
Keesokan harinya, tepat jam satu siang. Aisha sudah berada dikantor Altezza, disana Aisha disambut oleh bibi Lin dan diantarkan pada suatu ruangan. Ketika sampai didepan pintu, bibi Lin mengetuk pintu dan kemudian langsung membuka pintu. Bibi Lin pun mempersilahkan Aisha untuk masuk kedalam ruangan itu.
Saat Aisha memasuki, nampak seorang pria yang tengah duduk antusias memainkan laptopnya dengan wajah yang serius, dengan berat hati Aisha pun menyapa Altezza yang masih saja diam tanpa menoleh ke arah Aisha.
"Se, selamat siang, pak Altezza?" Sapa Aisha terdengar sedikit gugup, Altezza pun menghentikan pekerjaannya dan memandang Aisha.
"Kamu datang padaku? Kenapa? Kangen?" Goda Altezza.
"Dasar pria gila. Huft. Sabar Aisha, sabar" batin Aisha.
"Silahkan duduk" ucap Altezza kemudian, dan mempersilahkan Aisha untuk duduk.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disana?" Ucap Altezza saat Aisha hampir menjatuhkan bokongnya diatas kursi tepat di hadapan Altezza. Dengan spontan, Aisha kembali berdiri dengan menahan emosi.
"Kemari" ucap Altezza, Aisha pun menuruti ucapan Altezza.
"Duduklah" perintah Altezza saat menggeserkan kursi dan menghadap tepat dihadapan Aisha.
"Apa? Baiklah" ucap Aisha lalu duduk lesehan tepat dibawah Altezza. Altezza melongo lalu tertawa kecil.
"Dasar gadis bodoh, siapa yang menyuruhmu duduk dilantai?" Tawa Altezza, Aisha pun merasa kesal dan segera berdiri.
"Kemarilah. Dan, duduk... Disini" ucap Altezza sembari menarik tangan Aisha, hingga membuat Aisha jatuh kedalam pelukan Altezza, namun Aisha berusaha untuk melepaskan diri.
"Aku mohon, sebentar saja" lirih Altezza saat memeluk Aisha.
Aisha merasakan hangat dan nyaman saat berada dipelukan Altezza, Aisha merasa pelukan itu seperti pernah ia rasakan sebelumnya. Dada yang bidang tak begitu asing, sontak Aisha melepaskan pelukan itu dengan cepat.
"Maaf, pak. Kita harus profesional" ucap Aisha kemudian, dada Aisha berdebar tak menentu. Ia teringat akan kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat ketakutan dan pertumpahan darah, pelukan bahkan kekejaman terlintas dalam ingatan Aisha.
"Baiklah, ini dokumennya. Kamu kerjakan disana" perintah Altezza, dan menunjuk sebuah bangku kerja yang tak jauh dari tempat Altezza.
"Hah? Apa-apaan ini? Masak iya tempatnya bersebelahan dengan pria gila ini" batin Aisha saat melihat bangku kosong itu.
"Masih kangen?" Ucap Altezza menggoda.
"Ah, tidak. Tidak, saya akan segera mengerjakannya" ucap Aisha dan bergegas menempati bangku kosong itu.
Aisha dengan antusias mempelajari dokumen-dokumen itu, Aisha pun mulai mengerti dan mengotak-atik keyboard dan menghadap ke monitor. Hingga membuay Aisha lupa, jika dirinya satu ruang dengan Altezza.. Bahkan saat ini Altezza tengah mengamatinya pun Aisha tak menyadarinya.
"Gadis bodoh, kenapa kerja harus seserius itu" batin Altezza.
Drrttt drrttt.. ponsel Aisha bergetar, dengan segera Aisha mengangkat telfon.
"Danial?" Ucap Aisha.
"Apa? Hanya namanya saja?" Ucap Aisha.
"Eh, maaf pak. Permisi sebentar" ucap Aisha, saat menyadari bahwa ada orang juga disana, yaitu Altezza. Aisha pun keluar sebentar untuk meneruskan pembicaraannya.
"Gibran Abraham?" Ucap Aisha.
"Tak apa, setidaknya aku tahu namanya. Terima kasih, Danial. Salamku untuk mama dan Alex ya, dan juga Deva" ucap Aisha dan menutup telfonmya. Aisha kembali untuk masuk namun ternyata, Altezza sudah ada diambang pintu. Aisha kaget dibuatnya dan hampir saja menabrak tubuh Altezza.
"Eh, maaf. Bisa saya lewat?" Ucap Aisha kemudian, Altezza pun memberi jalan, namun lagi-lagi Aisha ditarik secara paksa oleh Altezza dan menutup pintu. Aisha pun terjatuh lagi kedalam pelukan Altezza.
"Katakan, siapa Danial?" Ucap Altezza tegas dan memeluk erat Aisha, Aisha bergeliat memberontak untuk melepaskan diri.
"Katakan, siapa Danial?" Ucap Altezza kini dengan nada tinggi, Aisha kaget.
"Katakan, atau aku akan memelukmu seperti ini sampai malam?" Ucap Altezza dengan dengan nada tegas seperti sedang marah.
"Hanya teman, sahabat masa sekolahku dulu" ucap Aisha dengan kesal dan sedikit tinggi.
"Lalu siapa, Gibran Abraham?" Ucap Altezza saat melepaskan pelukannya.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin tahu?" Ucap Aisha
"Katakan, atau aku akan melalukan sesuatu yang lebih padamu" ucap Altezza yang lalu duduk di kursi tempat Altezza bekerja.
"Altezza, bukankah sudah kukatakan. Kita harus profesional. Kenapa kamu terus menggangguku" ucap Aisha kesal.
"Karena kamu calon istriku, aku tidak ingin ada pria lain selain diriku yang ada dalam hatimu bahkan hidupmu sekalipun" ucap Altezza.
"Kamu, gila? Kita saja baru ketemu kemarin, dan aku tidak kenal kamu. Kenapa kamu bersikap seperti itu kepadaku?" Tetiak Aisha karena kesal terhadap Altezza, yang menurut Aisha, Altezza tengah bersikap semena-mena.
"Aisha!!" Bentak Altezza.
"Bahkan kamu membentakku?" Ucap Aisha yang merasa kecewa, lantaran ia merasa di tindas oleh Altezza, Aisha pun pergi dan meninggalkan Altezza diruangan itu seorang diri.
"Kenapa bisa jadi begini, apa yang sudah lulakukan? Arghhh..." Gumam Altezza kesal dan menyesal akan perbuatannya.
"Leon, cari tahu. Siapa Danial" perintah Altezza kepada asistennya melalui telfon lalu menutup telfonnya kembali.
Aisha terhenti dan menangis pada sebuah tangga darurat yang tak jauh dari ruangan direksi. Aisha sesenggukan, karena pertama kali ini Aisha dibentak oleh lelaki yang baru ia kenal bahkan lelaki yang selalu mengganggu ketenangan hidupnya, lelaki yang selalu mengatakan calon suami. Aisha merasa dipermainkan disini, Aisha benar-benar kesal dan marah.
Suara pintu terbuka, segera Aisha mengusap air matanya. Namun tiba-tiba Altezza memeluk Aisha dari belakang. Entah mengapa tiba-tiba tangis Aisha malah meledak.
"Maaf" ucap Altezza lirih tepat ditelinga Aisha.
Aisha hanya menangis tanpa bicara, mungkin Altezza sudah keterlaluan. Namun Altezza besikap sedemikian karena Altezza tak ingin kehilangan wanita yang ia cintai, wanita yang ia cari selama bertahun-tahun.
Sejenak Aisha bergeliat sebagai tanda untuk melepaskan pelukan Altezza. Altezza pun melepaskan pelukannya.
"Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?" Ucap Aisha kemudian dengan tegas.
"Sebelum itu, katakan padaku. Siapa Gibran Abraham" ucap Altezza.
"Kenapa?" Lirih Aisha.
"Jawabanmu tergantung dengan jawabanku" ucap Altezza, lalu berdiri dan pergi meninggalkan Aisha.
Aisha hanya diam dan menunduk, Aisha masih butuh ketenangan. Aisha tak ingin mencari masalah. Disini Aisha berdiri karena suatu alasan, Aisha harus bangkit. Aisha pun berdiri dan kembali kedalam ruangan begitu di susul oleh Altezza. Setibanya disana Altezza langsung duduk bersandar sembari memejamkan mata. Aisha ragu, untuk cerita atau tidak. Jika tak cerita takut Aisha akan diganggu lagi, jika cerita tapi alasannya kenapa? Kenapa Aisha harus cerita dengan orang yang baru ia kenal.
"A, Altezza..." Panggil Aisha. Namun Altezza hanya membuka mata dan diam tanpa kata.
"A, aku. Aku akan...." Ucap Aisha terhenti, lantaran Altezza langsung memotong ucapannya itu.
"Tak perlu buru-buru. Tunggu sampai kamu benar-benar jatuh cinta kepadaku, baru kamu bisa menceritakan semuanya" ucap Altezza.
"Apa? Apa maksud pria bodoh ini? Benar-benar gila, ingin sekali rasanya kutendang saja dia sampai keujung dunia" batin Aisha yang tak habis pikir akan sikap Altezza.
"Sebaiknya, kamu kembali bekerja" ucap Altezza begitu angkuh.
"Baik" ucap Aisha dan kembali mengerjakan pekerjaannya itu.
"Entah terbuat dari apa manusia satu ini, aku jadi heran, nyidam apa sih mamanya waktu mengandungnya dulu" batin Aisha saat melihat Altezza nampak serius dengan kerjaannya. Sialnya Altezza menyadari itu dan menoleh kearah Aisha, Aisha gelagapan dan sejurus kemudian Aisha menunduk pura-pura sesang membaca dokumen gang ada di depannya itu.