Just Married

Just Married
episode 48: Sisa Waktu



Waktu telah berlalu dengan cepatnya, tak terasa Aisha sudah satu minggu lebih berada di kampung halamannya. Kini saatnya Aisha harus kembali bergulat dengan ilmu pengetahuan di negara yang amat jauh.


Sekalipun terasa berat, Aisha harus kuat dan semangat demi cita-cita dan juga balas dendam atas apa yang di lakukan Rendra Andara terhadap keluarganya.


Terlihat mama Hani dengan senyum melepaskan putrinya untuk terbang, disana juga ada Deva, Danial, Alex dan juga Elan. Aisha melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Aisha melangkah dengan berat, bahkan sempat menitikkan air mata, dengan segera ia menghapusnya air matanya. Ia pun memantapkan langkahnya untuk kembali ke Manhattan, karena di sana pula ada seorang pria yang telah menunggunya.


Beberapa menit kemudian, pesawat yang Aisha tumpangi pun sudah menerbangkan diri semakin tinggi dan semakin jauh. Aisha sudah pergi meninggalkan tanah pertiwi.


Perjalanan yang Aisha tempuh terasa cukup melelahkan, bisa memakan waktu kurang lebih selama dua puluh empat jam. Aisha seorang diri tiada teman, ia pun memejamkan mata karena Aisha merasa mengantuk dan juga nampaknya hari sudah gelap. Aisha pun berdo'a, semoga Tuhan melindunginya dan semoga dalam perjalanan itu Aisha dapat selamat sampai tujuan.


Waktu terus berputar, Aisha melihat jendela kaca pesawat yang ada di sampingnya itu, nampak hari sudah terlihat terang.


Tak lama kemudian, pesawat itu mulai mendarat dengan tenangnya. Semua penumpang pun sudah bersiap-siap untuk turun. Hari itu, sudah hampir sore. Aisha berjalan di bandara seorang diri dengan menggeret koper birunya.


"Huft..." Aisha menghela nafas. Setelah ia sudah sampai di negara Tujuan dengan selamat, sekalipun badan terasa cukup lelah.


Aisha terus berjalan, untuk segera keluar dari bandara. Namun tiba-tiba ia di kagetkan dengan pelukan seorang pria dari belakang. Sontak, Aisha kaget bukan kepalang. Khawatir jika lelaki mesum mencoba untuk melecehkannya. Saat Aisha menoleh kebelakang untuk mengetahui siapa pria itu, pria itu malah memajukan wajahnya sehingga tanpa sengaja Aisha mencium pipinya.


"Selamat datang, sayang" ucap pria itu yang tak lain ialah Altezza.


"Ka, kamu?" Hampir saja Aisha teriak dan marah.


"Iya. Ini aku, suami mu" goda Altezza.


"Sejak kapan kita..." Belum sempat Aisha meneruskan ucapannya, Altezza sudah membungkam mulut Aisha dengan mulutnya.


"Altezza!!" Aisha mulai kesal.


"Mau lagi?" Goda Altezza.


"Tidak. Sebaiknya antarkan aku ke apartemen" perintah Aisha. Altezza hanya tersenyum dan meraih koper Aisha.


"Apa?" Ucap Aisha, saat Aisha melihat Altezza melonggarkan lengannya.


"Sayang. Apa kamu ingin pulang dengan selamat? Jika iya, gandeng tanganku. Jika tidak, tetap gandeng tanganku" ucap Altezza.


"Heihh... Pilihan macam apa itu" gerutu Aisha.


"Sudahlah, ayo" Altezza langsung merangkul pundak Aisha dan menuntunnya jalan sembari menarik koper.


Altezza yang tampan, meskipun membawa koper tetaplah terlihat gentle, sedangkan Aisha yang cantik nan harmonis sangat seimbang jika disandingkan dengan Altezza. Tak ayal, jika tak sedikit yang kagum melihat keserasian mereka berdua. Mereka berjalan dan terus berjalan, sampai pada akhirnya mereka sampai pada sebuah mobil yang baru saja berhenti tepat didepannya.


Leon segera turun, dan mengambil alih koper dan dengan segera memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Altezza dan juga Aisha, segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil itu berjalan dan melaju dengan tenang meninggalkan bandara.


"Sayang, mulai hari ini. Kamu sudah tidak perlu lagi tinggal di apartemen" ucap Altezza, yang masih dalam perjalanan.


"Apa maksudnya?" Aisha tak mengerti.


"Mulai hari ini, kamu tinggal di villa. Rumah kita" ucap Altezza.


"Apa? Tidak, Altezza. Aku harus tinggal di apartemen dengan Sally" Ucap Aisha.


"Sayang. Saat ini, Sally harus sendiri" ucap Altezza penuh dengan teka teki.


"Apa maksudnya?" Aisha mulai bingung.


"Hem... Suatu saat kamu akan mengetahuinya, sayang. Yang jelas, saat ini Sally harus berjalan dengan kakinya sendiri" ucap Altezza.


"Apa? Maksudnya apa? Ada apa dengan Sally?" Cemas Aisha.


"Suatu saat, sayang. Bersabarlah. Sally juga sudah mengiyakan rencanaku. Jadi, tidak ada alasan kamu untuk kembali di apartemen" ucap Altezza.


"Apa?" Aisha merasa agak marah.


"Sayang..." Altezza memeluk kekasihnya itu.


"Sayang, dengarkan aku. Tiga hari lagi, aku harus pergi ke London. Aku juga tidak tahu kapan aku akan kembali, tapi aku ingin kamu tinggal di villa, karena rumah itu sudah aku khususkan untuk kita sayang. Seandainya aku merindukanmu, aku tak akan harus menunggumu hari esok untuk menemuimu"


Aisha hanya terdiam, ia merasa berat dalam hatinya.


"Karena aku ingin menemuimu dengan segera tanpa harus menunggu, sekalipun kamu dalam keadaan terlelap, sayang" ucap Altezza.


Aisha menangis, ia merasa berat. Akankah harus berpisah, di saat Aisha sudah memantapkan hati untuk kekasihnya itu. Baru saja ia kembali, tetapi Altezza harus segera pergi.


"Maafkan aku sayang, ini demi masa depan kita" ucap Altezza sembari mengusap air mata Aisha.


Altezza mengecup bibir Aisha, semakin deras Aisha meneteskan air mata. Aisha pun melepaskan ciuman itu dan memeluk erat kekasihnya itu. Altezza membiarkan Aisha sampai ia merasa tenang.


Aisha tak ingin melepaskan pelukan itu, baru saja ia melepaskan molekul ketegangan atas kejadian waktu itu, sekarang Aisha harus menerima kabar yang sedemikian. Tiga hari lagi, Aisha akan menjalani hubungan jarak jauh.


"Demi masa depan. Bukankah aku juga memiliki cita-cita?" Gumam Aisha dalam hati.


"Altezza" lirih Aisha dan mendongakkan kepalanya.


"Hemmm?" Altezza menatap dengan tatapan kelembutan.


Altezza merasa gemas, ingin sekali melahapnya. Namun sayang, mereka belum terikat dalam pernikahan. Altezza hanya berusaha memendam dan melempar jauh naluri itu. Altezza memerintahkan Leon untuk pergi ke sebuah restoran X.


Restoran X, dimana restoran itu terkenal mewah nan romantis. Altezza membawa Aisha kesana untuk menikmati kebersamaan yang tersisa, sebelum memulai hubungan jarak jauh.


Altezza menarik kursi dan mempersilahkan Aisha untuk duduk, Aisha hanya tersenyum dan duduk dengan santainya. Kemudian Altezza duduk dengan posisi saling berhadapan. Sore itu, mereka akan menghabiskan waktu untuk bersama. Aisha yang seharusnya lelah, kini rasa lelah itu sudah sirna dengan adanya kebersamaan dengan seseorang yang ia cintai.


"Sayang. Buka mulutmu" ucap Altezza yang sudah siap menyuapkan sesendok makanan untuk Aisha.


Aisha tersipu malu, lantaran Altezza benar-benar bersikap romantis. Aisha membuka mulut, lalu kemudian, hap. Aisha melahapnya. Bahkan, kini Aisha ikut andil untuk bergantian menyuapi kekasihnya itu.


Altezza tersenyum manis, ia merasa Aisha telah memperlakukannya sebagaimana seorang kekasih. Jika bisa dikatakan, sore itu pria paling bahagia ialah Altezza. Bagaimana tidak, ia mencintai Aisha begitu tulus, ia pun berjuang untuk mendapatkan cinta Aisha, bahkan sudah mati-matian berjuang untuk masa depan mereka. Kini ia sudah mendapatkannya tanpa kurang sedikitpun, Altezza hanya perlu waktu yang tepat untuk mempersunting Aisha. Karena saat ini Altezza harus menyelesaikan suatu masalah.


"Altezza" panggil Aisha.


"Coba, kamu panggil aku 'sayang' bukan namaku" pinta Altezza.


"A, apa?" Aisha merasa malu, lantaran belum terbiasa seperti Altezza.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Sayang, setelah ini mau jalan-jalan atau langsung pulang?"


"Pulang saja" ucap Aisha.


"Baiklah"


"Em, tadi kamu memanggilku, ada apa sayang?" Imbuh Altezza.


"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa" Aisha merasa gugup, sedangkan Altezza hanya mengerutkan kedua alisnya.


Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka dengan lahap. Setelah selesai makan, mereka beranjak untuk pulang. Sesampainya di villa Altezza, Aisha merasa enggan untuk turun. Aisha merasa, haruskah dirinya tinggal di rumah besar itu? Sedangkan Altezza sudah pasti akan pergi meninggalkan rumah itu, juga dirinya seorang diri.


"Sayang, ayo turun. Atau mau aku gendong?" Ucap Altezza, saat melihat Aisha nampak ragu.


"Altezza, haruskah aku tinggal di sini?" Ucap Aisha.


"Sayang, ini rumah kita. Apa kamu ingin mencari rumah yang lain?" Ucap Altezza.


"Sebenarnya, ini terlalu besar. Apalagi..."


"Tenang, bibi Lin akan menemanimu. Nanti akan aku datangkan beberapa pelayan untukmu" ucap Altezza.


"Apa? Altezza, apa tidak terlalu berlebihan?"


"Demi kamu, sayang" Aisha hanya diam dan merenung.


"Sayang, ayo turun" ucap Altezza kemudian membuyarkan lamunan Aisha.


Aisha pun turun dengan perasaan ragu, alasannya cukup simpel. Aisha bukanlah istri Altezza, belum memiliki hak untuk tinggal di rumah mewah itu. Sekalipun Altezza memaksanya, entah kenapa perasaan ragu itu mengganggu.


Bibi Lin datang menyambut kedatangan mereka, sedangkan Leon membuntuti mereka lantaran ia harus membawa koper Aisha. Altezza mengajak Aisha untuk ke atap suatu tempat yang khusus, dimana tempat itu menjadi tempat favorit Altezza lantaran pemandangan senja yang hampir gelap itu cukup menakjubkan disana.


Aisha merasa nyaman dan terhipnotis ketika melihat sisa-sisa senja di ufuk barat di atap sana. Cukup memanjakan mata, Altezza pun merangkul Aisha dari belakang dan menyenderkan dagu di atas pundak Aisha. Dengan sama-sama memandang ke arah langit senja itu.


"Cukup indah bukan?" Ucap Altezza terdengar lembut.


"I,iya" Aisha merasa gugup. Entah mengapa, ia merasa salah tingkah, ataukah itu karena Aisha mulai mencintai Altezza hingga merasa malu jika berhadapan dengan Altezza. Padahal sebelumnya Aisha hanya merasa biasa saja bahkan tak segan-segan untuk marah. Apakah ini karena cinta?


Di atap itu, di desain khusus untuk tempat bersantai memanjakan diri, halaman yang cukup luas sehingga terkesan layaknya sebuah keluarga harmonis. Bahkan ada beberapa pohon palem yang cukup besar, dan tanaman-tanaman lainnya, hingga mengesankan suasana asri, meskipun di lantai paling atas dan itu di sudut yang sudah di kususkan, di desain layaknya sebuah taman yang tertata sedemikian rupa.


Aisha baru mengetahui, jika ada tempat sebagus itu. Sepintas lamunan Aisha menuju masa depan, dimana dia duduk bersantai bercanda ria dengan Altezza, sembari mengawasi anak-anaknya bermain riang di halaman itu.


"Apa yang kamu bayangkan, Aisha. Cepatlah sadar, Aisha bodoh" batin Aisha, saat ia mulai menyadari ia tengah membayangkan terlalu jauh.


Tiba-tiba Alltezza tersenyum, ternyata Altezza sama halnya dengan Aisha, membayangkan masa depan.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Selidik Aisha.


"Tidak. Aku hanya membayangkan, kita duduk di sana, sedangkan anak-anak kita tengah berlarian di sana dengan wajah gembiranya. Sayang, apa kamu tidak membayangkan tentang masa depan kita?" Ucap Altezza.


"Apa? Ti, tidak. Aku tidak membayangkan hal yang terlalu jauh"


"Kenapa, pikirannya sama dengan apa yang aku pikirkan" gumam Aisha dalam hati, bahkan wajah Aisha terlihat memerah.


"Sayang, wajah kamu memerah. Apa kamu sudah menginginkan seorang anak?" Goda Altezza, karena ia tahu apa yang di pikirkan Aisha, kurang lebih pastilah sama dengan apa yang ia pikirkan.


"Omong kosong. Altezza, aku mau turun mandi" Aisha segera berlalu meninggalkan tempat itu.


Altezza hanya tersenyum melihat sikap Aisha yang tiba-tiba menjadi salah tingkah. Altezza tetap berdiri di sana, ia pun memandang langit yang sudah gelap itu.


"Hari itu, pasti akan tiba Aisha" gumam Altezza. Kemudian Altezza berjalan untuk turun. Sedangkan Aisha yang masih berjalan menuju kamar utama, tak dapat membendung rasa bahagia sekaligus malu.


Altezza melihat Aisha yang hendak membuka pintu kamar, Altezza pun memepercepat langkahnya untuk segera menghampiri Aisha. Namun Leon datang dengan tiba-tiba, dan memberikan kabar kepada bosnya itu. Entah apa yang Leon sampaikan, hingga membuat wajah Altezza terlihat marah bahkan sangat marah.