Just Married

Just Married
episode 81: Calon Ibu Mertua?



Malam itu telah berlalu, dan malam itu pun kini sudah berganti siang. Aisha merasa berdebar tak menentu, lantaran sebentar lagi kedua orang tua Altezza akan segera datang. Aisha mengenakan dress sifon motif yang sangat simpel nan elegan, begitu menawan membaluti tubuh Aisha yang indah itu.


Altezza menggenggam tangan Aisha yang tengah berdiri untuk menyambut kedua orang tua Altezza, lantaran sudah terlihat sebuah mobil yang sudah terparkir di halaman depan.


"Tenanglah, sayang" ucap Alatezza dengan lembut.


"A, aku hanya gugup sedikit" bisik Aisha.


Altezza hanya menahan tawa saat melihat Aisha yang terlihat gugup, wajahnya terlihat jelas seperti demam panggung. Altezza memaklumi itu, Altezza pun menggenggam erat tangan Aisha. Mengisyaratkan untuk tetap tenang, Aisha mengambil nafas panjang dan membuangnya secara perlahan, Aisha terus berusaha dab mencoba untuk menenangkan dirinya.


Pintu mobil telah di buka oleh seorang pengawal, terlihat seorang wanita yang terlihat begitu anggun yang tengah turun dari mobil. Wanita itu tentulah ibunda Altezza, ia berjalan begitu anggun nan berkarisma, begitu jelas perawakan ibunda Altezza layaknya seorang wanita terhormat.


"Menantuku, dimana menantuku..." seru ibunda Altezza, ia sudah tak sabar untuk segera menemui Aisha.


"Hati-hati, nyonya. Nona muda Aisha sudah menunggu nyonya bersama tuan muda disana" ucap seorang pelayan wanita.


Aisha dan Altezza terlihat tengah berdiri menungguinya di teras, sang ibunda Altezza begitu senang ketika melihat Aisha tengah berdiri disana bersama putranya yang kini sudah dewasa. Dengan cepat ibunda Altezza menghampiri Aisha.


"Nyonya, hati-hati nyonya" ucap seorang pelayan wanita yang masih setia menengawalnya sejak turun dari mobil.


"Sayang. Sebaiknya kamu hampiri mama, sepertinya mama tak begitu sabar ingin bertemu denganmu" ucap Altezza.


"Apa?" Aisha tertegun.


"Baiklah" ucap Aisha, ia pun memantapkan diri, dan berjalan untuk menyambut ibunda Altezza.


"Aisha menantu mama, ya ampun sayang. Kamu benar-benar ada di sini, nak" seru ibunda Altezza, ketika Aisha menghampirinya.


"Hehe, iya tante" ucap Aisha terdengar lembut namun sedikit gugup. Aisha pun mencium tangan ibunda Altezza, sang ibunda Altezza langsung memeluk Aisha begitu erat.


"Ya ampun sayang, kamu sudah begitu besar dan semakin cantik. Pantas saja Altezza jatuh hati padamu" seru ibunda Altezza, ketika melepaskan pelukannya dan menyentuh pipi Aisha dengan lembut.


"Hehe, makasih tante" ucap Aisha.


"Jangan panggil tante, panggil mama" ucap ibunda Altezza.


"Ma, papa dimana?" Sela Altezza, lantaran Altezza menyadari jika papanya tidak ada di sana.


"Papamu masih ada urusan disana, katanya besok akan menyusul kemari. Altezza, kamu memang tidak salah pilih menantu buat mama, nak" seru ibunda Altezza.


"Ma, sebaiknya kita masuk dulu. Kasian..." Belum sempat Altezza meneruskan ucapannya, mamanya sudah lebih dulu mengajak Aisha untuk masuk dan mengabaikan Altezza begitu saja.


"Ayo, nak kita masuk" seru ibunda Altezza sembari menggandeng Aisha untuk masuk.


"Haisss... Sebenarnya anak mama yang mana sih" gumam Altezza, ia merasa tersisihkan.


"Baru kali ini, aku melihat nyonya segembira itu, bahkan nona Liana tak pernah membuat nyonya segembira itu" bisik-bisik.


"Iya. Aku merasa, nona Aisha benar-benar istimewa" bisik-bisik.


"Iya. Lihat saja, bahkan nyonya mengabaikan tuan muda"


"Sebaiknya kita harus berperilaku baik kepada nona Aisha, jangan sampai kita membuat nona Aisha tidak nyaman. Kalau tidak, kita pasti akan mendapatkan masalah yang besar" bisik-bisik.


"Iya, kamu benar" bisik-bisik.


Sedangkan disisi lain, Liana yang tengah bersembunyi di suatu tempat itu merasa geram dan jengkel ketika melihat ibunda Altezza begitu menyayangi Aisha.


"Awas, kamu Aisha" geram Liana. Ia pun melangkah keluar untuk pergi.


Di dalam ruang keluarga utama, dimana ibunda Altezza membawa Aisha pergi, begitu juga di susul oleh Altezza. Lalu dua orang pelayan wanita datang untuk menyuguhkan minuman segar dan beberapa camilan dan sepiring buah anggur merah nan segar.


"Aisha, selama ini Altezza memperlakukanmu sudah sejauh mana?" Ucap ibunda Altezza.


"Eh? Maksud tante?" Aisha melongo akan pertanyaan ibunda Altezza.


"Jangan panggil tante, panggil mama sayang" ucap ibunda Altezza.


"I, iya. Mama?!?" ucap Aisha sedikit ragu.


"Sudah jangan sungkan, biasa saja sama mama. Gimana Altezza, apa kamu sudah buatkan cucu untuk mama?"


"Ha? Apa?" Aisha kaget.


"Ma, jangan bercanda. Kenapa tidak mama saja yang bikinin Altezza adek kecil" celetuk Altezza.


Cetokkk... Ibunda Altezza menjitak dahi Altezza.


"Dasar, kamu ini tidak sopan sama mama" Ucap ibunda Altezza.


"Hemp. Hihiii.." Aisha menahan tawa, ketika melihat Altezza kena jitak oleh mamanya.


"Akhirnya, kamu bisa tertawa nak" seru ibunda Altezza.


"Hehe. Maaf tan, eh mama" ucap Aisha yang masih merasa sungkan.


"Aisha pikir, mama pasti capek dari perjalanan.." ucap Aisha, ia tengah mencoba untuk menenangkan diri dan bersikap baik kepada ibunda Altezza, ia pun mengambilkan segelas minuman untuk ibunda Altezza dan menyodorkan kepada ibunda Altezza dengan santun.


Dengan senyum ceria ibunda Altezza menerima layanan Aisha, ia pun gemas dan mencubit lembut pipi Aisha dan kemudian meminumnya dengan tegukan yang terdengar menyegarkan.


"Tuan, hidangan sudah siap" seorang pelayan memberi laporan kepada Altezza.


Altezza pun mengajak mamanya dan juga Aisha untuk makan siang, di ruang makan itu ibunda Altezza dengan gembira ingin melayani Aisha, tetapi Aisha menolaknya dengan santun, ia pun melayani ibunda Altezza yang sudah seharusnya ia lakukan. Lagi-lagi perlakuan lembut ibunda Altezza ia dapatkan, seakan-akan membuat Altezza begitu terabaikan dan cemburu dengan mamanya.


"Ehem" Altezza berdehem. Namun tak di hiraukan mamanya, sedangkan Aisha masih sibuk melayani ibunda Altezza.


"Ehem..." Deheman Altezza sedikit di naikkan, namun tetap saja terabaikan.


"Ehem, uhuk hemm. Ehem..." Altezza semakin menaikkan volumenya, seketika membuat Aisha menoleh kepadanya.


"Altezza, kamu kenapa?" Ucap Aisha, tiba-tiba ia merasa khawatir dengan Altezza.


"Hemp. Hahaha, Aisha. Apa kamu sepolos itu, nak. Lihatlah piring Altezza, masih kosong melompong" seru ibunda Altezza.


"Eh?" Aisha bingung.


"Sayang. Apa, kamu cuma melayani mama? Apa kamu melupakan aku?" Ucap Altezza dengan wajah merajuk.


"Hemp. Aisha, sepertinya Altezza ingin kamu layani juga, nak" ucap ibunda Altezza yang tengah menahan tawa, ketika melihat Aisha nampak terlihat bingung dan canggung.


"Mama tahu, kamu sudah terbiasa melayani Altezza kan? Kamu lalayani Altezza seperti biasanya sayang, tak perlu sungkan dengan mama" ucap ibunda Altezza begitu perhatian dengan Aisha.


"Maafkan Aisha, ma" ucap Aisha.


"Sudah, cepat layani Altezza. Kita akan segera makan bersama" ucap ibunda Altezza.


Dengan sigap, Aisha mengambilkan beberapa menu di dalam piring Altezza, setelah itu Aisha mengambil untuk dirinya bahkan ibunda Altezza membantu mengambilkan beberapa menu untuk Aisha.


Tak lama kemudian, acara makan siang itu selesai. Ibunda Altezza baru menyadari akan ketiadaan Liana di rumah itu, biasanya jika ia kembali kerumah itu. Liana akan datang dengan manja dan rengekannya.


"Mama baru ingat, dimana Liana?" Ucap ibunda Altezza.


"Maaf nyonya, nona Liana sudah pergi ketika nyonya sudah berada di ruang keluarga" ucap sang pelayan.


"Pergi? Kemana?" Ucap ibunda Altezza.


"Suruh Liana pulang. Tidak sopan pergi tanpa pamit, menyambut mama juga tidak" ucap ibunda Altezza begitu tegas.


"Baik, nyonya" ucap pelayan, ia pun bergegas melaksankan perintah majikannya.


"Entah ada apa dengan Liana akhir-akhir ini, Altezza apa kamu tahu ada apa dengan adikmu?" Ucap ibunda Altezza.


"Mana ku tahu. Sudahlah, Altezza mau istirahat. Sebaiknya mama cepatlah istirahat" ucap Altezza, ia pun berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


"Aisha, kamu susul Altezza ya" ucap Ibunda Altezza dengan lembut.


"Tapi..."


"Em... Jangan" ucap ibunda Altezza, ia pun memberi isyarat untuk tidak boleh menolak perintahnya.


"Baik, ma. Kalau begitu, Aisha akan menyusul Altezza" ucap Aisha dengan lembut dan patuh.


"Iya"


"Eh, tunggu sebentar sayang. Kemari..." Aisha pun kembali menghampiri ibunda Altezza.


Ibunda Altezza pun berdiri dan menyentuh lembut kepala Aisha, ia pun mengecup kening Aisha dengan lembut layaknya seorang ibu kepada anaknya.


"Mama menyayangimu, nak" ucap ibunda Altezza terdengar begitu lembut, sontak membuat Aisha menitikkan air mata, lantaran ia teringat dan rindu kepada mamanya. Ia pun langsung memeluk ibunda Altezza.


"Terima kasih, ma. Aisha akan selalu berusaha menjadi yang terbaik, Aisha mohon restu mama" ucap Aisha, entah kenapa ia merasa nyaman dengan ibunda Altezza, seolah-olah ia pernah merasakan kehangatan itu.


"Iya, mama merestuimu sayang. Cepat susul Altezza" ucap ibunda Altezza.


"Baik, ma" ucap Aisha, dengan santun Aisha meninggalkan ibunda Altezza di ruang makan seorang diri.


"Haston" panggil ibunda Altezza kepada kepala pelayan di rumah itu.


"Baik, nyonya" ucap kepala pelayan, ia pun mendekat kepada majikannya.


"Haston, aku minta kamu caritahu apa yang telah terjadi dengan Liana dan juga Altezza" ucap Ibunda Altezza dengan suara pelan namun cukup tegas.


"Baik, nyonya" ucap kepala pelayan itu.


"Aku rasa, Altezza tengah menyembunyikan sesuatu dariku" gumam ibunda Altezza dalam hati.


Ibunda Altezza pun beranjak dari kursi, ia pun melangkah pergi untuk istirahat dengan di temani seorang pelayan wanita yang selalu setia menemani sang ibunda Altezza, alias nyonya di rumah itu.


Sedangkan di suatu tempat, dimana Liana berada. Ia tengah berkumpul dengan teman-temannya sewaktu SMA di sebuah tempat rahasia Liana, Liana ingin minum untuk sejenak menghilangkan rasa jengkelnya, namun ia mendapat kabar jika ibunda Altezza tengah memintanya untuk segera kembali.


"Sial. Aku sudah tidak tahan di rumah itu, jika ada wanita ****** di sana" pekik Liana.


"Tenanglah, Liana. Aku punya ide untukmu...." Seru salah satu teman Liana yang sudah mengerti, jika yang di maksud ialah Aisha yang telah merebut Altezza.


"Apa?" Ucap Liana. Wanita itu pun mendekati telinga Liana dan berbisik-bisik disana, entah rencana apa yang telah Liana dapatkan dari ide temannya itu.