
Siang telah berlalu, mentari mulai tergelincir kearah barat, pertanda sore akan tiba. Aisha masih belum juga pulang, Sally juga tengah berada di luar untuk menemui Glen. Mantan pacar Sally.
Di sebuah restoran yang tak jauh dari apartemen Aisha, disanalah Sally yang sedang menemui Glen.
"Glen? Ada hal apa kamu memintaku kemari?" Ucap Sally, yang baru saja datang.
"Duduklah, Sally" perintah Glen, Sally pun langsung duduk di hadapan Glen.
"Katakan" ucap Sally.
"Sally, aku minta maaf..."
"Glen. Bukankah semalam kamu sudah meminta maaf padaku?" Ucap Sally.
"Tapi aku menyesal Sally" ucap Glen dengan rasa melas.
"Glen, kau tahu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, jika kau benar-benar menyesal. Tolong jangan ulangi kesalahan yang sama, oke?"
"Tapi aku ingin kembali padamu Sally" ucap Glen.
"Glen, tolong jaga ucapanmu itu. Kau tahu Glen, jika kau kembali kepadaku itu sama saja kau tak menyesali semuanya Glen. Aku berharap, tetaplah setia kepadanya, ku rasa kau harus mempersiapkan mulai sekarang" ucap Sally.
"Tapi..."
"Cukup. Glen, aku lupa ada janji. Aku harus kembali ke apartemen, sampai jumpa Glen" ucap Sally, yang langsung buru-buru untuk pergi
Nampak dari kaca restoran itu, Sally telah berlalu dari pandangan Glen. Tiba-tiba tangan lembut melingkar dibahu Glen, dialah Hilda, kekasih Glen baru alias selingkuhan Glen.
"Gimana, sayang?" Manja Hilda.
"Cukup keras kepala" pekik Glen.
"Sayang, kamu harus berusaha keras. Kau tahu, perutku pasti akan membesar dan semakin membesar" ucap Hilda dengan gelayut manjanya.
"Tenanglah, kita akan mendapatkannya. Kau tahu, ini karena Dairus" ucap Glen.
"Tapi, sayang. Aku tidak sabar lagi untuk menikah denganmu" rengek Hilda, ia pun duduk dekat dengan Glen.
"Sally, cukup keras kepala sayang. Dan ayah tidak mungkin, langsung memberikan warisan itu kepadaku. Pokoknya, bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan Sally, demi harta warisan dan kita bisa membina rumah tangga yang harmonis" ucap Glen dengan piciknya.
"Bagus. Ini baru Glen, emuachh" ucap Hilda dan mencium pipi Glen.
"Sayang..." Ucap Glen dengan nafsu.
"Hibur aku, sekarang sayang, ayo..." ucap Glen kemudian.
"Hihi, sayang. Kamu genit ah" manja Hilda bagaikan ular betina.
"Ayolah, sayang" rengek Glen.
"Baiklah. Tapi harus pelan ya, karena di perut ada calon bayi kita" ucap Hilda dengan mengusap-usap perut Hilda.
"Tentu" seru Glen.
Mereka pun keluar dari restoran itu dan bergegas pergi menuju hotel, dengan mengendarai mobil berwarna putih melaju dengan cepatnya.
"Sialan. Apa-apaan maksud dari perkataannya" pekik Sally, saat berjalan dikoridor apartemen.
"Aku juga, kenapa bodoh sekali mau menemui lelaki sialan seperti dia" hardik Sally.
"Apa? Gak pernah lihat orang lagi BT apa?" Pekik Sally kepada dua pasangan yang menertawakannya.
"Orang gila" ejek seorang wanita.
Sally masa bodoh, tanpa sadar Sally berjalan dan melewati pintu kamarnya.
"Yah, sialan kelewatan. Gara-gara ladenin orang sih" pekik Sally, kemudian berbalik badan dan kembali menuju kamarnya, namun sialnya kedua pasangan itu masih melihat Sally seperti sedang mengintimidasi.
"Apa lihat-lihat?" Ucap Sally dengan sinisnya, dengan segera Sally membuka pintu dan masuk.
Sally merasa benar-benar kesal atas perkataan Glen, baru semalam meninta maaf dan mengakui perbuatannya. Tapi dari perkataannya malah ngelunjak, Sally menuju dapur dan berencana memasak mi instan untuk menaikkan moodnya. Sally hanya ingin makan dan makan.
Hotel Qiu, dimana keberadaan Aisha dan Altezza yang tengah menghadiri sebuah acara. Di dalam kamar A72, disanalah Aisha berada. Di dalam kamar itu masih terdengar cukup sunyi, Aisha masih terlelap lantaran capek akan tugas kampus semalam, berjalan menyusuri kota semalam dan melanjutkan tugas kuliahnya kembali, hingga tertidur dan ditambah lagi adanya adegan penculikan yang masih sangat pagi itu. Dengan rentetan acara amal di dunia bisnis, belum lagi kejadian yang menakutkan. Aisha benar-benar lelah.
Bibi Lin yang masih menenani Aisha tertidur itu pun masih menyibukkan diri dengan membaca suatu media di iPad berwarna hitam itu. Yang tak lain ialah tentang perkembangan ekonomi, dan bisnis.
Tok tok tok... Suara ketukan pintu terdengar, dengan segera bibi Lin membuka pintu.
"Tuan muda" ucap bibi Lin, saat melihat yang mengetuk ialah Altezza. Bibi Lin pun mempersilahkan tuannya untuk masuk.
Altezza berjalan dan menuju ranjang, dimana Aisha masih terlelap. Altezza memandangi wajah Aisha yang terlihat manis itu. Saat bibi Lin melihat tuannya mengangkat tangan kanannya, dengan segera bibi Lin keluar dari kamar itu.
Altezza mulai merangkak naik diatas ranjang, dan duduk sejajar dengan Aisha. Dengan lembut Altezza membelai kepala Aisha, Altezza pun mencium kening Aisha.
"Hemmm..." Aisha bergeliat, meregangkan otot-ototnya.
Tanpa sadar, tangan Aisha memeluk paha Altezza, yang ia kira guling. Bahkan Aisha sempat mencari posisi nyaman, hingga pada akhirnya kepala Aisha bersandar di atas paha Altezza dan merangkul kaki Altezza, layaknya merangkul sebuah guling.
Altezza hanya diam dan tersenyum gemas, namun selang beberapa saat, Altezza menyadari bahwa ia merasakan ada suatu benda empuk yang menempel dikakinya. Altezza merasa, imannya mulai diuji. Apalagi di sebuah kamar yang hanya berdua, bahkan berlawanan jenis. Ditambah dengan wajah Aisha yang sedang tidur terlihat sangat menggemaskan, cukup menggoda Altezza untuk segera melumat bibir manisnya Aisha.
Deg deg.. jantung Altezza mulai berdebar kencang, ingin sekali ia memakan Aisha. Namun ia berusaha menahannya, hingga cukup lama badan Altezza terasa panas. Aisha pun merasakan aura panas itu, Aisha sedikit bergerak dan merasa sesuatu yang janggal. Tangan Aisha mulai bergerak untuk mengecek.
"Kok gulingnya beda ya" batin Aisha saat tangannya menyentuh sesuatu seperti lutut. Aisha pun membuka mata, terkejutlah Aisha saat melihat dirinya tengah merangkul Altezza.
"Altezza?" Terbelalak Aisha, bangun dan terduduk dengan jarak cukup jauh bahkan dengan gerakan secepat kilat.
"A, apa yang kamu lakukan disini?" Ucap Aisha dan menutup dirinya dengan selimut.
"Hemmm... Apa lagi, kalau bukan menemani calon istriku yang sedang tidur" ucap Altezza, ia pun bangkit dari ranjang.
"Sayang, kamu sudah bangun kan. Sebaiknya cepatlah bersiap-siap, sebentar lagi kita akan pergi ke suatu tempat" ucap Altezza, dan keluar dari kamar Aisha.
Aisha hanya bengong melihat sikap Altezza, seperti sedang menahan sesuatu. Bibi Lin pun masuk dengan membawa beberapa baju untuk Aisha, bahkan dengan ke dua pelayan yang tadi pagi sebelumnya.
"Sial. Hampir saja, kenapa aku juga bodoh sekali" pekik Altezza kepada dirinya sendiri, ketika sudah sampai di ruangannya.
Altezza yang sudah berada dikamarnya itu pun dengan geram memaki dirinya sendiri. Dengan segera Altezza masuk kedalam kamar mandi dan segera untuk mengucurkan air di seluruh tubuhnya. Untuk meredamkan hal yang harus ia kendalikan.
Bayangan wajah Aisha yang terlelap yang begitu manis, apalagi sebuah benda yang tanpa sengaja ia rasakan, wajah Altezza memerah padam. Ia merasa bahwa dirinya lelaki bodoh, lelaki ceroboh, dengan segera Altezza membasahi dirinya di bawah shower. Cukup lama air dingin itu mampu meredamkan apa yang harus ia redamkan.
"Bibi Lin. Altezza kenapa ya? Kok terlihat seperti sedang menahan sesuatu" ucap Aisha kepada bibi Lin dengan polosnya.
"Ah, nona. Bibi tidak tahu, sebaiknya nona cepatlah mempersiapkan diri" ucap Bibi Lin, ia merasa Aisha benar-benar polos.
"Huh... Baiklah" ucap Aisha, lalu beranjak untuk pergi mandi.