sedikitpun. Bahkan tuan muda selalu menolong kami, dan menjamin pendidikan kami yang terbaik" imbuh Lulu.
"Jadi... Seperti itukah Altezza? Tapi memang benar, sejauh ini aku tak pernah melihat dia bersikap kasar terhadap bawahannya" batin Aisha, entah kenapa jantungnya berdegup kencang.
"Tapi kak, Liana itu benar-benar licik. Lala siap akan melindungi kak Aisha, karena bagi kami. Hanya kak Aisha yang pantas untuk tuan muda" ucap Lala dengan semangat yang tinggi.
Ucapan Lala itu mampu membuat Aisha tertekan akan adanya ancaman besar, tetapi di sisi lain Aisha tersipu dengan pujian Lala. Karena memang, Aisha sangat mencintai Altezza. Ia hanya ingin Altezza lah yang menjadi pelabuhan terakhir hingga di masa tuanya dan kematiannya nanti.
"Aku setuju dengan Lala. Kamu memang sangat serasi dengan Altezza, aku pun siap membantumu jika si Liana itu berani mencoba untuk melukaimu" ucap Sally.
"Terima kasih, Sally" ucap Aisha, ia pun memeluk sahabatnya itu.
"Ehhh, aku ikut" rengek Lala, ia pun buru-buru lati dan ikun nimbruk memeluk Aisha dan juga Sally.
Sedangkan di bar NCC, Altezza turun dari mobil dan masuk kedalam bar itu. Kehadiran Altezza membuat gempar disana, lantaran wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang sangat memesona. Namun, sikap Altezza begitu sangat dingin. Sehingga tak sedikit yang menyayangkan ketampanan Altezza.
"Tuan... " Seorang wanita penghibur mencoba untuk mendekati Altezza.
Dengan tatapan garang Altezza mengacuhkan wanita itu, ia pun langsung mendorong wanita itu hingga terjatuh. Altezza acuh dan terus berjalan menuju sebuah ruangan yang telah di tunjukkan oleh anak buahnya yang telah menunggunya. Setibanya di sebuah pintu di lantai tiga, Altezza di sambut beberapa pria berbadan kekar. Namun karisma Altezza mampu menundukkan beberapa pria itu, karena mereka merasa. Altezza merupakan seseorang yang penting dan berpengaruh.
Ketika masuk, Altezza melihat Liana dengan pakaian terbuka yang dapat menggoda mata lelaki. Bahkan sikap Liana karena mabuk itu pun bersikap agresif dan menggoda kepada pria yang ada di sebelahnya, dengan menyebut nama Altezza dengan nakalnya.
"Sudah kamu apakan dia" ucap Altezza.
"Hei, santailah. Dia bergairah seperti ini, apa kelihatan aku sudah menyentuhnya?" Ucap pria itu.
"Altezza, apakah itu kamu?" Ucap Liana yang mabuk itu dan berdiri untuk menghampiri Altezza.
Namun pria itu menarik Liana dan kembali terjatuh tepat di tubuh pria itu. Tanpa sadar Liana bertingkah nakal dan sembrono.
"Itu... Altezza... Dia bodoh kan. Lihatlah... Dia tak tertarik dengan ini, apa kamu mau? Tentu saja tidak boleh... Haha..." Ucap Liana dengan menggoyangkan kedua belahan dadanya. Sontak membuat Altezza memejamkan matanya dengan geram dan kemudian menatap lekat pria yang ada disampingnya itu untuk memantau, apakah dia akan mengambil kesempatan atau tidak, sedangkan Liana begitu agresif.
"Sial. Mataku sudah ternoda, walaupun aku sudah pernah melihat belahan milik Aisha waktu tidur tetapi tak seterbuka itu. Dasar Liana sialan" gumam Altezza dalam hati.
"Cepat katakan, berapa yang harus aku ganti" ucap Altezza tegas.
"Jangan buru-buru, santai saja. Kita minum-minumlah dulu, ya kan sayang" ucap pria itu dan menyentuh manja dagu Liana.
"Leon" ucap Altezza.
"Baik" Leon langsung maju dengan langkah tegap, ia pun membaca dokumen yang sudah ia genggam.
Cukup lama Leon membaca dokumen itu, dan mampu membuat pemilik bar itu bertekuk lutut.
"Maafkan kami, tuan. Silahkan bawa nona kembali, nona ini saya belum apa-apakan dia. Tolong jangan hancurkan bisnis kami" ucap pria itu memohon.
"Baik. Tapi dengan syarat, Leon" ucap Altezza.
Leon maju dan menghampiri pria itu untuk mendatangani isi dokumen. Tanpa berfikir panjang, pria itu langsung mendatangani isi perjanjian itu. Liana langsung di bopong oleh salah satu anak buah Altezza, Altezza pun keluar dengan wajah dinginnya.
"Bawa di kedalam mobil" perintah Altezza.
Liana sudah di masukkan kedalam mobil, kemudian Altezza masuk di samping pengemudi untuk mengantarkan Liana kembali ke hotel. Dua mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi, dalam perjalanan itu Liana masih bertingkah nakalnya. Beruntung Altezza duduk di depan, jika di sampingnya entah apa yang akan di lakukan Liana.
Leon mengambil alih untuk mengemudi, lantaran Leon lebih jago dalam menyetir. Sedangkan Altezza sudah resah, lantaran ia sudah tiga jam lebih meninggalkan Aisha. Leon yang mengerti bosnya itu, menancap gas semakin kencang. Hingga tanpa terasa, mobil mereka telah berhenti di halaman villa. Paman Edo segera turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya. Altezza bergegas keluar dan buru-buru masuk untuk mencari Aisha.
"Tuan, nona..." Ucap Lala dengan cemas, ketika melihat Altezza datang dan hendak menaiki tangga.
Altezza semakin cemas, ada apa dengan Aisha. Altezza mempercepat langkahnya, sedangkan Leon mendekati Sally ketika melihat Sally tak jauh dari Lala.
"Ada apa?" Ucap Leon.
"Entahlah. Aku rasa ini jebakan" ucap Sally. Leon mengernyitkan dahinya, ia mencerna kata-kata Sally.
Di depan pintu itu, Altezza dengan perlahan membuka pintu. Matanya jeli melihat kedalam sana untuk mencari keberadaan Aisha. Dan ia menangkap Aisha tengah duduk bersandar tepi ranjang menghadap balkon. Altezza dengan berjalan perlahan untuk mengetahui Aisha yang entah kenapa duduk di sana.
"Aisha?" Panggil Altezza dengan lembut, ketika dirinya sudah hampir mendekati Aisha.
Aisha refleks menoleh kearah Altezza, betapa kagetnya Altezza. Wajah Aisha begitu basah dan sembab karena menangis, Aisha berdiri dan berlari menuju ke arah Altezza dan menubruknya di sana. Aisha pun menangis di dalam pelukan Altezza, Altezza bingung entah apa yang terjadi dengannya.
"Sayang. Ada apa?" Ucap Altezza. Namun Aisha hanya diam dan menangis.
"Rupanya, dia belum tenang" gumam Altezza dalam hati.
Altezza membiarkan Aisha menangis disana, dan bersabar menunggunya hingga merasa tenang dan mau bicara. Altezza pun mengarahkan tubuh Aisha untuk duduk di tepi ranjang, Aisha hanya memeluknya dan menangis. Setelah cukup lama Aisha menangis, Aisha pun melepaskan pelukannya itu. Aisha hanya diam dan berdiri berjalan menuju tempat yang ia duduki sebelumnya, dengan gemetar Aisha mengambil ponselnya. Aisha masih tak mampu untuk bersikap tegar, Altezza pun langsung menghampiri Aisha dan merebut ponsel yang ada digenggaman Aisha dan memeluk tubuh Aisha dari belakang.
"Aku ingin percaya denganmu, tapi sakit Altezza" lirih Aisha dengan sesenggukan.
Altezza hanya diam dan terus memeluk Aisha, ia pun membuka ponsel milik Aisha. Dan betapa kagetnya Altezza ketika ia melihat dirinya tengah dipeluk dengan pakaian terbuka oleh Liana yang tengah mabuk di dalam hotel. Wajah Altezza seketika menjadi suram, ia teringat kejadian itu ketika Liana sudah sampai di dalam hotel. Ketika Altezza mencoba untuk menutup tubuhnya dengan selimut, namun sialnya saat Altezza hendak pergi, tiba-tiba Liana memeluk Altezza dan membuat Altezza kehilangan keseimbangan dan akhirnya ia terduduk di tepi ranjang. Dan momen itu pas ketika Altezza menoleh kearah Liana tetapi wajah Liana terlalu dekat dengannya. Dan foto itu di ambil di saat yang tepat, sehingga mengesankan momen romansa.
"Sialan" pekik Altezza dalam hati.
Altezza membalikkan badan Aisha dan menumbangkan badan Aisha diatas ranjang, Altezza yang berada di atasnya itu pun hanya diam dan menatap lekat wajah Aisha. Namun Aisha selalu membuang wajahnya dari tatapan Altezza.
"Leon. Kembali ke hotel dan selidiki dengan teliti" perintah Altezza melalui telfon. Altezza pun menutup telfonnya, dan kembali pada topik wanita yang tengah cemburu buta.
"Sayang" panggil Altezza. Aisha tetap diam dan tak mau menoleh ke arahnya.
"Hei..." Suara lembut Altezza, ia pun menolehkan wajah Aisha ke arah wajahnya.
"Apa kamu cemburu?" Goda Altezza, ia pun mengusap pipi Aisha. Tetapi Aisha hanya diam tak mau bicara.
"Sayang... Leon akan menyelidikinya untukmu, sudah jangan marah begitu" ucap Altezza, Aisha tetap diam.
Altezza pun mencium bibir Aisha, tetapi respon Aisha hanya diam seperti patung. Altezza tetap berusaha untuk menenangkannya, mungkin dengan ciuman biasa atau ciuman yang lebih agresif. Entahlah, Altezza hanya sedang berusaha. Tanpa sadar, Altezza menciumi leher Aisha, ketika ciuman Altezza hendak mengarah kebawah leber, ia berhenti dari aksinya.
"Kenapa berhenti?" Ucap Aisha tiba-tiba, sontak membuat Altezza menatap Aisha yang masih tak mau menatapnya.
"Kenapa berhenti? Apa punya Liana lebih besar dan menarik?" Ucap Aisha dengan sedikit ketus.
Altezza mendengar ucapan Aisha yang sedang marah itu pun membuatnya ingin tertawa, Altezza tak menyangka. Aisha bisa semarah itu, bahkan dirinya seperti tak mau kalah dari Liana dengan memasrahkan dirinya, padahal Altezza sama sekali tak pernah menyentuh Liana.
"Sayang, tidak ada yang lebih menarik daripada belahan dadamu" ucap Altezza dengan sengaja.
"Bukankah, punya Liana lebih menarik?"
"Apa perlu aku buktikan, punyamu jauh lebih menarik. Memangnya aku tak tahu, seberapa nenarik dan besarnya punyamu?" Ucap Altezza tak mau kalah.
"Apa??" Aisha menoleh dan menatap lekat mata Altezza, dan langsung menutup dadanya dengan menyilangkan tangannya.
"Da, dari mana kamu tahu?" Ucap Aisha, karena memang milik Aisha cukup besar tetapi ia selalu sembunyikan dengan berpakaian longgar, meskipun ia memakai gaun ia tak pernah menonjolkannya.
"Setiap malam" ucap Altezza dengan entengnya, ia pun bangun dan duduk di sebelah Aisha, sedangkan Aisha langsung duduk dan menyelidiki Altezza.
"Maksud kamu, setiap malam apa?" Selidik Aisha, ia pun menutup dadanya dengan bantal.
"Kamu itu, kenapa ditutup. Aku sudah pernah melihatnya"
"Altezza" ucap Aisha cukup keras.
"Iya, setiap malam kalau kamu tidur. Aku tak sengaja melihatnya, bahkan tak sengaja menyentuhnya" ucap Altezza, mata Aisha terbelalak.
"Apa? Sudah berapa kali"
"Sering"
"Ha? Kenapa kamu tak menutupinya"
"Bagaimana mungkin, keberuntungan itu tidak boleh di lewatkan" ucap Altezza dengan entengnya.
"Sekalipun punya Liana?"
"Itu bukan keberuntungan"
"Lalu apa?"
"Bonus"
"Altezza..." Aisha pun marah dan melempar bantal kearah Altezza. Sedangkn Altezza hanya tertawa cekikikan melihat Aisha yang tengah cemburu dan merajuk. Dan berfikir Aihsa lupa, jika Altezza pernah menyentuhnya ketika hampir dirinya tak terkendali.
"Bercanda, sayang" ucap Altezza, ia pun menghampiri Aisha yang tengah menghindarinya, namun sialnya Aisha tersandar di atas tumbukan bantal.
"Menjauh dariku..." Ucap Aisha, ia pun kembali menangis. Kali ini, Aisha menangis karena cemburu dan kesal yang ke dua kalinya.
Sedangkan di sisi lain, Leon tengah pergi dengan Sally menuju hotel penginapan Liana. Bagaimana bisa? Yah, kalian tahu kan, ketika Altezza memerintah Leon. Sebetulnya saat itu Leon masih berada di ruang makan dengan Sally dan Lala untuk menikmati kopi. Jelas saja Sally yang mendengar perintah itu pun ingin tahu dan bertanya kepada Leon. Tentu saja, Leon mengucapkan sesuai apa yang di ucapkan Sally sebelumnya, jebakan.
"Sally, kenapa kamu bersikeras untuk ikut?" Ucap Leon.
"Lihat saja nanti" ucap Sally, dengan senyuman penuh ambisi.
"Yahhh, aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran seorang perempuan. Apakah dia akan melabrak? Ah, entahlah. Tetapi, dengan keadaan itu aku bisa lebih leluasa untuk menyelidikinya" gumam Leon dalam hati.