
Di tempat lain.
"Aku harus cepat menemukannya, mungkin obatnya sudah bereaksi sekarang" gumam Liana, ia pun mempercepat langkah kakinya dan terus berjalan menelusuri lorong sekitar aula.
Beberapa saat kemudian, Liana telah berhasil menemukan Altezza yang tengah berjalan menuju toilet.
"Bagus. Tempat yang bagus untuk menunjukkan pertunjukan" ucap Liana dalam hati, ia pun merasa senang dan langsung memperhatikan keadaan sekitar yang di rasa cukup sepi itu. Liana pun masuk kedalam toilet untuk menyusul Altezza ke dalam sana.
Sedangkan, di aula acara pesta dansa yang seharusnya menjadi puncak malam itu batal dan di gantikan oleh pertunjukan Gavin bersama istrinya, tampilan mereka begitu memukau bahkan Arsya ikut memeriahkan acara itu, para tamu telah berhasil Gavin tangani dan mulai lupa akan kejadian sebelumnya, tetapi Altezza dan juga Aisha tak kunjung kembali sebelum acara pesta itu benar-benar berakhir.
"Di mana Altezza, pa" ucap mama Via yang mulai cemas.
"Aku tak tahu ma, bukannya tadi sudah menyusul kita dari belakang?" Ucap papa Abraham.
"Haduh, kenapa acara malam ini begitu kacau, ini sungguh memalukan sekali" keluh mama Via.
"Sabar ma, setidaknya Gavin dan Dathu sudah menggantikan posisi mereka tadi. Apa sebaiknya kita katakan saja dengan alasan lain untuk Altezza?" usul papa Abraham.
"Itu tidak perlu, tuan. Karena tuan muda sudah berada di sana" ucap Leon yang tiba-tiba sudah berada di sisi papa Abraham dan menujuk ke arah anak tangga.
"Hei, lihat. Tuan muda Altezza bersama calon istrinya" suara gemuruh beberapa tamu saat melihat Altezza mengenakan baju formal yang berbeda, begitu juga Aisha yang sudah mengenakan gaun yang berbeda.
"Wah, sungguh gaun malam yang sangat indah. Apakah mereka akan berdansa kali ini?" Bisik-bisik.
"Lihat mereka, seperti pangeran dan tuan putri saja" ucap seorang tamu yang terpesona akan kilauan sepasang kekasih itu.
"Tuan-tuan dan nona-nona, karena sebelumnya ada sedikit kekacauan izinkan kami untuk menebusnya malam ini" ucap Altezza.
Aisha dan juga Altezza berjalan menuruni anak tangga sampai mereka sudah berada di tengah-tengah aula, musik romansa pun mulai terdengar merdu, suasana lampu yang sedikit remang dengan di hiasi kelap-kelip lampu yang berwarna emas itu seketika mampu menjadikan aula bernuansa romansa, begitu juga lampu sorot yang diarahkan kepada Aisha dan juga Altezza.
Mereka berdua berdansa dan menari dengan gemulai dan indah, hampir semua mata takjub akan pertunjukan itu, di pertengahan musik romansa itu pun mama Via dan juga papa Abraham ikut andil untuk berdansa, kemudian di susul Gavin dan istrinya, bahkan sebagian para tamu pun ikut berdansa pula. Dan saat hendak sampai di penghujung musik romansa, terdengar bunyi letusan kembang api yang sangat meriah dan indah, begitu terpampang jelas menghiasi indahnya langit malam, bahkan melihatnya dari aula pun sudah cukup jelas lantaran kaca jendela di sana sangatlah luas untuk memandang ke arah luar. Semua orang begitu takjub dan terpesona akan puncak pesta malam yang sesungguhnya itu.
Dan beberapa saat kemudian, pesta malam itu pun berakhir, sebagian para tamu ada yang memilih untuk segera pulang, ada juga yang masih di sana untuk sekedar mengobrol dengan rekan bisnis maupun mengobrol bersama tuan rumah, papa Abraham.
Di sisi lain.
Liana yang sudah terlihat berantakan itu pun mencoba untuk melarikan diri, ia menangis di sana lantaran pria itu bukanlah Altezza melainkan seorang pria yang menyukai Liana sejak dulu. Liana terus memberontak meskipun pria itu sempat menciumi dirinya namun belum sempat terjadi yang lebih jauh lantaran Liana berhasil menendang harta berharga bagi seorang pria, namun ia tetap saja terkurung di dalam kamar itu dan tak bisa untuk keluar, yang mampu Liana usahakan hanyalah menggenrak pintu dan meminta tolong.
"Liana, aku mencintaimu. Kenapa kamu selalu menolakku?" Ucap pria itu.
"Diam kamu" Hentak Liana.
"Liana, kemarilah kamu tidak akan bisa keluar malam ini, aku janji akan menikahimu setelah ini" ucap pria itu dan mulai mendekati Liana.
"Berhenti!! Jangan mendekat" hardik Liana.
"Tolong buka pintunya" Liana pun menggedor-gedor pintu.
Namun sialnya, pria iitu langsung meraih tubuh Liana dan menyeretnya Kembali di atas ranjang. Bahkan tanpa ragu, pria itu menindih dan menciumi tubuh Liana bahkan meninggalkan tanda di sana.
"Menurutlah, sayang. Malam ini aku akan melakukannya dengan baik, kamu pasti akan puas bersamaku" bisik pria itu.
"Tidak. Kenapa tubuhku, ada apa dengan tubuhku ini?" Ucap Liana dalam hati, ketika tubuhnya tak menolak akan perlakuan pria itu.
"Lihat. Kamu mulai menikmatinya kan sayang?" Bisik pria itu.
"Sial. Apa yang terjadi dengan tubuhku, bahkan aku ingin lebih, tapi aku tidak mau dengan pria bodoh ini" ucap Liana dalam hati, ia pun mencoba untuk melepaskan diri sebelum itu benar-benar terjadi padanya.
Plakkk... Tamparan keras mendarat tepat di pipi Liana.
"Liana!! Bukankah aku sudah memperlakukanmu dengan baik selama ini, kenapa kamu terus menolakku?" Ucap pria itu yang sudah marah.
"Sekarang juga aku akan membereskanmu!" Ucap pria itu, ia pun mulai mencengkram kedua tangan Liana ke atas sembari pria itu menciumi mulut Liana sedangakan tangan kanannya ia gunakan untuk membuka kancing baju yang masih ia kenakan.
Liana tak mampu melawan kekuatan pria itu dan menangis di sana, ia benar-benar tak rela jika malam itu ia akan berakhir dengan pria yang tidak ia cintai sama sekali.
Brakkk... Tiba-tiba pintu terbuka dengan paksa.
"Astaga, Liana. Apa yang terjadi?" Umpat mama Via saat melihat posisi itu dan melihat pria itu yang sudah telanjang dada bahkan Liana sudah berantakan.
"Ma, tolong aku" ucap Liana dengan tangis, ia pun meraih selimut dan berlari ke arah mama Via.
"Kamu siapa?!" Hentak papa Abraham.
"Maaf tuan, saya pasti akan bertanggung jawab" ucap pria itu dan menunduk di hadapan papa Abraham.
"Ini bukan masalah tanggung jawab atau tidak, kamu telah melakukan tindakan kriminal dalam keluarga Abraham. Dasar kamu..."
"Tunggu!!" Ucap Altezza kemudian yang datang bersama Aisha, Gavin dan juga Dathu.
"Ssttt... Kita dengarkan dulu kunci permasalahannya" ucap Gavin kepada Dathu.
"Altezza? Kenapa kamu..."
"Biar dia merasakan akibat dari perbuatannya pa" tegas Altezza, sontak membuat Liana terkejut, begitu juga dengan yang lainnya ikut terkejut dan ingin tahu apa maksud Altezza.
"Apa maksud kamu, Altezza?" Ucap mama Via yang terlihat sudah tidak sabar.
"Aisha akan menjelaskannya, ma, pa dan semuanya" ucap Aisha kemudian.
"Itu terjadi sebelum dua jam yang lalu..." Aisha pun mulai menceritakan semuanya.
Berawal dari Aisha yang hendak pergi ketoilet, saat Aisha berjalan menuju toilet tiba-tiba ada dua pria yang terjatuh pingsan dari belakangnya, sontak membuat Aisha terkejut. Dan rupanya di sana ada Leon dan juga beberapa anak buah dari Altezza yang tengah membuat dua pria itu pingsan dengan satu pukulan.
"Leon? Apa yang terjadi?" Ucap Aisha.
"Nona, tetap tenang. Cepat bawa mereka pergi dengan senyap" perintah Leon. Anak buah Altezza pun mulai membopong dua pria itu dan membawanya jauh dari sana karena hal itu dapat memicu perhatian para tamu jika tidak segera di bereskan.
"Nona, cepat ikuti kami" ucap Leon, Aisha pun langsung menuruti apa kata Leon, ia tahu pasti ada sesuatu jahat yang tengah mengincarnya.
Aisha berjalan ke koridor yang menembus ruang bagian utama keluarga Abraham, di sana pula ada seorang wanita yang tampak asing bagi dirinya
"Ah, nona Aisha. Syukurlah kamu selamat" ucap wanita itu saat melihat Aisha telah datang.
"Eh? Kamu..."
"Tenang, aku Lindsey nona" ucap wanita itu yang ternyata Lindsey, lantaran Lindsey seperti seseorang yang sedang menyamar.
"Nona, aku tak sengaja mendengar pembicaraan Liana yang mau mencelakaimu, aku langsung menghubungi Leon dan meminta bantuan mereka. Sekarang kita sudah ada bukti, nona juga sudah selamat" ucap Lindsey.
"Leon juga sudah kembali untuk melakukan tugas yang lainnya untuk menukar minuman kepada tuan muda Altezza, tapi Lindsey tak tahu harus bagaimana karena ini terserah nona, mau menggagalkan rencananya atau membalasnya" ucap Lindsey kemudian.
"Hemm... Apa yang di rencanakan Liana?" Ucap Aisha.
"Dia ingin mempermalukanmu dan juga mencoba untuk memberi tuan obat pria, sesuai bukti yang ada" ucap Lindsey dan menunjuk rekaman yang sudah berbunyi dan menunjukkan bahwa Liana berencana untuk mempermalukan Aisha di depan publik dengan hal yang menjijikkan, sedangkan rencana yang ke dua adalah ia ingin memberi obat kepada Altezza dan memanfaatkannya sehingga ia dapat memiliki Altezza.
"Liana mau menindasku? Tidak semudah itu untuk melepaskannya begitu saja, tentu saja kita ikuti alurnya, Lindsey bantu aku" ucap Aisha yang sudah mendapatkan ide.
Sesuai permintaan Aisha, Lindsey telah mempersiapkan sebuah gaun yang hampir sama persis dengan apa yang Aisha kenakan, begitu juga anak buah Altezza di perintahkan untuk mencari pasangan suami istri yang mau bekerjasama dengan Aisha tentu dengan imbalan yang fantastis, mengingat Aisha masih membawa kartu platinum yang sebelumnya Altezza berikan kepada Aisha.
Setelah berhasil menemukan sepasang suami istri, Aisha menyuruh wanita itu mengenakan gaun merah yang hampir sama persis seperti yang ia kenakan, kemudian membawa mereka ke salah satu ruangan yang sekiranya dekat dengan aula, Lindsey mengusulkan salah satu kamar tamu di sisi aula, dan di sanalah mereka melakukan tugasnya sesuai prediksi Aisha, jika Liana ingin mempermalukannya tentu pasti mencari tempat yang paling dekat dengan aula dan menunjukkan hal yang paling menjijikkan untuk di perlihatkan depan publik.
Pertunjukan itu terjadi hanya sandiwara, wajah wanita itu pun tak sepenuhnya terlihat lantaran tertutupi oleh suaminya yang terlihat sedang menindih, saat itu pula Liana mulai memprovokasi, lalu Aisha pun muncul dan memprovokasi balik. Seperti dugaan Aisha, Liana dapat memutar balikkan ucapan Aisha dan Aisha pun telah mempunyai rencana selanjutnya.
Aisha sengaja terlihat kalah terhadap musuh tetapi Aisha telah menyembunyikan taringnya, seperti rencana keduanya ia telah bertemu dengan seorang pria yang menyukai Liana, Aisha pun meminta untuk bekerja sama dan membuat Liana jera, dan tentu saja pria itu menyanggupinya.
Saat pertunjukan hendak di mulai, Aisha mencari Altezza untuk meminjam pakaian formal yang ia kenakan agar di pakai oleh pria yang menyukai Liana, agar pria itu di sangka Altezza tak hanya itu pria itu pun di buat semirip mungkin dengan Altezza jika di lihat dari belakang meskipun tubuh Altezza jauh lebih gagah daripada pria itu, namun rupanya Aisha kembali menjadi incaran Liana untuk menyekapnya dan memainkannya secara paksa.
Tapi beruntung, yang menyekap Aisha bukanlah pesuruh Liana melainkan Altezza, Altezza melakukannya untuk menyelamatkan Aisha sebelum penculik itu yang menemukan Aisha lebih dulu, dan di kamar tamu itu pula rencana Aisha berlanjut. Pria yang menyukai Liana mengenakan baju formal Altezza, sedangkan Altezza dan juga Aisha berganti busana malam yang indah.
Dan ketika Liana terperangkap dalam toilet, Liana di bius dan di bawalah dirinya di dalam kamar tamu. Saat iru pula tugas pria yang menyukai Liana ia jalankan sesuai permintaan Aisha.
"Bohong!!! Dia bohong ma, pa. Percaya pada Liana, Liana tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu, atau jangan-jangan kak Aisha sengaja melakukannya padaku karena kak Aisha tidak suka dengan Liana ma, pa" ucap Liana yang mencoba untuk membela diri.
"Tapi maaf Liana, aku sudah ada bukti rekaman, pelayanmu dan preman yang kamu sewa semua sudah ada di tanganku. Jika kamu masih mengelak, aku masih ada saksi" ucap Aisha, seketika itu Lindsey dan juga Leon pun muncul dan maju kemudian menyatakan kesaksiannya.
"Maaf ma, jika itu sangat keterlaluan. Tapi, Aisha berhak membela diri, jika Aisha yang menjadi korban yang sangat mengerikan itu, tentu itu akan membuat hidup Aisha hancur" tegas Aisha.
"Ma, bohong. Liana tidak mungkin..."
Plakkkk... Tamparan mendarat tepat di pipi Liana.
"Kamu pikir mama tak tahu dengan perbuatan mu yang sebelumnya, Liana?" Umpat mama Via yang sudah marah.
"Liana, papa sungguh kecewa denganmu. Aku pikir kamu gadis yang baik, rupanya kamu tidak memiliki tata krama" ucap papa Abraham yang terlihat marah.
"Cukup. Sekarang semuanya sudah tahu, Liana bersiaplah besok hari pernikahanmu. Setelah itu kamu bukan siapa-siapa lagi bagi keluarga Abraham" ucap Altezza kemudian.
"Kak Altezza, aku mohon maafkan aku. Kak Aisha maafkan aku, tolong ka. Ma, pa..." Ucap Liana yang tengah memelas itu, namun mama Via dan juga papa Abraham tak memperdulikannya dan meninggalkannya begitu saja.
"Kak Altezza, aku janji tidak akan melakukannya lagi aku mohon maafkan aku, Kak Aisha tolong maafkan aku" ucap Liana dan memohon kepada Altezza.
"Dasar adik angkat tak tahu diri, nona Aisha masih mau berbaik hati tidak membuat dirimu hancur. Dengan ini kamu sudah pantas untuk menerimanya, Liana aku harap kamu mau intropeksi diri" ucap Lindsey.
Semua orang pun pergi meninggalkan Liana seorang diri bersama Riko yang masih sabar menyayanginya, bahkan Riko telah bersedia untuk menikahi Liana besok, kemudian membawanya pergi ke Indonesia untuk menjalani kehidupan yang layak di sana. Mengingat, Riko awalnya seorang siswa pertukaran asal Indonesia yang tak sengaja bertemu dengan Liana di London, setelah lulus Riko mencari pekerjaan di London hanya semata-mata ingin selalu dekat dengan Liana, meskipun sebelumnya ia sering di tolak bahkan di manfaatkan oleh Liana, tapi Riko tak pernah menyerah akan cintanya, bahkan Riko ingin membuat Liana tersadar akan perbuatannya yang tak seharusnya ia lakukan untuk membuat malu keluarga Abraham.