
"Sayang" panggil Altezza, saat mereka dalam perjalanan pulang setelah berkunjung dari kediaman nyonya Madison.
"Iya?" Ucap Aisha dan menoleh ke arah Altezza yang masih menyetir itu.
"Mau tidak, kita menginap di hotel?" Ucap Altezza.
"Ja,jangan bercanda Altezza" ucap Aisha.
"Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya khawatir jika kamu merasa bosan dengan suasana kamar itu" ucap Altezza dan mengacak-acak rambut Aisha.
"Iish... Altezza" ucap Aisha saat rambutnya di acak-acak oleh Altezza.
"Aku tak percaya, kamu pasti hanya modus kan?" selidik Aisha.
"Jadi, kamu berharap aku benar-benar melakukannya padamu?" Ucap Altezza.
"Me, melakukan apa?"
"Melakukan itu"
"Omong kosong, aku tidak akan pernah melakukannya sebelum kita menikah" bela Aisha dengan cepat.
"Aku tahu" ucap Altezza.
"Baguslah kalau sudah tahu"
"Jadi?"
"Apa?"
"Menginap di hotel?"
"Tidak"
"Yaa, baiklah" ucap Altezza yang kemudian menancap gas dengan cepat.
Setibanya di rumah, Altezza tak langsung masuk kedalam kamar, ia pergi entah kemana Aisha tak tahu juga tak peduli. Karena Aisha hanya ingin segera mencuci muka dan berganti baju yang lebih santai, ia juga segera membuat coklat hangat untuk dirinya, entah kenapa tiba-tiba Aisha memikirkan akan lezatnya secangkir coklat hangat.
Setelah membuat coklat hangat, Aisha duduk di ruang tengah lantai satu sembari memainkan ponselnya, di sana ia tertawa dengan sendirinya seperti orang kesurupan. Tak ada yang menemani dirinya di sana. Karena Lala dan Lulu yang biasanya ingin tahu jika Aisha tertawa, saat itu tak ada batang hidungnya sedikitpun, tapi Aisha tak peduli yang terpenting malam itu ia terhibur dengan video-video lucu dari hewan berbulu, yaitu kucing.
"Istriku sedang apa, sampai tertawa begitu" tiba-tiba Altezza sudah duduk di sisi Aisha bahkan dirinya sudah mengganti pakaian yang lebih santai pula.
"Altezza? Kamu datang sejak kapan? Kok aku tidak mendengarnya" ucap Aisha.
"Istriku terlalu senang, tentu tidak akan mendengar" ucap Altezza dan mengecup kening Aisha.
"Coba deh kamu lihat" ucap Aisha kemudian menunjukkan sebuah video dari ponselnya.
Altezza yang melihat video itu pun hanya tertawa kecil, dirinya baru tahu jika ada kucing yang menggemaskan seperti itu apalagi dengan tingkah yang di luar nalar manusia.
Beberapa saat kemudian,
"Hahahaa..." Suara tawa Aisha dan Altezza telah mengisi ruangan itu, mereka berdua menikmati tontonan lucu dan menghibur sampai lupa coklat panas sudah berubah menjadi dingin.
"Eemmm, maaf tuan. Semuanya sudah siap" lapor Lala yang takut akan mengganggu kesenangan tuannya itu.
"Aku mengerti" ucap Altezza, Lala pun langsung bergegas pergi.
"Oke, cukup, sudah larut malam" ucap Altezza dan merampas ponsel Aisha dan menyimpan ponsel Aisha di dalam sakunya.
"Baru jam sebelas" rengek Aisha.
"Tidak. Karena aku sudah mempersiapkan sesuatu untuk istriku" ucap Altezza yang langsung mengangkat tubuh Aisha.
"Sesuatu?" Selidik Aisha.
"Nanti kamu juga akan tahu" ucap Altezza yang masih membopong tubuh Aisha, bahkan melewati tangga menuju lantai dua.
"Ini bukan arah kamar" ucap Aisha.
"Sudah diam saja, dan lihat saja" ucap Altezza.
"Ya, baiklah" ucap Aisha.
Beberapa saat,
"Bukankah ini menuju taman atap?" Pikir Aisha, saat mereka sudah melewati beberapa anak tangga menuju atap. Dan setelah nampak terlihat ada sebuah dekorasi, Aisha langsung menoleh ke arah Altezza dengan segera Altezza menurunkan Aisha dari gendongannya.
"Lihatlah" ucap Altezza kemudian.
"Altezza?" Ucap Aisha, ia merasa takjub akan apa yang ia lihat.
Taman itu di sulap menjadi tempat untuk istirahat yang nyaman, cuaca yang mendukung itu pun menampakkan langit malam yang berbintang indah dan bulan yang berbentuk sabit. Sebuah kasur empuk yang cukup luas berwarna putih lengkap dengan selimut, dengan dekorasi lampu kuning yang terpancar dari bawah kasur itu pun terlihat jelas tempat tidur yang nyaman dan romantis apalagi lampu kecil-kecil yang panjang di sesuaikan begitu epik, tempat itu pun di lengkapi dengan atap transparan.
Kemudian sisi taman yang tak jauh dari kasur itu pun terdapat air pancur yang alirannya terdengar gemericik sehingga membuat suasana semakin terasa nyaman. Tak hanya itu, Altezza juga sudah menambahkan sebuah tempat perapian sebagai penghangat yang tak jauh dari sisi kasur itu.
Aisha yang takjub akan perubahan itu pun mempercepat langkahnya menuju kasur empuk dan kemudian segera membanting tubuhnya di atas sana, terasa nyaman sekali saat Aisha sudah berbaring di sana. Bahkan saat dirinya terlentang dan menatap jauh keatas hanya akan nampak pemandangan langit malam yang indah dan luas. Altezza pun tersenyum, saat melihat Aisha nampak menyukai tempat itu dengan segera Altezza menyusul Aisha untuk berbaring di sana.
"Apa istriku menyukainya?" Ucap Altezza yang sudah berbaring di sisi Aisha.
"Tentu. Terimakasih, Altezza" ucap Aisha dan memeluk tubuh kekar Altezza.
"Tapi, apa kita akan tidur disini sampai pagi?" Ucap Aisha.
"Tentu, sayang. Semuanya sudah aman terkendali, bahkan...." Tiba-tiba Altezza sedikit bangun dan menatap lekat wajah Aisha dengan dekat.
"Tak seorangpun bisa mengganggu kita malam ini" ucap Altezza kemudian dan mengecup bibir Aisha dengan hangat.
Malam yang begitu romantis, suasana angin malam yang dingin di bantu dengan suhu kehangatan dari tempat perapian, di iringi irama gemericik air membuat malam yang begitu indah. Tetapi sayangnya mereka belum menikah, dan tentu membuat Altezza harus menahannya lagi.
Deg deg deg deg, jantung Aisha berdegup tak menentu, apalagi Altezza yang justru semakin memburu. Mereka pun saling memandang satu sama lain dan kembali berciuman, mereka tak peduli akan bintang yang malu melihat kehangatan mereka.
"Aisha" lirih Altezza yang langsung menenggelamkan wajahnya di antara pundak dan kepala Aisha, tangannya pun tak lepas untuk mencengkram tubuh Aisha.
"Ya?"
"Tunggu aku, sampai aku, benar-benar menjadi suamimu" ucap Altezza kemudian.
"Baik, aku akan menunggumu" ucap Aisha dengan senyuman.
Mereka pun menikmati indahnya tidur dengan pemandangan terbuka, meskipun tidak begitu asri seperti di pegunungan. Tapi suasana itu cukup menenangkan dan sangat indah untuk di kota yang tak pernah mati itu. Sampai tak terasa mereka telah terlelap dengan mimpi yang indah, yang suatu saat berharap akan segera terwujud.
Pagi buta Aisha terbangun lebih dulu lantaran tiba-tiba perutnya terasa keram.
"Aduh..." Keluh Aisha dan memegang perutnya dengan kedua tangan.
"Aisha?" Ucap Altezza yang ikut terbangun saat dirinya mendengar keluhan Aisha.
"Aisha kamu kenapa?" Cemas Altezza.
"Perutku sakit" ucap Aisha yang kesakitan itu.
"Ayo kita ke rumah sakit" ucap Altezza yang langsung sigap untuk memapah tubuh Aisha.
"Jangan. Sepertinya aku mau datang bulan, Altezza, tolong bantu aku ke kamar saja" pinta Aisha, ia takut akan bocor lebih dulu sebelum kasur itu ternoda dengan darah.
Setibanya di kamar, Aisha masih merasakan keram yang cukup menyakitkan dari sebelumnya, bahkan untuk berdiri dan berjalan pun masih terasa begitu nyeri. Altezza yang tidak tega itu pun membantu Aisha dengan menggendongnya kembali menuju kamar mandi, tak hanya itu Altezza juga segera mempersiapkan pembal*t dan celana dalam untuk Aisha, rupanya Altezza sudah hafal letak dimana benda penting itu Aisha menyimpannya. Sedangkan Aisha hanya melongo tak percaya saat Altezza begitu santainya menyodorkan dua benda itu untuk dirinya.
"Apa?" Ucap Altezza saat menyadari akan ekspresi Aisha. Aisha yang merasakan keram itu pun hanya diam dan meraih kedua benda tersebut.
"Apa?" Ucap Altezza lagi, saat Aisha hanya menatap Altezza yang masih berdiri di hadapannya.
"Apa kamu juga mau membantuku untuk memakaikannya?" Ucap Aisha.
"Boleh juga" ucap Altezza yang tak mengerti akan maksud ucapan Aisha lantaran terlalu cemas.
"Dasar bodoh, keluar...." Ucap Aisha sedikit berteriak.
Altezza pun kaget dan baru menyadari akan maksud Aisha, dengan segera Altezza keluar dari kamar mandi dan menunggu Aisha di ranjang.
"Sebaiknya, aku sekalian mandi saja" gumam Aisha, ia pun melepaskan pakaiannya dengan menahan rasa nyeri yang terus mengganggu itu.
Beberapa saat kemudian,
"Lama sekali" ucap Altezza yang mulai gusar.
"Sebaiknya aku cek saja" ucap Altezza kemudian.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu lantaran khawatir akan keadaan Aisha, Altezza pun langsung membuka pintu untuk mengecek keadaan Aisha.
"Aaaaaaa.... Dasar bodoh, apa yang kamu lakukan!!!" teriak Aisha yang langsung menunduk dan membelakangi Altezza.
"Ma,maafkan aku" ucap Altezza sedikit gagap.
"Cepat keluar!!!"
"Oke, oke. Aku akan keluar" buru-buru Altezza keluar dan menutup kembali pintu kamar mandi.
"Ya Tuhan, aku tak sengaja melihatnya" batin Altezza merasa senang tapi juga sedikit takut, takut jika nanti Aisha akan memarahinya habis-habisan.
Namun gambaran itupun masih membayangi pikiran Altezza, saat dirinya tanpa sengaja melihat sekilas Aisha telanjang bulat yang tengah membasahi tubuhnya di bawah shower, meskipun tidak sepenuhnya terlihat tapi Altezza dapat melihatnya dari sisi samping tentu ada sesuatu yang menonjol indah milik Aisha yang selama ini tersembunyi, itulah yang membuat Altezza dilema. Apakah Altezza harus merasa senang atau bagaimana setelah menemukan harta karun sekian tahun lamanya?
"Sial" umpat Altezza dalam hati, saat pertahannya mulai melemah, dengan segera Altezza pergi untuk menenangkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Aisha yang sudah mandi dan berganti pakaian itu pun duduk dan diam sembari merasakan nyeri di perutnya. Meskipun setelah mandi air hangat itu cukup membantu merilekskan otot-ototnya, namun ia juga butuh minuman hangat untuk mengurangi rasa nyeri yang masih saja menyerang.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dan Altezza datang dengan membawa nampan yang berisi roti sandwich dan segelas susu hangat untuk mengurangi rasa nyeri meskipun hanya sementara. Mereka yang tak sengaja saling bertatapan mata pun buru-buru mengalihkan pandangan mereka dan merasa malu sendiri setelah kejadian sebelumnya, apalagi Altezza.
"Masih sakit?" Ucap Altezza dan menaruh nampan itu di atas meja.
"Ya" jawab Aisha tanpa ekspresi, seperti orang yang sedang putus asa.
"Minumlah selagi hangat" ucap Altezza yang langsung melayani Aisha.
"Terimakasih" ucap Aisha yang masih tanpa ekspresi.
"Canggung sekali" ucap Aisha dalam hati, saat dirinya tengah meneguk susu hangat.
"Kamu... Sudah melihatnya, bukan?" Ucap Aisha kemudian dengan perasaan pasrah.
"I,iya. Tapi maafkan aku Aisha, aku tak sengaja melihatnya, sungguh" ucap Altezza dengan buru-buru.
"Baiklah, aku maafkan" ucap Aisha dan langsung menghabiskan minuman itu.
"Mengerikan sekali" ucap Altezza dalam hati.
"Kamu, tidak marah?" Selidik Altezza.
"Tentu aku ingin marah tadi, tapi karena rasa keram ini dan sedang tidak mood. Ya sudah..." Ucap Aisha dalam hati, ia pun hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat jika dirinya tidak marah.
"Aku sudah menyuruh bibi Lin untuk membuatkan sup untukmu, kamu makanlah ini supaya kamu ada sedikit tenaga" ucap Altezza kemudian.
"Aku akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor" imbuh Altezza, ia pun beranjak untuk pergi namun Aisha menahannya, Altezza pun mengernyitkan dahinya.
"Hari ini kamu jangan pergi, temani aku, ya?" ucap Aisha memelas dan langsung membuat Altezza luluh sekaligus tidak tega untuk meninggalkan Aisha.
"Baiklah, aku tidak akan pergi" ucap Altezza kemudian.
Altezza pun berjalan mengambil ponsel untuk memerintahkan Leon agar segera mengirimi dokumen-dokumen penting yang harus ia selesaikan. Setelah itu, Altezza pun kembali duduk di sisi Aisha.
"Apa masih sakit?" Ucap Altezza dan refleks menyentuh perut Aisha.
"Iya. Lebih sakit dari sebelumnya" ucap Aisha dan langsung bersandar kepada Altezza.
"Apa ini artinya Aisha sudah melupakan kejadian tadi?" Pikir Altezza.
"Lupakan!!" batin Altezza, saat jantungnya mulai memburu.
"Kasihan sekali istriku" ucap Altezza dan memijat lembut perut Aisha.
"Nyaman sekali jika di perhatikan seperti ini" ucap Aisha dalam hati, ia pun bersikap semakin manja saat bersandar kepada Altezza, serasa tak ingin jauh dari Altezza.
Beberapa saat kemudian, bibi Lin pun datang membawakan sup hangat yang di minta oleh Altezza sebelumnya, dengan sigap Altezza mengambil sup itu dan memberinya kepada Aisha.
"Minum sayang" ucap Altezza dengan penuh perhatian, Aisha pun menurut dan meminum sup itu hangat-hangat.
Beberapa saat kemudian, perut Aisha berangsur-angsur membaik, rasa keram itu pun tak lagi sesakit tadi. Tetapi tidak dengan mood seorang wanita jika mengalami hari pertama menstruasi, tentu ingin bermanja dan di manja. Meskipun Altezza rela menemani Aisha sembari mengerjakan pekerjaannya bahkan Aisha juga masih lengket padanya. Bersandar di bawah dada Altezza dan ikut menatap ke arah layar laptop. Sedangkan Altezza, kedua tangannya sibuk mengetik keyboard sembari merangkul Aisha yang bersandar pada dirinya.
"Cepat sekali" ucap Aisha dalam hati, saat dirinya memperhatikan kinerja Altezza. Aisha pun menoleh dan menatap Altezza dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Ada apa?" Ucap Altezza.
"Tak heran jika kamu seorang CEO" ucap Aisha, sedangkan Altezza hanya tersenyum licik.
"Kemampuanmu juga cukup membanggakan" puji Altezza.
"Altezza, bisa kamu ceritakan bagaimana kamu melawan Rendra?" Ucap Aisha ingin tahu.
"Itu mudah, aku ibaratkan saja seperti ini. Saat dia melemparkan kail kedalam lautan, justru aku mengaitkan kailnya dengan bom. Jadi, kamu tahu sendiri kan akibatnya jika dia menarik kailnya kepermukaan?" Ucap Altezza.
"Hah? Hanya seperti itu?" Ucap Aisha.
"Iya, tapi kamu harus tahu, orang yang mau memancing di laut itu tidak hanya ada satu orang saja" Ucap Altexza kemudian.
"Benar juga" ucap Aisha.
"Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal, kelak kamu tidak perlu bersusah payah untuk membalas dendam padanya" ucap Altezza.
"Itu artinya, aku tidak perlu lagi membalas dendam? Lalu, untuk apa aku sekolah sampai jauh kemari?" Pikir Aisha.
"Tidak, tidak, apa yang aku pikirkan, bukankah dengan ini aku bisa mencari pekerjaan yang jauh lebih baik?" Pikir Aisha.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, kelak kamu akan menjadi seorang nyonya Altezza dan tidak akan pernah aku ijinkan kamu untuk bekerja dimana pun" ucap Altezza, Aisha pun terperanjat saat Altezza mengetahui akan jalan pikirannya itu.
"Kenapa sejak dulu pria ini masih saja tahu akan jalan pikiranku" keluh Aisha dalam hati.