Just Married

Just Married
episode 42: Sikap Yang Berubah-ubah



Di apartemen, Sally sedang menonton film melalui laptopnya dengan posisi tengkurap di atas ranjang. Sally sudah menebak, Aisha sudah pasti akan bermalam di kediaman Altezza. Dan benar saja, Leon baru saja memberi kabar bahwa Aisha sedang berada di kediaman Altezza.


"Jomblo bisa apa?" Gumam Sally, saat membaca pesan singkat dari Leon.


Di kediaman Altezza.


Aisha masih saja merajuk, namun terlihat manja. Altezza begitu sabar menghadapi sikap absurd Aisha, malah ia merasa gemas akan tingkah laku Aisha.


"Sayang, kamu marah-marah terus, gak capek?" Ucap Altezza.


"Kamu sih, memberiku uang begitu banyak, atm, kartu kredit, apa kamu menganggapku perempuan murahan? Yang suka uang gitu?" Celoteh Aisha.


"Dah gitu, tiba-tiba ngagetin waktu di kamar mandi, di tinggal di jalanan, terus dibawa pulang ke sini lagi" Aisha masih belum berhenti, Altezza hanya bersabar mendengarkan celoteh Aisha.


"Sebagai hukumannya. Kamu, harus membelikanku pembalut, sekarang" perintah Aisha dengan tegas.


"Sial. Aku tidak kepikiran untuk menyediakan itu" gumam Altezza dalam hati.


"Biar..."


"Tidak boleh. Harus kamu yang beli, atau aku akan marah lagi" sela Aisha yang masih saja terselubung sikap manjanya.


"Tapi, sayang..."


"Tidak ada tapi tapi" tegas Aisha, dengan gaya tangan bersedekap, mimik wajah yang acuh dan cemberut.


"Sayang..." Rengek Altezza, yang bermaksud untuk bernegosiasi.


"Tidak"


Altezza mengerutkan kedua alisnya, ia hanya mampu tersenyum kecut dan mengalah. Kekasihnya itu membuatnya luluh, sekaligus membuatnya untuk membuktikan kesungguhan, dengan cara membelikan pembalut. Bisa jadi.


"Oke, oke" ucap Altezza tanda mengalah, wajah Aisha nampak sumringah.


"Hehe, beliin yang ada sayapnya ya, jangan lupa yang panjang biar gak bocor" ucap Aisha dengan senyum liciknya.


"Hah? Sayap? Sayap apaan?" Altezza kaget dan kelimpungan, ia tak tahu akan tentang benda yang di rasa aneh itu.


"Cari saja, ada gambarnya kok. Nanti nyarinya di baca dengan teliti, cepetan beli sana keburu bocor nih" ucap Aisha.


"Iya, iya" Altezza turun dari ranjang.


"Oh ya, jangan lupa es krim ya" ucap Aisha dengan senyum di manis-manis kan.


"Hemmm?" Altezza berjalan mendekati Aisha.


"Ka, kamu mau ngapain?" Ucap Aisha.


"Nggak usah ge-er. Cuma mau ngambil dompet" ucap Altezza.


Altezza berbohong, ia hanya pura-pura membuka laci, Aisha yang memperhatikan itu pun tidak tahu akan, akal bulusnya Altezza. Dengan secepat kilat, Altezza menjatuhkan tubuh Aisha diatas ranjang, Altezza pun mencium kedua pipi Aisha, dan juga bibir lembut Aisha.


"Ini dompetku sudah ketemu" ucap Altezza dengan liciknya, kemudian ia pun segera bangun.


"Kamu..."


"Aaa... Di rumah baik-baik ya, istriku. Tunggu suamimu ini mencari berlian bersayap" celoteh Altezza dan melangkah cepat untuk pergi.


Aisha yang tinggal sendirian di kamar itu hanya tertawa kecil akan perkataan Altezza, bahkan cara Altezza memperlakukannya begitu merasa menjadi wanita yang paling spesial.


"Benar-benar idaman" gumam Aisha, ia pun turun dari ranjang dan melangkah keluar.


Aisha bermaksud untuk memasak sesuatu, sebagai hadiah untuk Altezza yang begitu sabar menghadapinl dirinya.


Di supermarket, yang tak jauh dari villa Altezza. Altezza nampak malu namun tetap menjunjung tinggi sebagai pria sejati, sekalipun tak jarang mata yang memperhatikannya bahkan ada mentertawakannya. Iya, masak lelaki membeli pembalut atau suami takut istri. Sebenarnya, Altezza merasa malu, sangat malu, namun ia berfikir untuk belajar, karena suatu saat ia tak hanya akan membeli pembalut saja melainkan juga popok.


"Eh, kan aku sudah ada pelayan" gumam Altezza dalam hati, saat membayangkan masa depan.


"Ah, tidak mungkin. Dari sifat Aisha, tentu tidak akan menyuruh pelayan" gumam Altezza dengan muka datarnya.


"Ini lagi, pembalut bersayap tuh yang mana. Yang panjang biar gak bocor, itu yang bagaimana.. arghhh" Altezza mulai frustasi.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Ucap seorang pelayan supermarket.


Lima belas menit kemudian, Altezza datang. Ia berjalan dengan wajah lesu, namun aroma masakan membuatnya ingin tahu, apakah bibi Lin yang memasak atau Aisha. Dengan segera Altezza berjalan menuju dapur. Sesampainya disana, nampak Aisha mengenakan celemek dan begitu cekatan dalam memasak.


"Altezza?" Seru Aisha saat menyajikan beberapa piring di atas meja.


Lamunan Altezza buyar, ia mengerutkan dahi saat melihat sajian, yang berbentuk kotak berwarna kuning, dengan sedikit saus dan beberapa garnis sebagai hiasan.


Aisha menghampiri Altezza dan menggandeng lengannya, Aisha membawanya di sebuah kursi dan nendudukkan Altezza disana.


"Aku buatin pattaya buat kamu" ucap Aisha lembut.


Altezza hanya mengerutkan dahi, entah apa yang merasuki Aisha, tiba-tiba saja bak singa betina lalu tiba-tiba saja berubah menjadi lembut dan perhatian.


"Dimakan dong, jangan lihatin aku" ucap Aisha, dengan mata yang dibulatkan.


"I, iya" Altezza mulai membelah kotak itu, dan tara, telur yang dibentuk kotak sedemikian rupa, menyembunyikan nasi goreng didalamnya, aromanya memikat, Altezza segara mencicipi masakan Aisha. Dan hap, Altezza di buat menangis, lantaran benar-benar lezat. Altezza yang sudah lama rindu dengan nasi goreng buatan mamanya, kini terobati dengan tangan ajaib sang kekasihnya itu, Aisha Olinda.


"Altezza? Kenapa mata kamu berkaca-kaca? Masakanku tidak enak ya?" Ucap Aisha merasa sedikit cemas.


"Tidak, sayang. Aku hanya rindu masakan nasi goreng mama. Terima kasih sayang" ucap Altezza dan mebcium pipi Aisha.


"Eh, nanti pipi aku bisa panas" rengek Aisha dan mengusap-usap pipi Aisha yang habis di cium oleh Altezza.


"Eh, itu pesanan aku kan?" Seru Aisha saat melihat plastik kresek putih berisi penuh.


"Hemmm"


"Makasih...." Seru Aisha, dan mencium pipi Altezza dengan manja.


Aisha mulai menggeledah isi di dalam plastik itu, kagetnya ada bermacam-macam pembalut, mulai dari yang biasa, khusus untuk malam, bahkan ada pantyliner? Aisha melongo dan menatap Altezza, Altezza hanya masa bodoh dan meneruskan untuk makan.


"Sekalian buat stok, biar aku tidak mondar-mandir disuruh beli sayap" sindir Altezza.


"Altezza, apakah sebelumnya kamu pernah membelikan pembalut untuk seorang wanita?" Selidik Aisha, entah kenapa ia tiba-tiba merasa cemburu


"Ini yang pertama kali" ucap Altezza yang masih mengunyah.


"Tapi ini begitu lengkap, Altezza. Bahkan, ini?" Ucap Aisha seraya menunjukkan pantyliner.


"Oh, aku hanya mengambil semuanya sayang. Katanya suruh baca yang teliti" ucap Altezza berbohong, bibi Lin yang mendengar pun hanya menahan tawa, tentu saja inilah yang pertama kali tuannya membeli pembalut untuk seorang wanita dengan begitu detail. Bibi Lin bisa menebak, pasti pelayan supermarket lah yang merekomendasikan.


"Oh... Beneran gak bohong?" Ucap Aisha.


"Tidak, sayang. Kamu bisa tanyakan kepada bibi Lin, jika kamu tak percaya" ucap Altezza, Aisha pun menoleh ke arah bibi Lin, bibi Lin hanya tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai isyarat, bahwa ucapan Altezza itu benar.


"Baiklah, terima kasih Altezza" seru Aisha dan memeluk Altezza.


"Kamu tak perlu tahu perjuanganku mencarikan sayap untukmu sayang, betapa malunya dengan pelayan itu. Sebegitu detail menjelaskannya, apalagi dengan bodohnya aku mengatakan sayap-sayap. Yang panjang agar tidak bocor, di tambah lagi aku bertemu dengan pria tua bodoh itu" gumam Altezza dalam hati, ia merasa tekanan batin jika mengingat kejadian itu, pria tua bodoh yang ia maksud adalah paman Hans, yang merupakan partner kerja di New York. Betapa kagetnya paman Hans saat mengetahui Altezza tengah membeli pembalut.


Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah kembali di kamar utama. Disana Aisha duduk dekat jendela dan menikmati es krim, sedangkan Altezza yang hanya duduk bersandar di atas ranjang sembari mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Aisha melihat Altezza nampak begitu serius, Aisha pun menghampiri Altezza dengan manja mautnya. Aisha menerobos masuk dengan membawa es krimnya melewati lengan Altezza, Aisha sudah berhasil dengan posisi di dalam pelukan Altezza yang saat itu masih sibuk dengan laptopnya.


"Kamu tampan juga kalau sedang serius, apalagi dengan kaca mata itu" puji Aisha, yang sepertinya sudah tidak malu lagi dengan Altezza.


Altezza hanya diam dan meneruskan pekerjaannya, dan membiarkan Aisha bermanja ria di dalam pelukannya.


"Altezza, kamu mau es krim?" Altezza hanya diam dan hanya sebentar menatapnya, lalu kembali bekerja.


"Apa mau aku suapin? Enak lho" godha Aisha, Altezza tetap diam.


"Hemmm, enak lho" goda Aisha, sembari mengimingi Altezza.


Altezza tetap diam lalu menutup laptopnya, kemudian menaruhnya di atas meja tepat disebelah sisi ranjang, Aisha yang tidak mempedulikan tetap menikmati es krimnya.


"Coba aku cicipin es krimnya" ucap Altezza kemudian.


"Ambil sendiri di dapur" ucap Aisha yang tak mau kalah jahilnya.


"Hemmm... Sini" Altezza langsung melumat bibir Aisha, begitu terasa manis. Aisha yang terkena batunya, kewalahan menghadapi Altezza yang sepertinya sedang gemas.


Altezza merebut es krim yang ada di tangan Aisha dan menaruhnya di atas meja tepat disampingnya itu, Altezza terus melumatnya tanpa ampun. Aisha mulai menikmati sentuhan bibir Altezza, Aisha merengkuh tubuh kekar Altezza dengan erat. Malam itu yang terasa tak ingin malam cepat berakhir, tak ingin berpisah, mereka sama-sama menyatakan cintanya. Ya, Aisha telah sepenuhnya menerima Altezza untuk mengisi relung hatinya yang sudah lama kosong, yang nama Gibran Abraham sudah tereliminasi di dalam hatinya.


Bukan salah Aisha juga, jika harus menghapus nama Gibran Abraham. Keadaan lah yang memaksa sedemikian, dan Aisha juga perlu untuk bahagia tanpa harus menderita menunggu yang tidak pasti keberadaannya.


Sepasang kekasih itu pun, sudah tertidur pulas di atas ranjang yang sama. Dengan posisi Altezza merengkuh tubuh Aisha, mereka saling berhadapan. Entah kenapa Aisha sudah berani untuk menenggelamkan dirinya di dalam pelukan seorang lelaki, yang mungkin tidak lama ia kenal. Bahkan, Aisha sudah benar-benar jatuh hati kepada Altezza.