Just Married

Just Married
episode 87: Perasaan Yang Aneh



"Eh... Tapi. Kok..." Gumam Liana dalam hati.


"Kamu tidak apa-apa kan, Liana?" Suara Aisha terdengar begitu jelas di telinga Liana.


Dan benar saja, rupanya Aisha lah yang menangkap tubuh Liana yang sengaja menjatuhkan diri agar Altezza menangkapnya dan membuat Aisha cemburu. Tetapi, Aisha telah mengambil langkah dengan cepat.


"Kamu?" Liana pun kaget dan melotot kepada Aisha. Liana buru-buru melepaskan diri dari genggaman Aisha dan sorot matanya pun mencari keberadaan Altezza, dan ternyata Altezza tengah berdiri santai di samping Aisha.


"Kamu. Tidak apa-apa?" Tandas Aisha.


"Cih. Wanita sialan" hardik Liana dalam hati.


"Ahaha, tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku" ucap Liana dengan senyum terpaksa.


"Bagus. Lain kali, kamu harus berhati-hati. Karena kalau kamu jatuh dan tidak ada yang menolongmu, kamu yang akan terluka sendiri. Karena kakak tidak mungkin selalu menjagamu, bukan?" ucap Aisha dengan jelas.


"Sial. Apa maksud dengan ucapannya barusan itu? Dasar ******!" Umpat Liana dalam hati, ia pun merasa marah kepada Aisha.


"Oh ya, kamu kesini untuk apa?" Ucap Aisha kemudian dengan lembut.


"Oh ya. Hampir saja lupa" ucap Liana.


"Kak Altezza, papa sama mama menyuruh Liana untuk menyampaikan sebuah pesan untuk kak Altezza" ucap Liana dengan lembut dan manja di lengan Altezza.


"Dasar ular" umpat Lala, ia pun geram dan sengaja menyenggol Liana dengan meja dorong yang hendak ia bawa kembali ke dapur.


"Aduh... Kamu punya mata gak sih?" Bentak Liana seketika dengan amarahnya.


"Kak Altezza, kamu harus menghukum gadis bodoh ini" rengek Liana dan kembali bergelayut manja di lengan Altezza.


"Maaf nona Liana, aku lupa untuk tidak sengaja. Eh maksud aku, aku tidak sengaja" ucap Lala. Entah kenapa hari itu Lala memiliki keberanian untuk melawan Liana yang selama ini telah menindasnya.


"Apa maksudmu itu. Jadi kamu sengaja?" Umpat Liana.


"Liana. Lala sudah minta maaf, sekarang katakan kepada kami, ada pesan apa dari mama? Apakah mama ingin segera memiliki cucu?" Ucap Aisha dengan sengaja.


"Cih. Mama menyuruh kalian untuk turun ke ruang perpustakaan" ucap Liana spontan, bahkan langsung melepaskan genggamannya kepada Altezza.


Liana pun melangkah pergi dengan perasaan kesal. Sedangkan Lala hanya tersenyum kegirangan melihat Liana sekesar itu.


"Lala. Lain kali kamu jangan seperti itu, kalau tidak, kamu akan menanggung resikonya" ucap Altezza cukup tegas.


"Maafkan Lala, tuan muda" ucap Lala, karena ucapan Altezza memang ada benarnya.


"Kalau begitu. Tuan, nona, Lala permisi dulu dan terima kasih telah menolong Lala" ucap Lala dengan santun, ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Aisha dan Altezza di sana.


"Kak Altezza... Mama menyuruh Liana untuk menyampaikan pesan..." Ucap Aisha dengan menye-menye dan menirukan gaya manja Liana.


"Halah, apaan. Kamu lagi, di bantuin Lala bukannya terima kasih malah menegurnya" ucap Aisha sedikit kesal, ia pun bergegas kembali masuk kedalam kamar.


Altezza yang melihat tingkah Aisha yang tengah meniru gaya Liana pun tengah menahan tawa, namun di sisi lain Altezzw sepertinya telah membuat Aisha kesal. Altezza pun ikut menyusul Aisha untuk masuk ke dalam kamar.


"Sayang. Apa kamu cemburu?" Ucap Altezza dan memeluk Aisha dari belakang, setelah mereka sudah berada di dalam kamar.


"Lepaskan" ucap Aisha.


"Tidak akan"


"Aku tak mau kamu menyentuhku. Altezza, cepat lepaskan" Aisha pun memberontak.


"Tidak akan" Altezza semakin kuat menahankan pertahanannya untuk menyandra Aisha di dalam pelukannya.


"Haih... Altezza. Kamu itu pria, kamu harus tegas bukannya hanya diam seperti itu" ucap Aisha dengan kesal.


"Hemmm... Jadi benar kamu cemburu?" Ucap Altezza.


"Bodoh. Wanita mana yang tidak akan cemburu? Sudahlah, cepat mandi dan ganti baju mu. Aku akan turun lebih dulu" perintah Aisha, Altezza pun enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Apa lagi?" Ucap Aisha.


"Hemmm" Altezza hanya bersikap manja di atas bahu Aisha..


"Haih... Kamu... Kemarilah, aku bisikin sesuatu untukmu" perintah Aisha.


Altezza pun merendahkan kepalanya dan maju kedepan lebih sedikit dan mendekatkan telinganya ke samping wajah Aisha, Altezza pun telah siap untuk mendengarkan apa yang akan Aisha ucapkan kepadanya. Namun ternyata, tangan Aisha engah menyentuh pipi Altezza dengan sentuhan lembut, ia pun menoleh tepat di pipi Altezza dan langsung mencium pipi Altezza.


"Hehe" Altezza cengengesan seperti menang lotre.


"Lepaskan tanganmu, Altezza" ucap dengan sedikit merengek, namun terdengar begitu lembut.


"Ya sudah, aku mandi nanti saja. Ayo kita turun" ucap Altezza dan langsung menggandeng tangan Aisha.


"Eh, tunggu. Aku ganti pakaian dulu, aku masih memakai baju ini" Ucap Aisha, Altezza pun langsung berhenti menarik tangan Aisha dan menyadari jika Aisha masih menggunakan handuk kimono.


"Hah?" Altezza pun tertunduk sembari menutup dahi dan kedua matanya dengan salah satu tangannya, wajahnya pun memerah padam.


"Sial. Apa yang aku lihat" keluh Altezza dalam hati.


Aisha yang kebingungan melihat tingkah Altezza pun ia menyadari akan sesuatu yang terasa dingin di dadanya, Aisha langsung menunduk dan melihat ke arah dadanya yang ia rasa sedikit dingin. Sontak saja, Aisha kaget dan langsung menutup dadanya dengan membenarkan letak kimono handuk yang seharusnya berada.


"Aaa... Bodoh. Altezza, kamu cepat keluar" teriak Aisha dan berjalan mundur dari hadapan Altezza.


"Sial. Bagaimana bisa kebuka seperti ini?" Keluh Aisha tengah menahan malu, rupanya belahan kimono handuk itu cukup terbuka akibat Aisha yang tengah memberontak dari pelukan Altezza sebelumnya, dan memperlihatkan belahan dan setengah gundukan dada Aisha meskipun masih tertutup rapi dengan bra berwarna hitam yang apabila terlihat cukup memikat mata Altezza.


Sedangkan Altezza, wajahnya masih memerah. Ia tak tahu harus berbuat apa, ingin melangkah pergi namun terasa seperti enggan untuk pergi, ingin mendekati Aisha tetapi khawatir jika pertahanannya tak mampu ia kendalikan. Apalagi, Altezza sudah merasa ingin menyentuh Aisha.


"Arghhh... Aisha, kemarilah" Geram Altezza, ia pun melangkah mendekati Aisha.


"Altezza. Jangan mendekat" ucap Aisha sedikit gugup dan berjalan mundur untuk menghindari Altezza.


Namun, Altezza tak peduli. Ia tetap untuk terus mendekati Aisha yang terus melangkah mundur, tanpa sadar Aisha tubuh Aisha sudah mentok dengan meja rias.


"Altezza... Ka,kamu..." Aisha gugup namun jantungnya juga berdebar kencang tak menentu.


"Aisha. Aku mohon..." ucap Altezza terdengar cukup memelas.


Tanpa menunggu Aisha menjawab, Altezza langsung ******* habis bibir Aisha. Aisha kewalahan dengan tingkah agresif Altezza yang tidak seperti biasanya. Altezza memeluk tubuh Aisha dengan erat, tangannya bermain di punggung Aisha, dan menyentuh lembut kepala Aisha. Aisha menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Altezza, dengan sekuat tenaga Aisha mendorong Altezza agar menjauh darinya.


"Aku tidak akan melakukan apa-apa, percayalah" ucap Altezza, ia pun mengangkat tubuh Aisha agar bisa duduk di atas meja rias, Altezza pun kembali menghujani Aisha dengan ciumannya.


Jantung Aisha memburu tak menentu, perasaan itu timbul dan terasa berbeda, bahkan Aisha tak mampu untuk melawan Altezza. Tiba-tiba Altezza berhenti dari geraknya, suhu badannya menjadi panas. Bahkan Aisha dapat merasakannya, Aisha pun menjadi cemas kepada Altezza yang tiba-tiba diam di hadapannya.


"Apa kamu tidak tahu?" Ucap Altezza.


"Apa?" Aisha tak mengerti.


"Aku telah menahannya, Aisha. Jika aku menahannya, maka tubuhku akan menjadi panas dan kepala ku terasa sedikit pusing" ucap Altezza, ia pun menunduk dan menyandarkan dahinya ke pundak Aisha.


"Altezza... Maafkan, aku..." Ucap Aisha dengan sesal, ia tahu jika selama ini ia menolak untuk menikah dan meminta Altezza untuk menunghunya setelah lulus.


"Tidak apa. Jika suatu saat nanti aku hilang kendali, kamu boleh menamparku. Aisha, aku akan bertahan untukmu, tapi..." Altezza tak meneruskan ucapannya.


"Apa?" Selidik Aisha.


"Kali ini saja. Boleh aku menyentuhnya?" Ucap Altezza, karena memang ia sudah merasa penasaran.


"Apa? Altezza..."


"Aisha..." Sela Altezza.


Aisha terdiam dan membuang muka dari tatapan Altezza, ia pun mengakui dalam dirinya jika perasaannya sama halnya dengan Altezza. Ia baru menyadari akan perasaan yang tidak boleh di langgar itu terhalang oleh suatu ikatan suci. Aisha pun merasa sedikit menyesal telah mengabaikan kemauan Altezza.


"Baiklah..." Ucap Aisha sedikit ragu dan malu.


Altezza yang mendengar itu pun merasa senang, tetapi Altezza malah mengecup pipi Aisha yang masih membuang muka.


"Altezza?" Aisha kembali memandang Altezza.


"Jangan. Biar aku menahannya saja, lagi pula... Sebentar lagi kamu akan menjafi milikku sepenuhnya" ucap Altezza dengan senyum kemenangannya.


"A,apa maksud kamu..." Aisha tersipu malu, ia tahu akan ucapan Altezza. Tentu mengarah sebuah pernikahan dan kepemilikan satu sama lain.


"Tapi, Liana..."


"Husttt... Jangan" sela Altezza dengan menyentuh bibir Aisha dengan kedua jarinya.


Aisha tersenyum, dengan manja Aisha pun memeluk tubuh Altezza dengan erat.


"Tapi, aku penasaran dengan..."


"Diam" sahut Aisha cukup keras.


"Beneran, aku mau menyentuhnya sekarang" goda Altezza dengan sengaja.


"Altezza" Aisha pun tak berhenti untuk merengek.


"Tapi aku sudah melihatnya" Altezza tak mau berhenti menggoda.


"Aaa... Aku tidak mendengar, aku tidak mendengar...." Teriak Aisha.


Tok tok tok


"Altezza" suara di balik pintu yang tak begitu asing di telinga Altezza maupun Aisha.


"Eh? Mama kamu?" Aisha pun kaget bukan main, karena ia khawatir jika teriakannya terdengar oleh mamanya Altezza.


Tok tok tok


"Aisha..." Panggil mama Via, kali ini nama Aisha yang ia sebut.


"Altezza, cepat menyingkir dariku" ucap Aisha, ia pun langsung buru-buru memperbaiki kimono handuk yang ia kenakan dan menata rambutnya sembari berjalan menuju pintu.


Klek... Aisha pun membuka pintu kamar, fan terlihat tepat di hadapannya, mama Via yang terlihat cemas.


"Aisha? Kamu baik-baik saja? Sudah makan?" Ucap mama Via yang langsung saja menghujani Aisha pertanyaan.


"Aisha baik-baik saja ma, maafkan Aisha begitu lancang tidak ikut turun untuk makan malam bersama" sesal Aisha.


"Ah, tidak. Tapi kamu baik-baik saja kan, nak? Sudah makan?" Ucap mama Via.


"Iya, Aisha baik-baik saja. Dan, Aisha sudah makan tadi" ucap Aisha.


"Syukurlah... Altezza di mana?" Ucap mama Via.


"Ah, Altezza... Sepertinya dia sedang mandi ma" ucap Aisha.


"Ya sudah, kalau begitu mama lega dengarnya. Oh ya, kalau Altezza sudah selesai mandi, kalian cepat turun ya. Mama dan papa menunggu di ruang perpustakaan. Kamu, jaga kesehatannya ya sayang" ucap mama Via.


"Iya ma, terimakasih" ucap Aisha. Mama Via pun mengelus lembut pipi Aisha.


"Mama tunggu" ucap mama Via, ia pun pergi meninggalkan Aisha.


"Mama sudah pergi?" Tiba-tiba Altezza memeluk Aisha dari belakang, prlukan Altezza pun terasa dingin lantaran Altezza habis mandi.


"Altezza, kamu... Altezza, kenapa kamu cuma pakai handuk saja. Cepat pergi pakai baju mu" Aisha kaget saat ia memutar badan dan melihat Altezza terlihat segar sehabis mandi, namun Altezza hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang sampai ke perbatasan lutut. Tentu Altezza telanjang dada.


Brukkk... Altezza menarik tangan Aishayang hendak menjauh darinya itu, tapi nahas handuk yang melilit pinggang Altezza terlepas dan jatuh.


"A..." Belum sempat Aisha berteriak, Altezza langsung membungkam mulut Aisha dengan mulutnya. Tentu saja Aisha memberontak dari cengkraman Altezza.


"Bodoh. Apa kamu... Emmm..." Altezza kembali membungkam mulut Aisha.


"Jangan teriak, yang jatuh hanya handukku. Aku masih memakai celana pendek" jelas Altezza sembari menutup mulut Aisha dengan tangannya.


"A, apa?" Mata Aisha sedikit melotot menatap Altezza, dengan perlahan Aisha menunduk melihat kebawah, dan benar saja rupanya Alrezza masih memakai celana pendek namun sedikit ketat. Seketika membuat wajah Aisha memerah padam.


"Ka, kamu sengaja" ucap Aisha dan menutup wajahnya karena malu.


"Tentu" goda Altezza.


"Dasar mesum" ucap Aisha.


"Siapa yang mesum? Kamu yang berfikiran seperti itu" Altezza mengelak.


"A, apa? Kamu itu yang mesum"


"Ya sudah. Kita sama-sama mesum, adil kan?"


"Tidak. Hanya kamu yang mesum, dasar Altezza bodoh"


Akhirnya dua sejoli itu pun saling mengejek dan merengek. Saling menyalahkan satu sama lain, dalam canda tawa mereka. Apa lagi Altezza yang memang gemar menggoda Aisha, sehingga mereka lupa jika sudah ada yang menunggu mereka di ruang perpustakaan.