Just Married

Just Married
episode 5: Pertemuan Yang Mengejutkan



Tak terasa, kini sudah dua tahun berlalu, sejak kejadian di mana Aisha mengalami sebuah peristiwa yang mengerikan itu.


Aisha kini juga sudah berada di negara Amerika, tepatnya di kota Manhattan. Ia seorang diri di sana, tanpa teman dari kampung halamannya.


Ia melanjutkan studi untuk pengembangan diri dan berharap, dirinya mampu menyatakan perang demi ingatan pahit yang sudah ia alami.


Sesungguhnya, Aisha memiliki hati yang lembut, namun terhadap perlakuan Rendra Andara yang sudah merubah hidupnya, bahkan telah mencelakai orang-orang yang ia sayangi, membuat dirinya berubah.


Sosoknya yang periang, kini berubah menjadi wanita dingin dan berwajah serius, seakan-akan sosoknya dulu telah redup tak tersisa.


Malam itu, di kota Manhattan, Aisha terlihat sedang berjalan kaki dengan seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Aisha, yang tak lain ialah sahabatnya di Manhattan yang bernama Selly.


Mereka sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Manhattan, mereka berdua nampak menikmati keramaian yang tak pernah redup di jantung kota Manhattan.


"Oh, Aisha. Aku, sudah tidak tahan. Aku mau ke toilet sebentar," ucap Selly yang langsung menyerahkan sekantong plastik yang cukup besar.


Selly berlari menerjang keramaian dan seketika hilang dalam pandangan Aisha, "sebaiknya aku tunggu dia saja," gumam Aisha.


Aisha beranjak dan bermaksud untuk duduk di sebuah bangku kosong, tepat di sebuah toko perhiasan.


Saat dirinya berjalan, entah kenapa dirinya merasa tertarik untuk melihat ke dalam toko perhiasan, dan termangu pada satu set perhiasan yang cukup menarik baginya.


Satu set perhiasan itu, diletakkan dalam display kaca transparan, tentu Aisha dapat melihatnya dengan jelas dan gamblang.


"Halo... Apakah ada yang bisa kami bantu?" Aisha tersadar, "Oh, tidak. Aku akan melihat-lihatnya dulu," jawab Aisha.


"Baiklah," pelayan itu berlalu dan melayani pelanggan yang baru datang.


Saat Aisha terhanyut mendalami detil perhiasan itu, tiba-tiba ada sosok pria bertubuh tegap datang dan berdiri tepat di sisi Aisha.


"Permisi," ucap pria itu, dan mengisyaratkan pada pelayan toko.


"Iya tuan? Apa ada yang bisa kami bantu?" pelayan itu kembali dan menyambut pria itu dengan ramah.


"Bungkuskan ini," ucap pria itu menunjuk ke arah satu set perhiasan yang sedari tadi Aisha lihat, bahkan pria itu langsung menyerahkan sebuah kartu hitam emas.


Aisha yang mendengar itu, bergeser dan melihat-lihat lainnya, namun tak ada yang lebih berkesan selain saru set yang sudah bertuan.


"Jiwa miskin ku. Tolong, kamu jangan meronta," batin Aisha dan berlalu dari toko tersebut.


Ketika Aisha berjalan mencari Sally, tiba-tiba pria yang sebelumnya, datang menghampiri Aisha dan menyerahkan sebuah paper bag mungil kepada Aisha dengan paksa.


"Maaf. Anda salah orang," tegas Aisha.


"Tidak. Ini memang untukmu, Aisha," ucap pria itu.


Deg. Aisha terkejut, kenapa pria itu tahu namanya? Bahkan pria itu berbicara dengan bahasa Indonesia, apakah dia orang Indonesia?


Segera Aisha menyadarkan dirinya, tetapi pria itu sudah berlalu bahkan sudah jauh dari pandangannya.


"Tidak," gumam Aisha dan mengejar pria tersebut. Namun, keadaan yang terlalu ramai membuat Aisha tak dapat mengejarnya, bahkan Aisha sudah kehilangan jejak dimana pria itu berada.


"Dimana orang itu?" pikir Aisha.


"Aisha? Kamu sedang apa?" tanya Selly tiba-tiba dan cukup membuat Aisha kaget.


"Kamu beli perhiasan?" ucap Selly kemudian.


"Tidak. Ini..." Aisha tersadar, "tunggu. Perhiasan?" Dengan cepat Aisha mengecek paper bag mungil itu, dan saat Aisha membukanya, betapa terkejutnya Aisha melihat satu set perhiasan yang sebelumnya ia lihat di toko tadi.


"Astaga... Bagus sekali," ucap Selly.


"Tidak. Aku harus mengembalikannya," tandas Aisha yang buru-buru memasukkan kalung itu dengan paksa.


"Tunggu, Aisha. Kamu kenapa?" Selly ikut mengejar, tetapi Aisha hanya diam dan mencari kesana-kemari di dalam mall.


Hingga cukup lama Aisha mencari, tapi hasilnya nihil. Apalagi Selly yang nampak kebingungan, dirinya masih belum tahu apa yang sudah ia lewatkan.


"Aisha. Ku pikir, sebaiknya kita pulang, aku sudah lelah." Pinta Selly.


"Tapi..."


"Benar apa yang di katakan Selly, bukankah ini cukup misterius, pria tak di kenal tiba-tiba menyerahkan perhiasan, bahkan..." Aisha terbelalak.


"Ayo kita pulang "


Mereka bergegas pergi dari tempat itu, Aisha menjadi waspada karena kemunculan pria itu sedikit misterius, dirinya takut jika itu Rendra atau anak buahnya yang sedang bermain trik.


Sedangkan disisi lain, diparkiran bawah tanah. Rupanya pria itu telah bersembunyi di didalam mobil yang masih terparkir di sana, tentu saja Aisha mau mencari kemanapun tak akan ketemu.


Dengan diam dan lirikan matanya yang tajam, pria itu rupanya tengah mengamati dua gadis yang sedang berjalan, yang tak lain ialah Aisha dan Selly.


"Ikuti mereka," perintah pria itu pada pengemudi yang ada di depannya.


"Baik tuan."


Disebuah apartemen blok D, Aisha menceritakan kejadian yang sebenarnya yang telah terjadi kepada Sally.


Sally hanya terperangah mendengarkan cerita Aisha yang mungkin tidak masuk di akal, bagaimana bisa dengan mudahnya seseorang memberi satu set perhiasan kepada orang yang baru ia temui.


Sally menjadi penasaran dengan sosok pria yang Aisha ceritakan itu, apalagi maksud pria itu tidak jelas pasti akan tujuannya apa.


"Tunggu Aisha, apakah pria itu tampan?" Ucap Sally tiba-tiba, lantaran Selly malah teringat pada sebuah film drama percintaan yang hampir mirip dengan Aisha.


"Hei, pertanyaan macam apa itu," ucap Aisha dan mengernyitkan dahi.


"Ayolah, siapa tahu dia memang tampan, kan lumayan kamu jadikan pacar? Bukankah ini kesempatan, Aisha," seru Sally, entah kenapa ia malah jadi tertarik pada kalung itu.


"Jangan ngaco, aku masih mencari pria yang dulu pernah menolongku. Sebelum aku menemukannya, aku tak akan pernah tenang. Hidup atau mati, aku tetap akan mencarinya sampai ketemu," tandas Aisha.


"Ya, kalau diingat-ingat, sebenarnya pria itu memang tampan sih," batin Aisha.


"Kenapa? Apa kamu sudah jatuh cinta kepadanya?" Goda Sally.


"Apa? Jatuh cinta? Tidak, aku hanya berhutang kepadanya" ucap Aisha.


"Buktinya kau, tak pernah menerima siapapun disini. Atau jangan-jangan Danial?" Ucap Sally


"Haha, Danial? Jangan berpikiran bodoh, dia temanku, sahabatku. Mana mungkin kita bisa bersatu, aku hanya menganggapnya teman gak lebih," terang Aisha.


"Bahkan paling tinggi, ya hanya sebagai kakakku. Kau tahu, aku sudah kehilangan kakak. Dialah yang selalu ada untuk keluarga kami," imbuh Aisha, dirinya jadi teringat akan jasa Danial.


"Seandainya, Danial memiliki perasaan kepadamu, bagaimana?" ucap Sally.


"Tidak mungkin," ucap Aisha dengan percaya diri.


"Hanya seandainya saja" ucap Sally


"Aku lebih baik mati, daripada menghancurkan persahabatan. Kau tahu, sepertinya temanku menyukainya," ucap Aisha dan mengingat bagaimana Deva merasa cemburu kepada Danial, jika ia terlalu dekat dengan Danial.


"Hoo... Rupanya, sahabat yang baik," ucap Sally.


"Tentu saja, memangnya kamu?" canda Aisha.


"Hoo... Rupanya kamu masih meragukan ku?" Sally tak mau kalah.


"Tentu. Kan kamu preman di sini," Aisha makin tak mau kalah.


"Sialan kamu, Aisha," ucap Sally.


"Hahahaha, jadi ingat waktu itu,"


"Stop. Jangan di ingat lagi," Sally langsung menutup mulut Aisha. Akan tetapi, Aisha masih saja jahil kepada sally.


Sedangkan disebuah apartemen mewah, dimana seorang pria yang memberikan perhiasaan kepada Aisha sebelumnya.


Pria itu sedang sedang berdiri tepat di depan jendela besar, matanya yang tajam itu terlihat jelas sedang memandang pemandangan kota di malam hari.


Pria itu nampak tersenyum misteri dan bergumam seorang diri, "Aisha. Sampai kapanpun, akan aku kejar kamu, sampai aku mendapatkan mu,"


"Dan dimanapun kamu berada, aku pasti akan tetap menemukan mu."