Just Married

Just Married
episode:79 Ingin Manja



"Sally. Apa ini gak keterlaluan? Meskipun Liana ingin merebut Altezza, tapi aku merasa kasihan" ucap Aisha saat selesai menonton sebuah rekaman video yang Sally rencanakan.


"Iya sih, tapi dia sudah membuatmu sedih. Menurutku, dia pantas untuk mendapatkannya. Lagian itu hanya bohongan" ucap Sally.


"Iya juga sih, walaupun jujur aku sedikit merasa senang. Tapi kasihan juga" ucap Aisha.


"Tapi Sally. Soal ini, sebaiknya Altezza jangan tahu dulu. Bagaimanapun Liana adalah salah satu bagian dari keluarga Altezza" ucap Aisha kemudian, ia merasa cemas.


"Baiklah. Aku akan menyimpan rahasia ini untukmu" ucap Sally.


"Terima kasih Sally" ucap Aisha.


"Sebaiknya, kamu temui Altezza. Aku lihat waktu sarapan, tadi kalian hanya diam" ucap Sally.


"Yah. Aku hanya sedikit cemburu saja" ucap Aisha lesu.


"Aku tahu, itu hal wajar kok Aisha. Tapi jangan lama-lama menuruti ego, karena yang akan menyesal diri sendiri" ucap Sally mengingatkan.


"Aku pikir juga begitu. Aku merasa, Liana sangat berpengaruh dengan hubungan kami" ucap Aisha seperti putus asa.


"Hei. Bicara apa kamu, ayolah. Kamu sudah mendapatkannya, jangan sia-siakan itu Aisha" ucap Sally.


"Kamu tahu. Suatu hubungan pasti akan ada macam ujian, bisa jadi Liana adalah salah satu ujian untuk hubungan kalian. Tapi aku yakin, kamu pasti akan mampu melewatinya. Selama Altezza menggenggam erat tanganmu, kamu jangan pernah untuk melepaskannya. Aku rasa, Altezza tipikal pria yang tahu diri" ucap Sally.


"Iya. Terima kasih atas nasehatmu, Sally. Aku jadi lega, setelah bercerita denganmu" ucap Aisha.


"Tentu saja, kita kan sahabat" seru Sally.


"Baiklah, aku temui Altezza dulu" ucap Aisha bersemangat.


"Yah, semoga berhasil" ucap Sally dengan senyuman yang membara.


"Oke"


Aisha pergi meninggalkan Sally seorang diri di ruang tengah yang ada di lantai dasar, Sally menghela nafas panjang dan kemudian kembali mengotak-atik laptop Leon untuk memotong adegan dimana Liana terlihat terlalu terbuka. Tentu saja itu tidak baik jika Leon melihatnya. Namun tanpa Sally sadari, Leon sudah berdiri sejak mereka mengobrol dengan Aisha. Leon merasa, Sally begitu dewasa.


"Leon?" Ucap Sally, saat Leon menghampiri Aisha.


"Laptopnya" ucap Leon.


"Sudah. Terima kasih, sudah meminjamkannya kepadaku" ucap Sally.


"Meskipun itu hanya bohongan, aku rasa ini akan bermasalah untuk nona kedepannya" ucap Leon.


"Tenang saja, aku akan membantu Aisha. Semua akan baik-baik saja" ucap Sally.


"Semoga saja" ucap Leon.


"Leon? Bisakah kamu mengantarku pulang ke apartemen?" Ucap Sally.


"Bisa. Tapi nanti setelah aku menyelesaikan pekerjaanku dulu"


"Oke"


Di kamar utama, dimana Aisha mencari Altezza. Namun ia tak dapati Altezza di sana, Aisha pun berinsiatif untuk mengecek di ruang perpustakaan. Saat Aisha membuka pintu perpustakaan, benar saja. Altezza tengah sibuk di hadapan laptopnya itu. Aisha pun menutup kembali pintunya, ia berjalan mendekati Altezza dan langsung memeluk pundak Altezza yang tengah duduk membelakanginya.


"Aisha?" Ucap Altezza.


"Altezza. Maafkan aku ya" ucap Aisha dengan sedikit manja.


"Hemmm"


"Altezza..." Rengek Aisha.


"Apa?" Altezza tetap sibuk dengan laptopnya.


"Hemp. Aku minta maaf" rengek Aisha.


"Iya" ucap Altezza, ia tetap saja mengacuhkan Aisha dan sibuk dengan laptopnya.


Aisha geram, ingin mencabik-cabik Altezza. Namun ia lebih memilih bersikap sedikit agresif dan manja.


"Liana saja bisa agresif, aku harus bisa lebih darinya" gumam Aisha dalam hati.


Dengan percaya diri, Aisha kembali merangkul pundak Altezza. Kemudian ia menyandarkan dagunya di sisi kiri pundak Altezza. Altezza yang masih sengaja tetap diam pun membuat Aisha bersikap lebih manja, dengan pelukan kelembutan Aisha dan membisiki telinga Altezza dengan memanggil namanya. Altezza tak bergeming, lantaran menurut Altezza pekerjaannya sedikit lagi akan selesai.


"Masa aku harus panggil, Altezza sayang?" Pikir Aisha, entah mengapa ia merasa geli. Aisha kembali bergelayut manja di atas pundak Altezza.


"Altezza, apa kamu gak capek kerja terus?" Rengek Aisha, tapi Altezza tetap diam.


"Tapi, aku yang capek Altezza bodoh" Aisha merasa sedikit kesal, lantaran terus diabaikan oleh Altezza.


"Huhhh... Baiklah, jika itu maumu" ucap Aisha dalam hati.


Aisha melepaskan pelukannya, ia berdiri tegak kemudian berjalan dan langsung saja, Aisha menerobos duduk di atas pangkuan Altezza, bahkan Aisha sengaja membelakangi Altezza hingga membuat Altezza kesulitan untuk melihat laptonya.


"Sayang. Apa ysng sedang kamu lakukan?" Ucap Altezza, ia merasa gemas dengan tingkah Aisha.


"Nonton kamu kerja, apa lagi?" ucap Aisha dengan polosnya.


"Kan aku di sini, sayang. Kamu membelakangiku" ucap Altezza.


"Benarkah? Tapi, aku juga ingin tahu apa yang kamu kerjakan" ucap Aisha tanpa dosa itu.


Altezza pun lengsung melingkarkan tangannya di perut Aisha, dagunya ia sandarkan di atas pundak Aisha. Pelukan itu membuat hati Aisha berdebar, baru kali itu Altezza memeluknya dengan mesra apalagi dengan posisi seperti itu.


"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan sayang?" Ucap Altezza dengan lembut.


"Tidak ada"


"Lalu, kenapa tadi bersikap sedikit agresif dan manja?"


"Memangnya tidak boleh?"


"Boleh. Tapi, jika kamu bertindak agresif. Aku khawatir tidak mampu menahannya sayang" ucap Altezza.


"Jika Liana yang melakukannya?"


"Jadi, dia masih cemburu" gumam Altezza dalam hati.


"Sayang. Sudah ku katakan berapa kali, kamulah yang paling menggoda diriku. Tanpa kamu bersikap agresif pun, aku selalu menahannya" ucap Altezza terus terang.


"Begitu? Baiklah, aku akan bersikap dingin padamu" ucap Aisha yang tak mau kalah.


Altezza hanya mengalah, ia pun mengambil ponsel miliknya dan memencet layar telfon untuk melakukan panggilan. Altezza pun mendekatkan ponsel itu di telinganya.


"Leon. Suruh kirim pesawat untuk menjemput kemari" ucap Altezza, sontak membuat Aisha kaget akan ucapan Altezza.


"Iya, sekarang" ucap Altezza, ia pun kembali menutup telfonnya.


"Altezza? Maksud kamu barusan apa?"


"Sudah malas" ucap Aisha.


"Apakah Altezza akan kembali ke London?" Ucap Aisha dalam hati.


"Sayang?" Panggil Altezza, lantaran tiba-tiba Aisha terdiam.


"Sayang..." Panggil Altezza sekali lagi.


Aisha langsung memutar tubuhnya untuk memeluk Altezza, Aisha mendekapnya dengan erat.


"Altezza. Apa kamu akan kembali ke London?" Ucap Aisha, terdengar merajuk manja.


"Iya" ucap Altezza. Pelukan Aisha semakin erat.


"Apa kamu akan pulang dengan Liana?"


"Iya"


"Hemmm... Baiklah, jaga dirimu ya. Aku menyayangimu" ucap Aisha, ia pun melepaskan pelukannya.


Aisha beranjak dari pangkuan Altezza, Aisha melangkah pergi meninggalkan Altezza disana. Altezza hanya diam dan membiarkan Aisha pergi, Altezza pun melanjutkan pekerjaannya kembali, lantaran hanya tinggal sedikit saja.


Sedangkan Aisha, terlihat tengah berjalan lesu menuruni anak tangga. Aisha ingin membuat sesuatu untuk menyenagkan hatinya, ketika Aisha melihat Lala, Aisha pun langsung menghampirinya.


"Lala. Temani aku pergi sebentar" ucap Aisha.


"Kemana kak?"


"Ikut saja" ucap Aisha.


"Baiklah"


"Tunggu. Dimana Sally?"


"Kak Sally, baru saja pulang di antar Leon. Kak Sally bilang titip salam untuk kak Aisha, katanya ia tak mau mengganggu kak Aisha sama tuan muda"


"Oh. Ya sudah, ayo" ucap Aisha.


Aisha dan Lala pergi ke suatu tempat, dimana Aisha pernah melihatnya dari atap. Yap, sebuah taman yang indah dengan bunga-bunga bermekaran. Lala dan Aisha berjalan di atas trotoar sembari bercerita ria, Lala selalu saja punya cerita menarik untuk di dengarkan, bahkan Aisha dengan senang hati mendengarkannya.


"Ini dia..." Seru Asiha.


"Wahhh... Indah sekali" ucap Lala.


"Kita masuk yuk, cari bangku" seru Aisha.


"Oke"


Pikiran Aisha terasa ringan, bunga-bunga yang bermekaran itu sangatlah indah, apalagi kupu-kupu berterbangan dengan gemulainya. Ingin sekali Aisha memetiknya, namun ia ulurkan niatnya. Aisha dan Lala tersenyum riang dengan menyentuh bunga, dan menghirup aroma bunga. Suatu ketika Lala tertarik dengan salah satu bunga yang cukup besar dan indah, Lala baru pertama kali melihatnya disana, Lala pun mendekat.


"Wah indah sekali, padahal belum mekar sepenuhnya" gumam Lala, dengan sigap Lala mencium aroma bunga itu lebih dulu sebelum Aisha datang.


"Hoekkkk.... Bau banget... Bunga apa itu, bau banget" suara Lala mengagetkan Aisha, dengan cepat Aisha mendekati Lala dan melihat ada bunga raflesia arnoldi yang belum mekar, sontak membuat Aisha tertawa.


"Hahaha... Sukurin kamu, itu bunga bangkai. Hahahaa..." Tawa Aisha, lalu tiba-tiba ada seorang kakek datang menghampiri Aisha dan Lala.


"Gadis cantik, apa yang membuatmu tertawa?" Ucap kakek itu, rambutnya sudah memutih dan tangan memegang tongkat untuk menopang jalannya, namun wajahnya memancarkan keceriaannya.


"Kakek? Maafkan kami, kek" ucap Aisha.


"Apakah karena bunga ini?" Ucap kakek dan menunjuk bunga bangkai.


"Iya kek, bau banget" ucap Lala, yang masih terngiang akan baunya.


"Hehehe, sudah pasti. Oh ya, kemarilah ikut kakek"


"Eh?" Lala merasa ragu.


"Tak apa, kakek hanya menunjukkan sebuah tempat yang paling indah di sebelah sana" ucap kakek itu.


Kakek itu langsung berjalan kearah yang ia tunjuk, dengan ragu Aisha dan Lala mengikutinya. Jalan kakek itu masih cukup kuat, tanpa sadar mereka sampai di sebuah bangku putih dengan atap besi yang melengkung yang menyerupai seperti sangkar raksasa, dengan lilitan hijau dan bunga-bunga kecil bermekaran dengan indahnya, ditambah hamparan bunga mawar merah dan merah muda yang bermekaran.


"Tunggu kakek, sebenarnya kakek siapa? Aku rasa kakek sangat tahu tempat ini" ucap Aisha, ketika kakek itu hendak melangkah masuk untuk duduk disana.


"Kamu pandai sekali, gadis cantik. Aku lah yang merawat taman ini, dan namaku sama seperti yang tertera di papan depan tadi, sebelum kalian masuk" ucap kakek itu.


"Kakek William?" Ucap Aisha dan juga Lala hampir bersamaan.


"Hehe, kemarilah. Sebentar lagi nenek kalian akan datang. Mari, kita duduk disana" ajak sang kakek.


"Kakek, bagaimana kakek bisa merawat taman ini yang begitu luas?" Ucap Aisha penasaran.


"Hehe, soal itu. Nah itu nenek kalian, nenek Sharon" ucap kakek, ketika melihat istrinya berjalan dengan senyuman dengan di susul seorang wanita pria di belakangnya.


"Kamu benar, dia benar-benar datang" ucap nenek Sharon dengan senyuman yang lembut.


Aisha mengerutkan dahinya, ia mencerna dengan ucapan nenek Sharon barusan. Dalam dirinya penuh tanda tanya, nenek Sharon duduk di sebelah suaminya itu, kakek William. Kemudian mereka berkenalan, sedangkan seorang pria itu menghidangkan teh yang terhirup sangat harum.


Setelah itu, Aisha pun mulai bertanya-tanya karena penasaran. Kakek William dan juga nenek Sharon pun bercerita ria secara bergantian, dan melengkapi setiap cerita. Sungguh pasangan yang menakjubkan.


Sedangkan di sisi lain, hotel TM dimana Liana berada. Hari yang cukup siang itu, Liana masih enggan untuk keluar. Kedua wanita utusan Altezza mulai merasa cemas, dengan terpaksa salah seorang wanita utusan Altezza menelfon Altezza. Dan menceritakan atas kejadian dari rencana Sally, namun sikap Altezza hanya biasa saja. Altezza memerintah mereka untuk mengatakan, Altezza telah kembali ke London.


"Tidak. Bukankah Altezza juga sudah tidak bersih, sepertiku? Mereka berdua kan sudah... Ah lupakan" Ucap Liana kemudian, yang sedari tadi murung.


"Baiklah Liana. Apa gunanya bersedih, jadi aku bisa lebih agresif kepada Altezza bukan? Buat apa menutupinya, ya kan?" Ucap Liana, ia pun bangkit dari tempat tidurnya.


Liana pergi kekamar mandi untuk cuci muka, kemudian ia kembali menghampiri lemari dan mengambil baju yang sebelumnya ia sudah beli. Liana pun memakainya, celana hotpants abu muda yang sangat menonjolkan pantatnya terlihat mengesankan, dengan teen top ketat berwarna hitam yang memperlihatkan belahan dadanya yang terlihat mulus dan besar, plus outer seperti kaos pendek nan longgar yang terlihat miring di pundaknya itu semakin mengesankan dirinya seksi meskipun dengan balutan sederhana nan santai, ditambah sepatu bertali perpaduan antara hitam dan putih, tak lupa dengan tas kecilnya dan sedikit dandan cantik.


"Sip. Liana, mari kita buktikan. Seberapa hebatnya kamu" ucap Liana.


Liana berjalan keluar, ketika ia membuka pintu. Ada dua wanita utusan Altezza yang masih menunggunya di sana.


"Aku pikir kalian sudah pergi jauh, baguslah. Jadi kalian bisa menemaniku belanja" ucap Liana terlihat angkuh.


"Maaf nona, ada pesan dari tuan muda" ucap salah seorang wanita utusan Altezza, seketika membuat wajah Liana bersinar cerah.


"Apa?" Ucap Liana tak sabar.


"Tuan muda sudah kembali ke London" ucap wanita itu.


"Apa?" Ucap Liana terbelalak.


"Sudahlah, nanti aku pulang sore saja. Temani aku ke pusat perbelanjaan" ucap Liana kemudian.


"Baik, nona"


Liana berjalan dengan gemulai, seolah-olah ia sengaja memamerkan sesuatu yang menonjol dari dirinya. Dua wanita utusan Altezza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Liana semakin angkuh dan berpuas diri ketika ada beberapa pria yang terpesona akan keindahan tubuhnya.


"Haha, lihatlah Altezza. Orang-orang terpesona padaku, aku yakin sekali. Cepat atau lambat, kamu akan tergoda tubuhku, dan kita akan melakukannya lebih agresif dan lebih nikmat, daripada kamu bersama wanita jalang itu" ucap Liana dalam hati, ia merasa puas dan percaya diri.