Just Married

Just Married
episode 109: Sebuah Pesta Sederhana



Dan tiba saatnya hari dimana Aisha akan melaksanakan acara wisuda, hanya mama Hani, Alex dan juga Altezza yang ikut menemani dan menyaksikan akan kelulusan Aisha di sana, sedangkan yang lain tengah mempersiapkan sesuatu untuk merayakan kelulusan Aisha. Bahkan nama Aisha di sebut sebagai mahasiswi berprestasi dengan nilai yang memuaskan, tentu mama Hani dan juga Altezza merasa bangga akan kepayahan Aisha selama ini telah membuahkan hasil dan tidak sia-sia ia dalam menimba ilmu.


"Memang nona yang terbaik" ucap Leon dalam hati yang juga ikut menyaksikan kelulusan Aisha.


"Biasa aja kali" celetuk Alex saat melihat raut wajah Aisha tampak gembira.


"Apa?" Ucap Aisha tak mau kalah, Alex pun hanya membalas dengan ledekan dengan menjulurkan lidahnya kepada Aisha.


"Sudahlah, Alex" ucap mama Hani.


"Tapi bagus lah, berarti kakak tidak bodoh" ucap Alex dalam hati dengan sombongnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Ucap Altezza dan mengacak rambut Alex.


"Singkirkan tanganmu" keluh Alex dengan wajah kesalnya.


"Dasar" gumam mama Hani dalam hati dengan senyumannya saat melihat akan tingkah Alex dengan Altezza yang tak jauh beda jika Alex dengan Aisha.


Beberapa jam kemudian acara wisuda itu pun selesai dengan baik, Altezza pun memerintah Leon untuk mengambil gambar mereka, sebagai kenangan sebelum Aisha benar-benar meninggalkan tempat dimana ia menimba ilmu di kota Manhattan.


"Selamat ya, sayang. Kamu berhasil dengan hasil yang membanggakan" ucap mama Hani yang tak henti mengucapkan rasa syukur dan memeluk putrinya.


"Berkat do'a mama, terima kasih atas segalanya ma" ucap Aisha dan memeluk mama Hani dengan hangat, setelah itu Aisha tersenyum menatap Altezza ingin rasanya ia memeluk Altezza dan mengucapkan rasa terimakasih namun ia merasa sungkan dan malu kepada mama Hani.


"Ehem. Emm, selamat deh kakak sudah buat kakak" ucap Alex dengan sengaja.


"Ya, terimakasih Alex" ucap Aisha dengan senang bahkan mencubit kedua pipi Alex dengan.


"Aaa... Singkirkan tanganmu" kesal Alex.


"Hehe, maaf" ucap Aisha merasa menang.


"Ehem, selamat atas kelulusan mu, sayang. Ayo kita pulang, semua orang sudah menunggu" ucap Altezza kemudian.


"Oke, terimakasih" ucap Aisha dengan senang.


"Aisha!!" tiba-tiba seseorang memanggil Aisha dari arah belakang.


"Sally?" seru Aisha, mereka pun saling berpelukan dan merasa bahagia akan kelulusan mereka.


"Baiklah, kalau begitu. Kamu disinilah dulu dengan teman-teman mu, aku akan mengantar mama dan Alex lebih dulu nanti aku akan menjemputmu kembali jika sudah selesai" ucap Altezza.


"Oke" ucap Aisha menyetujui, karena Aisha hampir lupa jika ada janji dengan Sally dan teman-teman lainnya.


Akhirnya Aisha dan Sally saling memberi ucapan selamat dan mengambil moment mereka dan merayakan kelulusan mereka di kampus itu dengan teman-teman Aisha, sedangkan Altezza pergi mengantarkan mama Hani dan juga Alex lebih dulu karena tak mungkin mereka ikut nimbruk dan mengganggu kesenangan mereka sebelum mereka benar-benar berpisah.


"Baiklah, kedepannya kita akan saling berkunjung oke?" ucap Sally saat mereka tengah berbincang setelah merayakan kelulusan mereka.


"Setuju" ucap Aisha. Semua saling berpelukan dan mengucapkan perpisahan, noment itu cukup mengharukan apalagi Aisha orang Indonesia tentu ia akan kembali ke kampung halamannya, begitu juga ada beberapa temannya dari negara lain.


"Sally, apa keluargamu datang? Sedari tadi aku tak melihat kamu dengan keluargamu?" Ucap Aisha saat mereka berdua tengah duduk di sebuah kedai.


"Tidak. Bagaimana kalau kamu mengajakku kerumahmu saja, aku dengar rumah kamu sedang ramai" ucap Sally.


"Tentu, tapi bagaimana dengan..." ucap Aisha.


"Mommy sama poppy tadi sudah hadir Aisha, cuma sebentar sih karena ada keperluan mendadak dan di sisi lain aku hanya ingin menikmati waktu kita sebelum kita nantinya akan benar-benar berpisah" ucap Sally.


"Sally" ucap Aisha terharu, ia pun menggenggam tangan Sally dengan hangat, tentu sebagai sahabat mereka terasa berat untuk berpisah.


Beberapa saat kemudian, paman Edo datang untuk menjemput Aisha dan juga Sally, lantaran Altezza juga memberi kabar jika dirinya tengah menyelesaikan suatu urusan. Aisha pun tak peduli, asalkan hari itu ia masih ada waktu bersama Sally itu sudah cukup bagi dirinya, toh nanti setelah sampai rumah pasti juga akan sangat ramai, dan juga bukankah Altezza selalu sibuk akhir-akhir ini.


Dalam perjalanan Aisha pun bercanda ria dengan Sally, sedangkan paman Edo hanya menjadi pendengar yang baik. Tanpa terasa mereka telah tiba di kediaman Altezza, paman Edo pun dengan sigap melayani tuan putrinya itu untuk membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Aisha untuk turun, Aisha masih tertawa dengan Sally dengan cerita mereka hingga tanpa sadar rumah itu terasa sepi, tak ada siapa-siapa di sana bahkan Lala yang biasanya menyambut kini tak nampak batang hidungnya.


"Lho? Paman Edo, mama dan yang lainnya kemana?" Ucap Aisha kepada paman Edo.


"Mereka ada di suatu tempat untuk mempersiapkan pesta kelulusan nona, nyonya besar juga memberi pesan jika nona Aisha di suruh untuk segera berganti gaun yang sudah di siapkan oleh nyonya, silahkan nona. Saya akan menunggu nona di sini dan mengantar nona untuk segera menyusul kesana" jelas paman Edo.


"Oh, baiklah. Sally, kamu temani aku ke atas ya" pinta Aisha.


"Oke. Tapi aku boleh pinjam bajumu ya, mau party-party kan?" seru Sally.


"Baiklah, ayo" seru Aisha, mereka berdua pun melangkah pergi menuju kamar Aisha.


Pats... Tiba-tiba ruangan menjadi gelap saat mereka hendak menaiki tangga dan terdengar pula suara langkah kaki yang tengah mendekati mereka.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya nona, arena dapur masih dalam perbaikan, mungkin tidak ada sepuluh menit akan selesai" ucap paman Edo dengan membawa lilin yang menyala.


"Oh, baiklah tak apa. Terimakasih paman" ucap Aisha mengerti karena sebelumnya memang ada kerusakan di arena dapur.


"Ah, ini nona agar tidak terlalu gelap" ucap paman Edo dan menyerahkan lilin.


"Terimakasih paman" ucap Aisha yang langsung meraih lilin itu.


"Tak apa kan Sally, malam ini gelap sebentar?" Ucap Aisha.


"Tenang, tak ada sepuluh menit kan?" Ucal Sally dengan santai.


"Baiklah, ayo" seru Aisha, mereka pun menaiki anak tangga dengan cahaya lilin.


Pats, tiba-tiba lampu kembali hidup namun dengan cahaya remang-remang saat mereka sudah sampai di ujung tangga.


"Aisha..." Ucap Sally dan menarik lengan Aisha dengan pelan.


"Ada apa Sal..ly?" Ucap Aisha terhenti ketika dirinya menyadari akan suatu hal tak terduga. Seorang pria tak asing bagi Aisha tengah berjalan mendekati dirinya di bawah cahaya remang.


"Altezza?" Ucap Aisha dengan senyumannya, namun Altezza masih diam dan terus berjan mendekati dirinya.


Pats, lampu pun kembali dengan terang benderang. Begitu juga dengan Altezza yang sudah berada tepat di hadapan Aisha, bahkan Aisha baru menyadari jika di bekakang Altezza ada sebuah background indah dengan tulisan sangat jelas dan gamblang, 'Will You Marry Me, Aisha'. Jantung Aisha pun berdegup tak menentu, rasanya pun ingin meledak karena Aisha tak percaya akan sebuah kejutan dari Altezza.


Altezza yang sudah ada di hadapan Aisha pun langsung memposisikan diri sebagai seorang pria yang tengah melamar seorang gadis pujaan hati, tak hanya itu bahkan ruangan itu tiba-tiba menjadi ramai untuk menyaksikan seorang pria yang tengah melamar seorang gadis. Aisha pun terkejut dan tersipu malu, namun ia juga senang akan hal itu apalagi nyonya Madison dan dua anak kecil itu pun ikut memeriahkan acara lamaran itu.


Sally pun langsung mundur dan ikut berbaur dengan yang lainnya, sedangkan Aisha tengah mengelola dirinya agar tidak nervous ataupun salah tinggah meskipun sebenarnya ia merasa gugup. Apalagi melihat Altezza yang begitu gagah dan terlihat lebih tampan dari biasanya.


Deg deg,


"Aisha" ucap Altezza terdengar gentle, jantung Aisha pun berdegup kencang.


"Maukah kamu selalu menemaniku dan menjadi satu-satunya istriku?" Ucap Altezza dengan keberanian seorang lelaki bersama cincin berlian yang nampak sederhana nan elegan.


"Asha, menikahlah denganku" ucap Altezza kemudian dengan pancaran yang begitu mempesona.


Semua penonton pun tak sabar menanti jawaban Aisha, semua penonton pun berbisik kata terima agar sesi lamaran itu berjalan lancar. Tetapi, Aisha malah terdiam dan sedikit menunduk, para penonton penasaran sekaligus merasa ada tanda-tanda kekecewaan.


Deg, semua penonton pun kecewa dan tak oercaya akan jawaban Aisha, semuanya pun terdiam termasuk Altezza yang tiba-tiba merasakan sesak dalam hatinya saat Aisha mengucapkan perkataan sedemikian.


"Kenapa Aisha menolaknya? Bukankah Aisha juga mencintai Altezza?" Ucap mama Via terasa sesak.


"Kenapa Aisha?" Ucap Altezza penasaran dan menahan rasa sakit dalam dadanya.


"Maafkan aku Altezza, aku benar-benar tidak bisa" ucap Aisha dengan raut wajah sesalnya, semua pun terdiam dan merasa kecewa begitu juga Altezza yang langsung terlihat seperti tengah putus asa dan sedikit menundukkan wajahnya dengan lesu.


"Yah, maksudku benar-benar tidak bisa menolak" ucap Aisha kemudian dengan tawa piciknya yang telah menang itu.


"Waaaa...." Suara sorak sorai pun langsung terdengar saat Aisha mengatakan itu.


"Hahaha, dasar Aisha" ucap Deva dan Sally yang tertawa melihat Aisha yang berhasil mengerjai Altezza dan para penonton.


"Haha, menantu kita ini bisa saja membuat kita cemas" ucap mama Via gemas ia pun mengusap air mata bahagianya.


"Dasar Aisha" ucap mama Hani dalam hati dan menyeka air mata bahagia.


"Hahahaha, Aisha ada-ada saja" tawa papa Abraham yang tak habis pikir bisa di kerjain Aisha.


"Itulah hebatnya Aisha, om" seru Danial.


"Aisha" geram Altezza dengan gemas, namun ia juga merasa sangat senang, Altezza pun berdiri dan kemudian menyematkan cincin itu kejari manis Aisha, semua penonton pun memberi tepuk tangan dengan meriah.


"Awas kamu ya, suatu saat aku akan menghukummu" bisik Altezza.


"Hehe, aku tidak takut" ledek Aisha.


"Hoo, nantang ya"


"Biarin, wee" ledek Aisha.


"Kamu ini, tapi terimakasih sudah menerimaku" ucap Altezza yang langsung meraih tubuh Aisha dan memeluknya.


"Alex, ini sedikit tidak bagus untuk mata kamu" ucap Gavin dengan sengaja dan menutup mata Alex saat Altezza memeluk Aisha.


"Singkirkan tanganmu itu" kesal Alex.


"Gavin" Dathu pun memberi kode, sedangkan Gavin hanya cengengesan.


"Baiklah kawan-kawan, karena acara lamaran sudah selesai mari kita mulai pestanya" seru Gavin, semua orang pun berhamburan memberi selamat kepada dua sejoli itu dan segera turun untuk menikmati pesta kecil-kecilan yang rupanya sudah di siapkan di arena kolam renang samping Villa.


"Hehe, gimana rasanya?" Goda Aisha, saat semua orang sudah turun dan hanya tinggal mereka berdua.


"Sayang, kamu sudah membuatku khawatir, bagaimanapun aku harus menghukummu?" Ucap Altezza dengan tatapan ganas, Aisha pun tersipu malu dengan dekat Altezza mendekatkan wajahnya ke wajah Aisha.


"Ehem, ehhem..." Tiba-tiba suara deheman Alex mengejutkan mereka berdua yang hendak berciuman itu, Altezza pun langsung mendaratkan dahinya di atas pundak Aisha, sedangkan Aisha tentu saja menahan malu.


"Huft... Kasihan sekali anak kecil yang polos sepertiku ini malah sudah ternoda dengan pemandangan orang dewasa, sungguh terlalu" sindir Alex yang tanpa dosa melewati dua orang itu dan menyusul yang lainnya.


"Bocah sialan, darimana dia muncul" kesal Altezza dalam hati.


"Hemp" Aisha hanya menahan tawa sekaligus juga merasa malu karena ketahuan Alex.


"Apa yang kamu tertawakan?" Ucap Altezza kemudian dan menatap Aisha.


"Tidak, tidak ada" ucap Aisha.


"Huft... Baiklah, sebaiknya kita menyusul mereka berpesta daripada yang keduakalinya nantinya" ucap Altezza kemudian dengan kesal.


"Hemp. Baiklah" seru Aisha tanda menyetujui.


"Tak ku sangka, apa yang pernah aku cemaskan dan aku harapkan, Altezza benar-benar selalu mengerti diriku" ucap Aisha dalam hati, ia pun merangkul lengan Altezza.


"Ada apa?" Selidik Altezza lantaran Aisha terlihat begitu manja di sisinya.


"Tidak" ucap Aisha membantah. Altezza pun hanya mengalah dengan senyumannya, tangannya juga mengusap gemas kepala Aisha.


Tentu Altezza tahu akan perasaan Aisha saat itu, karena sebelumnya ketika Altezza mendapat kabar akan kondisi Aisha yang tiba-tiba drop dan dokter mengatakan Aisha tengah tertekan dengan beban pikiran dan juga faktor kelelahan, Altezza pun menyadari akan suatu hal yang terasa janggal karena selama ini Aisha selalu dalam keadaan baik-baik saja, juga tidak memiliki masalah apapun apalagi menjalani hubungan jarak jauh, jika Aisha rindu pasti Aisha akan marah yang tidak jelas kepada Altezza, saat itu berbeda sampai membuat Aisha menjadi drop dan lemah benar-benar terasa janggal bagi Altezza.


Altezza pun menyelediki secara menyeluruh dan cukup detail tapi tak ada satupun yang mencurigakan, kini pikiran Altezza tertuju pada sebuah ponsel milik Aisha, dengan cepat Altezza mengecek daftar riwayat panggilan masuk tapi tak ada nomor yang mencurigakan, Altezza pun mengecek pesan singkat tetapi tak ada juga yang mencurigakan.


Beberapa saat, Altezza baru menyadari akan sebuah obrolan pesan singkat antara Aisha juga Deva yang membahas tentang pernikahan, Altezza menyadari jika dirinya telah membuat Aisha menunggu untuk memperjelas hubungan mereka, mengingat Altezza tak pernah menyatakan akan perasaannya seperti layaknya orang lain. Hanya meminta Aisha selalu ada disisinya, menjaga perasaan dan kesetiaannya, sekalipun mereka sama-sama memiliki perasaan yang sama tetapi hubungan tanpa status yang jelas rupanya cukup mengganggu Aisha.


"Salahku, dulu tak mengindahkan keinginanku dengan benar kepadamu, aku akan menebusnya dengan cepat dan kamu akan menjadi milikku seutuhnya, Aisha" ucap Altezza dalam hati saat mereka saling memandang ketika mereka berjalan bersama menuju tempat berpesta.


Sedangkan di sisi lain di waktu yang sama,


"Kamu pasti sahabatnya Aisha kan, Sally?" Ucap mama Via.


"Iya, nyonya" ucap Sally dengan hormat.


"Kalau begitu, selamat atas kelulusannya ya nak. Anggap saja ini juga pesta untukmu" ucap mama Via dengan ramah.


"Terimakasih kasih, nyonya" ucap Sally.


"Tante?" Ucap Sally saat mama Hani bergantian mendekati Sally.


"Aisha banyak cerita tentangmu sayang, selamat atas kelulusan mu ya" ucap mama Hani dengan lembut.


"Terimakasih tante" ucap Sally, ia pun merasa bersyukur yang merasa seperti memiliki keluarga baru yang begitu hangat.


"Sally, kemari" seru Deva dan mengajak Sally untuk memanggang daging bersama dengan yang lainnya.


"Maaf tante, nyonya, Sally kesana dulu" ucap Sally dengan sopan.


"Tentu, nikmatilah pestamu sayang" ucap mama Via. Sally pun bergegas berbaur dengan Deva, Lala dan juga Lulu.


"Akhirnya, kita akan benar-benar jadi besan" ucap mama Via dengan senang.


"Aku malahan tak menyangka kalau mbak Via punya dua putra yang hebat, malah salah satunya berjodoh dengan putriku" ucap mama Hani.


"Hehe, tentu itu sudah dari dulu Han mereka di takdirkan untuk bersama" seru mama Via dengan percaya diri.


"Hehe, mbak via bisa saja" ucap mama Hani dengan tertawa kecil.


"Sally" panggil Leon kepada Sally, saat Sally tengah asyik memanggang daging dengan Deva dan lainnya.


"Iya?" Ucap Sally dan menoleh ke arah Leon.