Just Married

Just Married
episode 39: Itu Tidak Baik, Altezza



New York University, pagi itu masih terlihat ramai akan para mahasiswa yang telah siap untuk bergulat dengan buku-buku dan materi.


"Sayang. Ingat, jangan nakal. Nanti aku akan menjemputmu" ucap Altezza, sekaligus mencium kening Aisha.


"Iyaaa.... Eh, tunggu. Jemput?"


"Iya. Kita akan pulang bersama, sayang"


"Ke, kemana?"


"Ke villa, rumah kita"


"Altezza cukup. Hari ini aku mau pulang ke...." Altezza tiba-tiba membungkam mulut Aisha, dengan mencium bibir Aisha.


"Altezza. Apa yang kamu lakukan?" Aisha kesal, setelah Altezza melepaskan ciumannya.


"Iya. Nanti kita ke apartemen, untuk mengemasi barang-barangmu. Setelah itu kita pulang..." ucap Altezza.


"Altezza, cukup" Aisha mulai marah.


"Kenapa?"


"Bodoh. Kita bukan suami istri" ucap Aisha begitu kesalnya.


"Di tambah lagi, godaan yang sangat berat, ketika setiap malam sampai pagi melihatmu telanjang dada dan tidur bersamamu dalam satu selimut" ucap Aisha dalam hati.


Altezza hanya diam, wajah Altezza berubah menjadi muram, Aisha yang melihat sorot mata Altezza seperti menahan rasa amarah itu pun, dengan segera Aisha memadamkan amarah Altezza disana.


"Altezza..." Lirih Aisha, ia pun meraih wajah Altezza dan mencium pipi Altezza. Namun Altezza tetap diam tanpa kata.


"Pria ini, kenapa marahnya melebihi cewek yang lagi PMS sih?" Ucap Aisha dalam hati.


"Tapi, melihatnya seperti ini. Membuatku merasa luluh untuk mengalah, tapi tidur bersama dan tinggal bersama itu tidak baik. Altezza, kenapa kamu bodoh sekali" ucap Aisha dalam hati.


"Hufft... Altezza, dengar. Bukannya aku tidak mau tinggal bersamamu, tapi kita belum menikah. Jika kita tinggal bersama itu tidak baik, apalagi tidur satu selimut denganmu" ucap Aisha, seketika merasa malu akan ucapannya itu.


Altezzza hanya terdiam tanpa kata, dalam pikirannya pun terlintas wajah Aisha yang sedang tidur. Apalagi ketika di tengah malam, disaat Altezza tanpa sengaja melihat belahan dada Aisha, memang membuatnya cukup untuk menelan ludah. Terkadang, jika melihat Aisha selesai mandi dan memakai handuk kimono, itupun cukup menggoda bagi diri Altezza.


Altezza membuang nafas dengan berat, ia mulai menoleh dan menatap Aisha. Sorot matanya masih tajam, Altezza pun melepaskan sabuk pengaman yang masih melekat ditubuhnya, Altezza mulai merengkuh badan Aisha. Altezza memeluknya, seperti seorang kekasih yang enggan untuk melepaskan kepergian seorang kekasih. Tak hanya itu, Altezza pun melumat bibir Aisha cukup lama di sana.


Ciuman itu pun mampu membuat Aisha berani untuk memegang wajah Altezza, Altezza pun membalas belaian itu dengan menyentuh tangan Aisha yang masih menempel di pipinya dengan telapak tangannya itu. Suasana yang sungguh terlihat mesra, layaknya sepasang suami istri yang enggan untuk berpisah.


Setelah ciuman itu berakhir, Altezza mengecup kedua pipi Aisha, kemudian kening. Aisha yang melihat sorot mata Altezza yang muram pun mereda sudah terlihat menjadi lembut, Aisha tersenyum dan mengusap lembut pipi Altezza dengan perasaan gemasnya, bahkan durinya merasa enggan untuk berpisah namun Aisha ingatkan dirinya akan tujuan di New York untuk apa.


"Altezza, aku akan turun sekarang. Kamu hati-hatilah di jalan" ucap Aisha dengan lembut, Altezza pun hanya diam dan menganggukkan kepala.


Aisha pun membuka pintu mobil dan turun dari mobil kemudian kembali menutup pintu mobil itu, kemudian Aisha berdiri untuk melihat Altezza itu untuk pergi meninggalkan dirinya di depan kampus. Di saat itu pula, Altezza menancap gas dan melaju perlahan pergi meninggalkan kekasihnya itu yang masih melambaikan tangannya sebagai salam sampai jumpa.


"Huft... Benar-benar, merepotkan. Tapi, manis juga sih jadi merasa enggan untuk jauh-jauh darinya" gumam Aisha.


"Hah... Aisha, ingat tujuanmu jangan sia-siakan kesempatan ini. Oke, saatnya semangat ngampus" gumam Aisha, ia pun memantapkan langkahnya untuk memasuki gedung universitas.


Aisha bergegas pergi menuju ruang kelasnya, Aisha masuk kampus tanpa membawa buku, Aisha hanya membawa tasnya yang telah di siapkan oleh Altezza yang entah apa yang sudah di siapkan Altezza didalam sana, yang terpenting Aisha dapat masuk untuk mengisi absen dan sebuah tas yang masih melekat di punggungnya, ia dapat menebak jika yang ia bawa pasti ada laptop tentu saja Aisha sedikit aman selain itu juga ada Sally yang dapat membantunya.


Setibanya di dalam kelas, Aisha membuka tasnya, dan ternyata benar disana ada sebuah laptop yang masih baru. Aisha mengeluarkannya dari sana, namun anehnya, di sana terlihat ada sebuah dompet wanita yang cukup mewah. Aisha kaget dan buru-buru un5 mengeceknya.


"U, uang?" Gumam Aisha terbelalak, dompet itu penuh dengan tumpukan uang dolar yang cukup banyak.


"Tunggu. Sepertinya ada sesuatu lainnya" dengan cepat Aisha mengecek sesuatu yang terselip di dompet itu. Semakin kagetlah Aisha, karena ia menemukan satu kartu kredit Gold dan satu kartu kredit Silver, di tambah lagi satu atm alias kartu debit gold. Dan yang semakin membuat Aisha gelagapan ialah, disana ada foto Altezza menghiasi di dompet itu dan terpampang jelas di sana.


Ting... Tiba-tiba terdengar suara ponsel di dalam tas itu. Buru-buru Aisha mencarinya di dalam tas itu, dan ternyata benar memang ada sebuah ponsel touchscreen yang terlihat masih baru bahkan lebih mewah dan yang pasti mahal, Aisha mengeceknya lantaran terlihat ada satu pesan yang masuk, saat Aisha menyentuh untuk membuka pesan itu. Terlihat jelas, walpaper dengan foto Altezza setengah badan itu, memang terlihat tampan dan gagah dengan sorot matanya yang tajam.


"Pria ini, benar-benar ya" ucap Aisha dalam hati, dan tersenyum geli.


Aisha, mengecek isi pesan itu. Yang ternyata dari Altezza, pesan itu hanya berisi tentang nomor pasword dari kartu-kartu yang ada di dompet.


"Kamu menganggap ku seperti apa, dasar Altezza bodoh" gumam Aisha dalam hati, ia pun membalas pesan singkat itu.


"Dasar, Altezza. Kamu menganggapku apa? Uang? Kartu kredit dan kartu debit? Untuk apa?" celetuk Aisha dalam hati. Tak lama kemudian dosen itu pun datang, dengan segera Aisha membuka laptopnya.


Namun kagetnya lagi ketika Aisha membuka laptopnya yang sudah ada di depannya itu, wallpaper laptop Aisha itu terpampang jelas, dirinya yang sedang merangkul lengan Altezza dengan senyuman yang memesona dan memakai gaun yang yang ia rasa tak asing, gaun silver yang pernah ia kenakan saat menghadiri suatu pesta, bahkan adanya gaun itu terlihat serasi dengan yang Altezza kenakan. Seperti sepasang kekasih, wajah Altezza pun terlihat jelas senyum gentle dengan mata yang indah dan menyorot tajam, sedangkan Aisha nampak begitu anggun dan mempesona dengan senyumannya yang begitu menawan.


"Aisha, apa itu suami kamu?" Tanya seseorang yang ada disampingnya itu, yang tak lain ialah Angelica. Karena memang, foto mereka nampak seperti tengah menghadiri suatu pesta yang resmi untuk suatu hubungan.


"Apa?" Aisha gelagapan dan merasa malu.


"Wah, benar-benar pasangan yang serasi" seru teman yang ada di sisi kirinya.


"Eh. Tampan sekali, siapa itu Aisha?" Timpal yang ada di belakang Aisha, yang tak sengaja melihat foto wallpaper.


"Altezza... Kamu..." Geram Aisha dalam hatinya, dan menahan malu akan pertanyaan dari teman-temannya itu.


Meskipun Aisha sendiri merasa foto itu cukup membuatnya berdebar, ia tak menyangka dirinya bisa merangkul lengan seorang pria yang begitu tampan yang kini telah ia cintai. Namun dari pertanyaan teman-temannya itu pun, dengan terpaksa untuk menjawab bahwa Altezza calon suaminya.