Just Married

Just Married
episode 83: Ternyata, Altezza adalah...



Ibunda Altezza sangat khawatir akan kondisi Aisha, sudah beberapa jam Aisha belum sadarkan diri. Bahkan sore itu sudah menjadi malam, Altezza pun masih enggan untuk beranjak dari sisi Aisha. Ibunda Altezza gelisah melihat kondisi Aisha, apalagi sikap Altezza yang begitu mencemaskan Aisha, persis ketika Altezza mencemaskan dirinya.


"Kakak...huuu...hu.." Lala masih saja menangis di luar kamar dimana Aisha berada, sedangkan Lulu hanya bersikap tegar dan mencoba menenangkan Lala. Karena Lala sudah pasti trauma akan kejadian seperti itu. Lulu pun sebenarnya juga terpukul dan sedih akan kejadian itu, ketika ia mendengar kabar Aisha jatuh pingsan dan tak sadarkan diri.


Sedangkan Aisha, ia masih terbaring lemah. Terkadang ia merasa tenang seperti tidur, namun terkadang juga tubuhnya seperti menggigil. Itulah yang membuat Altezza enggan untuk beranjak dari sana, padahal ibunda Altezza sudah membujuknya untuk makan agar Altezza tak jatuh sakit.


Jam sembilan lebih, tubuh Aisha memanas. Air matanya mengalir, membuat Altezza kalang kabut. Sedangkan dokter menahan rasa kantuk yang hanya berdiam diri menunggu Aisha yang masih belum sadarkan diri.


"Tidak... " Ucap Aisha yang masih belum terjaga.


"Aisha?" Ucap Altezza dan langsung menyentuh Aisha.


"Aisha?" Ucap sang ibunda Altezza.


"Tidak... Jangan..." Aisha masih mengigau.


Tanpa sadar, Altezza langsung meraih tubuh Aisha dan memeluknya, lantaran ia begitu panik melihat Aisha mengigau dan masih tak sadarkan diri.


"Altezza..." Ibunda Altezza cemas, lantaran tubuh Aisha di peluk dalam keadaan lemah dan tak sadarkan diri.


"Huuu... Tolong..." Aisha menangis dalam pelukan Altezza, namun ia masih belum sadarkan diri.


Altezza terus memeluk kekasihnya itu berharap Aisha merasakan kenyamanan yang ia berikan dan membuat Aisha kembali sadar. Sedangkan dokter, ia ingin memeriksa Aisha tetapi ia urungkan niatnya lantaran Altezza terlihat enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Cih. Kalau mau mati, mati saja sekalian. Merepotkan" pekik Liana dalam hati, ketika melihat Altezza terus memeluk Aisha. Liana pun beranjak pergi dari ruangan itu.


Lala terus berdo'a sembari menatap pintu yang dimana didalam sana ada Aisha, Lulu terus memeluk Lala dengan harapan penuh kepada Tuhan. Mereka tengah memanjatkan do'a-do'a untuk Aisha agar segera pulih.


"Jangan... Tolonggggg...." Aisha berteriak dan terbangun dari bawah alam sadarnya, ia masih menangis dan seolah-olah merasakan apa yang ada dalam mimpinya itu seperti nyata dan sangat menyakitkan.


Aisha menyadari ada suatu yang aneh, tubuhnya terasa seperti tengah di peluk oleh seseorang bahkan dirinya seperti sudah terduduk. Aisha pun menoleh untuk melihat siapa yang tengah memeluknya, Aisha pun mencium aroma yang selalu ia hirup dan rindukan, dialah Altezza.


Plukk... Dengan linangan air mata yang masih menetes itu, Aisha memeluk Altezza. Lagi-lagi Altezza selalu memberikan kenyamanan, dengan kesadaran itu pun Aisha mendapatkan kembali sebagian ingatannya yang hilang. Sedangkan Altezza belum menyadari, jika Aisha sudah sadar dari tidurnya lantaran Altezza masih mengira jika Aisha masih mengigau, sedangkan ibunda Altezza hanya terdiam dan menyeka air matanya bahkan sempat untuk menahan tawa akan kepanikan anaknya itu, Altezza.


"Gibran Abraham..." Lirih Aisha. Sontak membuat Altezza kaget, lantaran ia baru menyadari jika Aisha sudah sadar.


"Aisha?" Ucap Altezza, ia pun melepaskan pelukannya dan melihat Aisha tersenyum dengan wajah sembabnya dan bekas air matanya.


"Kamu... Gibran Abraham, kan?" Ucap Aisha dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan.


"Bukan. Aku, Gibran Altezza, sayang" ucap Altezza dengan senyum dan mata yang berbinar.


"Jangan bohong..." ucap Aisha dengan senyum terpaksa namun air matanya kembali menetes.


"Hehe. Aku, Gibran Altezza, sayang" ucap Altezza, dan menyeka air mata Aisha Altezza sendiri merasa haru dan menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk untuk jatuh.


"Kamu... Jahat, Altezza" ucap Aisha, ia pun langsung memeluk Altezza.


"Sudah berapa lama aku mencarimu, aku pikir aku tak akan pernah menemukanmu kembali" ucap Aisha dengan sesenggukan.


Ibunda Altezza menyeka air matanya, ia terharu melihat Aisha kembali sadar dan berfikir jika Aisha sudah mengingat kembali siapa Altezza. Ibunda Altezza pun keluar untuk memberikan mereka waktu. Ketika ibunda Altezza melihat Lala yang masih terlihat sedih itu pun memberi tahu kabar baik jika Aisha sudah kembali sadar. Dan menyuruh Lala untuk makan dan istirahat. Lala meneteskan air mata, lantaran ia bahagia karena do'anya telah dikabulkan.


"Aisha..." Ucap Altezza dengan lembut.


Aisha melonggarkan pelukannya, lantaran ia tak mau lagi berpisah dari Altezza. Aisha menatap lekat wajah Altezza, Altezza tersenyum haru melihat Aisha telah kembali bersama ingatannya. Dengan tatapan Altezza yang penuh makna, Altezza langsung menyerang Aisha. Ia mencium bibir Aisha dengan lembut dan hangat, tanpa sadar Altezza menitikkan air mata. Begitu juga Aisha, ia merasa sangat bahagia, lantaran pria yang ia cari dan pria yang ia cintai merupakan satu orang yang sama. Dan sepertinya, Aisha merasa bahwa ia telah mengenal Altezza sejak lama, mungkin Altezza merupakan cinta dimasa kecilnya.


"Kalau tidak salah, kamu pria kecil yang angkuh itu kan?" Ucap Aisha kemudian, setelah mereka telah selesai berciuman.


"Hehe. Dan kamu, wanita kecil yang cengeng" ucap Altezza, ia pun mencubit lembut hidung Aisha, sedangkan Aisha hanya tersenyum bahagia dengan wajahnya yang sembab.


Dan mereka pun kembali berpelukan, mengeluarkan sebagian kerinduan yang mereka simpan rapat-rapat. Lalu, sang ibunda Altezza pun kembali masuk bersama dokter, sontak membuat Aisha kaget dan langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa? Malu dengan mama? Aku bisa menyuruh mama untuk pergi" ucap Altezza yang masih enggan untuk melepaskn pelukannya.


"Eh... Bujang mama..." Ucap ibunda Altezza, ia pun menjewer telinga Altezza.


"Aduh ma, ampun..." Ucap Altezza, ia meringis kesakitan.


"Hihihi..." Aisha menahan tawa melihat Altezza seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan dan mendapatkan hukuman.


"Biar Aisha di periksa dulu, kamu ini nempel melulu dari tadi kerjaannya" ucap ibunda Altezza.


"Iya, ma iya" ucap Altezza mengalah.


Ketika Aisha di periksa dokter, Aisha memperhatikan siluit ibunda Altezza begitu mirip dengan seseorang. Kalau tidak salah, Aisha juga mengenalnya siapa ibunda Altezza. Namun, tiba-tiba kepala Aisha terasa berdenyut dan pusing.


"Auw... " Aisha meringis, sontak membuat Altezza dan ibunda Altezza kembali cemas.


"Aihsa kenapa?" Ucap ibunda Altezza.


"Itu kondisi yang wajar bagi nona Aisha, nyonya. Karena ingatan nona Aisha perlahan mulai kembali sepenuhnya" jelas dokter.


"Nyonya. Nona Aisha hanya perlu istirahat yang cukup, nanti saya akan memberikan beberapa resep dan suplemen untuk menunjang kesehatan nona Aisha. Aku rasa, nona Aisha akan baik-baik saja" ucap dokter, ia pun beranjak keluar pergi untuk mengambil beberapa obat dan minuman untuk Aisha.


"Tante?" Ucap Aisha.


"Panggil mama, sayang" ucap ibunda Altezza, ia pun mendekati Aisha.


"Hehe, maafkan Aisha" ucap Aisha, ia masih sedikit sungkan.


"Apa benar. Mama itu, tante Via? Teman mama dan papa dulu?" Ucap Aisha ingin tahu.


"Syukurlah. Akhirnya, kamu ingat mama, nak" ucap ibunda Altezza, ia pun memeluk Aisha.


"Begitu hangat dan menenangkan" batin Aisha, ia pun memeluk ibunda Altezza dengan nyamannya.


"Ternyata, pria kecil dan angkuh itu anak tan.. eh maksud Aisha, mama?" Aisha ingin tahu.


"Iya. Altezza itu anak mama, sayang" ucap ibunda Altezza.


"Sayang, kamu kan baru sadar. Kamu makan ya, biar mama yang suapin" ucap mama Via, alias ibunda Altezza. Kemudian, seorang pelayan wanita pun datang dengan nampan berisi makanan dan minuman.


"Dan kamu, Altezza. Sebaiknya kamu juga makan sana, jangan buat mama tambah pusing" ucap mama Via.


"Altezza belum makan?" Ucap Aisha.


"Iya. Sejak sore, dia nungguin kamu, sayang. Sampai-sampai mama saja di usir" ucap mama Via dengan sengaja menggoda Altezza.


"Hehe. Baiklah, sebaiknya Altezza saja yang merawatmu. Mama kembali ke kamar ya, sayang" ucap mama Via begitu lembut, ia pun mengecup kening Aisha.


"Terima kasih, mama" ucap Aisha, mama Via pun pergi meninggalkan Aisha bersama Altezza di sana.


"Baiklah. Sebaiknya kita makan" ucap Altezza, ia pun mengambil mangkuk yang berisi bubur yang masih hangat.


"Kamu mau ngapain?" Ucap Aisha.


"Suapan kamu makan"


"Kamu sendiri belum makan, Altezza"


"Iya. Aku sudah menyuruh pelayan untuk membawakan makanan, kita bisa makan bersama sayang" ucap Altezza.


"Dasar..."


"Buka mulutmu" perintah Altezza, ia sudah siap untuk menyuapi Aisha.


"Ini terlalu dekat, bodoh" keluh Aisha, lantaran Altezza begitu dekat saat hendak menyuapi Aisha.


"Jangan protes. Ayo, buka mulutmu" Aisha pun menuruti perintah Altezza, namun tiba-tiba Altezza mengecup bibir Aisha.


Klekk... Tiba-tiba pintu itu ada yang membuka.


"Eh, maaf tuan. Maaf, saya tidak sengaja" ucap pelayan itu, ia pun merasa canggung dan sungkan saat tanpa sengaja melihat pemandangan itu..


"Cepat letakkan disana, dan cepatlah keluar. Dan ingat untuk mengetuk pintu terlebih dulu" ucap Altezza datar namun terdengar tegas.


"Ba, baik tuan" pelayan wanita itu pun langsung meletakkan meja dorong yang berisi makanan, minuman dan beberapa macam buah segar. Pelayan itu pun langsung buru-buru meninggalkan mereka berdua.


"Haih... Mengganggu saja" gumam Altezza, ia pun kembali menyuapi Aisha lebih serius, karena khawatir jika ada yang membuka seperti sebelumnya sedangkan Aisha yang malu itu pun menahan tawa.


"Altezza..." Panggil Aisha.


"Hem?" Altezza masih sibuk untuk menyuapi Aisha.


"Altezza" panggil Aisha, kali ini dengan nada manjanya.


"Apa, Aisha?" Ucap Altezza.


"Peluk..." Rengek Aisha begitu manja.


"Hemmm, makan dulu" ucap Altezza.


Aisha manyun, ia pun beranjak dari duduknya. Aisha sedikit merangkak dan kemudian, ia langsung menerobos masuk dan langsung duduk di pangkuan Altezza yang masih duduk menyila di sisinya itu.


"Sayang, apa kamu sedang menggodaku?" Ucap Altezza dengan lembut. Ia pun meletakkan mangkuk itu kembali di atas nampan yang masih berada di sampingnya itu.


"Aku hanya merasa kurang nyaman. Badanku terasa lengket, Altezza"


"Hem, mau ku bantu?" Ucap Altezza dengan senyum menyerungai.


"Ah, tidak. Bukan itu" ucap Aisha.


"Lalu?"


"Lalu... Kamu makan sana, sudah malam. Aku mulai mengantuk" ucap Aisha, ia pun kembali beranjak dari pangkuan Altezza.


Altezza hanya diam, ia pun turun dari ranjang dan keluar dari ruangan itu. Beberapa saat kemudian, Lala masuk dengan membawa baskom dan handuk.


"Lala?" Ucap Aisha.


"Kakak..." Ucap Lala, ia pun segera meletakkan baskom itu dan memeluk Aisha.


"Syukurlah, kak Aisha tidak kenapa-kenapa. Kami semua khawatir dengan kak Aisha" ucap Lala.


"Oh, ya. Sebaiknya Lala cepat-cepat membersihkan tubuh kakak" ucap Lala kemudian, tanpa memberi kesempatan Aisha untuk berbicara.


Dengan telaten, Lala membersihkan badan Aisha yang lengket dengan air hangat. Aisha menyadari ada air mata yang tengah mengembun di pelupuk mata sayu Lala. Namun, Aisha hanya diam dan membiarkan Lala melakukan tugas yang mungkin perintah dari Altezza. Setelah selesai, Lala pun membantu Aisha untuk memakai piyama satin berwarna merah maroon.


"Lala?" Panggil Aisha.


"Iya?"


Aisha langsung memeluk Lala, ia tahu jika Lala begitu mencemaskan dirinya. Aisha merasa, Lala hanya trauma. Kemungkinan Lala perrnah merawat kakaknya saat sakit. Dengan senyum yang tulus Aisha pancarkan, setelah ia melepaskan pelukannya.


"Terima kasih" ucap Aisha.


"Sama-sama" ucap Lala, wajahnya kini sudah terlihat sedikit ceria dari sebelumnya. Lala pun keluar, begitu juga Altezza kembali masuk dan mendekati Aisha.


"Bagaimana? Sudah nyaman?" Ucap Altezza.


"Iya" ucap Aisha.


Altezza pun meraih meja dorong, ia bermaksud untuk makan. Karena ia merasa perutnya sudah mulai keroncongan, sedangkan Aisha hanya terduduk menyandar memandang Altezza yang tengah makan. Meskipun sesekali, Altezza menyuapi Aisha untuk makan buah segar.


"Sayang. Sudah waktunya minum obat sebelum tidur" ucap Altezza, ia pun membantu Aisha untuk meminum obat dan vitamin.


Setelah selesai makan, Altezza mendorong meja makan itu keluar dan menyuruh pelayan untuk membawanya kembali ke dapur. Setelah itu, Altezza kembali dan naik ke atas ranjang, Altezza pun menyelimutkan selimut itu pada tubuh Aisha. Barulah, Altezza ikut berbaring di sisi Aisha dan merangkul tubuh Aisha, hingga tanpa terasa mereka telah terlelap disana.


Malam itu, Aisha tengah bermimpi bertemu dengan ayahnya juga kakaknya, Ares. Dalam mimpi itu, Aisha kembali di masa kecilnya yang tengah bermain ayunan di bawah pohon mangga di halaman samping rumah mewahnya dulu. Aisha nampak begitu riang, kakaknya terus membuat Aisha tertawa dalam setiap permainan. Suatu ketika, Ares harus masuk sekolah, Aisha benar-benar sedih, tidak ada teman untuk bermain selain kak Ares.


Aisha pun memutuskan untuk pergi bermain dengan teman-teman lainnya di masa kanak-kanaknya dulu. Suatu ketika, ada seorang teman Aisha yang menangis lantaran diganggu oleh teman lainnya. Aisha pun berbaik hati untuk mencoba menenangkan temannya itu. Tetapi apa yang terjadi, Aisha malah dijauhi teman-teman lainnya lantaran Aisha telah membela seseorang yang mereka benci. Aisha ikut dibully, tentu saja membuat Aisha menangis. Ketika Aisha pulang dan melihat ayahnya tengah duduk di taman, Aisha menangis dan mengadu kepada ayahnya, sang ayah pun bertanya mengenai kejadian itu sedetail mungkin, kemudian ayah Aisha berkata.


"Aisha putri papa, dalam kehidupan ada kalanya kebaikan akan terbalaskan dengan keburukan, itulah kehidupan sayang. Aisha, tetaplah jadilah anak papa yang baik, pemberani dan kuat. Suatu saat nanti, Aisha akan menghadapi kehidupan orang dewasa seperti papa, Aisha harus hidup dengan kuat dan tetap berbuat kebaikan kepada siapapun, jika ada yang mencoba untuk mencelakai Asiha, Aisha harus cerdas melawannya untuk membela diri" ucap papa Amon sembari mengusap lembut kepala Aisha.


"Begitu ya pa? Berarti, Aisha boleh membalas teman-teman Aisha yang jahat?"


"Bukan membalas sayang, tapi untuk membela diri" ucap papa Amon.


"Aisha mengerti, Aisha sayang papa" ucap Aisha kecil dan memeluk papanya.


Sejak saat itu, jika Aisha di bully ia akan cepat tanggap untuk membela diri, sampai dewasa pun Aisha tidak mudah untuk di bully.