Just Married

Just Married
episode 58: Jebakan



"Apa kalian? Masih tidak mau bubar?" Pekik Hilda, ia pun merasa geram kepada Aisha.


Beberapa orang langsung membubarkan diri, sedangkan Hilda dan juga Amy terlihat begitu marah, mereka berjalan cepat mencari toilet untuk membersihkan diri mereka. Begitu juga teman-teman Amy, ikut menyusul ke toilet.


"Sial. Ternyata, Aisha bukan orang yang lemah. Tapi tak apa, ini baru permulaan. Jika trik seperti ini tidak mempan, masih ada banyak trik lain. Dan Sally, kini giliranmu" pekik Hilda, ketika ia tengah membersihkan wajahnya didepan cermin.


"Apa yang telah kamu rencanakan, Hilda?" Amy penasaran.


"Kita tunggu saja" ucap Hilda dengan senyum menyeringai.


Aisha merasakan firasat buruk akan terjadi, Aisha buru-buru menelfon paman Edo untuk segera menyiapkan mobil di area pusat perbelanjaan. Karena kebetulan paman Edo memilih menunggu Aisha di suatu tempat.


"Aisha, kamu kenapa?" Ucap Sally.


"Sally, firasatku tidak enak. Sebaiknya kita pulang dengan segera" ucap Aisha dengan cemas.


"Aisha, bukankah kamu sudah mengalahkannya tadi?"


"Sally. Sebaiknya, ku antar kamu pulang dulu. Aku merasa, Hilda telah mempernainkan sesuatu yang belum kita ketahui"


"Mana mungkin, Aisha" Sally tak percaya.


"Sally..." Ucap Aisha.


"Apa yang kamu takutkan, Aisha?" ucap Sally kemudian.


"Sally..." Belum sempat Aisha berkata, seseorang perempuan datang menghampiri Aisha dan juga Sally.


"Maaf, kak. Kami dari Splassh, ingin mengenalkan beberapa parfum baru dari kami untuk kakak-kakak yang cantik ini" ucap perempuan itu dengan ramahnya, jika di lihat dari segi penampilan kemungkinan perempuan itu seperti seorang salesgirl.


"Ah, tapi maaf. Kami sedang..."


"Aisha, sebaiknya kita melihatnya sebentar. Kebetulan, parfumku habis" ucap Sally.


"Tapi Sally..." Aisha mulai merasa was-was.


"Sebentar saja. Apa ada sampelnya?" Ucap Sally.


"Kebetulan, saya membawa beberapa sampel" ucap perempuan itu, ia pun menyerahkan beberapa botol parfum.


"Kenapa, firasatku tidak enak" gumam Aisha dalam hati.


Sally mengambil botol itu dan mencium aroma parfum untuk memilih, mana yang wanginya lebih enak dan cocok untuk dirinya. Sedangkan Aisha tengah memegang ponselnya, seperti tengah mengetik sesuatu untuk mengirim pesan singkat yang entah untuk siapa. Namun, Aisha kaget lantaran tangannya tiba-tiba disemprot parfum oleh perempuan itu.


"A, apa yang kamu lakukan?" Aisha merasa tidak nyaman, dengan sikap perempuan itu yang langsung saja menyemprotkan parfum di tangan Aisha tanpa meminta izin lebih dulu.


"Maaf kak, aku rasa parfume ini cocok untuk kakak" ucap perempuan itu dengan sikap ramahnya.


"Iya, Sha. Wanginya cocok buat kamu" timpal Sally, saat mencium aroma itu terasa cocok untuk Aisha.


Aisha pun hanya menuruti ucapan Sally, lantaran Sally sudah menggerakkan tangan Aieha yang ada bekas semprotan tadi mendekat pada hidung Aisha. Aisha pun dapat menciumnya di sana.


"lumayan" ucap Aisha, sebenarnya ia tak begitu tertarik hanya karena Sally Aisha menghargai itu.


"Kita ambil du..a..." ucap Sally yang tiba-tiba merasa berat dan memegang kepalanya.


"Sally?" Aisha panik, melihat Sally melemah seperti mau pingsan.


"Siapa kamu sebe..narnya..." tiba-tiba Aisha juga mulai merasakan berat dan semakin berat.


Seketika itu pula, dua orang pria datang dan langsung menangkap tubuh Aisha yang hampir tumbang. Sedangkan Sally, sudah lebih dulu di pegang oleh perempuan itu. Dua pria itu pun berpura-pura untuk mengaku sebagai pacar Aisha dan juga Sally. Perempuan itu pun juga berpura-pura meminta maaf. Langsung saja kedua pria itu membopong Aisha dan juga Sally menuju mobil yang tak jauh dari tempat kejadian.


"Kamu memang sadis, Hilda" puji Amy yang sudah berada di lantai tiga dan melihat kejadian itu melalui kaca transparan, terlihat wajah Amy begitu merasa sangat puas. Karena ia tahu, kemana Aisha dan juga Sally akan di bawa pergi.


"Tidak menyangka, ide kamu begitu bagus. Tanpa ada paksaan tanpa tenaga pun, bisa langsung hap" puji Marry.


"Haha, siapa dulu dong" ucap Hilda.


"Sebaiknya kita pergi, untuk menyaksikannya. Aku tidak sabar untuk merekamnya dan mengirimkan ke Altezza" ucap Amy begitu senangnya.


"Aku pun tidak sabar, menyebarkan video mereka di internet" seru Hilda yang tak mau kalah.


Hilda, Amy dan yang lainnya bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan Aisha dan juga Sally sudah di bawa pergi oleh dua orang pria tadi. Aisha dan juga Sally sudah tidak sadarkan diri, mereka pingsan karena bius yang disemprotkan oleh perempuan tadi. Mobil yang membawa Aisha, begitu melaju dengan cepatnya.


Perjalanan itu cukup jauh, hingga cukup lama perjalanan yang mereka tempuh. Hingga selang beberapa waktu kemudian, tibalah mereka di sebuah markas yang begitu jauh dari kota. Begitu sunyi, gelap dan mencekam. Sally dan juga Aisha dibawa terpisah, di tempat yang berbeda bahkan dengan jarak yang cukup jauh dari ruangan mereka berada. Dan ternyata tempat itu merupakan tempat yang menjijikkan, tempat itu adalah tempat untuk praktek para wanita penghibur yang lokasinya cukup rahasia dari keramaian kota.


Iya, Aisha dan juga Sally akan disantap di sana oleh suruhan Hilda. Bahkan Hilda sudah meminta mereka untuk merekamnya, setelah itu Aisha dan juga Sally akan di jadikan wanita penghibur disana secara paksa. Begitulah rencana Hilda, sangat kejam.


Aisha, mulai sadar. Ia pun membuka mata, seketika Aisha kaget. Melihat dirinya sudah dberada di atas ranjang, bahkan ruangan itu begitu cukup menyeramkan. Lalu terdengar gelak tawa dari luar, Aisha takut bukan main. Sudah berapa kali kejadian ini hampir menimpa dirinya. Bahkan, saat itu Altezza tidak ada di sana, bagaimana nasib dirinya dan juga Sally.


"Altezza..." Aisha mulai menitikkan air mata, ia takut. Jika dirinya akan berakhir di tempat yang menjijikkan itu.


"Tolong...."


Terdengar teriakan Sally cukup samar, sontak membuat Aisha semakin panik di buatnya. Pintu ruangan itu pun terdengar tengah di buka. Aisha kaget ketakutan dan menatap siapa yang hendak masuk. Celaka, beberapa pria berbadan kekar tengah masuk dengan wajah mesumnya. Mulai melangkah dan mendekati Aisha, Aisha mundur dan terus mundur ketakutan sembari melindungi tubuhnya dengan tangannya.


"Tidak. Jangan mendekat" teriak Aisha.


"Altezza... Altezza" gumam Aisha dalam hati penuh dengan pengharapan.


"Hai cantik..." Rayu salah seorang pria.


"Singkirkan tangan kotormu itu" gertak Aisha, dengan air mata yang mengalir.


"Justru tangan kotor kami akan memuaskanmu, sayang" seru salah seorang pria lain.


Aisha melihat satu orang tengah merekam dirinya, hancur sudah jika itu benar-benar terjadi. Aisha ingin memberontak, tetapi beberapa pria itu badannya kekar sehingga membuat nyali Aisha menciut. Namun Aisha juga tak ingin dirinya berakhir di sana dengan tragis. Apalagi Aisha telah menjaga kesuciannya untuk suaminya kelak, di tambah lagi akan janji dirinya kepada Altezza di saat perpisahan dengan Altezza yang akan pergi ke London.