Just Married

Just Married
episode 47: Seorang Sahabat



"Antarkan ke hotel C" perintah Tomy ke sopirnya.


"Baik tuan"


"Eh? Apa? Apa yang akan kamu lakukan, cepat lepaskan aku Tomy" berontak Aisha.


"Semakin kamu memberontak, semakin aku tergugah sayang" goda Tomy dan membelai dagu Aisha.


"Cih. Pria macam apa kamu ini, aku sangat menyesal pernah bertemu denganmu" hardik Aisha.


"Oh, kali ini kamu tidak akan menyesalinya sayang" ucap Tomy.


"Singkirkan tangan kotormu itu, dasar sialan" Amarah Aisha semakin menggebu.


"Dasar kamu wanita tak tahu diri, diam kamu. Atau kamu aku makan disini" bentak Tomy.


Aisha menangis ketakutan, sedangkan Tomy semakin menggila. Aisha pun mengandai-andaikan, jika Altezza datang untuk menolongnya. Di dalam hati Aisha pun memanggil nama Altezza.


Di sisi lain, Deva panik bukan main. Ingin menelepon polisi namun takut kelamaan. Deva ingat Elan, Deva pun langsung menelepon Alex, karena hanya Alex yang memiliki kontak Elan.


"Alex, Elan mana?" Ucap Deva buru-buru.


"Soal kakak?" Tanya Alex.


"Iya, Elan mana?" Deva belum sadar.


"Eh, tunggu. Kamu?" Deva baru menyadari sesuatu.


"Iya, aku sudah tahu. Kak Elan sudah membuntutinya sejak tadi"


"Bocah ini, ternyata memang tidak bisa di remehkan" ucap Deva dalam hati.


"Kak? Aku ingatkan, jangan ceritakan ke mama" pesan Alex dan langsung menutup teleponnya.


"He?" Deva melongo, lantaran Alex begitu angkuh layaknya orang dewasa.


"Aisha... Kenapa kamu memiliki adik yang angkuh seperti ini..." teriak Deva karena kesal, namun Deva lupa dimana ia berteriak. Iya, di dalam toko yang seketika membuat para pengunjung kaget dibuatnya.


"Ahahaha... Maaf, hehe maaf" Deva merasa sungkan dan buru-buru pergi kebelakang.


"Dasar Alex, khawatir sedikitpun tidak malah bikin kesel... Huft... Sabar Deva, ini bukan hanya sekali, sabar..." Ucap Deva. Ia pun langsung mengambil minuman botol yang ada di lemari es.


Di hotel C, Aisha ditarik paksa sekalipun Aisha kesakitan. Hingga pada akhirnya mereka sampai di sebuah pintu dengan angka 35A, dengan segera Tomy membuka pintu dan membawa Aisha masuk secara paksa, tak hanya itu, Tomy dengan lancang membanting tubuh Aisha di atas ranjang. Aisha menangis ketakutan, Aisha pun terus berteriak minta tolong.


Tomy dengan kasar menampar wajah Aisha, hingga Aisha tersungkur.


"Katakan, siapa yang ingin menolongmu" pekik Tomy.


"Altezza..." Tanpa sadar Aisha berteriak keras menyebut nama Altezza, kekasihnya itu.


Plakk... Tamparan ke dua mendarat mengenai pipi Aisha


"Sialan kamu Tomy" geram Aisha, ia pun mencoba untuk melawan


"Berani kamu memanggil pria lain di hadapanku" pekik Tomy.


"Haha, kamu gila Tomy. Dasar pengecut" hardik Aisha.


"Oh, jadi kamu meremehkanku. Apa kamu ingin segera merasakan sensasinya sayang? Dengan senang hati, aku akan segera datang" tawa licik Tomy.


Brukkkk...


Pintu berhasil di dobrak oleh kawanan Elan. Dan terlihat Tomy hampir mencium Aisha.


"Sial. Siapa yang berani mengganggu kesenanganku!!" Pekik Tomy.


Tanpa aba-aba, pasukan Elan langsung masuk dan segera menyergap Tomy. Bahkan pengawal Tomy pun sudah menjadi tawanan pasukan Elan.


Elan datang menghampiri Aisha dan segera menutup tubuh Aisha dengan jaket Elan. Elan pun menggendong Aisha untuk segera membawa Aisha pergi.


"Maafkan kami, nona. Kami datang terlambat" ucap Elan, yang nampak marah dengan dirinya sendiri. Namun Aisha hanya diam tanpa kata.


"Hampir saja terlambat, jika saja nona sudah di cium olehnya. Pasti tamatlah riwayatku, tapi pipi nona Aisha? Gawat, berakhir sudah nasibku" tangisan Elan dalam hati.


"Elan" lirih Aisha


"Iya, nona?" Lamunan Elan seketika buyar.


"Terima kasih, tapi tolong jangan ceritakan ke mama" pinta Aisha.


"Iya, nona. Tapi maaf, pipi nona" ucap Elan.


"Tak apa, nanti akan aku tutup dengan make-up" ucap Aisha.


"Sebaiknya kita kerumah sakit, nona. Takut jika ada infeksi" ucap Elan.


"Tidak usah"


"Mohon jangan menolaknya, nona. Atau kami akan kehilangan pekerjaan" ucap Elan.


"Baiklah" Aisha hanya pasrah.


Elan membawa Aisha masuk kedalam mobil, dan segera pergi meninggalkan hotel itu. Dengan kecepatan tinggi, Elan ingin segera sampai di rumah sakit lantaran benar-benar khawatir dengan Aisha yang pasti karena merupakan gadis kesayangan bosnya itu.


Tak lama kemudian Elan sudah sampai, Aisha pun dengan segera di periksa oleh dokter. Beruntung tidak ada luka, hanya pipi dan pergelangan tangan kanan Aisha yang memar. Dokter pun lagsung memberikan resepnya, Elan dengan segera menebus obat itu.


Saat perjalanan menuju pulang, Aisha meminta Elan untuk mengantarkannya di toko bunga, dimana Deva bekerja. Karena Aisha ingin meminta bantuan Deva untuk menutupi bekas tamparan dengan make-up.


Sesampainya di toko bunga, Deva melihat Aisha yang tengah turun dari mobil, dengan sigap Deva berlari menghampiri Aisha dan memeluk sahabatnya itu. Deva menuntun Aisha untuk masuk kedalam ruang istirahat, Aisha pun langsung meminum obatnya. Deva menunggu Aisha untuk cukup tenang, namun tiba-tiba Aisha memeluk Deva.


"Tidak apa Deva, aku hanya ingin memelukmu" ucap Aisha, ingin sekali Aisha menangis, tetapi ia tahan. Ia pun berandai, jika Altezza ada di sana, pasti Aisha akan memeluk Altezza dan tak mau melepaskannya, bahkan dengan puas menangis di dadanya.


"Dev, jangan ceritakan ke mama. Aku juga minta tolong, ajari aku make-up untuk menutup bekas tamparan. Supaya mama tidak mengetahuinya" pinta Aisha.


"Iya, Aisha. Aku akan membantumu" ucap Deva.


Waktu telah berlalu, sore hari telah tiba. Aisha menelepon mamanya, mengatakan jika malam itu Aisha ingin menginap di rumah Deva, lantaran bekas itu terlalu nyata. Awalnya mama Hani tidak mengizinkan, tetapi Alex sudah bertindak, memberi pengertian untuk kakaknya.


"Hanya semalam, ma. Mama ingat kan, kakak dan kak Deva juga pernah bermalam di toko bunga. Mama harus ingat, ada segerombolan suruhan kak Gibran untuk menjaga kakak Aisha" ucapan Alex begitu meyakinkan, sehingga mama Hani mengizinkannya.


"Baiklah. Tapi ingat, jangan macam-macam. Dan jaga diri baik-baik" ucap mama Hani.


"Semoga firasatku tidak benar" ucap mama Hani dalam hati.


Malam hari, di toko bunga.


Aisha masih ada di sana menemani Deva sampai malam, bahkan Deva memancing Aisha untuk cerita tentang Altezza. Kisah cinta Aisha selama di Manhattan, agar Aisha sejenak melupakan kejadian tadi siang.


Aisha mulai melupakan kejadian sebelumnya, terlihat Aisha begitu bersemangat dan antusias bercerita tentang Altezza, kebersamaannya dengan Altezza, suka dukanya. Hampir semuanya ia ceritakan kepada Deva.


"Ya ampun, kalian tidur bersama?" Ucap Deva tak percaya.


"Yaa, hanya sebatas tidur biasa tak lebih kok. Kita masih tahu aturan kok, Dev" bela Aisha.


"Aku tahu, kamu tidak akan berbuat seperti itu. Tapi hebat juga, dia bahkan tak segan-segan mengenalkanmu di depan publik, bahkan di rumahnya kamu sudah di anggap sebagai nona muda, di perusahaan dan juga pertemuan-pertemuan, seperti pesta. Luar biasa" seru Deva.


"Tapi, kalau mengingat kejadian tadi. Aku teringat, akan suatu kejadian dulu dia pernah menyelamatkanku persis seperti kejadian tadi. Kau tahu Deva, dia bahkan memberikanku kenyaman yang selama ini aku rasakan benar-benar berbeda dari lelaki yang pernah aku kenal. Bahkan dia tanpa ampun menghajar pria itu, sampai bangkrut dan menjebloskannya ke dalam penjara" Aisha bercerita dan mengingat kejadin itu dengan senyum bahagia, namun tanpa terasa air mata Aisha pun menetes.


Deva melihat sahabatnya itu, dengan segera mengusap air mata Aisha.


"Kamu beruntung Aisha, aku ikut senang mendengarnya. Aisha, apa kamu merindukannya?" Deg, jantung Aisha berdegup lantaran perkataan Deva mengguncangkan hati Aisha.


"Aku merindukannya, Dev. Apalagi setelah kejadian ini, siapa lagi kalau bukan dia yang bersedia melapangkan dada untuk air mataku" ucap Aisha tanpa sadar menangis.


"Baru kali ini, Aisha benar-benar mencintai seorang pria seperti ini. Aku berharap, Altezza benar-benar orang yang tepat untuk Aisha" gumam Deva dalam hati.


"Aisha? Apa kamu lupa?" Ucap Deva kemudian, Aisha hanya bingung akan perkataan Deva.


"Disini, masih ada aku yang berlapang dada, bersedia menerima ingusmu itu" ucap Deva dengan pedenya dan menepuk-bepuk dada kirinya, seolah-olah Deva seorang kesatria.


"Hemp... Hahahaha... Ingusmu? Kamu. mengejekku, Deva?" Tawa Aisha


"Hei, aku sahabatmu sejak kecil" bela Deva.


"Aku tahu" ucap Aisha, ia pun memeluk Deva dengan hangat. Ia merasakan seperti kembali di masa kecil, ketika Aisha di bully oleh teman-temannya, Deva datang menolong. Hingga akhirnya tidak ada lagi yang berani mengganggu Aisha.


Sejak kecil Deva memang terlihat tomboy, namun setelah Deva mulai memasuki sekolah menengah pertama, Deva sudah mulai berubah menjadi wanita feminim bahkan melebihi Aisha.


Malam itu, Aisha tidak jadi bermalam di rumah Deva. Melainkan bermalam di toko bunga, karena ia lupa akan orang tua Deva, khawatir jika mengatakannya kepada mama Hani.


Deva sudah tertidur dengan lelap disamping Aisha, nampak begitu tenang. Aisha yang belum dapat tidur itu pun melamun.


"Tumben, Altezza tidak ada kabarnya. Biasanya rusuh jika aku tidak mengabarinya" ucap Aisha dalam hati.


"Mungkin sibuk, kali ya. Ngomong-ngomong, tebakan Alex benar. Aku melihatnya sendiri, pasukan Elan ada puluhan bahkan lebih" guman Aisha dalam hati, ia pun berbaring membelakangi Deva.


"Jadi berasa ada sesuatu yang janggal. Sebenarnya ada apa? Kenapa Altezza mengirim begitu banyak orang untuk melindungi keluargaku?" Aisha memikirkan itu hingga tertidur dengan nyamannya.


"Sha, bangun..." Deva membangunkan Aisha, karena hari sudah pagi, dan waktu pun sudah menunjukkan pukul lima lebih.


Aisha meregangkan otot-ototnya, Deva pun segera pergi ke dapur. Deva ingin membuat mi rebus untuk sekedar mengganjal perut, sekaligus bernostalgia di mana waktu mereka bekerja di toko itu, uang Aisha yang menipis, perutnya sangat lapar. Aisha hanya mampu membeli mi, Deva yang melihat itu pun ikut-ikutan membeli mi, hanya sekedar menemani Aisha dalam kesusahan. Mereka pun berbagi cerita dan tertawa ria sembari memakan mi di dalam toko itu.


Beberapa menit kemudian, aroma mi tercium sangat menggugah selera. Aisha buru-buru menghampiri Deva.


"Dev?" Seru Aisha.


"Tara..." Seru Deva, yang saat itu masih mengaduk-ngaduk mi di atas kompor.


"Aaa... Aku jadi ingat waktu itu" Aisha nampak gembira.


"Yah... Hari ini spesial buat sahabatku" ucap Deva, ia pun mengangkat panci itu dan membagi rata kedalam dua mangkuk.


"Wow... Deva, terima kasih. Ini benar-benar berasa seperti beberapa tahun yang lalu" ucap Aisha, ia pun segera mengambil sumpit dan sendok.


Aisha mencicipi dengan menyeruput kuah mi, menggugah sangat menggugah selera Aisha. Deva yang melihat wajah sumringah Aisha, ikut merasa senang.


"Syukurlah, Aisha sudah kembali ceria" gumam Deva dalam hati, ia pun ikut menyusul untuk menikmati makanan itu bersama.


Sembari menikmati mi rebus ala Deva, mereka pun saling melengkapi dengan bernostalgia tahun lalu, kejadian yang konyol, hal yang menegangkan. Pokoknya pengalaman-pengalaman yang mereka lalui bersama.


"Ah, lezatnya... Ingin lagi" rengek Aisha, saat mi nya sudah habis tak tersisa.


"Kamu seperti kelaparan, Aisha. Apa di sana tidak ada mi instan?"


"Ada. Hanya saja, Altezza tidak suka jika aku makan mi. Eh, boleh sih, tapi syaratnya dua minggu sekali atau kadang tidak boleh sama sekali" ucap Aisha.


"Tak apa, setidaknya masih bisa merasakannya" ucap Deva.


"Eh, ini minumlah. Mumpung masih hangat" Deva menyodorkan segelas kecil berisi air yang berwarna seperti jus orange.


"Kunyit?" Aisha mengerutkan kedua alisnya, saat mencium aroma kunyit.


"Untuk jaga-jaga, agar perut kita tidak sakit. Kau tahu, ini masih sangat pagi" ucap Deva, kemudian meminum ramuan kunyit yang dipercaya dapat meringankan sakit magh.


Sebetulnya Deva mengalami masalah dengan lambungnya, hanya saja untuk pagi itu Deva ingin memakan mi bersama sahabat masa kecilnya itu. Sekaligus melepas kerinduan akan masa-masa dulu yang tak akan pernah terulang kembali. Dan juga sekaligus untuk menghibur Aisha, atas kejadian kemarin.


Sebab itu pula, Deva selalu menyediakan ramuan kunyit agar tidak kambuh. Sedangkan Aisha juga di suruh meminum ramuan itu, agar Aisha tak merasakan seperti yang Deva rasakan.