Just Married

Just Married
episode 17: Penculikan?



Namun, disisi lain Aisha tak mengerti akan maksud Altezza, sebab Aisha benar-benar tak tahu siapa Altezza sebenarnya. Dan mengapa Altezza selalu mengatakan, bahwa Altezza telah mencarinya cukup lama. Bahkan bibi Lin juga mengatakan sedemikian persisnya dengan apa yang Altezza ucapkan. Sungguh Aisha tak mengerti sedikitpun.


"Tapi, soal kecelakaan itu memang benar terjadi, Aisha" ucap Altezza berlagak polos lalu melonggarkan pelukannya itu dan menatap lekat wajah Aisha.


"Tapi tenang, hanya luka kecil saja" ucap Altezza kemudian untuk menghibur Aisha, agar Aisha tak lagi cemas.


"Bodoh. Luka kecil ataupun besar, tetap saja aku cemas" ucap Aisha memberontak dan melepaskan diri dari dekapan Altezza.


"Hemm, jadi kamu sudah jatuh cinta kepadaku Aisha?" Goda Altezza, yang masih saja tanpa dosa itu.


"Bodoh, siapa yang jatuh cinta kepadamu" kesal Aisha, lantaran ia merasa geram akan tingkah Altezza yang kadang-kadang polos, kadang-kadang juga berlagak angkuh.


"Sudah, akui saja" goda Altezza.


"Diam, bodoh. Aku sedang kesal denganmu" ucap Aisha kesal.


Tok tok tok.. Terdengar suara ketukan pintu, spontan Aisha dan juga Altezza melihat kearah pintu yang mulai terbuka itu.


"Permisi... Apakah sudah selesai adegannya?" Ucap Sally, saat sudah membuka pintu dengan lebar.


"Adegan apaan? Jangan ngaco" ucap Aisha kesal.


"Sayang, kenapa kamu melupakan yang barusan telah terjadi?" Goda Altezza berlagak polos dan tanpa dosa itu.


"Diam!!!" Ucap Aisha kesal, karena malu bahkan wajahnya sudah nampak memerah.


"Oh, jadi belum selesai. Kalau begitu, aku keluar saja deh" ucap Sally menahan tawa karena melihat tingkah Aisha begitu polos dan malu-malu.


"Eh, Sally. Tunggu..." Ucap Aisha yang berhasil menahan Sally.


"Iya? Kenapa Sha?" Ucap Sally.


"Pulang, aku mau pulang" ucap Aisha lalu bergegas menghampiri Sally.


"Sayang, kenapa kamu buru-buru pulang?" Rengek Altezza dengan manja.


"Berhenti memanggilku sayang" ucap Aisha kesal.


"Baiklah. Calon istriku, kenapa kamu ingin cepat pulang? Aku kan masih merindukanmu" ucap Altezza dengan entengnya.


Setelah Aisha pergi meninggalkan Altezza seorang diri, bibi Lin pun langsung mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan Altezza dirawat.


"Tuan, nona..."


"Aku tahu, lanjutkan rencana yang kedua" ucap Altezza, dengan senyuman yang penuh akan rencana.


"Baik tuan" ucap bibi Lin.


Bibi Lin pun bergegas pergi dan melaksanakan tugas dari Altezza. Bibi Lin merasa senang, sejauh ini Altezza sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Semenjak bertemu Aisha, dunia Altezza benar-benar berubah. Altezza yang dulu dikenal sebagai pria tanpa senyum, pria tak tahu humor bahkan pria pendiam dengan tatapan yang tajam dan berdarah dingin, hampir tak pernah untuk senyum sedikitpun kepada bawahannya, bahkan siapapun. Kecuali untuk tertentu saja, seperti sedang menghadiri pesta antar perusahaan, itu pun senyum yang begitu berat dan di buat-buat.


Mungkin, Altezza telah menemukan separuh jiwanya yang telah lama hilang. Tapi kenapa Aisha tidak mengetahui sedikitpun tentang Altezza? Padahal, Altezza selalu mengejarnya malah ingin memiliki Aisha sepenuhnya. Apakah dulu Aisha pernah melakukan janji dan melupakannya? Entahlah, yang pasti Altezza sedang berusaha keras untuk mendapatkan cintanya Aisha.


Di sisi lain, di dalam sebuah mobil dimana Aisha dan juga Sally yang hendak pulang menuju apartemen, Sally pun bertingkah aneh dan selalu menggoda Aisha, bahkan memojokkan Aisha dengan pria misterius itu. Aisha pun tampak kesal namun sedikit malu. Sally merasa, Aisha telah memiliki perasaan dengan Altezza. Entah mengapa Sally merasa bahwa mereka terlihat sangat cocok dan sangat serasi. Namun Aisha masih enggan dengan apa yang terjadi, karena Aisha masih mencari Gibran Abraham. Entah mengapa, dalam benak Aisha, Gibran Abraham seperti telah menutup hatinya. Aisha pun tak mengerti tentang perasaannya itu, disisi lain Aisha hampir putus asa mencari Gibran Abraham, sedangkan di sisi lain, Altezza selalu mengganggunya bahkan membuat Aisha hampir melupakan Gibran Abraham tak sedikitpun.


"Konyol. Ini benar-benar konyol, bagaimana bisa aku tertarik dengan pria bodoh yang baru aku kenal itu?" gumam Aisha dalam hatinya, ia merasakan perasaannya yang tak menentu itu.


Sesampainya di apartemen, Aisha dan Sally dikejutkan dengan sebuah kejadian tak terduga, yaitu di lobi apartemen Aisha. Disana nampak dua buah koper dan tas milik Aisha dan juga Sally, entah apa yang terjadi. Yang jelas pengusiran dan pelarangan terhadap mereka untuk tinggal disana, karena tuduhan dikhawatirkan akan merusak apartemen, sekalipun Aisha telah mengganti bahkan membayarnya lunas pintu yang Aisha rusak. Tapi mau bagaimana lagi, apartemen telah menolak mereka berdua secara tegas untuk tidak tinggal diapartemen itu lagi. Aisha dan Sally hanya pasrah dan tak memiliki kekuatan untuk bersikeras agar tetap tinggal di sana, mereka pun bergegas membawa kopernya dan pergi dari apartemen itu.


"Gini amat ya nasib kita" keluh Sally, ketika mereka sudah berjalan cukup jauh.


"Maafkan aku, Sally. Ini semua salah aku, jika saja aku tak membuat kerusakan, kita tak akan mengalami seperti ini" ucap Aisha yang merasa bersalah itu.


"Hey, bicara apa kamu. Bukankah kita telah sama-sama melakukan kesalahan? Berhenti menyalahkan diri sendiri, oke. Dan yang penting sekarang adalah. Kita harus cepat mencari tempat tinggal yang baru, karena hari sudah terlalu malam dan besok kita harus pergi ke kampus" ucap Sally bersemangat.


"Baiklah. Ayo kita cari" ucap Aisha dan menyambut semangat Sally.


Mereka pun berjalan kesana kemari mencari tempat tinggal baru, dari kontrakan, kos, bahkan apartemen semua menolak dengan alasan sudah penuh. Mereka nampak putus asa, bahkan malam itu pun kian semakin larut. Sally kembali mengeluh karena tak mendapatkan tempat tinggal, dan membuat Aisha semakin merasa bersalah kepadanya.


Mereka berhenti dan istirahat sejenak disebuah trotoar, dengan wajah lesu tanpa semangat bersama koper-koper dan tas begitu terlihat amat menyedihkan. Namun sialnya mereka, mereka malah diculik dengan paksa bahkan koper dan tas mereka tertinggal ditrotoar. Kejadian itu pun terjadi terlalu cepat saat mereka sedang lengah dan istirahat sejenak untuk menghilangkan kepenatannya, beberapa detik pun sebuah mobil datang dan langsung membawa mereka berdua masuk kedalam mobil itu.


Hingga pada akhirnya, mereka berdua disandra dalam ruangan kosong yang nerupakan gedung tua jauh dari kota. Yang mereka tak tahu ada dimana, gelap sunyi bahkan suara kendaraan hampir tak ada. Hanya suara beberapa orang pria yang tengah berjaga-jaga di luar.


Dengan tangan yang diikat, kaki juga diikat, mulut pun ditutup dengan plester, bahkan parahnya mereka dipisahkan dan di ikat diatas kursi masing-masing. Aisha menangis, ia merasa trauma dan takut yang luar biasa akan kejadian masa lalu yang pernah ia alami, yang mungkin akan terulang kembali.


Aisha hanya berharap, seseorang akan menyelamatkan mereka. Namun malam itu telah berlalu, yang tanpa mereka sadari sudah sampai malam yang kedua selepas ia di sandra. Aisha sudah nampak lemas tanpa makan dan minum. Sally yang masih sedikit bertenaga mencoba untuk menenangkan Aisha dengan cara apapun, mulai dengan menggerak-gerakkan kepalanya atau kakinya. Namun Aisha begitu pasrah dengan keadaan itu.


Brukkk... Suara reruntuhan cukup mengagetkan Aisha dan juga Sally. Aisha semakin histeris dengan suara reruntuhan. Nampaknya bangunan itu akan dirubuhkan malam itu dengan segera. Sally dengan sekuat tenanga untuk mencoba melepaskan diri. Namun yang ia lakukan seperti sebuah hal sia-sia sekalipun ia sudah terjatuh dari kursi karena berusaha untuk bergerak dan melepaskan diri, Sally menangis dan mulai putus asa dengan apa yang terjadi dengannya bahkan dengan Aisha nanti.