
Siang itu, matahari yang sudah sedikit tergelincir kesisi barat. Di suatu ruang, tepatnya di rumah sakit Medical, di mana mama Hani berada. Beliau telah selesai melakukan pemeriksaan, untuk memeriksa lukanya.
"Nyonya Hani tidak apa-apa, hanya luka memar di pipinya saja. Tidak ada luka yang serius, saya akan tuliskan resepnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Oh ya, nyonya Hani harus istirahat total, selain syok beliau juga kelelahan" ucap seorang dokter yang tengah menuliskan resep obat.
"Baik, dok. Terima kasih" ucap seorang pria muda.
"Sama-sama"
"Kalau begitu, kami permisi dulu, dok" ucap pria itu.
Mama Hani dan seorang pria muda itu keluar dari ruang pemeriksaan.
"Terima kasih, atas pertolongannya. Aku tidak tahu, akan nasibku seperti apa, jika tidak ada kamu, anak muda" ucap mama Hani kepada seorang pria itu.
"Sama-sama, tante" ucap pria itu dengan senyum ramahnya.
"Oh, ya. Siapa nama kamu, nak?"
"Ah, panggil saja, Elan, tante" ucap pria itu yang bernama Elan.
"Elan. Tante benar-benar berterima kasih kepadamu, yang sudah menyelamatkan tante"
"Ah, tante. Itu sudah menjadi tugasku tante" seru Elan. Mama Hani hanya mengeryit kan kedua alisnya.
"Eh, maksud Elan. Sudah tugas kita untuk saling tolong menolong, tante" ucap Elan kemudian.
"Ah, kamu memang anak baik, kalau begitu..."
"Ah, tante. Biarkan Elan yang mengantar tante" potong Elan.
"Ah, tidak, tidak. Aku lupa, aku harus menjemput Alex. Ini sudah sudah terlalu lewat" ucap mama Hani yang mulai mencemaskan Alex.
"Tante, biar aku antar tante pulang lebih dulu. Setelah itu, biar Elan yang menjemput Alex. Karena tante harus cepat istirahat dan makan sebelum meminum obatnya" ucap Elan dengan ramah.
"Ah, jangan. Itu terlalu merepotkan..."
"Mohon, tante jangan menolak" pinta Elan dengan rasa hormat.
"Baiklah. Terima kasih" ucap mama Hani yang mulai merasakan pusing, mereka pun bergegas masuk kedalam mobil dan melaju dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman mama Hani. Elan dengan segera turun dan membukakan pintu untuk mama Hani. Namun kagetnya mama Hani, saat melihat di beranda ada Alex tengah berdiri didepan untuk menyambut mamanya.
"Lho, Alex?" Ucap mama Hani.
"Mama? Ada apa dengan pipi mama? Siapa yang telah berani memukul mama?" Ucap Alex, saat melihat wajah mama Hani ada memar bekas tamparan preman tadi.
Mama Hani yang menangkap sorot mata Alex, begitu tajam bahkan membangkitkan kemarahan seorang anak kecil, yang telah berani menyakiti mamanya. Dengan segera mama Hani memeluk Alex.
"Lex, kamu pulang sendirian?" Ucap mama Hani kemudian.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Alex tanya, siapa yang telah menyakiti mama?" Pekik Alex dengan khas anak kecil yang angkuh.
"Amon kecilku, mama tidak apa-apa sayang. Lagi pula, sudah ada kak Elan yang sudah menolong mama" ucap mama Hani dengan lembut dan membelai kepala Alex.
"Aku tahu. Mama, cepatlah masuk dan makan" perintah Alex.
Mama Hani hanya mengeryitkan alisnya, lantaran sikap Alex seolah-olah sudah dewasa. Mama Hani pun mempersilahkan Elan untuk masuk, kagetnya lagi, ketika sampai di ruang tamu, di meja yang cukup luas itu sudah tersaji berbagai macam menu makanan bahkan ada buah-buahan segar tertata rapi.
"Lex. Ini dari mana?" Ucap mama Hani sedikit syok, karena mana mungkin Alex bisa memasak ditambah lagi membeli buah dalam bingkisan parsel.
"Duduklah mah, cepatlah makan. Alex sudah lapar" perintah Alex, dan kemudian duduk dan membuka piring.
"Lex! Mama tanya..."
"Dari teman kakak itu, tadi menjemput Alex di sekolahan, kemudian kami pergi dan memesan makanan untuk Alex dan mama" potong Alex, seperti tanpa kenal dosa
Mama Hani hanya menyentuh dahinya yang tak berkeringat itu, ia merasa Alex memang sangatlah angkuh di usianya yang masih delapan tahun. Meskipun sudah kelas tiga SD, namun Alex memiliki kecerdasan yang tinggi di usianya yang masih anak-anak.
"Amon. Tak ku sangka, Alex begitu melebihi kamu" ucap mama Hani dalam hati.
"Tapi tunggu. Elan datang menolongku, bahkan menyuruh temannya untuk menjemput Alex ditambah lagi makanan ini..." gumam mama Hani dalam hati, ketika tengah menyadari sesuatu..
"Elan. Siapa kamu sebenarnya?" Selidik mama Hani.
"Eh?"
"Elan..."
Tok tok tok
"Hani... Hani... Buka pintunya" terdengar suara teriakan seorang wanita dari luar pintu.
Mama Hani dengan segera membukakan pintu yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Hani... Kamu gimana sih? Pesanan saya mana? Acara sebentar lagi di mulai, tapi belum di anterin juga. Katanya amanah, mana?" Cemooh seorang ibu-ibu dengan keras.
"Maaf mbak Dea, saya baru saja mengalami musibah dan pesanan..."
"Alah... Omong kosong apa itu" pekik Dea menjadi-jadi, hingga terdengar di telinga tetangga terdekat.
"Tante Dea. Apakah tante buta?" Ucap Alex dengan tatapan angkuh.
"Bocah kecil, berani sekali kamu melawan orang tua" pekik Dea.
"Alex! Maafkan anakku ya, dia masih kecil" mama Hani merasa sungkan sekaligus bersalah.
"Ibu-ibu, lihat deh tetangga kalian. Katanya catering nya amanah loh, tapi mana? Pesanan aku, bukannya dibuatin sampai acaranya mau mulai lho. Eh, dia malah enak-enakkan makan besar sama berondong" teriak Dea.
"Mbak..."
"Tante!!" Pekik Alex dengan raut wajah penuh amarah.a
"Diam kau, bocah"
Elan, yang melihat itu pun merasa geram. Ingin sekali menampar wajah perempuan bermulut sianida itu. Beberapa tetangga yang mendengar pun mendekat untuk melihat apa yang terjadi, bahkan ada juga yang menguping di suatu tempat persembunyian.
Alex turun dari sofa dan berjalan, ia bermaksud untuk melundungi mamanya. Elan yang melihat itu pun, ingin tahu kemampuan Alex, apakah anak itu benar-benar cerdik seperti yang dikatakan bosnya.
"Tante. Tante tidak sadar ya, kalau tante telah mencari malu untuk dirimu sendiri" ucap Alex dengan lantang dan angkuh.
"Alex?" Mama Hani kaget akan ucapan Alex begitu berani.
"Anak kecil, tahu apa kamu. Dasar bocah baru kemarin sore" pekik Dea.
"Pertama, apa tante tak melihat ada bekas tamparan yang ada di pipi kiri mama? Dan aku yakin itu perbuatan seorang lelaki bertemperamen tinggi dan kuat, bisa jadi seorang preman, bukankah mamaku sudah memberi tahu tante, jika pesanan tante telah rusak, buktinya... Kak Elan" ucap Alex dan meberi kode, dengan segera Elan keluar dan menuju mobil untuk mengambil dua kantong plastik yang sudah hancur lalu memperlihatkan kepada Dea.
"Jika tante belum percaya. Tante bisa cek di sebuah gang kecil yang ada di sekitar kompleks gang melati dua, disana masih ada ceceran dan kayu yang cukup besar, yang hampir saja melukai mamaku. Jika tante meminta untuk menyelidik, Alex bisa panggil polisi untuk menyelidiki kasus itu, karena dalam kayu itu ada sidik jari seorang preman yang hampir melukai mama" ucap Alex kemudian.
"Alex? Darimana dia tahu" ucap mama Hani dalam hati.
"Bocah kecil ini" pekik Dea dalam hati.
"Bohong. Kalian sudah mempersiapkan untuk memfitnah saya" pekik Dea tak mau kalah.
"Apa tante perlu bukti? Dan Alex yakin, jika preman itu adalah suruhan tante" ucap Alex dengan tatapan yang sangat tajam.
"Anak ini, kenapa terasa seperti bukan bocah" ucap Dea dalam hatinya.
"Kak Elan" ucap Alex kemudian, dan mengangkat telapak tangannya.
"Bagaimana mungkin, seorang bocah bersikap seperti bos bahkan dengan seorang pria yang lebih tua darinya" batin Dea yang mulai was-was.
Para tetangga mulai berbisik-bisik, meraka mengatakan jika Alex memang anak yang cerdik, anak yang berbeda dari yang lainnya. Elan pun tengah sibuk dengan iPadnya. Tak lama kemudian Elan memutar video dengan volume tinggi. Disana terpampang jelas kejahatan Dea, yang sengaja menjebak mama Hani.
Preman yang hampir mencelakai mama Hani pun nampak ada disana, bahkan motifnya jelas. Karena iri dan merasa tersaingi dalam usaha catering. Itulah motif untuk menjatuhkan lawan, dan parahnya lagi Dea sempat menaburkan bubuk racun kedalam makanan prasmanan sebelumnya, ketika ada acara hajatan di kampung sebelah, dan itu jelas, catering itu merupakan catering dari mama Hani.
Motif Dea untuk memesan dan melakukan kejahatan karena, untuk menjatuhkan mama Hani yang di rasa sebagai lawannya, dan berniat untuk menghancurkan tangan mama Hanj agar tak mampu untuk bekerja kembali, melalui preman tadi.
"Ya Tuhan, kejam sekali Dea..." Bisik-bisik tetangga mulai terdengar.
Mama Hani hanya bergetar, lantaran syok akan kejahatan Dea. Yang dipercaya sebagai teman masa sekolah dulu, tapi entah kenapa ia melakukan hal keji seperti ini kepadanya.
"Bohong. Ini pasti video editan, mana ada aku berbuat seperti itu" Dea masih saja mengelak
"Heh... Tante perlu bukti lagi? Apa perlu Alex datangkan polisi untuk menyelidiki kasus ini? Sedangkan preman itu sudah ada di tangan kami, apa perlu preman itu Alex keluarkan sekarang?" ucap Alex kemudian.
"Tidak. Tidak mungkin, bocah ini...." ucap Dea dalam hati, tubuhnya pun bergetar ketakutan.
Dea pun lari tunggang langgang meninggalkan rumah mama Hani, dengan menahan rasa yang amat malu dan ditambah lagi, ia dikalahkan oleh bocah yang masih berusia delapan tahun. Bahkan, ucapan bocah kecil itu sanggup membuatnya ketakutan dan berlari sejauh mungkin. Karena kejahatan itu memang real dari dirinya untuk menjatuhkan mama Hani agar berhenti dari usaha catering.