
Detik waktu telah berlalu terasa begitu cepatmya, hingga tak terasa sudah tiba di hari rabu, dimana hari itu merupakan hari perpisahan bagi kedua insan yang tengah di mabuk asmara. Aisha yang masih di atas ranjang bersama Altezza itu pun enggan untuk bangun, ia hanya ingin memeluk Altezza, menghirup aroma tubuh Altezza dengan sepuasnya, sebelum Altezza benar-benar pergi jauh ke London dan meninggalkan dirinya.
Waktu terus berlalu, hingga waktu menunjukkan pukul enam pagi. Meskipun masih pagi, Aisha masih enggan untuk melepaskan pelukannya itu. Seakan-akan, ia tak ingin di tinggalkan, atau waktu janganlah cepat berlalu.
"Sayang, apa kamu ingin terus memelukku seperti ini?" Ucap Altezza, yang sedari tadi hanya menuruti kemauan Aisha untuk tetap diam dan memeluknya.
"Hemmm"
"Baiklah. Sayang, apa kamu hanya ingin memelukku saja? Tak ingin yang lainkah?" Ucap Altezza bermaksud untuk menggoda.
"Apa?" Jawab Aisha dengan nada menyeret malas.
"Tidakkah kamu ingin menciumku?" Goda Altezza.
Aisha hanya mendongakkan kepala dan menatap wajah Altezza yang tengah tersenyum itu. Kemudian, Aisha meraih dan melingkari leher Altezza dengan tangan kananya, Aisha pun mendekatkan wajahnya ke wajah Altezza dengan begitu dekatnya. Tanpa menunggu lama, Aisha bergelayut manja dengan menempelkan hidungnya dengan hidung Altezza. Aisha memejamkan mata, dan menyamankan diri disana, membuat Altezza merasa gemas dibuatnya. Altezza pun mencubit pipi Aisha, karena saking gemasnya.
"Uhhh... Sakit, Altezza" rengek Aisha, sembari menatap sayu mata Altezza dan mengelus-elus pipinya yang sakit.
"Apa kamu sedang menggodaku, sayang?" Bisik Altezza.
"Siapa yang menggodamu" rengek Aisha.
"Barusan"
"Hemmm, rasanya enggan untuk ke kampus" rengek Aisha, Altezza pun tahu maksud Aisha namun apa daya, waktu telah tak memihaknya.
"Ya sudah, jadi istriku saja. Kamu tidak perlu kuliah lagi" ucap Altezza.
"Jangan ngaco, mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan ini" ucap Aisha, ia pun bangun dari tidurnya.
Altezza menggeserkan tubuhnya dan kemudian menyandarkan di pangkuan Aisha yang tengah duduk malas itu.
"Ah, Altezza geli. Cepat menyingkir dariku" Aisha merasa geli, dan mendorong kepala Altezza dari pangkuannya. Dengan sigap Aisha mengambil bantal dan menutupinya. Altezza pun tak mau kalah, ia hanya menggeser bantalnya sedikit lebih rendah untuk ia bersandar. Dan Altezza pun kembali bersandar di pangkuan Aisha meskipun dengan bantal sebagai pembatas.
"Sayang, kamu harus membiasakannya" ucap Altezza.
"I,itu. Tidak akan" tolak Aisha.
"Waktu kecil, aku senang menyandarkan kepalaku di atas pangkuan mama, seperti ini. Karena itu membuatku merasa nyaman, jika aku di ganggu oleh teman-temanku, aku pasti akan menangis di pangkuan mama sampai tertidur" ucap Altezza sembari meraih tangan Aisha dan meletakkan tangan kanan Aisha di atas dahinya.
"Sayang, sekarang aku sudah dewasa. Aku pun ingin bersandar di atas pangkuan mama, namun itu tidak akan pernah terjadi" ucap Altezza dengan memejamkan mata dengan tenangnya.
"Kenapa?" Ucap Aisha kemudian.
"Hemmm. Sayang, aku tidak mungkin mengeluh dan membagi bebanku kepada mama lagi dan lagi, karena beliau sudah bersusah payah membesarkan dengan kasih sayangnya untukku, sekarang inilah giliranku untuk membahagiakan mama dan melakukan yang terbaik untuk mama" ucap Altezza begitu lembut sembari menatap wajah Aisha. Aisha pun refleks berinsiatif mengelus lembut kepala Altezza.
"Kamu anak yang berbakti juga ya" sindir Aihsa.
"Sebab itu, kamu harus membiasaknnya sayang. Karena aku hanya ingin membagi lelah maupun bebanku kepada wanita yang aku cintai, yaitu kamu" ucap Altezza dan mengusap lembut pipi Aisha, Aisha tersenyum lembut dan meraih tangan Altezza yang mengelus lembut pipinya.
"Altezza, aku senang mendengarnya" ucap Aisha dengan lembut.
"Kalau begitu. Sayang, cium dong" rengek Altezza.
"Ih... Kamu itu ya" Aisha reflek melempar kepala Altezza, lantaran melihat Altezza manyun-manyun.
"Auw..." Altezza berpura-pura sakit dengan memegang lehernya, Aisha yang melihat itu pun gelagapan.
"Altezza, maafkan aku. Aku tidak sengaja" Altezza tak menjawab dan masih berpura-pura merasa kesakitan.
"Mana yang sakit Altezza, beritahu aku" Aisha merasa cemas.
Altezza terus berpura-pura kesakitan, hingga Aisha begitu cemas meraba-raba lehernya yang ia kira terasa sakit.
"Sayang, yang sakit bukan di sana" ucap Altezza kemudian.
"Di mana?" Ucap Aisha cepat.
"Disini" ucap Altezza, sembari menunjuk bibirnya.
Plakk... Aisha pun langsung melempar bantal ke wajah Altezza. Entah kenapa Aisha merasa di permainkan, hingga membuat dirinya marah dan merajuk dengan muka cemberutnya itu. Altezza yang tadinya tertawa kini terdiam cemas, lantaran Aisha terlihat marah begitu saja.
"Sayang, bercanda loh" Altezza mencoba merayu Aisha, namun Aisha hanya diam.
"Aku minta maaf deh" Altezza masih merayunya.
"Tahu ah" Aisha cuek, ia pun turun dari ranjang dan memakai sendal lantai.
"Kamu mau kemana?" Aisha tetap diam dan acuh meninggalkan Altezza di sana.
"Sebenarnya, ada apa dengannya?" Gumam Altezza, ia merasa geram.
Altezza bergegas bangkit dan menjalankan ritual pagi itu, yaitu mandi. Air segar mengguyur tubuh Altezza membuatnya rileks dan dapat berpikir jernih, memikirkan kenapa Aisha marah. Altezza menyadari sesuatu.
"Datang bulan" Gumam Altezza.
"Iya, mungkin Aisha tengah datang bulan. Tidak salah lagi, aku harus membuat moodnya kembali normal" gumam Altezza dalam hati.
Tak lama Altezza membersihkan badannya, ia pun mengelap badannya dengan handuk kering dan bersih yang sudah tersedia di rak kamar mandi, kemudian ia mengenakan kimono handuk. Altezza melangkah keluar dengan tegap, saat membuka pintu sembari mengacak-acak rambutnya yang basah, Altezza di buat kaget oleh pelukan Aisha yang langsung menerkamnya.
"Sayang?" Altezza melongo.
"Altezza, waktu begitu cepat" ucap Aisha.
"Lalu?'
"Aku minta maaf, sudah marah sama kamu tadi. Lagian kamu bercandanya..." Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan lembut.
"Kamu, nakal" ucap Aisha malu.
"Tidak. Biar aku yang mengantarmu ke bandara"
"Tapi, kamu kan harus berangkat kuliah"
"Tak apa, Angelica bisa membantuku"
"Baiklah, terserah kamu. Pergilah mandi" ucap Altezza.
Aisha pergi melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi, dengan sigap ia membersihkan badannya secepat mungkin. Tak lama kemudian ia keluar, namun anehnya ia tak mendapati Altezza di sana, buru-buru Aisha mengganti pakaian dan berdandan sedikit.
Sepuluh menit kemudian, Aisha turun dengan gaun sederhana berwarna biru elektrik itu. Begitu anggun dan memesona Aisha mengenakan gaun itu. Ia berjalan turun menyusuri tangga, Aisha mendapati Altezza sedang berbicara dengan beberapa orang asing yang ada di ruang tengah, yang tak jauh dari ruang makan.
"Altezza... Lho, mereka..." Aisha melongo saat melihat ada dua pelayan wanita baru, yang terlihat masih sangat muda dan dua pelayan pria paruh baya.
"Beri salam untuk nona kalian" perintah Altezza.
"Selamat pagi, nona muda Aisha" sapa ke dua pelayan wanita itu dengan cerianya.
"Nona Aisha benar-benar cantik dan anggun ya" ucap salah satu pelayan wanita itu.
"Iya, tuan muda memang hebat" timpal yang satunya.
"Nona muda Aisha, kami memberi salam untukmu nona" ucap salah satu pelayan pria, kedua pelayan itu pun langsung membungkuk memberi salam hormat secara bersamaan.
"Altezza. Apa yang kamu lakukan, ini terlalu berlebihan" ucap Aisha sembari menatap wajah Altezza.
"Itu sudah biasa, sayang" ucap Altezza.
"Sayang, kenalkan. Dia paman Edo yang akan menjadi sopir pribadimu. Lalu dia paman Albert yang akan bertanggung jawab mulai dari perkebunan, kerusakan yang ada di rumah atau bisa menjadi sopir jika paman Edo ada kendala" ucap Altezza.
"Lalu, dua gadis ini?" Ucap Aisha.
"Ah, dua gadis kecil ini Lala dan Lulu. Mereka anak kembar, hanya wajahnya sedikit berbeda. Mereka akan memasak untukmu, menemanimu dalam hal apapun. Ingat bibi Lin akan memantau perkejaan mereka selama disini dan juga dirimu jika berbuat macam-macam" ucap Altezza sembari menyubit hidung mancungnya Aisha.
"Baiklah, sudah waktunya. Lala dan Lulu kalian mulailah berkerja dari sekarang, paman Edo kita berangkat sekarang" ucap Altezza kemudian, tanpa memberi Aisha kesempatan untuk memperkenalkan diri.
"Baik tuan" ucap Lala dan Lulu serentak, mereka pun berlarian kecil untuk segera melaksanakan tugas dari tuannya.
Altezza meraih tangan Aisha, kemudian mereka berjalan dengan di buntuti Leon dan juga paman Edo. Sedangkan paman Albert, tentu pasti ikut membuntuti untuk memberikan salam perpisahan kepada tuannya itu. Begitu juga bibi Lin.
Mobil hitam nan mewah sudah terparkir di depan, Aisha langsung masuk bagian belakang, begitu di susul oleh Altezza. Paman Edo bertugas mengemudi, sedangkan Leon berada di depan bersama paman Edo. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan villa itu. Terlihat paman Albert dan bibi Lin melambaikan tangan dengan rasa hormat kepada tuannya.
Selama perjalanan menuju bandara, Leon menyajikan sarapan untuk tuannya dan juga dirinya. Iya sebenarnya mereka belum sempat sarapan, hanya ada roti bakar dan sandwich yang sebelumnya dibuat oleh bibi Lin yang di bungkus kedalam kotak yang cukup besar, lengkap dengan beberapa piring dan minuman botol.
Mereka menyantap makanan itu, terutama Altezza meminta Aisha untuk menyuapinya. Mobil itu terus melaju dengan cepat, waktu penerbangan sekitar pukul delapan lebih, sedangkan saat itu jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit.
Dan tibalah, mobil mereka memasuki wilayah bandara. Dengan sigap, Leon turun membawa satu tas yang cukup besar, hanya satu untuk mereka berdua. Entahlah, bagi Aisha tak memikirkan itu, ia hanya ingin menikmati di detik-detik momen perpisahan itu.
"Sayang, kemarilah" ucap Altezza dengan membentangkan tangannya, sebelum ia pergi.
Aisha dengan menahan air mata berlari kecil memeluk erat tubuh Altezza, Altezza pun membalasnya dengan lebih erat dan menciumi kepala dan wajah Aisha.
"Sayang, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan nakal" ucap Altezza dan mencubit manja hidung Aisha.
"Iya" ucap Aisha dengan air mata yang tertahan.
Altezza menyadari mata sayu itu, Altezza memberikan ciuman sebelum berpisah. Leon yang melihat itu hanya mampu membuang muka dan berusaha melihat pemandangan lain, meskipun ia selalu merasa iri dengan tuannya. Sedangkan paman Edo, hanya menunduk tak memandang sedikitpun.
"Hah, bos selalu saja, bikin jiwa kejombloanku meronta" gumam Leon dalam hati.
"Sayang, aku pergi sekarang" Altezza mencium kening Aisha, dengan berat Altezza melangkah pergi dengan Leon.
Aisha yang melihat Altezza yang sudah berjalan beberapa meter darinya, Aisha sudah tak mampu menahan air matanya. Aisha berlari sekencangnya dan menubruk tubuh Altezza dari belakang, dan memeluknya dengan erat di sertai tangisnya yang tak mungkin ia tahan.
"Kamu membuatku semakin berat untuk meninggalkanmu, Aisha" gumam Altezza dalam hati, Altezza menghirup nafas panjang dan membuangnya dengan tenang dan perlahan.
"Sayang..."
"Altezza, cepatlah kembali. Aku akan menunggumu, di rumah kita" sela Aisha dengan tersedu.
Altezza tersenyum namun hatinya juga tersayat. Ia semakin tak rela meninggalkan kekasihnya itu seorang diri di kota Manhattan, bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali di sisi Aisha.
"Sayang..." Ucap Altezza sembari membalikkan badannya, ia pun memeluk erat Aisha dan mencium kening Aisha.
"Berjanjilah padaku" tegas Altezza.
"Iya"
Mereka saling melepaskan pelukannya, dan merelakan untuk berpisah sementara waktu. Aisha menyeka air matanya saat melihat Altezza berjalan semakin jauh meninggalkan dirinya.
"Altezza, aku akan menunggumu" batin Aisha. Paman Edo pun menghampiri Aisha, mereka pun melangkah untuk pergi dari bandara.
"Aisha, tunggulah aku kembali untukmu sayang" gumam Altezza dalam hati.
Altezza terus melangkah pergi jauh bersama Leon, hingga selang beberapa waktu. Akhirnya pesawat itupun mulai terbang semakin tinggi dan semakin jauh kelangit biru itu, Aisha yang masih dalam perjalanan pulang itu pun terus memandangi pesawat yang ia duga merupakan pesawat yang Altezza tumpangi. Aisha menunduk pilu dan memeluk erat dari sisa aroma Altezza yang ia tinggalkan untuk dirinya.
"Maaf, nona. Apa kita akan pergi ke kampus nona ataukah pulang ke rumah?" Ucap paman Edo dengan sopan, karena ia mengerti akan perasaan Aisha.
"Pulang saja, paman" ucap Aisha.
Di sisi lain, Sally yang sudah berada di kampus. Ia menghawatirkan sahabatnya itu, sudah pasti Sally tahu jika Altezza sudah pergi ke London. Sally ingin membolos dan menemui Aisha, namun ia ulurkan niat itu. Sally merasa, biarlah Aisha dengan kesendiriannya lebih dulu. Itu lebih baik, karena jika Aisha memaksa untuk tersenyum itu lebih menyakitkan.
"Sudahlah. Nanti malam saja akan ku temui dia" gumam Sally yang sudah duduk di ruang kelas.
"Selamat pagi..." Suara dosen sudah terdengar begitu jelas, Sally berkesiap untuk bergulat dengan ilmu-ilmu yang harus ia pelajari.