Just Married

Just Married
episode 68: Wanita Misterius?



Setibanya dirumah, Aisha turun lebih dulu dan menenteng boneka dan beberapa kantong plastik. Mereka pun di sambut oleh Lala yang mendengar tuannya telah datang dan membukakan pintu untuk tuannya.


"Lala? Belum tidur?" Ucap Aisha.


"Hehe, belum. Masih asik menonton tivi sama yang lain" seru Lala.


"Begitu rupanya. Ya sudah, ini oleh-olehnya. Aku ke atas ya" ucap Aisha, sembari menyerahkan beberapa kantong plastik.


"Terima kasih kakak" seru Lala dengan wajah cerianya.


Sedangkan Altezza, ia terlihat tengah menahan marah namun terlihat lesu seperti telah di campakkan. Ketika Aisha sudah sampai di kamar, buru-buru ia mencuci muka lantaran debu dan polusi malam, tak lupa ia mengganti pakaiannya dengan piyama yang sebelumnya ia kenakan.


Saat Aisha keluar dari kamar mandi, ia melihat Altezza yang tengah telanjang dada dan duduk di atas ranjang. Aisha hanya tersenyum malu melihat Altezza begitu diam dan tak mau memandang dirinya.


"Altezza?" Panggil Aisha, ia pun mendekati Altezza. Tetapi Altezza hanya diam, malah ia sengaja menghiraukan Aisha dan mengecek ponselnya.


"Dia marah?" Gumam Aisha dalam hati.


Aisha pura-pura menghiraukannya, Aisha pun berjalan dan mulai naik ke atas ranjang. Namun Altezza hendak turun, selertinya tengah mencoba untuk menghindari Aisha. Aisha yang melihat tingkah Altezza itu pun tersenyum menang. Dengan segera Aisha meraih tubuh kekar Altezza dan memeluknya dari belakang.


"Aisha? Lepaskan, aku mau mandi" ucap Altezza dengan nada datarnya.


"Altezza. Apa kamu marah?" Ucap Aisha yang masih memeluk erat Altezza.


"Baiklah, kalau kamu masih marah. Lanjutkan saja marahmu, dan lupakan tentang hadiahnya" ucap Aisha, ia pun melepaskan pelukannya.


Altezza tetap diam, bahkan ia pergi ke kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian Altezza keluar dengan tubuh segarnya, ia tengah mengibaskan rambutnya yang basah. Namun sayang, Aisha tidak ada di ruangan itu, Altezza pun hanya dia dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Setelah itu, ia berbaring untuk tidur, daripada mengahrapkan yang tidak pasti.


Tak lama kemudian, akhirnya Altezza terlelap dengan damainya. Saat itu pula Aisha datang kemabali, ia mendapati Altezza tengah tertidur pulas.


"Kasihan juga. Padahal dia sudah berkerja keras untukmu" gumam Aisha, ia pun ikut berbaring di sisi Altezza.


Aisha menatap lekat wajah kekasihnya itu, ia pun membelai lembut pipi halus Altezza. Tanpa terasa, jantung Aisha berdetak begitu cepat. Hatinya berdebar penuh bunga, tangan Aisha mulai menyusuri tubuh kekar Altezza dan memeluknya dengan perasaan cinta. Aisha mulai memberanikan diri untuk mencium pipi Altezza yang masih terlelap itu.


"Altezza. Terima kasih atas semuanya" bisik Aisha begitu lembut, ia pun merebahkan kepalanya dekat kepala Altezza sembari memeluk Altezza.


Baru saja, Aisha hendak untuk mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba tubuh Aisha hang tengah miring dan memeluk Aisha, dibalik oleh Altezza hingga terlentang. Sontak membuat kaget Aisha dan menatap lekat Altezza yang sudah berda di atasnya, bahkan wajah mereka saling berhadapan cukup dekat.


"Jadi. Hadiahnya cuma ucapan terima kasih dan cium pipi saja?" Ucap Altezza, semabari menatap lekat mata Aisha.


"A,apa?" Wajah Aisha mulai memerah.


"I,iya. Lalu apalagi?" Ucap Aisha kemudian.


"Tidak. Aku tidak mau menerimanya" ucap Altezza.


Aisha hanya tersenyum malu dan menatap lekat wajah kekasihnya itu, ia pun mencoba untuk memberanikan diri. Tangan Aisha mulai mengulur keatas dan menyentuh lembut pipi Altezza, tangan yang satunya ia lingkarkan di leher Altezza. Aisha pun menarik pelan kepala Altezza dan terjadilah ciuman itu. Mereka memadukan perasaan itu bersama, kali ini sikap Aisha telah berhasil meluluhkan hati Altezza yang tersayat sebelumnya. Altezza melumat habis bibir Aisha, ia pun memainkan ciuman itu dan begitu lama.


Altezza melepaskan ciuman itu dan mengangkat kepalanya, ia menatap lekat wajah kekasihnya itu. Betapa manisnya wajah Aisha, nafasnya yang tersengal lantaran ciuman itu, mampu membuat Altezza begitu bergairah. Altezza mencium kembali Aisha dengan gemas, dan melumatnya disana. Altezza pun memindahkan posisi, dimana Aisha menjadi berada di atas tubuh Altezza.


Nampak wajah Aisha begitu malu. Namun ia berusaha melakukannya, Aisha pun mencoba untuk mencium bibir Altezza. Tangan Altezza mulai memegangi kepala Aisha dengan lembut, agar ciuman itu berlangsung lama.


Setelah mereka puas untuk berciuman, Aisha turun dari tubuh Altezza. Ia pun memeluk kekasihnya itu, dan menatap wajah Altezza. Aisha tersenyum, kali ini ia merasa, ia telah memantapkan hatinya untuk Altezza selamanya. Begitu pun Altezza ia menyambut tatapan lembut Aisha, Altezza pun mencubit gemas hidung Aisha.


"Hadiahnya sudah, kan?" Ucap Aisha.


"Apa? Masih kurang itu" ucap Altezza.


"Hemmm. Kamu itu" ucap Aisha.


"Hehe. Terima kasih sayang" ucap Altezza, ia pun mengecup kening Aisha.


Mereka berdua pun akhirnya tenggelam dalam mimpi yang begitu indah. Hingga terlihat, wajah mereka begitu damai dan sumringah. Mungkin karena kekuatan cinta, yang telah menyihir mereka dalam asmara yang begitu memabukkan.


Sedangkan di Indonesia, di sana itu hari sudah siang. Mama Hani yang tengah mengawasi tempat usahanya dalam menjalankan usaha catering dan berbagai macam kue. Mama Hani tengah mengecek berbagai kue dan roti yang ada di etalase, untuk memastikan kondisi produknya tetap aman dan terkendali sampai kepihak konsumen.


Ada seorang wanita paruh baya, yang umurnya mungkin lebih tua dari mama Hani, wanita itu terlihat sangat bijaksana dan anggun. Sorot matanya yang tajam namun begitu lembut, siapapun yang melihatnya akan merasa sungkan, lantaran pancaran karismanya begitu tinggi seperti seseorang yang begitu penting.


Mama Hani tanpa sengaja menubruk wanita itu, sontak membuat mama Hani kaget dan segera untuk meminta maaf. Ketika wajah mereka saling berhadapan, ada keanehan yang muncul dari pandangan mereka berdua.


"Lho? Hani?" Seru wanita itu dengan wajah sumringah.


"Kamu..." Mama Hani mulai mengingat, siapa wanita itu.


"Lupa?" Imbuh wanita itu.


"Ya ampun. Mbak Silvia? Tambah cantik saja, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarnya mbak?" Seru mama Hani.


"Baik. Kamu bagaimana kabarnya, Hani?" Ucap wanita itu yang bernama Silvia.


"Baik, baik. Mbak, kita ngobrol di sana yuk" ajak mama Hani.


"Baik. Tapi sebentar ya, aku kasih tahu sama sopir aku dulu. Sudah pasti ngobrol kita akan lama kan ya" seru Silvia.


Wanita itu pun berjalan keluar menemui sopirnya, setelah itu ia kembali dengan di hampiri oleh mama Hani. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang di desain untuk tamu jika ada negosiasi atau orang yang ingin kerja sama. Di sofa hijau tosca itu, mereka tengah memulai pembicaraan.


"Waduh, Hani. Aku gak nyangka lho, kamu bisa sukses seperti ini" puji Silvia.


"Hehe. Iya, mbak. Ini juga berkat seseorang yang mau membantu saya" ucap mama Hani.


"Di bantu? Bagaimana ceritanya?" Selidik Silvia.


"Adalah, pokoknya panjang ceritanya. Oh ya mbak, habis ngumpet dimana sih kok baru kelihatan?" Seru mama Hani.


"Haha, kamu bisa saja bilangin aku ngumpet. Aku hanya pindah di luar kota sama suami, aku kesini juga mau main kerumah mbak aku yang ada di jakarta. Eh tahunya ketemu kamu disini" seru Silvia.


"Ngomong-ngomong, dari dulu aku kok gak pernah lihat anak mbak sampai sekarang ya" ucap mama Hani penasaran.


"Oh, anak saya? Ada kok ada, mereka lagi sibuk kerja juga di luar kota. Bagaimana kalau salah satu putraku kita jodohin sama anak kamu, si cantik Aisha" seru Silvia.


"Hehe, masalah itu. Biar anak-anak yang menentukan pilihannya mbak, takut kita yang mengekangnya" ucap mama Hani agak berat.


"Hehe, aku tahu maksud kamu kok. Tapi, aku yakin kalau mereka bertemu pasti suka" ucap Silvia dengan percaya diri.


"Hehe, mbak bisa saja. Segitunya mbak pengen jadi besan saya. Hahaha" canda mama Hani.


"Haha. Bisa saja kamu, Han. Eh tapi, kalau nak Aisha sudah ada ya gak apa-apa kok. Aku juga tidak maksa, soal jodoh sudah ada yang mengurusnya" timpal Silvia.


"Haha, setuju mbak"


"Oh ya, Han. Bagaimana Alex? Terakhir aku lihat Alex belum genap satu tahun, aku rasa dia begitu mirip dengan suamimu" ucap Silvia.


"Hehe, iya mbak. Mbak kalau pengen tahu Alex, sebentar lagi dia akan kesini kok" ucap mama Hani.


"Begitu? Sekalian deh, nunggu si Amon kecil. Kayak apa sih tu bocah" seru Silvia.


"Oh ya mbak, aku kebelakang sebentar ya" ucap mama Hani.


"Iya, Han. Kalau mau buatin aku minum, yang spesial ya" canda Silvia.


"Haha, ternyata mbak gak berubah ya" imbuh mama Hani.


"Hehe"


Mama Hani pun berjalan menuju dapur untuk membuat minuman spesial, kesukaan Silvia sejak dulu yang di buat oleh mama Hani. Lemon tea, dan menyiapkan beberapa camilan kue kering dan beberapa toples cemilan lainnya.


Saat itu pula, Alex datang mencari mama Hani. Namun, saat itu pula ia melihat ada seorang wanita yang begitu terpancar karismanya, membuat Alex terkesima akan sorot matanya.


"Benar-benar mirip Amon" gumam Silvia dalam hati, ketika melihat Alex menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Alex, ya?" Ucap Silvia


"Bagaimana tante tahu namaku?" Selidik Alex.


"Hehe, dari sorot matamu" ucap Silvia begitu tenang.


"Kenapa aku merasa, wanita ini sangat berbeda" gumam Alex dalam hati.


"Lho, Alex sudah pulang nak?" Ucap mama Hani, ketika keluar yang tengah membawa nampan dengan tiga gelas lemon tea dingin. Lalu di belakangnya ada seorang karyawan yang tengah membantu mama Hani untuk membawkan camilan untuk tamu. Alex pun menghampiri mamanya dan mencium tangan mama Hani.


"Oh ya Lex, beri salam kepada tante Silvia" perintah mama Hani.


Alex pun menuruti perintah mamanya, ia menghampiri Silvia dan mencium tangan Silvia.


"Anak pintar" puji Silvia.


"Ma, tante Silvia itu siapa?" Ucap Alex kepada mama Hani, tanpa ada rasa keraguan bahkan malu pun tak ada. Persis seperti Amon, ayahnya.


"Aduh, maaf mbak. Alex memang begitu orangnya" ucap mama Hani dengan rasa sungkan.


"Tak apa, aku malah suka dengan anak kecil yang seperti itu" ucap Silvia.


"Nak Alex, kenalkan. Saya tante Silvia, teman mama papa kamu dulu" ucap Silvia begitu tenang dan tetap berkarisma.


"Ooh..." Gumam Alex, ia pun manggut-manggut tanda ia mengerti.


"Hemmm, wanita ini memang berbeda" gumam Alex dalam hati, saat mata jeli Alex berhasil menangkap sorot mata Silvia yang begitu tajam dan penuh makna.


"Anak yang cerdas, ke ingin tahuannya begitu kuat. Memang pantas, tak salah lagi" gumam Silvia, ketia ia menyadari akan gelagat Alex terhadap dirinya, ia hanya tersenyum tenang memandang Alex.


"Kenapa diam? Silahkan mbak, di minum. Ini kuenya juga baru baru ambil lho, masih fresh" ucap mama Hani kemudian, dan berhasil memecah kekosongan itu.


"Alex, ini mama juga sengaja buat untuk Alex" ucap mama Hani, ia pun menyodorkan segelas lemon tea dingin.