
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Aisha berjalan menelusuri lorong villa di lantai dua itu. Aisha mencari sebuah kamar yang cukup jauh keberadaannya dari kamar utama, kamar yang di tempati oleh Sally. Beberapa meter terlihat Lulu tengah keluar dari sebuah kamar, sudah pasti Sally masih ada di sana.
"Nona? Selamat pagi nona" ucap Lulu, ia pun memberi salam kepada Aisha.
"Pagi. Bagaimana dengan Sally?" Ucap Aisha.
"Kak Sally sudah jauh lebih baik, nona. Kak Sally juga sudah mandi, baru saja aku mengantarkan baju ganti untuk kak Sally" ucap Lulu dengan eajah gembira.
"Syukurlah. Lulu, habis ini aku akan segera turun dengan Sally. Bisakah kamu membantuku sesuatu?" Ucap Aisha.
"Tentu, nona" seru Lulu.
"Bantu aku, buatkan Sally coklat panas" ucap Aisha.
"Baik, nona. Apa nona sekalian?"
"Boleh"
"Baiklah" seru Lulu. Ia pun melangkah untuk pergi, namun ia tak jadi untuk melangkahkan kakinya.
"Oh ya, nona. Bagaimana dengan tuan muda?" Ucap Lulu
"Maksud kamu?"
"Ih, nona. Bukannya, rindu nona sudah terobati? Atau jangan-jangan, nona masih rindu? Eciieee" Goda Lulu.
"Lulu..." Ucap Aisha.
"Hehe, baiklah. Lulu akan turun" seru Lulu, ia pun langsung berjalan meninggalkan Aisha.
"Dasar Lulu" ucap Aisha.
Aisha kembali berjana, ia pun mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk kedalam sana. Ia melihat Sally tengah menyisir rambutnya didepan cermin. Begitu juga Sally, saat ia melihat Aisha tengah menerobos di kamar itu, Sally terlihat senang.
"Aisha?" Seru Sally.
"Sally?" Ucap Aisha, ia masih khawatir jika Sally masih trauma akan kejadian semalam.
"Sudah, aku sudah tidak apa-apa" ucap Sally, ia pun memeluk Aisha.
"Beneran?"
"Yups. Aku cuma syok saja dengan semalam, karena hampir saja mereka membuka celana. Aisha, bagaimana denganmu?" Ucap Sally.
"Syukurlah. Aku juga hampir sepertimu, tapi lupakanlah. Sally, kita turun yuk" ajak Aisha.
"Hemm. Baiklah" ucap Sally.
Mereka pun pergi untuk turun dan menuju ruang makan, disana sudah ada Lala dan Lulu, dan juga bibi Lin. Mereka pun menyambut Aisha dan juga Sally disana. Aisha pun mengajak sahabatnya itu untuk duduk bersama dan makan bersama. Sama seperti waktu di apartemen dulu, mereka selalu sama-sama di hampir semua kegiatan. Bedanya pagi itu, ada Lala dan Lulu dan juga bibi Lin yang menemani.
Acara sarapan pagi itu pun selesai dengan hikmat, Sally pun nampak menikmati segelas coklat panas bersama Aisha. Sedangkan Lala dan Lulu kembali untuk bekerja, begitu juga dengan bibi Lin.
"Apa tidak apa-apa nih, kamu meninggalkan ahem di kamar seorang sendiri" goda Sally.
"Eh, pagi-pagi sudah menggoda" ucap Aisha.
"Biarin" ucap Sally.
"Ya, dia masih tidur. Mungkin kecapekan, biarin lah. Bukannya hari ini kita bisa kembali seperti dulu. Hemmm" ucap Aisha.
"Sahabatku... Iya, kangen tahu" rengek Sally.
"Sally. Maafkan aku, kamu telah terlibat dari masalahku" ucap Aisha kemudian penuh dengan sesal.
"Santai saja. Aku tahu bagaimana keadaanmu, Aisha" ucap Sally.
"Apalagi, dalam dunia bisnis" batin Sally.
"Tapi..."
"Cukup, sayang. Aisha, apa kamu sudah mandi?" Ucap Sally.
"Belum, kenapa?"
"Ih, jorok banget. Masak belum mandi, hooo aku tahu nih. Pasti karena Altezza" goda Sally.
"Eh? Apa maksudmu?" Aisha merasa malu.
"Tuh, mukanya memerah" goda Sally.
"Sally..."
"Ehem. Semalam, ada yang meluk Leon siapa ya?" Ucap Lala tiba-tiba ikut nimbruk.
"Kamu?" Ucap Sally.
"Hemp. Hahaha, dasar kamu. Sally, Sally..." Tawa Aisha
"Sudah dong, malu nih. Refleks tahu" ucap Sally, dengan menutup sebagian wajahnya.
"Malu tapi mau. Ya kan nona?" Timpal Lala.
"Iya, tuh" imbuh Aisha.
"Duh, kok jadi aku yang di pojokin sih" ucap Sally dengan malu.
"Tenang, kak Sally. Sebelumnya, nona juga begitu. Malu-malu tapi mau, sama tuan muda. Haha" ucap Lala.
"Hahaha... Lala, kamu berani juga sama majikan" tawa Sally.
"Eits. Nona Aisha, bukan majikan ku. Tapi kakak ku" seru Lala.
"Kata siapa? Khusus hari ini, kita bukan kakak adek" ucap Aisha, seperti merajuk.
"Hahaha, rasain kamu La" timpal Sally.
"Yah, nona. Jangan dong" rengek Lala, ia pun merayu Aisha.
"Gak"
"Biarin"
"Apa Lala bangunin tuan muda nih? Biar Lala cerita, kalau nona sedang tidur suka nyebut nama tuan muda" ucap Lala tak mau kalah.
"Eh? Ma,mana ada. Mana ada aku pernah tidur seperti itu" Aisha mengelak.
"Nona mana sadar, kan nona tidur" ucap Lala dengan entengnya.
"Mana mungkin" ucap Aisha.
"Mungkin saja, nona"
Sally hanya tertawa melihat tingkah Aisha dan juga Lala, yang persis seperti seorang kakak dan adik yang tengah berebut sesuatu. Tak heran, jika Aisha bisa bersikap baik terhadap bawahan seperti Lala. Karena memang, Sally mengenal Aisha sejauh ini, Aisha merupakan sosok yang sangat baik bagi dirinya bahkan dengan siapapun.
Tak terasa waktu begitu berlalu dengan cepatnya, sekalipun hari itu hari minggu. Namun Sally harus kembali ke apartemen, lantaran ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Aisha sempat khawatir akan Sally, namun Leon sudah bersedia untuk mengantarkan Sally, dan menemani Sally untuk sementara waktu di apartemen.
Setelah mengantar Sally sampai di depan, Aisha teringat akan Altezza yang tak kunjung turun. Aisha segera masuk ke dalam rumah, ia pun melihat jam yang cukup besar di sudut ruang tamu. Jam itu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, buru-buru Aisha untuk segera menghampiri Altezza.
Sebelum itu, Aisha pergi ke dapur untuk mengambil beberapa roti sandwich dan segelas susu segar untuk Altezza. Aisha pun membawa itu dengan hati-hati.
"Dasar Altezza. Jam segini belum bangun juga" gumam Aisha.
Hingga sampailah ia di depan kamar utama, Aisha membuka pintu itu dengan perlahan. Namun, disana tidak ada Altezza, Aisha mulai kelabakan mencari-cari Altezza. Aisha menaruh nampan itu di atas meja dekat dengan sofa, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu. Namun anehnya, tidak ada sahutan dari Altezza bahkan suara air. Aisha pun berinisiatif untuk membuka pintu, meskipun ragu ia mencoba untuk membuka dengan perlahan. Dan, ternyata Altezza tidak ada disana.
Aisha mulai bingung akan keberadaan Altezza, Aisha pun berjalan keluar untuk mencari Altezza. Aisha mulai kepikiran dengan ruang perpustakaan, Aisha pun mencoba untuk mengecek ruang perpustakaan. Di saat Aisha membuka pintu ruang perpustakaan, benar saja Altezza ada disana. Bahkan Altezza tidak menyadari akan kedatangan Aisha.
"Altezza?" Panggil Aisha saat menutup pintu, tetapi Altezza seperti tidak mendengarnya.
"Eh? Dia gak dengar apa sengaja gak dengar?" Gumam Aisha dalam hati.
Aisha berjalan perlahan mendekati Altezza yang tengah duduk membelakanginya. Aisha pun bermaksud untuk mengagetkan Altezza, dengan perlahan Aisha mulai melancarkan aksinya.
"Dorrr"
"Aa... Altezza" Aisha kaget, lantaran Altezza lebih dulu yang mengagetkan Aisha.
"Kamu mau mencoba untuk mengagetkanku, sayang" Ucap Altezza.
"Ba, bagaimana kamu bisa tahu?" Selidik Aisha.
"Hemm, kemarilah. Ada apa, sampai kamu mencariku?" Ucap Altezza, ia pun meraih tangan Aisha dan memangkunya.
"Altezza. Sesibuk apapun kamu, jangan lupa untuk makan. Sudah berapa lapa disini?" Ucap Aisha.
"Sayang, kamu sudah mulai bawel ya" gemas Altezza, ia pun mencubit hidung Aisha.
"Kok bawel?" Rengek Aisha.
"Hemm, istriku memang bawel. Tapi bawelnya karena perhatian, ya kan?" Ucap Altezza.
"Kata siapa?"
"Kata ku"
"Hemm, ya sudah. Aku sudah bawakan sarapan untukmu" ucap Aisha.
"Benarkah? Tapi aku tidak melihatnya" goda Altezza, ia pun menaikkan dagu Aisha.
"A, apa yang akan kamu lakukan" spontan Aisha melepaskan diri dari Altezza.
Aisha buru-buru keluar, begitu juga Altezza. Altezza mulai menutup laptopnya dan melepaskan kacamatanya. Altezza pun beranjak menyusul Aisha, di kamar utama. Sesampainya disana, Altezza ikut duduk di atas ranjang bersama Aisha yang hendak membaca tabloit.
"Hei. Sarapannya ada di sana, kenapa kamu kemari" ucap Aisha.
"Sayang, apa aku harus memperjelaskannya?" Ucap Altezza.
"Maksud kamu?"
"Layani aku"
"A, apa? La, layani apa?" Aisha mulai gugup, lantaran perkataan Altezza yang membuat Aisha salah paham.
"Layani makan sayang, kamu pikir apa?" Ucap Altezza dengan polosnya.
"Ti, tidak. Tidak apa-apa"
"Istriku, apa kamu sudah ingin menikah? Kok pikirannya sudah kemana-mana?" Goda Altezza.
"Ma, mana ada" Aisha mengelak.
"Lalu kenapa wajahmu memerah? Bahkan bicaramu menjadi gagap seperti itu" ucap Altezza.
"Tidak. Mana ada, ya sudah aku layani kamu makan. Tunggu di sini" ucap Aisha, ia pun beranjak untuk mengambil sarapan yang ia bawa.
Setelah Aisha sudah membawanya, Altezza pun merengek untuk Aisha menyuapinya. Aisha hanya menuruti kemauan Altezza, karena di sisi lain Aisha merasa. Altezza telah berbuat banyak untuk dirinya, sudah sepantasnya Aisha memperlakukan Altezza lebih baik lagi.
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu? Apa aku menjadi sangat tampan saat makan?" Ucap Altezza dengan pedenya.
"Iya, kamu memang tampan. Paling tampan di seluruh dunia" ucap Aisha.
"Pujian macam apa itu? Gak ikhlas begitu" rengek Altezza.
"Biarin"
"Mau di hukum?"
"Tidak"
"Ya sudah"
"Sudah apa?"
"Sudah, lanjutkan lagi nyuapinnya. Memangnya kamu pikir apa?" Goda Altezza.
"Kamu" Aisha merasa kesal, ia pun langsung menyuapi Altezza dengan meminumkan segelas susu segar kepada Altezza, tanpa jeda sedikitpun.