
Hati Aisha tiba-tiba berdebar tak menentu ketika melihat Altezza yang sudah telanjang dada, jantung Aisha berdetak dengan cepatnya, tubuh Altezza yang terlihat sangat indah mampu membuat mata wanita manapun pasti akan terpesona pada keindahan tubuh Altezza yang kekar dan elastis. Aisha yang sudah dekat dengan Altezza pun mencoba untuk mengendalikan diri untuk segera mengobati luka Altezza.
Aisha pun mulai membuka kotak p3k itu, dengan sigap Aisha membersihkan darah Altezza lalu mengobatinya. Tak butuh waktu yang sangat lama, Aisha telah selesai mengobati luka Altezza, meskipun tak begitu parah.
"Sebaiknya kamu panggil dokter untuk mengobati lukamu. Meskipun tak begitu parah, tapi..."
Brukk.. belum sempat Aisha meneruskan ucapannya, tiba-tiba Altezza menjatuhkan tubuh Aisha diatas ranjang dan menahan Aisha disana.
"A, apa yang kamu lakukan?" Ucap Aisha dan mencoba untuk bangkit tetapi Altezza tak membiarkan Aisha bangkit dari ranjangnya. Altezza pun menindih dan memeluk tubuh Aisha di sana.
"Aisha, aku tidak butuh dokter untuk menyembuhkan luka ku. Tetapi aku hanya membutuhkan kamu untuk menyembuhkannya" ucap Altezza.
"Jangan macam-macam, cepat menyingkir dariku. Dasar pria mesum" ucap Aisha memberontak.
Brakkk... Suara pintu kamar Altezza, sepertinya seseorang telah masuk kedalam kamarnya.
"Bos... Kabar ba..ik. Ahahha, maaf bos. Lain kali aku akan mengetuk pintu dulu" ucap Leon yang terperangah melihat bosnya yang sedang memeluk Aisha diatas ranjang.
"Ti, tidak perlu. Altezza lepaskan, aku mau pergi" ucap Aisha, Altezza pun melepaskan Aisha dengan berat hati.
Aisha bergegas bangun dan pergi keluar dari ruangan itu, Aisha pun langsung untuk kembali kekamar apartemennya.
"Leon" panggil Altezza, yang sudah kembali duduk diatas ranjang dengan suara tegasnya.
"Mati aku" batin Leon.
"Ba, baik, bos?" Ucap Leon.
"Potong gaji" ucap Altezza.
"Ah, bos... Maafkan aku, aku tak sengaja. Tolong jangan di potong ya, aku ada kabar bagus untuk bos" rayu Leon.
"Katakan" ucap Altezza.
"Tapi, bos. Janji ya, jangan potong gaji Leon" rayu Leon dengan memelas.
"Cepat katakan" ucap Altezza tegas.
"Baiklah, baiklah. Sebenarnya pria itu Danial, dia kesini karena ingin menjenguk nona Aisha dan memberikan sejumlah uang untuk kehidupan nona Aisha disini. Karena Danial lah yang menanggung semua kebutuhan nona Aisha selama kuliah disini" jelas Leon.
"Lalu, bagian mana kabar baiknya?" Ucap Altezza tak sabar
"Hehe, tenang bos. Sebenarnya Danial itu sahabat nona Aisha dan juga calon suaminya Deva, sahabat masa kecilnya nona Aisha" ucap Leon dengan mata yang berbinar-binar.
"Leon" panggil Altezza.
"Siap bos!" Ucap Leon penuh semangat.
Kembang api telah meriah dalam diri Leon, naik gaji bagi Leon adalah suatu anugerah dalam hidupnya. Leon berdo'a dalam hatinya, agar Aisha dan Altezza segera menikah saja. Karena Aisha pembawa keberuntungan bagi Leon, dan juga bosnya yang selama ini ia dampingi. Baru kali ini bosnya benar-benar telah berubah, semenjak Aisha telah ditemukannya.
"Aisha? Apa yang terjadi?" Ucap Sally melihat Aisha yang sudah kembali namun dengan wajah muram meskipun tak semuram sebelumnya.
"Tidak, ada apa-apa" ucap Aisha, ia pun duduk dan berbaur dengan yang lainnya.
"Lho kok ada banyak makanan ringan?" Gumam Aisha keheranan, sebab makanan yang ia beli telah terjatuh dijalan dan sudah dipastikan hancur. Tapi kenapa ada begitu banyak makanan ringan disini, bahkan es krim yang cukup banyak.
"Oh ya, Aisha. Tadi kata kak Leon, bahwa wanita yang tadi itu sebenarnya sekertarisnya. Mereka telah bekerjasama untuk membuatmu terluka" jelas Sally kemudian, yang sudah tak sabar untuk memberi kabar kepada Aisha.
"Iya, itu betul. Apa yang dikatakan Sally itu benar' timpal Deva yang tak mau kalah itu.
"Oh, jadi Leon kesini. Pasti perintah Altezza, tapi soal perempuan itu. Kenapa waktu itu aku tak pernah melihatnya sebelumnya?" ucap Aisha dalam hati.
"Wanita itu tetap cantik dan langsing ya, sekalipun telah melahirkan seorang anak. Katanya sih, sudah dua bulan cuti dan beberapa hari baru kembali untuk bekerja. Aisha, pasti kamu belum pernah melihatnya kan?" Ucap Sally.
"Belum, belum pernah" ucap Aisha, dan entah kenapa perasaan Aisha tiba-tiba merasa lega.
"Tak apa, sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya. Sekarang senyum dong, Sha" seru Deva.
"Kalian memang sahabat terbaikku, terimakasih" ucap Aisha dan memeluk Deva dan juga Sally yang selalu mendukung Aisha untuk tetap tersenyum.
"Aku gak dianggap nih?" Ucap Danial, yang sedari tadi seperti orang asing diantara tiga perempuan.
"Oh ya, Sha. Mau tahu foto-foto mama kamu gak? Sama Alex yang angkuhnya minta ampun" ucap Deva kemudian.
"Kok aku merasa dicuekin sama makhluk kebanyakan kode ya?" Gumam Danial, ia pun merasa sangat tersingkirkan.
Kesalahpahaman itu telah terselesaikan begitu cepat, Aisha merasa lega setelah mendengar penjelasan Sally. Begitu juga Altezza, sudah mengetahui kebenarannya, sosok pria yang telah membuatnya salah paham itu, meskipun Altezza sebelumnya pernah menyelidiki tentang Danial, Altezza tak pernah melihat fotonya dengan seksama, karena yang ia butuhkan hanyalah informasi tentang Danial.
Namun entah kenapa Alrezza masih merasa cemburu lantaran ia sudah tahu siapa Danial, itu semua karena sebuah foto Aisha dan Danial dulu yang terlihat sangat akrab. Tentu saja membuat Altezza enggan percaya akan Danial yang hanya sebatas sahabat Aisha.
Malam itu telah berlalu, hari pun sudah berganti pagi. Terlihat dua orang gadis yang tengah berlarian kecil, yang tak lain ialah Aisha dan juga Sally. Mereka sedang buru-buru untuk pergi ke kampus, lantaran sudah ada janji dengan profesor Crish untuk menemuinya lebih awal.
Namun, hari itu pula Altezza akan terbang kembali ke London dan meninggalkan seorang gadis di kota Manhattan. Altezza ingin sekali untuk bertemu dan berpamitan dengan Aisha, namun saat Altezza menghampiri pintu kamar apartemen Aisha dan mengetuknya, bahkan sudah beberapa kali memencet tombol pintu pun, tak ada seorang pun datang untuk membukakan pintu.
Tak lama kemudian, Leon pun datang untuk menjemput bosnya itu. Leon pun melihat bosnya tengah berdiri di depan pintu kamar Aisha, dengan segera Leon memberitahu jika Aisha dan juga Sally sudah pergi ke kampus setengah jam yang lalu.
Leon dapat memberitahu Altezza, lantaran Leon tanpa sengaja melihat Sally dan juga Aisha yang tengah menunggu taksi di pinggir jalan. Altezza hanya diam dan bergegas melangkah, dengan terpaksa Altezza pergi tanpa memberitahu kepada Aisha. Namun setidaknya, ia sudah memiliki informasi tentang Aisha dengan lengkap. Bahkan nomor handphone milik Aisha, sebenarnya Altezza sudah menyimpannya cukup lama.
Dengan berat hati, Altezza pun pergi meninggalkan Manhattan untuk menemani kekasihnya yang telah lama ia rindukan sejak dulu. Sampai di bandara pun, Altezza hanya diam dan memikirkan satu orang wanita yang akan ia tinggalkan di kota Manhattan.
"Tunggulah aku sampai kembali padamu, Aisha si gadis cengeng ku" ucap Altezza dalam hati, ia pun tersenyum ketika teringat Aisha yang pernah menangisinya.
"Apa aku tak salah lihat? Bos sedang tersenyum?" ucap Leon dalam hati, lantaran ia sangat terkejut akan sikap bosnya itu.