
Rupanya Aisha tengah menyadari akan suatu hal yang membuat dirinya merasakan sesuatu yang sulit untuk di ungkapkan, jauh dalam hatinya ia juga ingin memberi kesenangan kepada Altezza karena perasaan cintanya yang begitu mendalam, apalagi setelah ia tahu tak sedikit wanita yang mencoba untuk merayu Altezza dengan kemolekan tubuh yang sangat menggoda tentu membuat Aisha terganggu, namun di sisi lain ia juga ingin selalu mempertahankan kesuciannya hingga tiba masanya ia dapat menyerahkannya kepada Altezza pada waktu yang tepat.
Aisha tak memungkiri jika dirinya begitu munafik, tetapi apakah salah mempertahankan sesuatu yang berhaga bagi seorang wanita dan di serahkan di saat yang tepat, sekalipun ia tak memungkiri akan kenikmatan hangatnya pelukan dan ciuman yang selalu Altezza berikan. Hanya itulah yang Aisha mampu berikan dengan sukarela, namun tidak dengan yang lain dan Aisha kini baru menyadari jika masih ada cinta yang begitu tulus di dunia ini tanpa harus mengorbankan sesuatu yang berharga milik seorang wanita.
Aisha pun menitikkan air mata dan tubuhnya bergetar, saat meningat Altezza begitu sanggup menjaganya dan selalu menahannya sejauh ini. Jauh di dalam hati Aisha yang terdalam, Aisha menginginkan sebuah pernikahan secepatnya agar ia mampu memberikan cinta dengan keseluruhannya jiwa dan raganya untuk ia peesembahkan kepada Altezza seorang.
"Apa aku terlalu berharap? Atau aku terlalu mencintainya? Atau apa?" Ucap Aisha dalam hati, Altezza yang melihat Aisha tengah terguncang itu pun panik.
"Sayang?!" Ucap Altezza panik dan langsung meraih wajah Aisha yang seketika air mata Aisha tumpah.
"Ada apa denganmu, Aisha?" Ucap Altezza dan memeluk Aisha.
Tetapi Aisha hanya diam dan mencari ketenangan di dalam pelukan Altezza, ia begitu merasa tersentuh karena perasaan cinta tulus yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Aisha pun memeluk erat tubuh Altezza dan menenggelamkan wajahnya di sana, Altezza pun hanya diam dan menunggu sampai Aisha merasa sedikit tenang.
"Altezza" lirih Aisha yang masih bergelayut manja dalam pelukan Altezza setelah beberapa saat Aisha sudah merasa cukup tenang.
"Iya, aku di sini" Ucap Altezza terdengar begitu lembut.
"Ayo kita menikah" ucap Aisha tanpa sadar karena masih terhanyut dengan perasaan yang entah sulit di ungkapkan bahkan sorot matanya jelas seperti tengah berharap.
"Apa?" Altezza pun kaget, namun jantungnya berdebar tak menentu dan membuat suasana hatinya ingin terbang melayang tinggi.
"Ma,maksud aku, bolehkah kamu untuk sedikit mempercepat pernikahan kita?" ucap Aisha sedikit merengek meskipun dengan perasaan sangat malu karena ada Leon dinsana.
"Apa? Aku tidak mendengarnya dengan jelas, coba katakan lagi?" Ucap Altezza dengan sengaja.
"Altezza..." Rengek Aisha dan mencubit perut Altezza dengan kuat, Altezza pun hanya meringis menahan sakit.
"Dasar nona Aisha, ada-ada saja kejutannya" gumam Leon dalam hati dan tersenyum geli saat mendengar ucapan Aisha.
"Ya, baiklah, baiklah" ucap Altezza pura-pura mengalah.
"Tapi... Kenapa istriku ingin cepat menikah?" Ucap Altezza kemudian dan menyentuh dagu Aisha dengan tatapan yang dalam kepada Aisha.
"I,itu karena...." Wajah Aisha memerah.
"Karena?"
"Karena... Kamu, sudah lama...me..." Belum sempat Aisha meneruskan ucapannya Altezza sudah menyeringai puas dan langsung mencium bibir Aisha dengan lembut, setelah mencium Altezza pun tersenyum.
"Kita akan menikah secepatnya" ucap Altezza terdengar lembut dan menenangkan.
"Tapi sebelum itu kamu temani temanmu menikah, setelah itu aku akan membawamu ke London dan kita menikah di sana?" ucap Altezza kemudian dan melekatkan kedua telapak tangannya ke wajah Aisha.
"A,apa? Secepat itu?" Aisha pun terbelalak, lantaran pernikahan Deva hanya tinggal satu minggu lagi.
"Apa kamu ingin membuatku menunggu lagi, Aisha?" Altezza pura-pura kesal.
"Ti,tidak. Maksud aku bukan begitu, apa itu tidak terlalu..."
"Tidak!" Sela Altezza dengan nada kesalnya namun sedikit tegas.
"Altezza" gumam Aisha dalam hati, tapi sebetulnya ia merasa sangat bahagia.
"Baiklah, aku setuju" seru Aisha kemudian dan memeluk Altezza dengan ceria bahkan ia menempelkan pipinya kepipi Altezza dengan gemas.
"Eh? A,apa yang aku lakukan?" Ucap Aisha dalam hati, ketika ia tersadar jika di dalam mobil juga ada Leon, Aisha pun menjadi salah tingkah dan merasa sangat malu yang luar biasa bahkan langsung menjaga jarak dari Altezza.
"Dasar, gadis bodoh" ucap Altezza dalam hati dan tersenyum karena juga merasa sangat senang apalagi melihat ekspresi Aisha begitu drastis.
"Dasar nona" ucap Leon dalam hati yang merasa tergelitik namun ia juga terhibur dengan tingkah Aisha.
Setelah Aisha menemani Altezza untuk pertemuan bisnis di sebuah hotel, Altezza pun langsung mengantar Aisha untuk pulang, namun sialnya setelah Aisha sudah berada di rumahnya dan Altezza sudah pulang, Aisha lupa untuk meminta Altezza yang memberi tahu mama Hani akan perihal tentang pindah rumah, karena Aisha merasa ia tak akan sanggup untuk membujuk mama Hani untuk pindah apalagi rumah itu merupakan jaminan dari Altezza tentu mama Hani akan menolak keras.
Malam itu, Aisha pun pasrah dan mulai mengemasi barang-barang yang perlu ia bawa besok untuk pindah, begitu juga Alex yang rupanya sudah tahu akan perihal pindah rumah, Alex juga sudah memilah mana barang yang harus di buang, mana barang yang akan ia bawa.
"Kata kakak ipar, tidak perlu membawa banyak barang. Cukup barang yang terpenting saja, hemmm" gumam Alex saat dirinya menatap kamarnya yang sudah bagaikan kapal pecah.
"Baiklah kalau begitu" ucap Alex kemudian dengan semangat.
Tok tok tok, ceklek.
"Lex? Kamu sedang apa? Kamar kamu kenapa jadi berantakan begini?" Mama Hani pun terhentak saat melihat kamar Alex begitu kacau.
"Alex hanya memisahkan beberapa barang saja ma" ucap Alex terdengar polos.
"Kenapa malam-malam begini?" Mama Hani pun mendekat dan bermaksud untuk membantu membereskan.
"Tunggu, kenapa baju-baju kamu masukkan kedalam kardus?" Ucap mama Hani kemudian.
"Mau aku donasikan dan sebagian mau aku kasih pengrajin" ucap Alex dengan santainya.
"Apa??!?" Mama Hani pun terhentak tak percaya, seketika mama Hani ingin marah lantaran hampir semua baju Alex sudah pindah ke dalam kardus.
"Kak Altezza sudah membelikan banyak baju untuk Alex, ma" ucap Alex kemudian dan meneruskan pekerjaannya, mama Hani pun hanya mampu mengerutkan kedua alisnya.
"Jangan bercanda, di sini tidak ada baju yang kamu maksud!" Mama Hani pun kesal.
"Iya memang tidak ada di sini, tapi di rumah baru" celetuk Alex.
"Kamu jangan sembarangan Alex, tidak ada pindah-pindah cepat kembalikan semula" mama Hani pun marah.
"Ma, apa yang kamu lakukan? Alex bicara benar" Alex juga kesal ketika mama Hani mulai membereskan barang-barang Alex yang sudah Alex kemas.
"Ma, lepaskan. Kakak ipar bilang besok kita akan pindah, mungkin kak Aisha juga sedang mempersiapkannya" Alex tak mau kalah.
"Apa?" Mama Hani pun kaget dan berhenti dari pekerjaannya.
Mama Hani pun berdiri dan bergegas pergi untuk membuktikan akan ucapan Alex, saat mama Hani berjalan menuju kamar Aisha, ia sudah memiliki banyak pertanyaan-pertanyaan yang sudah mengepul di dalam pikirannya.
Klek.... Aisha yang ada di dalam sana pun langsung menoleh ke arah pintu, sedangkan mama Hani terlihat sedikit kaget saat melihat Aisha tengah mengemasi beberapa barang di dalam koper seperti apa yang Alex ucapkan namun kamarnya tak sekacau kamar Alex.
"Mama?" Ucap Aisha, mama Hani pun masuk kedalam kamar Aisha.
"Jadi beneran kata Alex?" Ucap mama Hani.
"Itu, soal itu Aisha juga tidak tahu persisnya ma, tapi tadi Altezza bilang besok akan ada yang menjemput kita untuk pindah" ucap Aisha sedikit was-was.
"Aisha, aku tahu kalau Altezza itu calon suami kamu, tapi ini tidak benar Aisha, apa kata orang nanti jika orang tahu kalau kita hidup dengan fasilitas dari Altezza? Kamu tahu bagaimana keluarga kita kan?" Ucap mama Hani.
"Aisha tahu ma, tapi Aisha tahu betul Altezza itu seperti apa? Dia bukan orang yang bisa di tolak" ucap Aisha.
"Tapi Aisha..."
"Ma, selama Aisha di Manhattan Altezza lah yang memfasilitasi kehidupan Aisha di sana padahal Aisha bukan istrinya, apa mama mengira Aisha mau begitu saja?" Sela Aisha.
"Apa mama berfikir Aisha juga seperti seseorang yang mau dengan hartanya saja?" Imbuh Aisha, mama Hani pun merasa bersalah kepada Aisha.
"Lihat ma, ini kartu-kartu yang Altezza berikan kepadaku, apa mama tahu isinya berapa? Itu pun setiap minggu Altezza selalu menambahkan isi saldonya" Ucap Aisha sembari menunjukkan beberapa kartu debit dan kartu kredit kepada mama Hani, mama Hani pun kaget dan menggelengkan kepala.
"Tapi mama pernah melihat Aisha satu minggu di sini hidup menghamburkan uang kesana kemari tidak jelas? Mama tahu, kartu ini Aisha bisa dengan bebas keluar masuk ke luar negeri, belanja branded sepuasnya, bahkan bisa untuk membeli mobil bahkan rumah sekalipun?" Jelas Aisha, mama Hani pun tersentak tak percaya akan yang Aisha ucapkan bahkan Altezza berika.
"Altezza tidak membeli Aisha ma, tapi dia hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk Aisha juga keluarga kita" ucap Aisha kemudian.
"Aisha hanya berpikir, Aisha boleh menerima apa yang Altezza berikan, bukan berarti Aisha itu serakah tapi Aisha menghormati atas apa yang Altezza berikan untuk Aisha" terang Aisha.
"Karena sebelumnya Aisha sudah berusaha untuk menolak, tapi Altezza tetap memaksanya" imbuh Aisha, saat ia teringat dimana Aisha pertama kali di berikan sebuah tas dengan isi yang di luar dugaan, seperti handphone baru, beberapa kartu, dan uang yang banyak.
"Mama tahu, sekalipun Altezza sudah banyak mengeluarkan banyak uang untukku Altezza tidak pernah merendahkanku sedikitpun apalagi menyentuhku" tandas Aisha.
"Kecuali, peluk dan cium sih" ucap Aisha dalam hati.
Aisha pun mulai bercerita bagaimana kehidupan Aisha di Manhattan, bahkan Aisha juga bercerita bagaimana Altezza begitu menjaganya. Aisha juga menceritakan sedikit pengalaman pahit yang pernah Aisha alami, di saat dirinya masih di Manhattan hampir di lahap oleh seorang pria mesum, Altezza pun datang menyelamatkan dan melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya, mama Hani yang mendengar itu pun tersentuh dan meneteskan air mata bagaimana bisa putrinya di sana juga pernah mengalami kesulitan seperti itu, tetapi mama Hani juga terharu saat mengetahui putrinya telah beruntung telah bertemu dengan seorang pria yang benar-benar tulus mencintai Aisha.
"Pantas jika Amon begitu mempercayai Altezza" ucap mama Hani dalam hati setelah mendengar cerita Aisha yang cukup singkat itu, refleks mama Hani memeluk Aisha dengan perasaan haru dan bahagianya.
"Putriku, maafkan mama, mama tidak tahu nak mama tidak tahu" isak tangis mama Hani dan memeluk putrinya itu.
"Tidak ma, Aisha yang salah sudah bersikeras untuk melanjutkan study di sana" ucap Aisha yang juga ikut meneteskan air mata.
Di sisi lain di waktu yang bersamaan, dimana Alex yang rupanya diam-diam mendengarkan cerita Aisha.
"Rupanya, kakak ipar memang benar-benar menyayangi kakak" ucap Alex dalam hati dan menyeka air matanya yang hampir jatuh itu.
"Tapi kakak memang pantas mendapatkannya, yap" ucap Alex dalam hati dan tersenyum misteri dan raut wajahnya menjadi semangat.
Keesokan harinya,
"Padahal mama sudah nyaman tinggal di rumah ini" Ucap mama Hani yang terasa berat, karena rumah itu merupakan peninggalan papa Amon.
"Ma, sudahlah rumah ini terlalu kecil tidak bagus untuk masa tuamu nanti" Celetuk Alex.
"Alex!" Ucap Aisha memperingatkan.
"Ya, iya baiklah" ucap Alex dengan santainya.
"Sudahlah, Alex mau keluar sebentar" ucap Alex kemudian, ia pun beranjak dari sofa dan pergi keluar.
Namun tidak ada sepuluh menit, Alex sudah kembali bersama seorang wanita muda yang usianya lebih tua dari Aisha dengan perawakan seperti pekerja kantoran, lantaran dari segi penampilannya sudah sangat terlihat.
"Selamat siang, tante" sapa wanita
"Iya, siang. Ada yang bisa kami bantu?" Ucap mama Hani dengan ramah.
"Oh iya, sesuai perjanjian hari ini saya datang kemari untuk menyewa rumah ini" jelas wanita itu tanpa basa-basi.
"Eh?" Mama Hani pun kaget dan langsung menoleh ke arah Aisha, tetapi Aisha hanya diam tak mengerti.
"Apa ini ulah Altezza?" Pikir Aisha.
"Dari ekspresi mereka, sepertinya tidak tahu. Apa aku sedang di tipu seseorang? Dan anak kecil ini..." Ucap wanita itu dalam hati.
"Kemarin aku yang menyuruh kak Elan untuk membuat iklan via online, kebetulan kakak ini bersedia untuk menyewanya" ucap Alex dengan santainya.
"Apa?" Mama hani pun kaget atas tindakan Alex yang benar-benar di luar dugaan.
"Haduh, anak ini benar-benar" ucap Aisha dalam hati.
"Bukankah lumayan bagus untuk investasi mama?" Ucap Alex dengan santainya dan berjalan ke dalam dengan gaya angkuhnya.
"Eh? Anak ini?" Wanita yang mendengar itu pun kaget dengan ucapan Alex, begitu juga mama Hani apalagi tidak pernah mengajari Alex tentang investasi dan semacamnya.
"Aku tidak menyangka Alex bisa mengerti tentang itu? Apa Altezza yang telah mengajarinya? Tapi ini tidak wajar untuk anak seusianya" keluh Aisha dalam hati.
"Hehe, maaf. Mungkin dia hanya asal bicara saja" ucap mama Hani kemudian.
"Ah, kalau begitu mari biar saya menemani anda untuk melihat detail rumah ini, apakah sesuai dengan harapan anda" ucap Aisha kemudian yang langsung bersikap profesional.
"Ah, baik terimakasih" ucap wanita itu, Aisha pun mempersilahkan dan menemani wanita itu untuk melihat-lihat.
"Sesuai apa yang ada di iklan sebelumnya, tapi soal perlengkapannya apakah itu benar? Kami bisa menggunakannya?" Ucap wanita itu memastikan, Aisha pun mengerti apa yang wanita itu maksud.
"Tentu benar, anda tinggal menempati dan menggunakannya tapi maaf jika nanti kalau ada kerusakan pada barang tertentu, kami tidak bertanggung jawab untuk menggantinya karena kami hanya menyewa tempat sesuai yang ada dalam iklan maupun perjanjian" jelas Aisha terdengar profesional wanita itu pun hanya manggut-manggut.
"Aku menyukai rumah ini, benar-benar elegan dan rapi" ucap wanita itu.
"Syukurlah kalau begitu jika anda senang, aku senang mendengarnya" ucap Aisha.
Wanita itu pun berjalan kembali untuk menemui mama Hani yang masih berada di ruang tamu, wanita itu pun langsung membicarakan persetujuan untuk menyewa rumah itu dan menyerahkan beberapa data informasi tentang dirinya ke mama Hani, bahkan wanita itu juga langsung mentransfer sejumlah uang sewa selama enam bulan kedepan.
"Erika ya, baiklah Eri ini kunci rumahnya" Ucap mama Hani.
"Iya, terimakasih tante" ucap wanita itu bernama Erika.
"Ma, mobilnya sudah datang" ucap Alex memberitahu.
"Ah, Eri. Sepertinya yang menjemput kami sudah datang, semoga kamu nyaman di rumah ini" ucap mama Hani kemudian.
"Terimakasih, tante" ucap Erika.